Latest stories

23.10.17

Quick Review: The Keeping Room

“The Keeping Room” membawa kisah yang gelap dan suram. Tetapi jika ada satu kata yang bisa menjelaskan film ini, mungkin kata itu adalah ‘cantik.’ Setiap bagian dari produksinya tidak ada yang tak enak dilihat, dari pilihan pemeran, latar, sinematografi, audio, bahkan adegan horor yang terjadi di awal film tetap dilakukan dengan indah. Mungkin Daniel Berber sengaja melakukan ini untuk membuat kontras yang baik antara keindahan dan kejelekan. Bahkan kecantikan adalah faktor konflik utama dalam film ini, dikarenakan paras cantik karakter utamanya, Augusta, mempesona dua tentara yang kejam. Akibatnya adalah Augusta, bersama adiknya dan pembantunya, harus bertahan hidup dalam rumah peninggalan orang tua mereka dari teror kedua tentara yang desersi tersebut. Walaupun nilai produksi yang terjadi di balik pembuatan film ini sangat memikat, cerita yang sederhana justru membuat film ini lebih menarik. Ini bukan sebuah cerita bertahan hidup karena perang ataupun psikopat. Augusta bertahan hidup dari dua orang lelaki yang tertarik kepadanya dan akan melakukan apa saja untuk mendapatkan dirinya. Moses dan Henry bukanlah penjahat yang mengincar kekayaan, bukan juga pembunuh yang mempunyai penyakit jiwa, tetapi mereka adalah dua orang lelaki biasa yang kebetulan menemukan kesempatan. Ini adalah sebuah kondisi yang hingga sekarang pun masih terjadi, di mana lelaki akan melakukan apa saja untuk menenangkan nafsu birahinya jika disediakan kesempatan. Jika kita kesampingkan latar perang bersaudaranya, film ini sebenarnya adalah sebuah cerita nyata tentang ketidaksetaraan perempuan. Sutradara: Daniel Barber Sinopsis: Dengan setting perang saudara Amerika Serikat, seorang gadis harus bertahan hidup bersama adiknya dan pembantunya saat mereka diteror oleh dua tentara minggat.

23.10.17

Review: Fazerdaze Live in Jakarta

Dua-tiga tahun terakhir, ada gejolak baru di skena musik. Gejolak itu berwujud dalam kehadiran band-band baru yang muncul dengan identitas kuat perempuan di dalamnya. Ini jelas bukan hal baru, tapi yang paling menyenangkan adalah kuantitasnya yang bertambah - dan dengan itu - semakin banyak pula warna di dalamnya. Tahun lalu, ada Mitski, Mourn, Mannequin Pussy, Strange Relation, Weyes Blood, hingga Noname yang menempati titik-titik tertinggi album terbaik 2016. Tahun ini pun sama adanya, sepuluh bulan berjalan, telah banyak musik bagus lahir dari tangan dan pikiran perempuan. Amelia Murray adalah salah satu yang menyumbangkan suara. Bermain dengan moniker Fazerdaze, Amelia adalah salah satu talenta terbaik yang tumbuh di antara pegunungan Selandia Baru. Musiknya sederhana namun tajam mengena. Rilisan penuh pertamanya, “Morningside” dengan mudah menjadi album yang menyenangkan dan bahkan saat kali pertama mendengarkannya. Meski begitu, cukup mengejutkan saat mengetahui tiket konser ludes selang beberapa hari sejak penjualan. Ini menunjukkan bahwa ada permintaan yang tinggi pada untuk bermain di Jakarta, juga kejelian tiga kolektif, 630 Recordings, Noise Whore dan Studiorama untuk membawa Amelia pulang ke separuh pertiwinya (di akhir tahun ketiga kolektif ini akan mengundang unit noise rock seminal, A Place To Bury Strangers). Tapi poin terbaik konser ini bukan di situ. Poin terbaik dari konser sabtu malam kemarin ada pada bagaimana band yang tampil merepresentasikan gejolak baru skena musik yang juga sedang berkembang di lokal. Tiga band yang dipersilakan tampil adalah band dengan vokalis/gitaris perempuan yang tampil dominan. Sharesprings - salah satu representasi indie pop Jakarta terbaik menurut kami - tampil sebagai pembuka. Grrrl Gang - band muda potensial asal Yogya - tampil berikutnya. Ini adalah sekaligus motivasi yang menarik - dengan memberikan panggung pada perempuan-perempuan ini, penonton diajak untuk melihat bahwa ada kesempatan yang sama bagi semua untuk berkarya. Poin ini kemudian digarisbawahi dengan tebal oleh Amelia dan kawan-kawan saat mereka membawakan lagu penutup yang membuat lantai atas Rossi bergetar dengan semua pengunjungnya - baik laki-laki maupun perempuan - sejenak melupakan bias gender dan melafalkan lirik lagu “Lucky Girl.” Sepanjang dan sesudah acara, ada binar pada mata dan senyuman Amelia. Sepertinya ia puas dan bahagia dengan penampilannya di Jakarta. Rasa-rasanya senyum yang sama juga akan dengan mudah ditemukan pada paras semua penontonnya.

