Backstage Life Bareng Grrrl Gang di Episode Kelima Vindy Ngapain?
Tahun ini Grrrl Gang mendapatkan kesempatan untuk menjadi salah satu line up di We The Fest 2019, dan Vindy diperbolehkan untuk mengikuti aktivitas mereka.
Setelah mengeluarkan “Feels Like Summer” pada bulan Maret yang lalu, sudah ada spekulasi bahwa unit alternative rock Weezer akan merilis album ke 11-nya pada tahun ini. Rumor-rumor yang berterbangan akhirnya diberi klarifikasi oleh band asal Los Angeles ini dengan memberi tahu nama albumnya serta tanggal perilisannya, yakni Pacific Daydream yang akan rilis pada tanggal 27 Oktober. Untuk mempromosikannya Weezer juga merilis video musik untuk kedua dari album tersebut, “Mexican Fender”. Pacific Daydream disebut-sebut akan melanjutkan palet suara yang telah dibangun di album sebelumnya, The White Album. Suasana pantai dan musim panas pada album yang rilis pada taun 2016 itu berhasil membuat fans lama Weezer dan juga para kritik kembali mencintai band ini. Walaupun begitu, Weezer berencana untuk sedikit bereksperimen dengan suara ini dan menambahkan unsur-unsur baru kedalam Pacific Daydream. Suara ini bisa terdengar di dua lagu terbarunya, “Feels Like Summer” dan “Mexican Fender”. Kedua lagu ini mempunyai suasana pantai dan autentisitas California yang dicampurkan dengan hawa psychedelic dan bedroom pop. “Mexican Fender” terdengar lebih cocok dengan suara baru ini, dan “Feels like Summer” masih terasa setengah matang. Tentu saja setiap eksperimen akan membawa pro kontra nya sendiri. Dan ketahuilah bahwa hari di mana Weezer berhenti “mencoba-coba” adalah hari yang buruk bagi sejarah musik alternative. Pacific Daydream sudah bisa di pre-order pada link ini.
Kolektif artis musik elektronik dan seni visual asal Bali, Project23, berencana membawa konsep baru ke dalam skena musik Indonesia. Dengan keyakinan bahwa proyek ini akan menyuguhkan setiap karya secara objektif, unit ini akan ‘menyembunyikan’ identitas para talenta yang akan tampil. Selain itu, mereka juga akan menjadi eksplorasi berbagai lapisan genre musik yang mewarnai skena lokal, termasuk melodisasi dari sebuah suara. Dengan konsep ini, Project23 akan melakukan pertama mereka yang mereka namakan “Chapter One”. Ajang ini akan mengundang musisi elektronik lokal seperti Zat Kimia dan Pariwisatan, serta talenta Jakarta yang sudah terkenal seperti Jonathan Kusuma dan Kimokal. Lalu akan ada juga instalasi seni dari APE, Gentur Suria, JNS & Bimo, dan Johny Grim & Sawda Muzlama. Project23 “Chapter One” akan diadakan pada tanggal 2 September, mulai dari pukul empat hingga tengah malam. Walaupun sempat mengalami kendala di lama mereka yakni Gate 88, Project23 akan tetap lanjut dijalankan di venue baru mereka yaitu Allcaps Graffiti Gallery and Park di Jalan Raya Canggu. Facebook Instagram
The long wait for brand new sounds from Arcade Fire, whose last album was well received back in 2013, finally reaches its end. The announcement for the upcoming album Everything Now finally draws some sense into the speculations over the buildup that had been created recently, such as a redirection from their website into a mysterious live-stream and a Tweet signaling the arrival of an “infinite content.” The titular song itself is said to speak of the now-ness of life. How there should be a captured sensation of living in the now, in spite of all its flaws and for all its glory. Certainly an up-to-date rendition of celebrating the present, Everything Now definitely spreads the always-sought-after feeling of embracing life as it is. Perhaps this very vibrant emotion spread with each tune is just what’s worth anticipating their return for.
