Berbicara tentang AXEAN Festival, kami mengundang beberapa alumninya, Batavia Collective dan The Panturas, untuk mengulik atmosfer di dalam festival musik tersebut yang seperti konsisten melambungkan nama-nama up-and-coming ke berbagai festival musik besar lainnya di mancanegara.
Kolektif animasi asal Perancis, MegaComputeur, menunjukkan keahlian mereka dalam animasi CGI berjudul “Play-Off.” Menceritakan tentang seorang pemain mini golf yang sedang mengalami hari yang buruk, animasi berdurasi 1 menit 30 detik ini dibuat saat mereka menjadi tenaga magang di Passion Animation Studio, London selama 4 minggu.
Dengan detail dan gerakan yang mulus, secara grafis “Play-Off” bisa dibilang mempunyai kualitas yang sama dengan produksi besar seperti Pixar. Warna-warna pastel yang lembut beserta musik latar ala kafe Perancis juga menambah kemenarikan dalam segi visual dan audio. Tetapi entah mengapa, cerita yang disuguhkan terasa terlalu hambar. Kemungkinan terbesar memang MegaComputeur menargetkan animasi ini untuk anak-anak, tetapi dengan alasan itu juga tetap tidak membuat humor yang ada di dalam animasi ini lebih menyenangkan.
Walau begitu, visual yang diberikan memang berkualitas sangat baik, dan ceritanya yang hambar tidak membuat animasi CGI pendek ini tidak sepadan untuk ditonton. Bahkan, “Play Off” menunjukan bahwa MegaComputeur adalah satu kolektif animasi yang patut diperhatikan perkembangannya.
Sutradara: MegaComputeur
Sinopsis: Seorang pemain golf yang serius berusaha terus menerus untuk bermain mini golf, tetapi gagal di setiap saat.
Bagi sebuah pasangan asal Brooklyn, buku-buku dan kedua kucing mereka adalah cinta terbesar mereka. Satu seorang penyair dan juga seorang profesor, satu lagi adalah direktur puisi dan literatur di Perpustakaan Kongress. Keduanya menginginkan tempat tinggal yang terang dan berwarna untuk mereka hidup dan kerja, serta mengakomodasi kedua peliharaan mereka. Sebuah firma arsitektur bernama BFDO berhasil membangun rumah impian mereka dengan desain yang mengutamakan dua faktor, pekerjaan dan kucing pasangan tersebut.
Dinamakan “House of Booklovers and Cats,” rumah dengan desain modern ini terlihat nyaman untuk ditinggali oleh seorang seniman maupun kucing. Dengan jendela-jendela modern yang besar dan juga kaca atap di tengah-tengah gedung yang menembus lantai dua, cahaya matahari bisa menerangi sisi interior dengan alami, memberikan inspirasi untuk pekerjaan serta penerangan untuk kehidupan sehari-hari. Layaknya seorang yang berkecimpung di dunia literatur dan seni, ruang utama dalam rumah terdapat rak buku yang dibangun mengisi satu tembok, menunjukkan koleksi buku-buku dan pernak-pernik yang dimiliki oleh pasangan.
Rak buku yang ada di ruang utama juga berperan sebagai tangga untuk kedua ekor kucing sang pasangan yang pemalu, di mana mereka bisa memanjat dengan mudah ke atas rak seandainya sang majikan sedang kedatangan tamu. Rak tersebut mempunyai banyak pijakan dan lubang, serta bagian atasnya terdapat dua tepian yang yang naik dari tengah. Di setiap ujungnya terdapat tempat bersembunyi kecil untuk kedua hewan peliharaan agar bisa tetap mengobservasi dan hadir saat keluarga sedang berkumpul.
Setiap orang pasti memiliki alter egonya masing-masing, sama seperti halnya vokalis unit alternative/emo asal Malang, Beeswax. Bagas yang sebelumnya menggunakan namanya sebagai bentuk perkenalan, kali ini memilih The Talkboy sebagai sebutan untuk dirinya pada proyek ini.
