Berbicara tentang AXEAN Festival, kami mengundang beberapa alumninya, Batavia Collective dan The Panturas, untuk mengulik atmosfer di dalam festival musik tersebut yang seperti konsisten melambungkan nama-nama up-and-coming ke berbagai festival musik besar lainnya di mancanegara.
The 1990's were beloved for many reasons. Awesome bands provided enough one-hit-wonders for us to reminisce and belt them out at karaoke. These songs will surely bring back the nostalgia along with chokers, jnco pants, and bleached hair. As if!
1. Ben Folds Five - Army
2. Eagle Eye Cherry - Save Tonight
3. Marcy Playground - Sex And Candy
4. Eels - Novocaine For The Soul
5. Fastball - The Way
6. The Verve Pipe - The Freshmen
7. Semisonic - Closing Time
8. Live - Lightning Crashes
9. Stereophonics - Mr. Writer
10. The Wallflowers - One Headlight
11. Local H - Bound For The Floor
12. Nada Surf - Popular
13. Bloodhound Gang - The Bad Touch
14. White Town - Your Man
Kontes desain tahunan UNIQLO T-Shirt (UT) Grand Prix kembali hadir dan kali ini mengangkat tema “Marvel.” Setelah sukses mendapatkan belasan ribu submisi secara global pada kontes sebelumnya, tahun ini UNIQLO memilih Marvel sebagai tema dikarenakan potret heroisme, karakter ikonik serta penceritaan epik yang diproduksi Marvel Entertainment telah menarik perhatian beragam khalayak di dunia.
Kontes ini mengajak sosok kreatif di dunia untuk berpartisipasi dalam koleksi UTGP yang akan dirilis pada tahun 2018 dan menunjukkan kreativitas lewat ilustrasi maupun fotografi. Para kontestan akan diminta untuk mensubmit karya berdasarkan karakter Marvel yang terdaftar di sini. Selain akan di ke menjadi koleksi UTGP, karya yang terpilih akan mendapat sebesar US$ 10.000.
-
Pendaftaran dibuka mulai 24 Juli - 31 Agustus 2017
Info lebih lanjut, kunjungi laman ini
Menuangkan cerita yang berkaitan dengan alam gaib, dunia misteri, serta keganjilan-keganjilan yang tak masuk akal ke dalam layar sinema memang menjadi ketertarikan umum bagi para penggiat film. Selain suburnya narasi-narasi semacam itu, pengangkatan tersebut juga dilandasi motivasi banyaknya penonton yang akan datang menyaksikan. Namun apakah kualitasnya dapat menjadi jaminan? Jangan samakan dulu persepsi Anda sebelum menonton film terbaru Na Hong Jin, The Wailing.
The Wailing berkisah mengenai polemik atas kematian beberapa warga di sebuah desa secara misterius. Para korban mendadak berubah brutal; dimulai dengan menghabisi anggota keluarganya sebelum akhirnya tumbang membawa noda-noda penuh darah. Satuan kepolisian lokal yang dipimpin Jong-Goo (Kwak Do-won) pun dipaksa menelan rasa bingung dan frustasi. Menerka apa penyebab tragedi pahit tersebut hingga akhirnya prasangka terhadap orang asing dari Jepang (Jun Kunimura) digunakan sebagai dalil; ia dalang atas semua perkara.
Yang menarik dari The Wailing adalah bagaimana Na Hong Jin membungkus konflik berlandaskan asumsi, dugaan, omongan dari mulut ke mulut tanpa paham betul kenyataan masalah, kemudian menyembunyikan aktor sebenarnya di balik teror menyeramkan. Walaupun realitanya memang sosok roh jahat yang berdiri menghancurkan kehidupan damai warga desa, Na Hong Jin mengaburkannya dengan samar-samar di antara gadis lugu bernama Moo-Myeong (Chun Woo-Hee), cenayang beridentitas II Gwang (Hwang Jung-min), atau mungkin kiranya orang asing dari Jepang. Sayangnya, menjelang akhir Na Hong Jin merusak investigasi dengan sekenanya dan meninggalkan sejuta tanya di kepala.