23.10.17

Archipelago Festival

Archipelago Festival memupuk sebuah harapan dan semangat baru bagi para penggiat musik hari ini agar bisa saling mendukung dan melahirkan buah-buah ide segar.

22.10.17

The Algae Dome

Space10 IKEA berkolaborasi dengan 3 arsitek muda untuk menciptakan bioreaktor berbentuk kubah yang dapat meningkatkan pertumbuhan mikroalga. Kubah ini ditempatkan di CHART Art Fair Copenhagen untuk menunjukkan potensi alga, atau ganggang, sebagai tumbuhan berpotensi di masa depan. Memperbaiki sistem pangan di masa depan merupakan salah satu fokus Space10. Mereka percaya bahwa alga dapat memberi jawaban atas isu-isu dunia seperti malnutrisi dan perubahan iklim. Mikroalga hijau sendiri mengandung vitamin, mineral, asam amino, zat besi 50 kali lebih tinggi dari kentang, serta protein 2 kali lebih tinggi dari daging. Konstruksi yang disebut “Algae Dome” ini dipamerkan setelah memenangkan kompetisi arsitektur yang diadakan oleh Chart Art Fair tahun 2017. Tiga arsitek muda Aleksander Wadas, Rafal Wroblewski dan Anna Stempniewicz bekerja sama dengan Keenan Pinto, insinyur biologi yang sedang menjalankan residensi di Space10 IKEA. Pada instalasi ini, “Algae Dome” terdiri dari pipa sepanjang 320 meter dengan mikroalga mengalir di dalamnya. Kubah ini mampu memproduksi 450 liter mikroalga dalam 3 hari selama CHART Art Fair diadakan. Menariknya, pengunjung dapat menikmati waktu di eksposisi sembari duduk di dalam “Algae Dome”, mereka juga dapat menyicipi keripik spirulina -bahan makanan dari alga hijau - buah tangan Simon Perez, seorang chef yang juga sedang menjalankan residensinya di Space10.

21.10.17

Menghargai Nenek Moyang dengan Amerta

Modernisasi dalam semua hal yang manusia lakukan menjadi visi bagi banyak pihak. Teknologi baru setiap harinya muncul, membuat manusia lebih malas dan ketergantungan. Ini adalah alasan mengapa terkadang masyarakat dunia perlu berhenti sejenak dan kontemplasi kepada masa lalu, mengingat apa yang nenek moyang kita dulu perbuat untuk menjalani dan menikmati hidup. Itulah apa yang pabrik penyamakan kulit Amerta tawarkan, yakni menghasilkan kulit-kulit premium dengan cara yang tradisional. Pabrik penyamakan kulit ini mengaku spesialis dalam menyamak kulit dengan cara para nenek moyang. Dengan teknik vegetable tanning, Amerta memiliki visi untuk menghasilkan produk yang tahan seumur hidup. Teknik ini dilakukan dengan memanfaatkan unsur nabati yang alami serta lokal, yaitu dari kulit kayu pohon Akasia yang ada di Indonesia. Hasilnya adalah bahan yang lebih kuat, tahan lama, serta semakin cantik dengan bertambahnya umur. Memang cara yang dilakukan oleh perusahaan asal Yogyakarta ini patut diacungkan jempol. Membuat sesuatu dengan meninggalkan cara-cara modern dan melakukannya secara tradisional bukanlah hal yang mudah, membutuhkan proses yang lama dan waspada. Namun itu semua terbayar dengan hasil yang lebih berkualitas dan mempunyai nilai tersendiri.

