Berbicara tentang AXEAN Festival, kami mengundang beberapa alumninya, Batavia Collective dan The Panturas, untuk mengulik atmosfer di dalam festival musik tersebut yang seperti konsisten melambungkan nama-nama up-and-coming ke berbagai festival musik besar lainnya di mancanegara.
Setiap tahun sejak 1977, tanggal 18 Mei diperingati sebagai International Museum Day. Museum Nasional adalah museum terbesar dan yang dikelola oleh pemerintah untuk menampilkan artefak dan produk kebudayaan Indonesia. Dalam waktu dekat Ruang Rupa sebagai kolektif Ibukota menjadi penampil sekaligus pengampu sebuah showcase memperingati International Museum Day dengan Museum Nasional bertajuk “RRREC Fest at The Museum 2017”.
Jika sebelumnya RRREC Fest dikenal sebagai perhelatan konser musik Ruang Rupa yang beberapa tahun belakangan digelar di alam terbuka, kini kemeriahan dan keceriaan dalam RRREC Fest dibawa ke celah-celah lorong museum. Sejalan dengan tajuk International Museum Day yang digelar di seluruh dunia: “Museums as tools for creating peaceful communities” dan lewat garis besar Museums and contested histories: saying the unspeakable in museums, RRREC Fest membawa ruang museum sebagai alat untuk membicarakan nilai-nilai keseharian dan mengembalikan pengetahuan serta nilai kebudayaan sebagai alat membangun perdamaian di antara masyarakat.
Berikut adalah siaran program RRREC Fest At The Museum 2017 yang berlangsung dari tanggal 18-24 Mei 2017 di Museum Nasional:
Thursday, 18 May 2017 / 16.00 – 20.00
Lobby Gedung B, Museum Nasional Indonesia
Jl. Medan Merdeka Barat, No.12, Gambir, Jakarta Pusat.
Opening Program:
16.30 – 17.00 Opening Ceremony
17.30 – 18.00 Bina Vokalia Choir
18.30 – 19.30 Pasar Ilmu by Serrum, Live Printing by Grafis Huru Hara
19.00 – 20.00 DJ Sattle
20.00 – 20.30 Music Performance: Jason Ranti
18 – 24 MAY 2017 , menampilkan Aprilia Apsari, Cut & Rescue, Grafis Huru Hara, Kelas Pagi Jakarta, Marishka Soekarna, Serrum, The Jadugar, dan The Popo
18, 20 & 21 MAY 2017 , lineup: A Fine Tuning Creation, Adrian Adioetomo, Bina Vokalia, Bottlesmoker, Dangerdope, Jason Ranti, Joe Million, Nona Ria, Ramayana Soul, White Shoes & The Couples Company, Music Selecta’: Sattle’.
Untuk mengetahui lebih lanjut informasi mengenai program festival dapat diperoleh di:
Twitter: rrrec_fest | @MuseumNasional
Instagram: rrrec_fest | @MuseumNasional
Facebook: RRRec Fest | MUSEUM NASIONAL INDONESIA
MUSIC – ART EXHIBITION – FILM SCREENING – WORKSHOP – TALKS – BAZAAR – ART EXHIBITION “THE ARCHIVE OF NOWHERE”
In his open column submission, Aufa Ahdan mainly talks about how he sees stand up comedy as a self-heckling medium, or so-called comedic sociology, and relates it to the current divisive nature of (some) Indonesian people.
Menyambut hangatnya musim panas merupakan ritual wajib yang dilakukan bagi setiap orang tak terkecuali di Indonesia. Menyusun jadwal liburan, menentukan tempat vakansi, serta menimbang pelbagai kegiatan apa saja yang dilakukan adalah deretan contoh terkini. Asal bahagia, asal menarik tawa. Hal itu dipahami betul oleh Seazoo dengan melepas nomor baru yang menggambarkan kemeriahan pesta karnaval dan keceriaan pinggir pantai.
Adalah “Roy’s World” yang menjadi tajuk lagu kuintet indie-pop dari Wales ini. Track sepanjang 3 menit tersebut menyediakan hal-hal yang bisa dinikmati; kocokan gitar jangly, liukan harmoni keyboard, sampai pukulan upbeat yang meriah. Hasilnya? “Roy’s World” dapat dipasang sembari bertukar cerita bersama kawan maupun menghabiskan siang yang terlampau sulit dilupakan.
Seazoo memasukan “Roy’s World” dalam bagian album penuh yang rencananya dirilis di bulan Mei. Direkam pada jarak yang memisahkan antara studio rumah di sisi gunung Radnorshire dan bunker nuklir Wrexham, “Roy’s World” mengingatkan pada pesona Comet Gain, Hot Chip, maupun The Field Mice. Tapi yang terpenting: sertakan dalam usang dan putar kencang-kencang menuju medan penghiburan.
Mitos itu terlahir kembali. Setelah dibuat kali pertama pada 35 tahun yang lalu, mereka datang membawa penerusnya; Blade Runner 2049. Perlu diketahui, Blade Runner adalah pendobrak batasan. Kita mungkin tak pernah membayangkan bagaimana jadinya jika kompleksitas sci-fi digabungkan bersama dimensi noir yang . Namun Ridley Scott sudah memikirkan di kepalanya. Lewat Blade Runner, Ridley Scott seakan mengingatkan umat manusia tentang krisis bernama mempertanyakan kehidupan. Apabila semesta tak lagi bertumpu humanisme, lantas apa yang ingin diharapkan?
