Backstage Life Bareng Grrrl Gang di Episode Kelima Vindy Ngapain?
Tahun ini Grrrl Gang mendapatkan kesempatan untuk menjadi salah satu line up di We The Fest 2019, dan Vindy diperbolehkan untuk mengikuti aktivitas mereka.
Artis pop pada masa ini memang penuh dengan persamaan hingga kadang susah untuk membedakan satu dengan lainnya. Tentu dengan budaya yang ada pada saat ini, tidak ada juga yang peduli tentang hal itu. Autentisitas bukan lagi sesuatu yang dipikirkan di budaya pop, tetapi pernyataan itu tidak berlaku kepada Lady Gaga, sang penyanyi yang terkenal dengan aksen Manhattan-nya yang kental, pilihan bajunya yang eksentrik, dan juga penampilan yang luar biasa. Tapi sejauh ini, hanya itulah yang kita ketahui tentang Gaga. Lady Gaga hanyalah sebuah identitas yang dibuat untuk mempromosikan pola berpikir “berbeda itu baik.” Media di manapun pasti sudah sering mengupas segala kebaikan dan kontroversinya. Namun dalam dokumenter “Gaga: Five Foot Two,” subjek utama yang ingin didalami adalah seorang Stefani Germanotta, penyanyi di balik nama fenomenal itu. Film ini menceritakan tentang proses Germanotta dalam membuat album “Joanne” hingga penampilan spektakulernya di Super Bowl 2017. Dengan menggunakan gaya dokumenter ini akan menunjukkan secara blak-blakan apa saja yang telah menginspirasi album “Joanne” dan masalah emosional yang selama ini dialami Lady Gaga. Film yang mentah dan penuh perasaan ini akan membawa penonton dalam sebuah perjalanan mengenal hidup di balik seorang bintang pop internasional, juga membuktikan bahwa dirinya hanyalah seorang manusia yang sama rendahnya dengan siapapun.
Untuk pribadi yang menyukai berpenampilan berani dan ramai, Ash memang menjadi opsi utama dalam fashion alas kaki. Kali ini buatan desainer Patrick Ithier dan Leonello Calvani akan berkolaborasi dengan artis dan ilustrator Filip Pagowski. Kolaborasi ini menghasilkan sebuah koleksi bermotif natural yang terang dan langsung menarik perhatian. Pagowski sendiri memang terkenal karena karya-karyanya yang atraktif, mulai dari kerja samanya dengan Drake dalam “Views From the 6” dan mungkin karyanya yang paling terkenal, logo Commes des Garcons. Desainnya yang memikat bisa dibilang sangat menunjukan bahwa kolaborasinya dengan ASH memang cocok. Koleksi ini mempunyai dua desain utama, “Flame” dan “Tweed.” “Flame” menunjukkan desain sayap berbentuk api dengan warna hijau daun terang, sedangkan “Tweed” menunjukan motif daun berwarna merah api yang di di seluruh sepatu. Koleksi ini tersebar di antara dompet, kaos kaki, dan tiga desain sepatu kesukaan Pagowski dari koleksi ASH. Semua desain ini mempunyai tujuan untuk melengkapi pakaian Koleksi lengkapnya bisa dicek di website utama mereka di sini.