Setelah mengeluarkan EP berjudul “Self Loathe” yang mengangkat tema kesedihan dan kekecewaan, untuk album terbarunya “Pieces,” Bagas justru mengangkat tema sebaliknya. Nuansa romantis dan afeksi sangat menonjol di setiap lagunya, terlihat dari bagaimana pilihan lirik-lirik opimistik yang tertera pada video berdurasi 18 menit (6 lagu) yang dirilis lewat kanal YouTube Fallyears Records.
Dari segi sound, album ini tidak terlalu memberi kejutan. Riff gitar dan sound yang The Talkboy miliki cocok untuk kalian para penyuka band-band seperti Unknown Mortal Orchestra atau Mac DeMarco. Tapi silahkan beri kesempatan untuk mendengarkan album “Pieces” di bawah ini.
Desainer muda yang satu ini selalu memiliki cara yang unik untuk menyampaikan proses kreatif di setiap koleksi yang ada. Daripada membidik sesuatu demi popularitas, Green justru mencari celah di antara kesederhanaan dan kemurnian mode itu sendiri. Selain bahan, ada juga elemen-elemen lainnya yang selalu merepresentasikan koleksi-koleksi desainer asal London yang satu ini. Selain bahan dan palet warna, hal-hal seperti detail ekstrem, yang khas dan sentuhan adalah kelebihan dari setiap koleksinya, sehingga menarik banyak perhatian pecinta mode di seluruh dunia, sejak keluarnya koleksi pertama di tahun 2012.
Tidak perlu heran, jika koleksi Green terkadang terlihat seperti seragam yang dibuat khusus untuk sebuah institusi. Latar belakang Green memang didorong dari lingkungan tempat tinggalnya, yang kebanyakan adalah seorang pekerja, mulai dari ayah, paman hingga kakeknya. Berangkat dari sanalah, Green terinspirasi untuk menyelipkan aksen pada karya-karyanya.
Kali ini, untuk koleksi A/W 2017 sekali lagi Green menyita perhatian banyak pengiat mode lewat yang sangat unik. Setelah sebelumnya telah megemparkan dunia mode lewat foto A/W 2016 yang diambil menggunakan teknologi kali ini Green mempercayakan Dan Tobin Smith sebagai fotografer untuk mengabadikan koleksi terbarunya. Untuk kali ini, Green mengangkat tema tentang bagaimana kekuatan dari sebuah kesatuan ketika sedang menghadapi kekacauan. Tema ini digambarkan dengan para model yang menggunakan mantel lapis yang merupakan bagian dari koleksi terbarunya dan diarahkan untuk menjadi sebuah rakit air. Selain itu, lewat campaign tersebut, Green ingin memperlihatkan bagaimana fantasinya bisa memberikan alternatif lain untuk mengkomunikasikan pesan di balik koleksinya.
Selain merupakan personil band asal Wandsworth, London Jamie XX juga dikenal sebagai DJ dan produser. Setelah mengeluarkan album We’re New Here (2011) dan In Colours (2015) sebagai buah perkenalan karir solonya, juga memproduksi sejumlah rententan remix lagu, beberapa hari lalu Jamie sekali lagi memperlihatkan kebolehannya dalam mendaur ulang lagu dan memperdengarkannya kembali melalui prespektif yang berbeda.
Kali ini “On Hold” yang merupakan single pertama dari album teranyar The XX “I See You” menjadi trek pilihan Jamie untuk diramu kembali. Dengan sentuhan khas ala Jamie juga didukung dengan pengulangan nada-nada -nya, “On Hold” remix oleh Jamie bisa jadi salah satu trek yang wajib didengarkan di lantai dansa.
Sulit tidak menyebut nama Prabu Pramayougha saat membicarakan pop punk lokal. Melalui salah satu bandnya, Saturday Night Karaoke, ia menunjukkan bagaimana pop punk harusnya dimainkan: dengan penuh senang-senang. Beberapa waktu lalu, Saturday Night Karaoke memutuskan untuk menempatkan akhiran di perjalanannya, sebuah penutup yang manis setelah sejumlah album menawan, serta tur impian ke Jepang. Pada edisi Gimme 5 ini, kami mengundang Prabu untuk memilih lima lagu dari salah satu ikon pop punk, Descendents.
