Berbicara tentang AXEAN Festival, kami mengundang beberapa alumninya, Batavia Collective dan The Panturas, untuk mengulik atmosfer di dalam festival musik tersebut yang seperti konsisten melambungkan nama-nama up-and-coming ke berbagai festival musik besar lainnya di mancanegara.
Type Directors Club (TDC) mengajak publik untuk melihat dan berinteraksi langsung dengan karya-karya pemenang Type Directors Club Annual Typography. Sebagai salah satu asosiasi tipografi terbesar dan tertua, lewat pameran keliling keduanya di Indonesia, TDC ingin memperlihatkan pilihan karya-karya tipografi terbaik, yang dikemas dalam bentuk print untuk menginterpretasikan tipografi secara progresif.
Jika sedang bingung mencari hiburan baru untuk alias menonton maraton non-stop di waktu senggang, atau sekadar untuk sesekali mengisi kebosanan, serial sitcom Inggris yang mengudara di Netflix ini bisa disimak lebih jauh. Dengan berdurasi sekitar 20 menit lamanya tiap episode dan dengan mengangkat tema seorang gadis berusia 24 yang tinggal di London sedang mengkontemplasikan keinginannya untuk merasakan hubungan seksual pertamanya, tidak perlu konsentrasi terlalu keras untuk bisa menikmati tiap detik dari serial karya Michaela Coel ini yang tayang sejak 2015 ini.
Banyak tema lain yang dieksplorasi di dalamnya selain seks, seperti kereligiusan sang karakter utama misalnya, yang menjadi kontradiktif dengan keinginannya untuk mengalami hubungan seksual. Dibumbui dengan dialog interaktif antara sang karakter utama dengan kamera yang seringkali terlalu jujur mengutarakan pikirannya, dengan berbagai bahan tertawaan, dan berbagai kejujuran yang digambarkannya mengenai kecanggungan hubungan romantis mengarah pada kegiatan seksual, mungkin Chewing Gum yang juga menyuguhkan berbagai isu tabu yang memuaskan rasa penasaran kita dengan kocaknya bisa menjadi rehat yang menyegarkan dari berbagai keklisean tipikal sitcom biasa yang hanya berusaha terlalu keras untuk menghibur.
Suara merdu nan syahdu Danilla memang bisa membawa pendengarnya ke dalam keadaan yang magis, seperti yang dia tunjukkan dalam album “Telisik.” Wajar saat unit asal Bandung, Tigapagi, mengumumkan bahwa akan segera ada kolaborasi antara kedua pihak tersebut, ada banyak penggemar yang tidak sabar menunggu. Setelah dinanti-nantikan, akhirnya Tigapagi merilis video musik untuk lagu yang berjudul “Tidur Bersama” dalam akun YouTube mereka Tigapagi The Band.
“Tidur Bersama” sendiri merupakan kolaborasi pertama antara Tigapagi dan Danilla yang memang sudah direncanakan sejak lama. Vokal Sigit Pramudi bercampur baik dengan karakter suara Danilla yang empuk halimpu, menghasilkan suatu esensi yang sulit dideskripsikan setelah mendengarnya. Kedua artis terasa tulus dalam menyampaikan pesan yang terkandung dalam lagu ini, serta alunan musik folk yang mengiringi bisa-bisa menghipnotis siapapun yang mendengarnya.
Untuk menemani ini, sebuah mini film dibuat di mana Danilla berperan sebagai seorang gadis Jakarta yang sedang mencari alamat. Cerita manis ini terasa melengkapi alunan lagu dengan baik, pun nilai-nilai sinematiknya dan plot yang diberikan patut dihargai.
Saat tidak sibuk menjadi Content Director, Adita Kartasasmita akan dan menyesap bir sesering mungkin. Bukan apa-apa, bir adalah hal pertama yang muncul di kepala jika mendengar namanya berkat pengetahuannya akan macam bir yang ada di dunia, sehingga wajar kalau di kemudian hari ini membuat khusus tentang bir, bernama Beergembira. Pada episode Gimme 5 kali ini, kami mengundang Adita untuk memilih lima bir terbaik versinya.
Saya diperkenalkan bir ini oleh teman yang sedang bekerja di London. Waktu itu diajak ke sebuah rock ‘n roll bar di London dan dipesankan bir ini. Pertama coba langsung jatuh cinta. Bukan hanya karena desain labelnya yang keren ya, tapi rasanya pun sangat Mungkin karena bir ini menggunakan air yang sangat bersih di sana (tertawa). Waktu sekali teguk langsung bisa merasakan sedikit rasa dan Tidak berat, dan sangat Bir ini sangat untuk orang-orang yang tidak terlalu suka rasa pahit di dalam bir.
Ini bir pertama yang saya coba. Keluarga saya selalu minum bir ini dari zaman saya masih kecil. Bir ini legendaris banget di Ceko, karena bir ini adalah bir tipe pertama di dunia yang asalnya dari kota Plzen yang artinya saja Pilsen. Rasanya sedikit pahit namun ada rasa -nya setelah minum beberapa teguk. Kalau ada kesempatan mengunjungi Ceko, mampir deh ke kota Plzen dan ikut tur di Pilsner Urquell. Seru!
