Backstage Life Bareng Grrrl Gang di Episode Kelima Vindy Ngapain?
Tahun ini Grrrl Gang mendapatkan kesempatan untuk menjadi salah satu line up di We The Fest 2019, dan Vindy diperbolehkan untuk mengikuti aktivitas mereka.
Label muda produktif asal Jakarta, Kolibri Records merilis video musik untuk rilisan terbarunya, Low Pink. Lagu yang dipilih adalah "Phases" yang juga merupakan judul EP dari Low Pink. Disutradarai oleh Ratta Bill (vokalis Bedchamber, sekaligus owner dari label ini), pendekatan yang diambil agak mengingatkan pada video Gizpel - Zittau yang mereka rilis sebelumnya. Menampilkan model yang juga sekaligus personil Low Pink ketika live, Phases bermain-main dengan white space, tone warna khas filter social media, dan gerakan minimal nan awkward, seolah berusaha menerjemahkan potongan lirik "I am my limitless efforts, my worst mistakes" dalam bentuk visual. Dan, bersamaan dengan dirilisnya video ini, Kolibri Records juga mengumumkan jadwal tur yang akan dijalani oleh Low Pink menuju enam kota di pulau Jawa (Bogor, Bandung, Solo, Jogja, Surabaya, dan Malang) pada 15-22 Oktober 2016. -- Dapatkan EP Low Pink dan rilisan Kolibri lainnya di sini.
Sejujurnya, Bandempo adalah band yang cukup sulit untuk dipahami. Setelah berulang kali mendengar lagunya, dan menemukan Bandempo menjadi nomor satu di 15 Album Indonesia Terbaik Dekade 2000-2010 versi Jakarta Beat, paham itu tak kunjung datang, bahkan justru bingung yang menyerang. Secara musik jelas mereka bukan tipe yang mudah bersahabat dengan kuping, sound rekaman mereka seperti direkam langsung dari amplifier studio latihan di pinggiran kota yang dihasilkan dari alat murahan dan efek gitar seadanya. Belum lagi mengenai cara menyanyi Anggun Priambodo yang jauh dari kata merdu, bahkan band sekolahan level SMP pun memiliki vokalis yang lebih enak dengar dibanding Anggun yang bernyanyi seolah enggan beranjak menuju akil baligh, meskipun ia telah sunat tiga kali. Dosisi tinggi absurditas pada lirik mereka jelas tak membantu. Maka, ketika Elevation Records mengumumkan bahwa mereka akan merilis reissue album satu-satunya dari diskografi Bandempo yang dulu dirilis pada tahun 2000, bingung itu kembali melanda. Buat apa merilis ulang sebuah album yang tak jelas jeluntrungannya ketika sekarang ada banyak sekali band baru yang menawarkan musik yang lebih menarik di telinga? Ternyata, layaknya pertanyaan penting lainnya, jawaban atas kebingungan itu datang pada saat yang tak terduga. Datang tanpa ekspektasi pada pesta rilis album vinyl reissue yang berlangsung pada 2 Oktober 2016, di Ruru Radio, Gudang Sarinah Ekosistem, Bandempo membuktikan diri sebagai band yang memiliki kualitas tersendiri. Kalau boleh menganalogikan, Bandempo memiliki perspektif yang mirip dengan Sutadji Calzoum Bachri, sastrawan nyeleneh yang mengobrak-abrik makna dan struktur puisi yang umum ditemui. Dengan gayanya sendiri, Sutardji membebaskan kata-kata, di tangannya puisi lebih dari sekedar indahnya persajakan dan rima, puisi karya Sutardji adalah karya instalasi yang melihat lebih dalam dari sekedar makna yang ada pada setiap kata (simak puisi karya Sutardji disini). Puisi bikinannya, bebas dari kungkungan makna leksikal, hingga tak jarang terdengar mirip seperti mantra. Malam itu, Anggun melakukan hal yang sama. Alih-alih bernyanyi, ia nyaris terdengar seperti sedang merapalkan mantra. Bersama rekan setimnya, Anggun mengobrak-abrik kaidah musik yang ada di kepala semua penontonnya. Dalam hal ini, musik Bandempo pun membebaskan diri dari makna leksikal, bahwa lirik tak harus gamblang maknanya, dan tentang terminologi genre yang tak lebih dari omong kosong belaka. Karena, indie-rock jelas tak akan cukup merangkum kombinasi nyanyian "biri-biri terbanglah tinggi", diantara irama musik yang kadang berisik, kadang berdendang, dan seringkali kekanakan itu. Penampilan Bandempo pada acara tersebut - tanpa atau dengan kostum ala Afrika itu, seolah menjelaskan mana posisi yang mereka ambil (entah sengaja atau tidak) melalui musik yang mereka mainkan. Jika sekali lagi boleh membandingkan, kalau Efek Rumah Kaca mungkin adalah personifikasi karya Chairil Anwar dalam bentuk musik, maka Bandempo jelas sekali adalah Sutardji Calzoum Bachri. Dua-duanya memiliki sumbangsih yang jelas pada kesusastraan lokal, dan dua-duanya dihargai sebagai sosok yang penting. Dan, dengan begitu, Elevation Records sekali lagi membuktikan tajamnya pengamatan mereka tentang musik baik yang harus diabadikan dalam bentuk rilisan. -- Vinyl Bandempo reissue bisa didapatkan di High Fidelity Jakarta, Omuniuum dan Kineruku Bandung atau via mail order ke elevation1977@gmail.com.
