Berbicara tentang AXEAN Festival, kami mengundang beberapa alumninya, Batavia Collective dan The Panturas, untuk mengulik atmosfer di dalam festival musik tersebut yang seperti konsisten melambungkan nama-nama up-and-coming ke berbagai festival musik besar lainnya di mancanegara.
In her open column submission, Livina Veneralda share her view regarding the psychology behind the term, introvert and extrovert and how this kind of dichotomy affects human personality and its relation to other person.
Selepas merilis terakhirnya dua bulan silam, Andre& kembali hadir dengan anyar berjudul “Roadin.” Kali ini, ia turut serta mengajak Arethvsa yang mana juga pernah berkolaborasi dengannya di nomor “Softside of Love.”
Pemilihan Arethvsa sebagai tandem Andre& bukan tanpa alasan. Selain memiliki vokal emas yang mengingatkan pada sosok Erykah Badu, pemikirannya juga menyumbang kontribusi dalam pengembangan lagu - di mana dalam proses pengerjaannya, Andre& memberikan beberapa potong kepada Arethvsa untuk dipelajari terlebih dahulu sebelum Arethvsa mengisi bagiannya yang kental dengan nuansa 90’s RnB.
Inspirasi pembuatan lagu pun “Roadin” berawal ketika Andre& sedang mengulik melalui mesin perangkat lunaknya. Dari situ ia merasa mendapati aliran ide yang banyak terlebih pasca mendengarkan lagu milik Joyce Wrice, “Rocket Science.” Kiranya, nomor-nomor tersebut mampu menjadi sebuah makanan pembuka sebelum menyantap sajian EP Andre& di bawah identitas Ar&thvsa.
Melalui Sokola Rimba, Butet Manurung membuka mata dunia pada kekayaan yang hidup pada keseharian masyarakat adat. Bahwa tak jarang mereka yang tinggal di pedalaman lebih terbuka secara pikir daripada kita di kota yang tak malu mengaku paling maju. Whiteboard Journal berbincang dengan Butet Manurung mengenai kritiknya terhadap sistem pendidikan, bantuan yang salah arah, dan kekayaan yang disimpan oleh masyarakat adat.
Lagu dibuka dengan nuansa yang cukup gelap; tempo merayap, bayangan letupan distorsi, serta konstelasi memabukkan. Berselang kemudian, hentakan drum yang penuh presisi menemani transisi irama sekaligus mengajak telinga meluapkan kenikmatannya. Kira-kira seperti itu gambaran terbaru dari unit alternative-rock asal Yogyakarta, Kursus Fisika yang berjudul “Dye Your Hair, Don’t Die.”
Dibentuk pada pertengahan 2016, Kursus Fisika menjadi nama yang tepat untuk merepresentasikan hari-hari seorang remaja sekolah yang bolos kelas kursus untuk ke studio musik dan memulai sebuah band. Namun alih-alih bicara tentang mata pelajaran yang membuat kepala mumet, unit ini merilis lagu dengan nuansa mengenai momen-momen depresi dalam kehidupan, serta menegaskan bahwa bunuh diri bukan jawaban yang dibutuhkan.
Lewat lagu ini pula, unit ini menekankan anggapan ketimbang mengakhiri nyawa, mungkin mengecat rambut dengan warna-warna mencolok; yang dianggap sebagai pertanda seseorang mengalami sebuah fase menarik, dapat menjadi salah satu solusi.
I’m completely thrilled to present the latest installment of Heartattack. Massive shout outs to Indra Menus for the incredible tracklist on our previous episode, here I am tangled in a glorious nostalgic encounter. Skramz or screamo has been widely misunderstood for its mainstream appeal, whereas we have all these great alternate scene; filled with massively underappreciated outfits from different parts of the world. These are tiny reflections of my appreciation towards the style, the zeitgeist, the energy and the substance.
Listen to this episode of Heart Attack on Whiteboard Journal's Mixcloud.
Tracklist:
01. Welcome the Plague Year - Behold a Pale Horse
02. Ampere - We Neither Rise Nor Fall
03. Hassan I Sabbah - Watching the Eyes of Someone Lying
04. Shikari - Post Student Syndrome
05. Circle Takes the Square - Same Shade As Concrete.
06. Daighila - Hunt
07. City of Caterpillar - When Was the Last Time We Painted Over the Blood On the Walls
08. Kaospilot - Rethink the Guidelines
09. Orchid - I Am Nietzche
10. Pg99 - In Love with an Apparition
11. Piri Reis - When Life Hand You Grenade
12. Daïtro - Chaque Seconde
13. Utarid - There is Definitely Room For Growth
14. Saetia - Notres Langues Nous Trompent
15. Anomie - Avorter N’est Pas Tuer
16. Textbook Traitors - Diagram of How To Take a Punch
17. Orbit Cinta Benjamin - Fuck Tomorrow
18. Sjanse - An End to No End
19. La Quiete - *
20. Hot Cross - A Tale for the Ages
Ada yang berkata bahwa cara tepat untuk merawat sebuah kenangan masa lampau adalah dengan memeluknya erat. Mendekap penuh hangat serta menjaganya agar esensi yang terkandung dapat disalurkan di momentum mendatang. Kiranya hal itu pula yang sekarang dilakukan oleh kolektif asal Malang, The Breakfast Club.
Pasca melepas tiga nomor berjudul “Daisy”, “Distance”, serta “My Humanoid from the Outer Space” di tahun 2016, kali ini, The Breakfast Club kembali merilis nomor baru berjudul “Silent Caravan.” Sebuah lanskap yang menceritakan perihal kenangan serta upaya menikmati masa kebebasan.
Apabila ditelisik lebih jauh, aroma 90’s indie/jangly pop ala Ballads Of The Cliché, Aztec Camera, Belle & Sebastian begitu terasa pada lagu-lagu mereka. Komposisi yang sederhana dengan warna riang juga tanpa beban menghiasi sudut-sudut rutinitas bersama keinginan menghilangkan penat di kepala.
Beranggotakan Mucho Karmuko (vokal) dan Bimo Soerjoputro (gitar), The Breakfast Club dibentuk di tahun 2015. Rencananya, EP perdana mereka yang bertajuk Morning People akan diluncurkan ke khalayak ramai dalam waktu dekat. Membawa roman kejayaan Britpop, musik mereka patut dimasukan ke saku playlist guna menemani hari-hari yang membosankan.
https://soundcloud.com/wearethebreakfastclub
Direktori: Di Makassar, Melihat Harapan dari Indonesia Timur
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode kedua mini seri Direktori, kami berkunjung ke Bali untuk mencari apa yang tersembunyi di balik deru pariwisata dan melihat bagaimana keberagaman hidup di sana.
Episode pertama untuk mini seri terbaru kami untuk campaign #Direktorikota, kami memulainya dengan pertanyaan besar, apakah semangat kebersamaan masih ada di keseharian kita?