Bir keluaran Beavertown -nya memang sangat lucu-lucu. Banyak orang pertama beli bir ini karena desain kalengnya. Tapi rasanya pun tidak kalah dengan -nya. Waktu dibuka kalengnya, bisa langsung mencium aroma buah-buahan, agak seperti aroma mangga. Rasanya campur antara sedikit pahit dan manis, cocok untuk diminum kalau lagi panas-panasan. Saya suka semua bir keluaran Beavertown tapi Gamma Ray favorit saya.
Pertama mencoba bir ini di Jepang waktu diajak seorang teman ke Baird Taproom Bashamici di Yokohama. Saya mencoba beberapa bir dari Baird Beer saat itu dan jatuh cinta dengan Red Rose. Bir ini mempunyai karakter yang unik karena bir ini di fermentasi menggunakan ragi tapi diproses dengan temperatur yang sangat rendah seperti Rasanya seperti bunga dengan campuran karamel dan terasa sedikit pahit dan manis. Baird Beer dijual di Indonesia di beberapa dengan kemasan botol, tapi saya belum pernah lihat yang Red Rose. Yang pernah saya liat di sini yang Single Take Session Ale dan Wheat King Wit.
Sebelum mencoba bir ini, saya pikir bir berwarna gelap itu hanya Tapi ternyata bir berwarna gelap mempunyai banyak tipe. Saya pertama kali mencoba bir ini di Carlsberg Brewery di Copenhagen. Di situlah saya baru tahu kalau bir tipe itu ternyata ada yang karena dibuat menggunakan yang sudah di panggang. Saat mencoba langsung dari rasanya seperti karamel dengan sentuhan panggang dan ada sedikit rasa kacang juga. Setelah mencoba berbagai merk bir tipe saya tetap masih suka dengan rasanya Jacobsen Original, apa mungkin karena saya minumnya langsung dari di -nya ya? Hmmm….
Menjadi politikal di jaman seperti sekarang ini adalah pilihan yang masuk akal. Di antara tarik menarik polar kiri dan kanan yang tak sehat, dan lahirnya kebijakan yang sering tak berpihak pada rakyat, kita memiliki kewajiban untuk setidaknya menyuarakan pendapat. Kewajiban ini pula disandang oleh seniman yang merupakan bagian dari masyarakat. Seniman dalam hal ini memiliki posisi unik, melalui karya mereka, kesadaran bisa dibangun dengan cara yang menyenangkan sekaligus menyentuh pada saat bersamaan.
Tapi rasanya bagi Deu' Galih, pilihan untuk menyuarakan kegelisahan akan keadaan sosial lebih dari pertimbangan akal. Ada kejujuran pada nada dan kata yang ditulis Galih melalui musiknya. Bukan reaksioner, bukan pula demi alasan trendi ia bernyanyi. Album "Tanahku Tidak Dijual" adalah pembuktian mengenai hal ini. Lagu-lagunya mendekatkan kita pada realita yang sering tak seindah bayangan yang ada di kepala, bahwa ada saudara kita yang jauh lebih menderita daripada kita yang dengan mudah berkeluh saat terjebak kemacetan di jalan. Di Kendeng hingga Papua, perjuangan masyarakatnya jauh lebih berat, dimana mereka harus berjuang melawan kebijakan pincang untuk mempertahankan tanah dimana mereka dilahirkan. Inilah yang kemudian divisualkan melalui "Tanahku Tidak Dijual" yang berperan sebagai single kedua dari album.
Sebuah pengingat kembali dari Galih, bahwa folk tak melulu berarti nyanyian tentang riang dan sendu senja. Bahwa nyanyian model ini juga memiliki kemampuan untuk menjadi cara yang paling tepat untuk membahas mengenai manusia dan lingkungan yang ada di sekitarnya. Betapapun pahit kisah yang ada di sana.
Fotografi dan hal-hal yang berbau horor sudah lama diberitakan di dalam media. Sering sekali kita mendengar cerita tentang bagaimana seseorang tidak sengaja mendapatkan foto atau video sebuah penampakan paranormal. Banyak yang beranggapan bahwa hal ini bisa terjadi karena roh dianggap sebagai cahaya oleh banyak orang, dan kebetulan sebuah kamera menangkap cahaya. Percaya atau tidak seseorang dengan pernyataan itu, kenyataannya adalah, hanya itu penjelasan terbaik.
Hubungan antara fotografi dan paranormal adalah tema dari film horor yang sebentar lagi akan rilis, yaitu Polaroid. Film ini terinspirasi dari sebuah film pendek buatan sang sutradara, Lars Klevberg. Untuk menambah sentuhan “The Ring” di dalam skrip nya, Chris Bender dan Roy Lee menjadi produser di dalam film ini.
Polaroid bercerita tentang seorang penyendiri di sekolah bernama Bird Fitcher yang tidak sengaja menemukan kamera polaroid dengan rahasia yang gelap. Segera ia akan sadari bahwa siapapun yang pernah terfoto oleh kamera tua itu akan mendapat kutukan kematian.
Direktori: Di Makassar, Melihat Harapan dari Indonesia Timur
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode kedua mini seri Direktori, kami berkunjung ke Bali untuk mencari apa yang tersembunyi di balik deru pariwisata dan melihat bagaimana keberagaman hidup di sana.
Episode pertama untuk mini seri terbaru kami untuk campaign #Direktorikota, kami memulainya dengan pertanyaan besar, apakah semangat kebersamaan masih ada di keseharian kita?