Karya kolaborasi adalah hal yang menarik. Diluar hasil akhirnya, interaksi antar 2 sosok, yang berusaha untuk saling mengisi satu sama lain selalu memiliki daya tarik tersendiri. Untuk sebuah projek musik berjudul "Seasons", Ben Wendel, musisi jazz asal Kanada, menciptakan 12 komposisi untuk berkolaborasi dengan 12 musisi berbeda. Ben Wendel adalah seorang komposer musik dan musisi (saksofon, piano, bassoon) juga merupakan personil grup Kneebody, telah mendapat nominasi Grammy Awards. Sebagai musisi solo, ia juga tampil sebagai sideman atau band-leader untuk musisi terkenal seperti Snoop Dogg, Ignacio Berroa, Daedelus, dan Taylor Eigsti. Sepanjang tahun 2015, setiap bulan Ben Wendel mengarang sebuah komposisi yang dibuat untuk musisi tertentu. Menurut websitenya, dia menulis lagu duet yang dibuat spesifik untuk musisi-musisinya dan instrumen yang mereka mainkan. Dari gitaris Julian Lage, pemain trompet Ambrose Akinmusire, sampai pemain piano Aaron Parks, setiap komposisi disesuaikan menurut permainan musisi dan karakter instrumen yang dimainkan. Duet-duet yang dibuat semua merupakan karya orisinil, namun mengangkat beberapa tokoh yang mempengaruhi Ben Wendel, seperti Tchaikovsky dan lagu "I'll Remember April" karya Gene de Paul. Di lagu-lagu yang mereka mainkan, terasa pengaruh musik klasik dan jazz, dan juga dari permainan musisinya. Yang paling menarik dari kolaborasi-kolaborasi ini tentunya adalah interaksi permainan antar musisi. Meski duetnya diciptakan oleh Ben Wendel, ada keberagaman yang menarik pada permainan instrumen kolaboratornya. Mulai dari permainan drum Eric Harland yang penuh dengan aksen, sampai permainan piano Shai Maestro yang mengayun. Karakter permainan musisi tamu memberi warna yang beragam pada projek "Seasons". Bisa dilihat dari video-videonya pula, permainan Ben Wendel sendiri juga terpengaruh oleh karakter dan interaksi musisi tamunya. Hal ini membuat "Seasons" seri yang menarik, karena meskipun komposisi lagunya datang dari satu kepala, kobinasi hasik permainan yang terjadi membuat setiap sesi momen jadi spesial. Lokasi-lokasi permainan kolaborasi juga menjadi nilai plus. Dari club jazz, ruangan kosong, sampai ke ruang tamu sebuah apartemen, suasana setiap sesi berbeda dan menambah atmosfir kepada kolaborasinya. Untuk membaca mengenai "Seasons" dan menonton semua videonya, klik disini.
Tahun ini, acara biennale boneka sampai pada gelaran ke lima. Sebagai penggagas sekaligus penggerak acara, Papermoon Puppet Theater terus konsisten dalam misi menumbuhkan budaya tutur dan cerita melalui medium boneka. Masih dengan semangat swadaya, rencananya tahun ini Pesta Boneka akan dilangsungkan akhir tahun dengan konsep acara yang semakin mendekatkan diri pada publik umum. Dan, untuk mendukung berjalannya misi mulia ini, Papermoon Puppet Theater bekerja sama dengan Edwin's Gallery menggelar "The New Version : Secangkir Kopi dari Playa", penggalangan dana sekaligus pameran karya. Bertempat di Edwin's Gallery, Kemang Raya No.21, dimainkan kembali lakon Setjangkir Kopi Dari Plaja. Memang, bukan cerita baru yang dimainkan disini - Setjangkir Kopi Dari Plaja telah dimainkan lima kali pada berbagai tempat berbeda, namun layaknya hikayat abadi lainnya, kisah ini terus hidup dan selalu mampu menemukan tempatnya di relung hati penontonnya. Dan ini bukan tanpa alasan, beberapa detil ditambahkan, sesuai cerita baru yang didapatkan Ria dan Iwan dari tokoh yang menjadi inspirasi kisah ini. Dengan bekal itu, ruangan Edwin's Gallery dibuat hangat, sebelum berubah temaram dan diakhiri oleh sendu pada gerak-gerik Pak Wi - sapaan akrab dari Widodo Suwardjo beserta sang kekasih, tokoh utama kisah ini. Dan, tepat ketika sang kekasih menundukkan muka pada akhir cerita, Papermoon Puppet selalu berhasil menemukan celah untuk menyentuh benak pemirsanya, tak peduli apakah mereka awam atau kawakan dengan cerita ini. Penghargaan tinggi juga tercurahkan pada Ria beserta tim puppeteer yang selalu mampu menempatkan jiwa pada setiap gestur tokoh yang mereka mainkan. Pentas Setjangkir Kopi dari Plaja dimainkan 5-7 Oktober 2016 pada jam 6 dan 8 malam, serta 8-9 october 2016 pada pukul 3 sore dan 7 malam dengan tiket seharga Rp. 300.000, dikabarkan tiket telah terjual habis hingga show tambahannya. Namun, kesempatan terbuka untuk mengunjungi pameran set dan pameran karya Iwan Effendi yang bisa dikunjungi kapanpun. Tersedia pula merchandise booth Papermoon Puppet serta beberapa pilihan donasi untuk ikut merayakan Pesta Boneka #5. Long live Pak Wi, long live Papermoon Puppet Theater!