Ada beragam respon ketika melihat video promosi Malam Gembira yang bertebaran di salah satu kanal media sosial, salah satunya adalah penasaran dan hal tersebut terbayar pada tanggal 18 Agustus 2017 lalu. Berusaha untuk menghidupkan kembali pesta musik ala tahun 80 dan 90-an yang dipenuhi dengan penari berkostum meriah dan lagu-lagu berenergi, Swara Gembira sebagai suatu kolektif musik lokal di balik jalannya acara ini, patut mendapat apresiasi atas kegigihannya dalam mengumpulkan musisi dari tahun 80-an guna menghidupkan kembali romantisme lagu lawas Indonesia. Bertempat di The Pallas, Faigrounds yang memiliki desain ruang dengan panggung lega dan dilengkapi layar di selanya, wajar jika penonton yang datang tergugah dengan klasik malam itu. Namun, yang mengagetkan adalah demografi penonton yang datang sungguh variatif, mulai dari mereka yang menikmati masa muda di tahun 80-an hingga anak muda berumur 20-an yang kini keranjingan disko. Malam itu merupakan malam yang panjang bagi mereka yang gigih ingin berada di bibir panggung, dan sebentar bagi yang datang ketika bulan sudah tinggi. Pintu dibuka sejak jam 18:30 namun penonton berbondong-bondong sudah mengantri sejak jam 18:00, sehingga Irama Nusantara serta Semarak Nada langsung menghibur dengan seleksi lagu jadul Indonesia yang mampu memanaskan suasana sebelum panggung diisi oleh deretan penyanyi dan penari. Setelah menunggu cukup lama, tepat sebelum jarum jam menyentuh 21:30 deretan penari Kinarya GSP memenuhi penggung dan sontak penonton bergemuruh menyambut mereka. Tiap gerakan dan ekspresi yang ditampilkan menunjukkan betapa ajaibnya imajinasi Guruh Soekarno Putra dalam menciptakan suatu karya begitu megah dan hidup - tidak hanya pada masanya, tapi hingga hari ini. Satu per satu Vina Panduwinata, Kadri Mohamad, Bornok Hutauruk, hingga Djajoesman Junus meramaikan panggung dengan energi besar. Vokal Vina jelas masih prima, pun ketika “Anak Jalanan” dinyanyikan Kadri sembari melompat dari kanan ke kiri panggung, vokalnya masih stabil. Beralih ke aransemen funk/samba, lagu “Rinai Hujan” membuat penonton di depan panggung tidak segan untuk bergoyang mengikuti antusiasme Bornok. Bahkan Guruh dan tamu antara lain, Christine Hakim, ikut bersorak ketika lagu ini dinyanyikan, suatu kelangkaan bisa berasa dalam 1 ruangan dengan mereka dan melihatnya ikut berdansa. “Zamrud Khatulistiwa” berhasil meremangkan bulu kuduk ketika Keenan Nasution menyanyikannya dengan syahdu dengan secercah harapan bahwa Chrisye masih ada dan bisa bergabung malam itu. Chaseiro tampil berikutnya dengan “Rio De Janeiro” dan menghasilkan koor dari seluruh sudut ruangan dan kejutan tidak sampai di situ karena Candra Darusman bergabung ke panggung tanpa dikira, membuat penonton semakin riuh, pun di atas panggung. Begitu banyak yang terjadi malam itu, belum lagi “Smaradhana” oleh Glenn Fredly yang menghidupkan nostalgia cita cinta musik Indonesia - manis tanpa pretensi. Namun, belum lengkap rasanya jika “Keranjingan Disko” tidak dimainkan, dan Rekti Yoewono lah yang mendapat kesempatan ini. Hadir dengan nuansa rock, lagu ini seakan dihidupkan untuk mengajak muda mudi ajojing bersama. Walau lagu tersebut dibuat puluhan tahun lalu dikarenakan Guruh merasa terusik dengan konsep disko sebagai pesta eksklusif, rasanya perkataan beliau bahwa, “Disko bisa dinikmati oleh segala kalangan, bukan hanya orang gedongan,” patut diamini hingga hari ini. Vira Talisa dan Kunto Aji pun hadir menyanyikan 2 lagu, salah satunya "Galih & Ratna." Tidak ketinggalan trio Aimee Saras, Bonita dan Sari yang tampil dengan balutan kebaya cantik untuk lagu "Hura-Hura." Namun, di antara kemegahan lagu yang berturut-turut menggemparkan isi The Pallas, adalah “Melati Suci” yang dinyanyikan oleh Tika Bisono yang mampu menimbulkan rasa haru. Hanya dengan warna putih, aransemen syahdu dan tarian dari Swara Maharddhika, lagu yang digubah oleh Candra Darusman ini patut diakui kesakralannya. Memukau adalah kata yang tepat untuk menggambarkan Malam Gembira. Walau terdapat kekurangan di beberapa hal, namun apresiasi dilayangkan kepada Swara Gembira atas pagelaran musik yang indah dan tentunya ambisius.