Sebagai seorang vokalis yang tergabung pada unit alternatif pop, Skandal, Siddha memiliki karakter dan persona yang cukup menarik perhatian baik di atas panggung maupun penampilan sehari-hari. Untuk itu, pada episode Gimme 5 kali ini kami menanyakan siapakah 5 terbaik versinya, yang menginspirasi Siddha dalam berpakaian. Sejak pertama kali mengenal hingga mengidolakan Beastie Boys, mereka selalu terlihat keren di mata saya. Dari musik sampai penampilan, trio seminal ini secara estetika punya karakter yang sangat kuat dan berdampak vital bagi saya sampai sekarang dan mungkin seterusnya. Saya bolak-balik ke seperti Pasar Senen, Pasar Baru, atau di mana saja karena terinspirasi dari apa yang dikenakan oleh Beastie Boys. Termasuk fanatisme saya terhadap hingga topi atau seperti dan jeans yang juga memang saya sering kenakan sehari-hari. Secara sadar maupun tidak, semuanya dipengaruhi oleh Ad-Rock, Mike D, dan MCA. Mereka juga yang membuat saya jatuh hati dengan seperti Puma Suede. Entah bagaimana, gaya dan cuek mereka selama 3 dekade ini, selalu definitif dan cocok untuk saya. Menurut saya Earl Sweatshirt adalah tipe manusia yang kekerenannya sudah menjadi bakat alami. Sepaket komplit audio (musik) dan visual (penampilan). Walaupun bukan yang tertampan, anak muda ini punya bahasa tubuh yang didukung dengan penampilan sederhana yang membuat saya kagum. Topi, kaos, Seperti halnya Beastie Boys, bagi saya lagi tukang celoteh yang juga merupakan seorang produser berusia 23 tahun ini adalah salah satu persona yang gayanya saya jadikan referensi untuk diterapkan sehari-hari. Fungsional dan tidak perlu berusaha terlalu keras. Saya dengan senang hati akan menjawab Bob Nastanovich jika ditanya perihal siapa personel favorit dari grup sinting tersebut. Selain bermacam peran pentingnya bagi band tersebut, penampilan dan apa yang selalu dikenakan sangat mampu mencuri perhatian serta sedikit banyaknya menginspirasi saya. Salah satu contohnya adalah ketika beliau memakai kaos Minutemen, dan bermain tamborin sambil bernyanyi di acara televisi tengah malam tahun 1994. ( karena saya masih bisa mengakses penting seperti ini di era sekarang). Penampilannya adalah representasi jelas dari istilah Sejak melihat video itu, sampai sekarang saya selalu terpengaruh (hingga kadang meniru) cara dan gaya beliau ketika bermain tamborin. Tentu saja, saya merasa berhutang banyak kepada mereka, khususnya Bob Nastanovich. Saya lupa kapan saya pertama kali mendengarkan Dinosaur Jr., tapi yang jelas ketika melihat bentuk mereka, J Mascis, saya jadi makin mengidolakan band ini. Dari sekian banyak gaya beliau yang ingin saya tiru-tiru sedikit, penampilannya ketika muncul di dokumenter “1991: The Year Punk Broke,” membuat saya ingin menggunakan punya topi kuning. Menurut saya, J Mascis adalah satu dari sedikit yang membuat paduan topi dan rambut gondrong itu enak dilihat. Hingga hari ini gayanya masih keren meskipun umurnya sudah tidak muda lagi, entah itu memakai kaos band hardcore punk yang seangkatan dengan bandnya dulu atau yang lainnya. Jika nanti sudah tua, beruban banyak, berkumis-janggut, dan memutuskan untuk memanjangkan rambut, saya sudah tahu siapa yang akan saya jadikan kiblat penampilan. Saya sudah cukup lama mengidolakan musisi jazz yang merangkap sebagai fotografer dan legendaris satu ini. Dengan sederhana, pembawaannya menyenangkan dan penampilannya pun punya ciri tersendiri plus mudah untuk saya adopsi. Kaos atau lengan pendek atau panjang, dan Vans - terutama Half Cab. Terlihat tidak berlebihan, dan tidak akan termakan tren apapun, menurut saya. Semua itu menariknya juga jadi kombinasi yang saat beliau sedang bermain gitar atau sedang berseluncur dengan -nya.