Whiteboard Journal kembali membuka program internship bagi individu berkemauan keras dan memiliki terhadap dunia kreatif dan sekitarnya. Selama menjadi intern, beragam departemen dalam Whiteboard Journal akan menjadi keseharian, mulai dari editorial hingga marketing yang mengolah data untuk konten situs kami. Intern juga akan mendapat proyek khusus yang didesain untuk mendorong kreativitas dalam mengolah sebuah konten di bawah supervisi Whiteboard Journal. Ini merupakan kesempatan untuk menunjukkan potensi dalam mengonsepkan sebuah ide dan mendapat platform untuk menunjukkannya langsung ke publik. Jika tertarik, dengan judul email . Untuk info lebih lanjut, silahkan kirim ke pertanyaan ke email yang sama. Syarat: - Tinggal di Jakarta, karena kantor kami terletak di Kemang - Bisa dan bersedia menjadi intern full-time, 5 hari seminggu - Memiliki kemampuan berbahasa Inggris dan Indonesia - Memiliki ketertarikan terhadap beragam hal, mulai seni, desain, musik, fashion, kultur bahkan sosio ekonomi - Memiliki pengetahuan luas dan keinginan untuk terus belajar - Memiliki skill Photoshop menjadi nilai lebih!
Train to Busan adalah film yang sangat menghibur. Dengan cerita yang berpusat kepada penumpang-penumpang kereta yang berusaha untuk melarikan diri dari epidemic virus zombie, hasil karya sutradara Yeon Sang-ho ini patut dipuji, terutama karena ia mengambil sebuah tema (zombie) yang sudah cukup sering diangkat, namun membuatnya menjadi sesuatu yang sangat menyenangkan untuk ditonton tanpa perubahan signifikan pada formula jenis film ini. Seperti film zombie lainnya, kisah Train to Busan berkisah mengenai bagaimana karakter-karakternya bisa bertahan hidup dan meloloskan diri dari malapetaka yang selalu mengejar mereka. Salah satu elemen yang membuat film ini seru adalah zombienya, tidak seperti zombie di film lain, disini mereka bisa berlari dan bergerak dengan cepat. Ketegangan di film zombie biasanya datang dari rasa paranoia pada monster-monster yang secara pelan mengejar tokoh utama - membangun sebuah atmosfir yang pelan-pelan tumbuh di kepala penonton sembari filmnya berlangsung. Dengan zombie yang bergerak sangat cepat dan berbondong-bondong, Train to Busan membuat setiap adegan melarikan diri seperti layaknya film action - tegang dan penuh adrenalin. Tentunya, film ini tidak hanya menawarkan adegan action yang bertubi-tubi. Yeon Sang-ho memberi waktu istirahat dari adegan-adegan tegang serta memajukan plotnya melalui interaksi dan drama antar karakter. Seperti hubungan antar bapak dan anak, pasangan muda, dan hubungan antar karakter lain yang berkumpul dalam usaha melawan zombie. Meskipun adegan drama berhasil memberi ruang untuk istrahat dari dan juga mengamplifikasi bagian serunya, adegan tersebut kadang terasa berlebihan. Pesan-pesan moral klise tentang persahabatan, loyalitas, dan gotong royong yang menyolok dan memancing emosi penonton terasa terlalu dipaksakan. Sebelum Train to Busan, Yeon Sang-ho telah menyutradarai sejumlah film animasi, dan mungkin adegan drama yang pantas melalui animasi tidak berhasil diterjemahkan dengan baik pada film live-actionnya. Tetapi secara keseluruhan, Train to Busan adalah film menyenangkan yang patut ditonton jika anda mencari film action yang menghibur. Suksesnya sudah terbukti dengan gosip bahwa akan ada sebuah sequel atau prequel yang akan menyusul di waktu yang dekat. Train to Busan (2016) Sutradara: Yeon Sang-ho Sinopsis:
Temukan siapa dirimu dan bagaimana karaktermu menentukan arah masa depan.