Alunan orisinil karya Tim Maia bertajuk "Where Is My Other Half" memang layak mendapatkan rekognisi lebih untuk falsetto halusnya dan bass ringan namun lebih dari cukup dalam mengkomplementer vokalnya. Sebuah karya yang memang cukup memikat perhatian untuk kedalaman dari liriknya yang bisa memicu emosi, nostalgia, atau bahkan hanya sebagai terapi patah hati bagi siapapun yang mendengarnya. Bagi Dead Horse Beats sendiri, yang memikat justru patah hati yang dirasakan begitu mendengarnya. Dengan usaha untuk mendalami pemaknaan dan memberikan sentuhan segar pada “Where Is My Other Half,” ia pun cukup pantas menyaingi keindahan mendayu yang ada pada karya orisinil Maia. Dengan kualitas vokal yang tidak kalah memikat dan penjiwaan lagu yang tidak perlu dipertanyakan lagi, redefinisi Dead Horse Beats akan karya Maia satu ini memang menjadi sajian yang menyentuh bagi siapapun yang membutuhkan alunan bagi emosi pribadinya.
Mungkin berbagai film atau bahasan mengenai mencintai tubuh masing-masing orang, khususnya perempuan, sudah tidak jarang lagi. Namun, pada kenyataannya film pendek animasi bertajuk “Body Beautiful” ini tetap dapat mengilhami dengan cara dan sudut pandang humoris yang tetap menjadi menarik untuk disimak. Tidak perlu meluangkan waktu lama untuk menyaksikan keseluruhan kisah tentang perempuan yang seringkali diolok oleh sekitarnya karena ukuran tubuhnya ini, tepatnya kurang dari 15 menit saja. Meski perlu diberikan apresiasi lebih atas usahanya menjadikan hiburan singkat ini sehumoris dan sekomedik mungkin, namun jalan cerita yang disuguhkan memang tidak jauh dari kisah yang klise. Dengan dialog yang cenderung cukup sulit untuk bisa terdengar jelas, namun dibarengi dengan animasi yang unik dan kocak. begitu pepatah mengatakan. Dan memang, tidak ada yang begitu baru atau berbeda dari santapan sinematis ringan satu ini. Mungkin, fakta bahwa tahun rilisnya ialah lebih dari 20 tahun yang lalu di mana sudut pendekatan topik soal penampilan masih begitu terbatas. Meski demikian, bukan berarti relevansi pesan yang dikandungnya menghilang sedikit pun termakan waktu. Sutradara: Joanna Quinn Sinopsis: Seorang perempuan yang berbadan gemuk mengalami tekanan sosial dari teman-temannya untuk ikut kontes kecantikan, namun akhirnya ia berhasil mencari cara baru untuk mencintai tubuhnya sendiri.
Temukan siapa dirimu dan bagaimana karaktermu menentukan arah masa depan.