Selain seorang penyanyi dan pencipta lagu, sosok Ras Muhamad yang menyebut dirinya sebagai Indonesia’s Reggae Ambassador, di saat luang juga merupakan seorang DJ yang memperkenalkan diri sebagai Asia-Afrika Soundsystem. Unit yang dibentuk bersama seorang reggae Lion Rock, hari ini merilis sebuah mixtape bertajuk DehPon Vol. 2 yang merupakan sebuah kolaborasi bersama salah satu musisi reggae terbaik asal Eropa, Toke. Mixtape ini berisikan 14 lagu yang mendeskripsikan seperti apa fleksibilitas dan kemampuan Toke dalam memilih instrumen yang dapat mencakup melodi-melodi dasar mulai dari reggae, hip hop, afrobeat hingga folk. Nantinya mixtape ini juga akan memperdengarkan secara ekslusif beberapa trek pilihan yang merupakan lagu olahan yang diambil dari materi album pertamanya, “Wake Up Inna Kingston.” Selain itu, yang menarik dari DehPon Vol. 2 tidak hanya memperdengarkan keahlian para musisi yang terlibat dalam penguasaan lirik hingga segi musikal, namun juga memperlihatkan bagaimana hubungan yang tercipta antara musisi dan reggae itu sendiri. Dengan latar belakang tersebut, detail-detail seperti efek suara dan freestyle ala Indonesia yang dipilih dengan cermat. Mixtape ini menawarkan sebuah pengalaman baru yang dalam mendengarkan musik.
Seniman Prancis Xavier Veilhan menciptakan patung sosok arsitek Richard Rogers dan Renzo Piano, yang akan dipamerkan secara permanen di seberang Centre Pompidou, gedung ikonik ciptaan kedua arsitek tersebut. Patung-patung ini merupakan variasi dari Seri Arsitek Xavier Veilhan dan telah dipamerkan secara khusus untuk pertama kalinya di Palace of Versailles pada 2009. Kedua patung ini juga akan dipamerkan di Galerie Perrotin, Paris, sebelum ditempatkan di Place Edmond Michelet, seberang Centre Pompidou. Seperti versi aslinya, karya teranyar ini dibuat dari setinggi 5 meter dan memiliki bentuk segi, yang membedakan adalah warna dan ukurannya yang lebih beragam. Kedua patung ini diberi warna hijau agar menyerupai konstruksi Centre Pompidou dan akan ditempatkan di ruang publik. Sebelumnya, Veihan ingin membuat seri patung musisi pop, politisi atau aktor-aktor terkenal, tapi sosok arsitek merupakan subjek favoritnya dan ia menyebut mereka sebagai Arsitek Richard Rogers dari Inggris dan Renzo Piano dari Italia ia pilih karena karya-karya mereka memadukan kemahiran teknis, modernitas dan teknologi, serta ide-ide mengenai humanisme yang dikembangkan pada 1970-an.
Kehadiran salah satu kolektif muda yang memperkenalkan diri sebagai Studiorama di awal dekade tahun 2000-an, membawa sebongkah harapan besar untuk keberlangsungan skena musik independen di Indonesia. Pasalnya apa yang coba ditawarkan oleh mereka adalah bibit-bibit peleburan berbagai bidang kreatif untuk bisa menghadirkan penampilan-penampilan baru yang segar. Dengan merangkul para pelaku musik itu sendiri, seniman dan sosok-sosok kreatif lainnya, Studiorama secara pasti memperlihatkan seperti apa konsistensi yang mereka miliki. Kali ini menggandeng salah satu alternatif yang memberikan pengalaman lain untuk menyaksikan pertunjukan musik secara digital, yakni Sound From The Corner (SFTC), mereka menginisiasi sebuah konferensi musik tahun ini, bernama Archipelago Festival. Konferensi ini akan mengundang berbagai narasumber untuk panel diskusi dan musisi lintas genre untuk tampil guna memberikan berbagai menarik, dengan harapan mampu mendorong perkembangan musik Indonesia ke arah yang lebih baik lagi. Kami berkesempatan untuk menanyakan konsep dan harapan dari diselenggarakannya acara