Menyaksikan The Wailing di lain sisi menampar keras kebiasaan kita selaku Kita tak jarang larut dalam pusaran masalah berdasarkan perkataan orang ke orang tanpa melihat jernih yang terjadi sebenarnya. Dari kegelisahan itu, Na Hong Jin mencoba menyelipkan pesan humanis kepada khalayak ramai. Dalam balut kisah menyeramkan, nyatanya muncul keteguhan sikap guna menjaga nalar manusia agar tak menelan semuanya mentah-mentah.
The Wailing (2016)
Sutradara: Na Hong-jin
Sinopsis: Film ini menceritakan tentang kasus pembunuhan misterius yang menimpa sebuah keluarga. Seluruh anggota keluarga itu mati secara tragis. Namun salah satu korban kondisinya sangat aneh. Kulit dan tubuhnya membusuk seperti mayat hidup. Kasus ini kemudian ditangani oleh polisi bernama Jong Goo. (kakaeynotes.com)
With the ever-growing population, the government seek an opportunity to create a reciprocal relationship with the use of platform where young creative businesses can utilize machines, such as 3D printers as well as woodworking, sewing and fashion sizing machines, and share their skills to local residents at the recently opened Jakarta Creative Hub.
While it may not be the most intriguing way of describing a selective work of art undoubtedly worthy of celebration, perhaps there’s more to this inaugural exhibition at the upcoming Remai Modern’s opening than the title lets on. A collection of some 8,000 works that were previously in the former Mendel Art Gallery, joined by a selective number of Picasso linocuts and ceramics that are to be displayed upon the opening are intended to trigger visitors into raising several questions on modernity and reality.
“What is modern? Can art confront reality? What is urgent and why?” are some of them. Perhaps a more conversational experience is what ‘Field Guide’ aims for. And perhaps, in a world of constantly evolving understanding of reality, met with the contradictive stillness of the limited ability of our minds to perfectly grasp the entire picture, a mind-trip into the thought-triggering collection of art that speaks through ‘Field Guide’ is just what’s needed. Who knows? Maybe ‘Field Guide’ could be the unexpected guide that provides its visitors with a wider range of ideas and possibilities of what it means to be modern, and just how art is supposed to have more to do with reality than realized.
Kiranya semula menjadi membingungkan untuk membayangkan sebuah musikalisasi berisi ‘intipan’ ke dalam pengaruh substansi dengan dosis tertentu. Namun melalui “Modafinil Blues,” Matthew Dear memberikan kemungkinan untuk mengintip tersebut, yang disertai dengan vibrasi melankolia yang makin menuju kegelapan, namun juga dibumbui dengan sedikit humor. Terlepas dari penilaian akan kelaziman dari kondisi yang mengarah kepada terbentuknya “Modafinil Blues,” perlu diakui bahwa ia berhasil menghantui pendengar dengan sensasi seakan terjebak di dalam seluk beluk kerumitan dunia buatannya.
Sebuah alunan goth yang mengalur secara perlahan, mungkin kebutuhan untuk bersantai dan meringankan suasana tidak bisa dipenuhi dengan lagu satu ini. Namun, bukan berarti kemampuan Dear dalam mengalterasi sebuah ‘perjalanan’ yang tidak berakhir dengan mulus ke dalam sebuah alunan tidak perlu diakui. “Modafinil Blues” mengundang pendengarnya untuk juga menarik kesimpulan sendiri terkait pesan yang ingin disampaikannya. Tapi bukankah itu letak keindahannya?
Direktori: Di Makassar, Melihat Harapan dari Indonesia Timur
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode kedua mini seri Direktori, kami berkunjung ke Bali untuk mencari apa yang tersembunyi di balik deru pariwisata dan melihat bagaimana keberagaman hidup di sana.
Episode pertama untuk mini seri terbaru kami untuk campaign #Direktorikota, kami memulainya dengan pertanyaan besar, apakah semangat kebersamaan masih ada di keseharian kita?