Apabila di film pembuka topik berputar di sekitar perburuan serta kemelut identitas, kali ini Blade Runner 2049 mengambil latar waktu 30 tahun pasca 2019 di mana Opsir K (Ryan Gosling) dari kesatuan LAPD dihadapkan pergulatan serius mengenai kemanusiaan yang mendekati kemusnahan. Ia memutuskan untuk menelusuri pangkal permasalahan sekaligus menuntunnya pada sosok legenda, Rick Deckard (Harrison Ford).
Dalam trailer resmi berdurasi 3 menit tersebut, suasana serta sangat terasa seperti premis terdahulu. Kekacauan membayangi setiap jengkal rutinitas di balik deru modernitas maupun dominasi mesin-mesin transformasi massal. Tatapan Gosling yang sulit diterka, ketakutan Ford, hingga makna ganda ketenangan Leto meramaikan fragmen demi fragmen. Menyimpan banyak misteri yang sengaja diacuhkan atau menunggu untuk dipecahkan.
Di seri keduanya, Ridley Scott menyerahkan tongkat estafet penyutradaraan kepada Dennis Villeneuve (Prisoners, Sicario, Arrival). Nampaknya Ridley percaya bahwa karya emasnya bakal berkembang apabila diserahkan pada tangan yang tepat. Melihat reputasi Villeneuve yang dikenal pintar memainkan plot, Ridley tak perlu khawatir buah hatinya jatuh di pasaran. Ditambah pula keberadaan Roger Deakins sebagai pengambil gambar maupun Hampton Fancher selaku penulis naskah, membuat Blade Runner 2049 pantang dilewatkan di bulan Oktober.
Dalam perkembangannya, fotografi semakin berperan penting di setiap pertunjukan musik. Tak hanya sebagai pemanis belaka, disiplin ini juga berandil besar untuk mengarsipkan segala aktifitas yang terjadi di atas panggung. Mulai berdiri di baris paling depan sampai berkeliling ke seluruh penjuru demi mendapatkan sudut dan gambar terbaik. Mencatat visual lewat lensa berukuran proporsional agar teriak sang rockstar mampu ditangkap.
Sama halnya dengan apa yang dilakukan IROCKUMENTARY.CLUB; sebuah kolektif yang bergerak pada bidang fotografi musik. Didirikan tahun 2009, IROCKUMENTARY.CLUB menampung berbagai fotografer yang memiliki passion maupun kesamaan sikap guna mendokumentasikan gerak-gerik di gelanggang penampilan. Hingga sekarang, sudah tak terhitung lagi berapa jumlah karya foto yang mereka hasilkan seraya menemani geliat musik yang terus tumbuh subur di Indonesia.
Atas dasar itu pula, IROCKUMENTARY.CLUB mengadakan sesi diskusi terbuka bertemakan “The Role of Music Culture in Photography.” Helatan ini bertujuan untuk berbagi cerita, bertukar pikiran, ataupun transfer ilmu kepada mereka yang menggeluti dunia fotografi, terlebih fotografi musik.
"THE ROLE OF MUSIC CULTURE IN PHOTOGRAPHY”
RUCI'S Joint
Wednesday, 17 May 2017
19.00 pm - 21.00 pm
Free of charge
#RUCISJoint #collaborativespace #IROCKUMENTARY
Kolibri Rekords dikenal sebagai salah satu label yang gencar mengenalkan musisi independen ke khalayak ramai. Berbasis di Jakarta, mereka konsisten memunculkan nama-nama baru yang patut diperhatikan. Tercatat ada Atsea, Bedchamber, Gizpel, Kaveh Kanes, Low Pink, hingga Seahoarse. Masing-masing memiliki karakter dan warna yang beragam dan terpenting menunjukkan semangat muda-mudi untuk berkarya.
Kali ini, kabar baik datang dari salah satu unit asuhan mereka; Seahoarse. Kuartet asal Yogyakarta yang digawangi oleh Gisela Swaragita (bas, vokal), Rudi Yulianto (gitar), Judha Herdanta (gitar), dan Aditya Putra (drum) tersebut dipastikan mengeluarkan debut album penuh bertajuk Magical Objects. Rencananya, Magical Objects akan dilepas di waktu terdekat dengan memuat total 10 (sepuluh) lagu di dalamnya.
Demi memenuhi dahaga para pengikutnya, pihak Kolibri Rekords sudah menyiapkan pemesanan Magical Objects via online. Seperti dilansir pada situs resmi mereka, terdapat dua macam barang yang bisa didapatkan: CD bundle dan T-shirt bundle. Sedangkan batas akhir pemesanan dipatok tanggal 31 Mei 2017.
Di lain sisi, Seahoarse juga telah melepaskan sebuah berjudul “Apprentice.” Berdurasi tiga sekian menit, nomor ini kental dengan irama surf-pop yang menyenangkan. Alunan gitar yang renyah, perpindahan yang asyik, serta ketukan yang sempurna untuk mengajak pemirsa larut menjadi ciri khas tersendiri; dan mungkin menggambarkan bagaimana Magical Objects nantinya. Apabila kondisi batin berada di ambang keterpurukan, putar “Apprentice” lalu biarkan keriaannya meresap di kepala.
Direktori: Di Makassar, Melihat Harapan dari Indonesia Timur
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode kedua mini seri Direktori, kami berkunjung ke Bali untuk mencari apa yang tersembunyi di balik deru pariwisata dan melihat bagaimana keberagaman hidup di sana.
Episode pertama untuk mini seri terbaru kami untuk campaign #Direktorikota, kami memulainya dengan pertanyaan besar, apakah semangat kebersamaan masih ada di keseharian kita?