ini dengan mereka. Walaupun benar SFTC dan Studiorama mengunjungi Inggris untuk The Great Escape di Brighton bulan Mei kemarin, Archipelago Festival tidak secara khusus terinspirasi hanya oleh kunjungan tersebut. Konferensi musik ada di berbagai negara (Music Matters - Singapura, SXSW - Amerika Serikat, TGE - Inggris, MIDEM - Perancis, MUCON - Korsel, dst) dan kami berpikir ini saatnya Indonesia juga punya konferensi yang serupa; yang mengajak pelaku, penikmat, maupun pemula untuk berdiskusi dan kemudian siapa tahu berujung kepada aksi nyata yang berdampak signifikan. dan memakai visual kultural, tepatnya bagian Timur Indonesia? Apa yang mau ditekankan lewat identitas ini? Bila berdiri sendiri, Archipelago sebagai sebuah kata memiliki arti “kepulauan.” Pendekatan dan identitas visual yang kami terapkan tidak ada kaitannya dengan pandangan Indonesia sebagai negara kepulauan, apalagi mengadopsi semangat nasionalisme. Kami memandang dinamika/isu/masalah yang ada di musik lokal seperti layaknya pulau-pulau kecil yang berdiri sendiri dipisahkan lautan, tapi berada di dalam satu teritori. Niatannya adalah membawa dinamika-dinamika yang berbeda ini untuk dibahas dalam satu wadah, yakni Archipelago Festival. seperti apa yang ingin kalian tekankan pada emerging artist lokal lewat festival ini? Salah satu tema besar yang kami ingin bawa adalah Ada dan yang tidak seimbang di dalam musik lokal di Indonesia. Penampil yang itu-itu saja merajai acara-acara musik lokal, di saat yang sama talenta baru yang kualitasnya bagus semakin banyak. Kami ingin menggeser pola pikir tersebut dan mencoba untuk berani memberikan panggung utama bagi musik-musik baru yang (bagi kami) layak mendapatkan perhatian lebih. Salah satu tujuan utama Archipelago Festival adalah untuk mengajak audiens yang lebih umum untuk melihat industri musik sebagai sebuah ekosistem: musik tidak hanya tentang musisi semata, tapi di balik layar adalah sejumlah peran-peran yang sama pentingnya. Dari kacamata penonton umum, Archipelago ideal bagi mereka yang ingin tahu band-band baru yang seru untuk dicek, dan melihat musik tidak hanya sebagai sesuatu yang dinikmati (sebagai penampilan musik) tapi juga sebagai sebuah industri, komunitas dan ekosistem yang berkesinambungan. Tidak ada metode empirik atau riset mendalam untuk menentukan topik panel diskusi, namun kami percaya diri topik-topik yang diusung punya relevansi besar terhadap kodisi riil di lapangan. SFTC dan Studiorama sebagai kolektif musik, juga sering berhadapan dengan isu-isu yang diangkat jadi campuran antara pengamatan sosial dan pengalaman sendiri. Kami bermitra dengan British Council untuk panel ini. Tema besarnya tentang bagaimana band Indonesia bisa memulai membangun di Inggris. Industri di Inggris termasuk yang tersulit di dunia - sangat kompetitif dan kami kira ini bisa jadi insight yang menarik untuk audiens Archipelago Festival. Dampak jangka panjangnya, kami berharap Archipelago Festival bisa dijadikan ajang silaturahmi dan semua orang yang suka dan peduli terhadap musik di Indonesia. Kami juga berharap lokal yang ditampilkan di sini, juga yang ada di luar sana, bisa mendapat sorotan layak. Sehingga acara yang bertebaran tidak hanya akan diisi oleh penampil yang berulang, tetapi juga nama-nama segar dengan cakupan musik luas. Keberagaman talenta tentunya memperkaya musik Indonesia. - 14-15 Oktober 2017 Soehanna Hall The Energy Building SCBD, Lot 11A Jl. Jend. Sudirman Kav 52-53
Temukan siapa dirimu dan bagaimana karaktermu menentukan arah masa depan.