Berbicara tentang AXEAN Festival, kami mengundang beberapa alumninya, Batavia Collective dan The Panturas, untuk mengulik atmosfer di dalam festival musik tersebut yang seperti konsisten melambungkan nama-nama up-and-coming ke berbagai festival musik besar lainnya di mancanegara.
Indeed, the title itself may be a way to describe Drake’s latest album. A certainly fresh wake from Views, More to Life indeed shows the more there is to Drake, exploring emotions and personal expressions of his further, while also taking ‘dips’ into colorful grooves added to the tracks such as "Get it Together" and "Glow." A ‘playlist’ as the artist himself describes it, perhaps provide an explanation as to the vivid feel of sentiment present throughout the tracks.
An even more personal touch is added at the end of "Can’t Have Everything," where Drake’s mom is heard leaving him a voicemail. The extra attempt of being personal may be his way of redeeming himself after the lack of enthusiasm he received for Views. Drake definitely convinced the world that in spite of the ‘monotonous’ accusations aimed at Views, he hasn’t lost his touch and in fact has plenty of ‘Drakeness’ left to offer through a ‘more open peak into his life’ with this one.
Salah satu di akhir Juni lalu membandingkan serial baru ini dengan Orange is the New Black (OITNB) dan dengan lugas menilainya lebih baik daripada serial yang ber di penjara khusus perempuan tersebut. Berdasarkan tulisan yang bertebaran, jelas sudah bahwa serial baru bernama GLOW (Gorgeous Ladies of Wrestling) ini hadir, juga dengan isu perempuan. Bertempat di Los Angeles pada tahun 1985, GLOW membeberkan bagaimana pemberian label dan pada masa itu masih sangat kuat dan bahkan menjadi tolak ukur kesuksesan sebuah acara di TV.
Premisnya sederhana saja, sebuah dari acara gulat khusus perempuan. Mulai bagaimana sang inisiator mencari perempuan yang tepat, sampai hadirnya seorang produser muda membabi buta memaksakan idenya untuk membuat dengan stereotip - yang jika diposisikan hari ini tentu sangat Walau season 1 dimulai dengan cukup aman, publik dibuat penasaran dengan mau ke mana jalan cerita dibawa. Tapi jelas adegan tidak akan segera mengisi tiap , layaknya OITNB.
Adanya Brie Larson dan bahkan Kate Nash sebagai bagian dari “perempuan terpilih” dalam GLOW, membuat serial ini sangat menarik untuk diikuti. Namun sayang, penonton masih perlu meraba di mana letak isu perempuan yang ingin ditonjolkan karena banyaknya sisipan yang bersifat distraktif. Berisi 10 episode, 1 ini setidaknya mampu membuat penonton untuk belajar melihat sebuah isu dalam konteks tepat. Tapi apakah GLOW lebih baik daripada OINTB? Nampaknya penilaian tersebut dibuat terlalu terburu-buru.
GLOW (2017)
Sinopsis: Cerita di balik para perempuan yang tergabung dalam sebuah acara gulat perempuan pada tahun 1985 di Los Angeles. (IMDb)
Mengunjungi salah satu titik terluar Indonesia bersama Iman Fattah yang terpilih menjadi bagian dari program Seniman Mengajar yang diinisiasi oleh Kementrian Pendidikan. Melihat bagaimana keadaan di tanah yang berbatasan langsung dengan Malaysia sembari berbagi sekaligus belajar tentang kebhinekaan bersama masyarakat lokal.
It’s clearly been a while since anything was played on cassettes. Perhaps, most of us might think cassettes are soon to be gone for good. However, Moscow-based producer Zurkas Tepla proves us wrong with the release of his musical-storytelling-cassette entitled Bank Robber/In The Same Car; one side telling a story through the subconscious of a robber and the other featuring a meditative counterpart.
Tepla certainly aims to reintroduce his audience with the familiarity of developing imaginations from listening to sounds, inviting us to dive into a world constructed within our own minds with the help of his murky soundscapes, disquieting beats, and also ambient sounds with distant melodies. Perhaps Tepla is trying to ignite the power of imagination within his audience, the kind you get from reading books, listening to audio ones, which during this age where a huge percentage of entertainment becomes visually presented may become more of a challenge to some.