20.10.17

Gimme 5: Madrim Djody

Selain aktif dan tergabung di sebuah kolektif muda yang banyak menginisiasi acara-acara kreatif khususnya di bidang musik, yakni Studiorama, Madrim juga aktif menghadiri berbagai macam festival dan acara musik internasional untuk memperkaya wawasannya. Untuk itu, pada episode Gimme 5 kali ini, kami menanyakan 5 acara musik terbaik yang pernah ia hadiri. Saya ingat sekali momen ketika Damon Albarn meneriakkan “We love London!” saat konser reuni Blur di Hyde Park, 8 tahun lalu. Konser ini diramaikan 60.000 orang yang bernyanyi bersama pada tiap lagu sembari menari dan berteriak antusias. Tentu sangat bagi saya. Tapi ada 1 lagu, yaitu “Park Life” yang membuat mata beberapa orang sembab (mungkin karena lokasinya di Hyde Park?) dan bagi saya lagu tersebut memiliki kesan berarti karena saya ingat ada seorang laki-laki melempar botol plastik bau pesing ke kepala saya (tertawa). Trish Keenan adalah idola saya sejak masa kuliah hingga hari ini. Saya menyukainya karena karyanya menemani saya saat mengalami depresi. Saya bersyukur bisa melihat penampilannya langsung sebelum ia meninggal. Broadcast akan selalu memiliki tempat spesial di memori saya, RIP Trish. Ini merupakan berdurasi 3 hari terbaik yang pernah saya datangi. Belle & Sebastian, Joanna Newsom, Hawkwind, Os Mutantes dan The Besnard Lakes adalah penampil terbaik menurut saya kala itu. Saya tidak akan pernah lupa bagaimana indahnya pemandangan di dekat Meredith Amphitheatre, sebuah bukit terpencil yang terlihat seperti sebuah taman batu romantis. Benar apa yang dibilang oleh para warga lokal di sana, (tertawa). Tempat festival ini cukup karena mereka menggunakan besar yang dimodifikasi menjadi sebuah area bermain khusus untuk orang dewasa. Saya ingat saat itu suasananya berantakan, panas, dan pengap seperti yang saya perkirakan karena, ya, ini adalah acara All Tomorrow's Parties (tertawa). Untuk mengerti maksud saya, mungkin bisa cek dokumenternya. Saya merasa waktu melambat ketika menonton SWANS, My Bloody Valentine, Einsturzende Neubauten, Sleepy Sun, Pere Ubu, GodSpeed You! Black Emperor dan setelah saya menangis bahagia. Sebenarnya ada beberapa momen seru di periode 2014 sampai 2016, tapi karena saya hanya bisa menulis 5 penampilan musik terbaik, saya memilih festival terakhir yang saya hadiri tahun ini, yaitu Field Day Festival di London Timur. Festival ini layaknya representasi masa kini dengan nuansa 90-an yang kental. Beberapa penampilan musik di festival ini yang akan selalu saya ingat adalah Aphex Twin, Slowdive, Flying Lotus, Death Grips, Jon Hopkins, Nicolas Jaar, Ikonika, Moderat dan Silver Apples. Selain itu, festival ini menjadi semacan nostalgia saya akan masa-masa di London saat saya kuliah di sana. Rasanya seperti pulang kembali ke rumah.

Load More Articles whiteboardjornal, search
whiteboardjournal, play
Music
NOW PLAYING

Screen Time with .Feast & The Panturas

Invent Your Future

Temukan siapa dirimu dan bagaimana karaktermu menentukan arah masa depan.


Tentukan Di Sini whiteboardjournal, search

Follow us on social media

Instagram whiteboardjournal, search Facebook whiteboardjournal, search Twitter whiteboardjournal, search

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.