Berbicara tentang AXEAN Festival, kami mengundang beberapa alumninya, Batavia Collective dan The Panturas, untuk mengulik atmosfer di dalam festival musik tersebut yang seperti konsisten melambungkan nama-nama up-and-coming ke berbagai festival musik besar lainnya di mancanegara.
Bagi penyuka serial favorit klasik Twin Peaks, mungkin namanya sudah tidak asing lagi. Ialah seorang David Lynch, kejeniusan artistik di balik fenomenalitas Twin Peaks, Mulholland Drive, dan segelintir karya lainnya. Kini, semua benih kepenasaranan akan perjalanan yang mengantarkan Lynch kepada puncak kreativitasnya bisa mulai terjawab, melalui dokumenter yang dibuat untuk merayakan jejak artistiknya sejak awal, bertajuk David Lynch: The Art Life.
Dokumenter garapan Jon Nguyen yang berorientasi pada hari-hari awalnya sebagai seorang seniman melukis ini rencananya akan rilis pada 14 Juli mendatang. Sebuah kesempatan untuk mengintip sumber inspirasi besar terawalnya, seniman Bushnell Keeler, yang pertama kali membuka kekagumannya akan kemungkinan baginya menjadi seorang pelukis.
Mengintip sisi yang cenderung jarang diketahui tentang Lynch ini mungkin yang diperlukan untuk bisa lebih memahami karakteristik-karakteristik yang menjadikan serangkaian karyanya kental akannya. Sebuah eksplorasi apresiatif terhadap relung terdalam dari Lynch yang meluap akan kekayaan imajinasi, yang menjadikan kita bisa berterimakasih padanya untuk segelintir karya yang tidak hanya menghibur, namun juga jelas meninggalkan bekasnya tersendiri.
Joining the ever-growing series of collaborations in the high-fashion industry, Louis Vuitton and Supreme announced their collaboration just earlier this year.
A release of their line of hoodies, bags, shoes, and such with mostly the vibrant red color of Supreme’s, with both brand’s logos splashed across most items marks the possible end of a bad-blood tension originating from back in 2000 when Supreme released decks with LV’s prints on them, which were then soon called-off by LV.
While the collaboration itself might come as a surprise to most due to both brands’ history, what might be more foreseen is are the tags on the collection which costs 3,500 up to 50,000 euros for each item. This still doesn’t stop the crowd’s anticipation to the collection’s launch, though. Because apparently, super bright red hood jackets and sunglasses with huge prints of the brands splashed across them costing thousands of euros are still worth the hype. Funnily enough, some of the crowd queuing to enter a pop-up launch in London claimed to be waiting not to actually purchase the insanely priced items, but rather to simply experience the ‘vibe’.
This certainly speaks a lot about the length nowadays’ crowd is willing to go to simply experience all the hype and buzz of a trend, which may trigger the question of whether this is about having deep and devoted passion for fashion, or just a very frank and cringe-worthy proof of consumerism getting out of control. Nevertheless, doesn’t mean that the collection is still not to marvel at. Even though some aspects of the collaboration may be subject to eyebrow-raising for some, the combined work of high fashion’s most esteemed luxury brand and cult favorite’s skater label should still deserve the anticipation it’s getting.
Terapi Urine mungkin akan terlihat sebagai band yang geguyonan bagi kebanyakan. Dengan nama, judul lagu serta penampilan dan kostum panggung yang selalu bodor, tampaknya itu memang salah satu visi mereka (jika memang mereka memilikinya). Namun, jika diperhatikan lebih dekat, sebenarnya justru mereka adalah band yang serius, ini bisa dilihat pada produktivitas mereka yang lumayan, sejak pertama muncul di tahun 2012, mereka telah mengeluarkan sejumlah rilisan dalam berbagai bentuk, EP, album juga Sebelum sekali lagi mereka menutupi keseriusan tersebut dalam balutan yang Namun justru di situlah posisi mereka menjadi menarik, dalam hal ini mereka telah menyejajarkan diri dengan Primitive Chimpazee dari Malang yang mengembalikan humor dalam silsilah turunan hardcore yang kadang terlampau serius itu.
Jika masih perlu bukti mengenai keseriusan anak-anak Terapi Urine dalam menertawakan dunia beserta isinya (termasuk mereka sendiri), album "Petenteng" bisa jadi pembuktian yang relevan. Dirilis di Instagram, album tersebut berisi 9 lagu pendek yang dalam melakukan keahlian terbaik Terapi Urine: grindcore secepat kilat, dengan lirik nakal yang mengusik. Dan, utama di album ini jelas ada pada lagu "Existensi" dimana mereka mengkritisi budaya di sosial media (dan mereka melakukannya di album yang dirilis dalam bentuk Instagram video), grindcore lokal belum pernah terasa sejenial ini.
Dengarkan album "Petenteng" selengkapnya di Instagram.
Coba juga diskografi Terapi Urine.
Through her first published essay, Fransisca Bianca ponders further on how the lingering sensation of past emotions can get some people hooked on an abusive yet inspiring addiction.
Sebuah hiburan dengan segelintir nama musisi yang pastinya sudah tidak asing lagi, Folk Music Festival kembali hadir. Menginjak tahun ketiganya, festival ini menawarkan suasana hiburan baru di Malang, tepatnya di Kusuma Agrowisata, Batu. Diisi dengan nama-nama seperti Payung Teduh, Danilla, Float, Silampukau, Stars and Rabbit, Monita Tahalea, Bin Idris dan masih banyak lagi, Folk Music Festival kali ini menjanjikan sebuah ajang untuk menikmati karya lokal dengan beragam karakter.
Folk Music Festival 2017
Sabtu, 15 Juli 2017
10:00 - 24:00
Kusuma Agrowisata
Jl. Abdul Gani Atas, Batu
HTM IDR 150.000
Meski perlu direkognisi karya aslinya, namun lagu—sama seperti karya seni lainnya—tentu bisa menjadi subjek reinterpretasi oleh banyak pihak. Bukan berarti pemaknaan menjadi dihilangkan, dan ‘kementahan’ awal menjadi tidak relevan, namun interpretasi semata-mata menjadi bentuk baru dengan pemberian ‘nyawa’ berbeda bagi karya. Interpretasi juga bisa dilihat sebagai lahirnya kembali sebuah karya yang diberi hembusan angin segar baru.
Leisure memperkenalkan sebuah remix dari "U and Me" oleh M.I.L.K., di mana jika sebelumnya M.I.L.K. menyajikan U and Me dengan dentingan drum yang lebih jelas, dengan nada groove yang mungkin mengubah suasana seolah kembali ke era 70an. Dengan tetap mempertahankan suasana 70an tersebut, Leisure menyulap "U and Me" dengan alunan lebih halus dan r&b. Meski begitu, emosi dan jiwa dari lagu tersebut tetap menghadirkan konsep dan vibes retro yang menyegarkan, sehingga pemaknaan baru dari lagu ini tidak akan meninggalkan kesan ‘kehilangan.’
Direktori: Di Makassar, Melihat Harapan dari Indonesia Timur
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode kedua mini seri Direktori, kami berkunjung ke Bali untuk mencari apa yang tersembunyi di balik deru pariwisata dan melihat bagaimana keberagaman hidup di sana.
Episode pertama untuk mini seri terbaru kami untuk campaign #Direktorikota, kami memulainya dengan pertanyaan besar, apakah semangat kebersamaan masih ada di keseharian kita?