A journey of the mind may be a way to describe the experience brought by Tepla’s storytelling cassettes. Through each side’s tracks and chapters, who knows? Maybe listeners will be transported to the sceneries in the stories and live through the moments. Perhaps Tepla’s method may also provide audiences with the chance of taking their minds on a creative challenge to simply imagine.
Bank Robber by Zurkas Tepla
There’s no doubt that nowadays, it’s becoming a more and more common to see young CEOs starting up their own businesses. This urban phenomenon is what eventually drove Fendi to create a business-executive-themed collection for their SS18 runway debut. The office-themed runway, which ironically took place in Fendi’s HQ office, featured rather casual office wear pieces.
Fendi also took everyday items such as telephones, sink taps, martini glasses, and so on to create patterns that further portray the everyday essentials of a corporate life. It’s clearly an unusual sight for the eyes to find everyday items that can be considered rather dull or ordinary to be the essence of a high-fashion brand’s collection. Fendi’s take on the young start-up CEO phenomenon may actually be Fendi’s way of catching up with the future, as they stated that “you have young kids who are the head of start-ups and then become multi-billion companies in a few years, and so the attitude is changing and I think our life is changing.”
In that case, Fendi has certainly succeeded in incorporating society’s dynamics into high fashion; which adds a whole new level into the understanding of what ‘contemporary’ fashion is. Fashion that, while defying the common conception that runway collections are usually far from being wearable, relatable, and are for aesthetic purposes only, also makes it its point to illustrate urban society. Fendi finding inspiration within youth in society may also be proof that not only does fashion take actual part in society, but also that fashion can be made of almost anything, even society’s seemingly mundane and dull everyday activities known as the ‘corporate life’.
Naela Ali adalah seorang ilustrator yang cukup mencuri perhatian melalui dirilisnya Stories for Rainy Days, sebuah artbook yang berisi curahan hatinya. Karya Naela Ali dapat dikenal melalui gaya ilustrasinya yang naif namun terasa sangat personal. Dalam episode Gimme 5 kali ini, kami mengundang Naela untuk menuliskan 5 sumber inspirasi bagi dirinya.
Buku apa saja, baik fiksi maupun nonfiksi. Mulai dari novel, komik hingga artbook. Dengan banyak membaca jadi menambah pengetahuan saya dan membuat saya lebih peka terhadap hal-hal di sekitar saya.
Dari film, saya mengambil cerita atau kutipan quote yang menurut saya menarik untuk dijadikan ke dalam sebuah ilustrasi. Selain itu, pakaian, gaya dan warna dari film itu pun bisa saya tuangkan ke dalam ilustrasi. Setiap film memiliki karakter tersendiri.
Ketika mendengarkan lagu, saya mencoba menghayati dan terbawa suasana. Dari situ, apa yang saya tangkap dari lagu itu kemudian bisa memberikan saya inspirasi dalam berkarya. Seperti jika lagunya happy, saya akan menggambar sesuatu yang menyenangkan dan sebaliknya. Lirik lagu yang menarik perhatian saya pun bisa menjadi sumber inspirasi.
Dia adalah film director asal Jepang. Film-filmnya mostly tentang kehidupan sehari-hari keluarga di Jepang, yang lembut dan tidak banyak intrik. Menggambarkan situasi apa adanya, warna filmnya pun lembut dan hangat dan menggambarkan kejujuran. Film-film Hirokazu Koreeda memberi saya inspirasi untuk membuat ilustrasi yang hangat dan lembut, dan yang terpenting, apa adanya.
Cheesy as it may sounds. Tetapi saat berkarya, feeling mengambil peranan penting. Apa yang saya rasakan momen itu, kemudian menjadi inspirasi saya. Saat saya lagi sedih, atau pun senang (yang paling penting perasaan itu harus kuat), kemudian saya akan berkarya mengikuti saya feeling. Entah kenapa akan menjadi sangat mengalir.”
Direktori: Di Makassar, Melihat Harapan dari Indonesia Timur
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode kedua mini seri Direktori, kami berkunjung ke Bali untuk mencari apa yang tersembunyi di balik deru pariwisata dan melihat bagaimana keberagaman hidup di sana.
Episode pertama untuk mini seri terbaru kami untuk campaign #Direktorikota, kami memulainya dengan pertanyaan besar, apakah semangat kebersamaan masih ada di keseharian kita?