Berbicara tentang AXEAN Festival, kami mengundang beberapa alumninya, Batavia Collective dan The Panturas, untuk mengulik atmosfer di dalam festival musik tersebut yang seperti konsisten melambungkan nama-nama up-and-coming ke berbagai festival musik besar lainnya di mancanegara.
4:44 adalah rilisan terbaru dari rapper asal Brooklyn, Jay Z, dan album ini mungkin saja adalah karyanya yang terbaik, atau setidaknya yang paling jujur. Dalam album ini Jay Z membuka hal-hal yang sangat personal, dari perseteruan nya dengan Solange hingga sebuah sindiran kecil untuk Kanye West, tetapi selain itu Jay Z juga menceritakan tentang sosok Adnis Reeves, ayah dari sang rapper. Memang dalam karir lama sang rapper, menceritakan sosok ayahnya bukanlah hal yang baru, tapi kali ini, ia membuat sebuah video untuk menemani “Adnis” tersebut.
Dibintangkan oleh Mahershala Ali dan aktor veteran Danny Glover. Video yang terasa sangat personal ini memotret penonton perasaan duka dan simpati terhadap sang rapper lewat kepedihan dan penyesalan yang dirasa setelah ayahnya meninggal pada tahun 2003 silam. Lagu “Adnis” pun ia tulis sebagai sebuah surat terbuka yang ditujukan kepada ayahnya dengan lirik sangat personal dan tulus.
Untuk sementara waktu, video ini hanya bisa disaksikan lewat Tidal. Tetapi tunggu saja beberapa waktu, karena mungkin saja Jay Z akan merilis videonya di YouTube sama seperti video-video 4:44 lainnya.
Sebuah kolaborasi berisi nada harmonis hasil improvisasi bass dan synth, jelas bisa menyita perhatian penikmat musik. Singkat namun tetap memiliki energi yang cukup untuk menciptakan suasana funk yang halus dan tidak tergesa-gesa, Raw Funk #01 merupakan karya penggabungan instrumen dan groove terbaru dari Fulgeance dan DJ Soulist asal Prancis yang rapi, penuh sensasi, dan jelas hanya bisa dinikmati.
Perbedaan karakter dari kedua kolaborator nyatanya tidak menghambat keselarasan melodi yang menciptakan sebuah dunia yang baru. Warna disko, hip hop, soul, latin, dan funk dari DJ Soulist bertemu dengan nuansa elektronika yang menghipnotis dari Fulgeance dan melahirkan sebuah spektrum baru yang jelas kaya akan nyawa dan energi. Sebuah keselarasan yang memang memaksa pendengar untuk menari-nari dan memang menghipnotis, kreasi Souleance nampaknya hanya mengambil bagian terbaik dari kedua dunia berbeda dari penciptanya.
Raw Funk #01 by Souleance
Tidak hanya hadir dengan konsep dan konten yang unik, tiap museum yang ada di dunia, mampu menawarkan pengalaman alternatif berupa kumpulan sejarah hingga perkembangan subkultur setempat kepada smart traveler. Artikel ini disponsori oleh Cathay Pacific Travel Fair yang menawarkan harga tiket pesawat dan hotel terbaik untuk melengkapi rencana perjalanan Anda.
‘Perjalanan’ akan berbagai nuansa funk ini disuguhkan oleh Will Sessions, sebuah kelompok musik yang kental dengan aliran funk asal Detroit. Deluxe yang disajikan dalam bentuk LP ini membawa pendengar memasuki berbagai dimensi funk yang berbeda, mulai dari dentingan dengan instrumen ramai hingga nuansa funk yang membawa sensasi menyantai. “Jump Back,” “Cherry Juice,” dan
Run, Don’t Walk” juga disumbangi talenta dari Ricky Calloway, Allan Barnes, Coko of Funk Night Records dengan karakter-karakternya masing-masing, seperti “Cherry Juice” yang menawarkan vibe funk yang perlahan namun meroket, yang juga patut untuk disimak.
Sekilas memang pasti terasa usaha keras Will Sessions menyulap Deluxe menjadi sebuah karya dengan berbagai lapisan warna funk yang tidak menjenuhkan. Sebuah kedatangan dalam skena musik funk yang menawarkan tidak hanya satu sisi dari karakter bermusiknya, Will Sessions layak dilihat sebagai pengubah mood dan nuansa menjadi lebih berwarna dan berdimensi lewat Deluxe.
Semangatnya untuk mengkaji media dan konteksnya telah membuat Otty Widasari menjadi salah satu tokoh yang berperan dalam literasi media di antara masyarakat Indonesia. Whiteboard Journal menemuinya untuk menanyakan program yang ia buat bersama Akumassa, peran Forum Lenteng hingga eksperimen dalam karya seni.
Pameran yang menampilkan hasil kurasi Rizky A. Zaelani dan akan menghiasi dinding-dinding Dia.Lo.Gue hingga 14 Agustus mendatang ini mendalami persoalan waktu ‘kini’ dan pengalaman yang menyertainya. Bagaimana seluk beluk dari ‘kini’ bisa menghasilkan interpretasi yang beragam dari segelintir pribadi yang mengalaminya. Dialog yang dihasilkan pun akan berbeda antara penyaji dan penikmat karya, di mana realisasi dari varian sikap dan pengalaman mereka dipertemukan oleh ruang dan waktu di lokasi pameran.
Sederet karya dari 21 nama seperti, Nus Salomo, Budi Kustarto, Ykha Amelz, Erizal As, Putu Sutawijaya, Rebellionik, dan masih banyak lainnya ini seolah merefleksikan perbedaan interpretasi yang diintensikan tersebut melalui macam medium karya yang digunakan. Seperti karya dari Rebellionik bertajuk Connecting Unconnected yang berbasis cermin, di mana kata-kata ‘kecewa, sedih, khawatir’ tertanam di atasnya; karya reflektif tersebut berada di seberang Darth Mader karya Nus Salomo dan Kotot van de Jroth yang menampilkan patung kertas tokoh Darth Vader berbuah dada. Kedua karya ini berada di ruang terpisah dari Mentari Pagi Menembus Benda-Benda dan Sebuah Perspektif karya Budi Kustarto yang menampilkan interpretasinya atas situasi pagi hari di dalam ruangan dalam lukisan cat minyak.
Seluruh rangkaian pameran yang tersebar di sudut-sudut Dia.Lo.Gue ini, seolah mengundang lebih banyak interpretasi lagi dari para penyimaknya di dalam konteks berbeda. Dengan menyimak sederet judul dan rupa dari karya lainnya, mungkin yang dibutuhkan untuk memahami tiap pengalaman di baliknya memang interpretasi pribadi. Berbagai karya yang menjadikan pameran ini, memang melarutkan penyimaknya dalam pemaknaan yang meluas, namun tetap demi tujuan yang sama, yakni pengalaman emosional dalam ragam bentuk dan warna.
25 Juli – 14 Agustus 2017
Senin – Sabtu, 09:30 – 18:00
Dia.Lo.Gue
Jl. Kemang Selatan 99A
Jakarta
Direktori: Di Makassar, Melihat Harapan dari Indonesia Timur
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode kedua mini seri Direktori, kami berkunjung ke Bali untuk mencari apa yang tersembunyi di balik deru pariwisata dan melihat bagaimana keberagaman hidup di sana.
Episode pertama untuk mini seri terbaru kami untuk campaign #Direktorikota, kami memulainya dengan pertanyaan besar, apakah semangat kebersamaan masih ada di keseharian kita?