Album "Milo Goes To College (MGTC)" emang rilisan yang paling bagus dari mereka menurut saya. Salah satu elemen di album ini adalah permainan bass dari Tony Lombardo (bassist pertama Descendents) yang super melodik (bahkan lebih nge- daripada gitarnya) dan hampir semua lagu di album ini diisi sama kelas wahid dari dia. Lagu ini contohnya. Semua personil seperti menghantam langsung karakter unik masing-masing instrumennya termasuk lirik kesal-tapi-sebenarnya-galau dari Bill Stevenson pas masih remaja di lagu ini sangat mematenkan posisi Descendents sebagai band punk yang (Cupu di bahasa Sunda) pada zamannya
Di album "I Don`t Wanna Grow Up," mereka mulai main lebih nge-pop dibanding album MGTC plus keluarnya gitaris Frank Navetta - yang biasanya menulis dan main lagunya yang mulu - dari Descendents & masuknya Ray Cooper berpengaruh juga dalam musikalitas di album ini. Sebenarnya banyak kandidat lagu-lagu nge-pop di album ini, tapi "Christmas Vacation" benar-benar jadi pondasi awal lagu-lagu mid-tempo dengan progresi gitar yang agak miring tapi tetap nggak tuh!
Album dengan materi edan dari mereka. Edan dalam artian beneran gila. Thrash, pop punk sampai experimental ada di satu album ini. Ada satu "lagu" isinya kentut semua. Di sini mereka mulai bikin lagu lebih humoris - yang sebenernya kebanyakan - dan malahan beberapa lagu yang makin nge-pop juga, seperti "Sour Grapes" atau "Get the Time," bahkan ada Beach Boys terselip satu buah. Tapi ya lagu ini sih yang paling berkesan. Gitar ke mana, bass ke mana, drum ke mana tapi tetap bagus!
Album "ALL" kalo didengerin pas ALL (band setelah Descendents bubar di 1987, cuma ganti vokalis ) formasi awal pas Dave Smalley jadi vokalis rilis album "Allroy For Prez" malah terdengar jadi albumnya ALL. Masuknya Karl dengan Stephen banget ke musik Descendents yang sebelumnya agak sederhana, jadi tidak sederhana. gitar yang dan naik turun ke kunci mana mulai keliatan di album ini. Tapi ada 2 lagu yang berkesan buat saya, "Coolidge" dan "Pep Talk." Dua lagu itu masih ngasih kesan kalo Descendents masih band yang sama, yang masih ngepop. Cuma secara lirik & komposisi, "Coolidge" ini paling nempel. Kalo kamu pas sekolah ngerasa dijauhin karena jadi diri sendiri, (dan menurut orang-orang itu nggak banget) lagu ini buat kamu.
Akhirnya Descendents masuk label juga di tahun 1996. Epitaph rilis album "Everything Sucks" yang sekaligus jadi momen reuni mereka setelah bubar sebelumnya. Materi di album ini mulai lebih "megah" secara komposisi juga lebih tenang dibanding "Enjoy" atau "ALL." Lagu "Sick-O-Me" ini malah bikin kangen lagu-lagu mereka di album-album sebelumnya. Cepat, nge-pop dan tentunya progresi yang agak : di album ini juga vokal Milo yang paling enak selama dia main di Descendents
Direktori: Di Makassar, Melihat Harapan dari Indonesia Timur
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode kedua mini seri Direktori, kami berkunjung ke Bali untuk mencari apa yang tersembunyi di balik deru pariwisata dan melihat bagaimana keberagaman hidup di sana.
Episode pertama untuk mini seri terbaru kami untuk campaign #Direktorikota, kami memulainya dengan pertanyaan besar, apakah semangat kebersamaan masih ada di keseharian kita?