Backstage Life Bareng Grrrl Gang di Episode Kelima Vindy Ngapain?
Tahun ini Grrrl Gang mendapatkan kesempatan untuk menjadi salah satu line up di We The Fest 2019, dan Vindy diperbolehkan untuk mengikuti aktivitas mereka.
Peragaan rumah mode Chanel baru saja digelar kemarin dan beragam ulasan mengangkat betapa uniknya koleksi musim gugur 2018 tersebut. Terlepas dari pada peragaan busana ini yang dihiasi oleh tebaran daun-daun musim gugur dan deretan pohon tinggi, Chanel mengukuhkan perannya sebagai Terlepas dari eksplorasi fashion yang ditawarkan, jelas, Chanel masih menunjukkan karakternya dengan penggunaan bahan tweed, namun kali ini terdapat beberapa padanan yang menjadi dari koleksi barunya - yakni yang biasa dianggap Mulai dari sarung tangan panjang dengan sarung tangan berwarna mencolok seperti pink dan biru sebagai ganti lengan pada gaun hitam, aksesoris berlapis-lapis, sampai pemilihan bergliter ala tahun 90-an yang tampil kontras dengan persepsi palet warna musim gugur yang biasa hadir. Tak hanya itu, Karl Lagerfeld pun menghadirkan padanan baju ala yakni sepatu bot berbahan patent, rok sepanjang betis, syal yang berlapis-lapis, desain bahu lebar pada jaket, scarf tebal sebagai pengganti serta pengadaptasian jaket ikonik Chanel dalam bentuk ke peragaannya kali ini. Layaknya rotasi yang dibarengi dengan inovasi, Chanel membuktikan bahwa sebagai rumah mode, mereka masih menjadi salah satu yang terdepan dalam menciptakan tren tiap musim.
Salah satu paling berpengaruh di dunia, Apple, menggandeng sutradara pemenang Oscar, Spike Jonze dan musisi asal Inggris FKA Twigs, untuk iklan produk terbaru mereka, HomePod. Video bertajuk “Welcome Home” berdurasi 4 menit ini, melahirkan sebuah karya yang dapat dikatakan sebagai film pendek. Kejeniusan Spike Jonze dalam memproduksi karya-karya iklan unik memang sudah tidak diragukan lagi, hal ini terlihat jelas di dalam konsep video produk HomePod ini. Diiringi dengan lagu Anderson .Paak yang berjudul “Til It’s Over”, iklan ini melahirkan cerita tentang rutinitas monoton seorang wanita karir yang pulang ke rumah. Tampil dengan gradasi warna dari gelap ke cerah sejak awal video, Jonze sukses menggambarkan kecanggihan produk yang mampu membaca pemiliknya. Hal itu juga terlihat dari translasi gestur yang dilakukan FKA Twigs. Walau gol produk tampil begitu di lain sisi, iklan ini juga hadir sebagai sebuah karya yang surealis, emosional, dan Sekali lagi, Apple memberikan format iklan yang tak hanya indah dinikmati, tapi juga mendeskripsikan produk dengan cerdas kepada konsumennya.
Pada episode Gimme 5 kali ini, kami menanyakan kepada Sari apa saja 5 original film soundtracks favoritnya.
Fujita Keisuke menciptakan instalasi yang mengubah suicide tweet menjadi serpihan karbon seberat 0.0056 gram.
Bienalle Jogja akan kembali lagi pada tanggal 28 Oktober hingga 3 Desember mendatang dengan instalasi ke-14. Acara kesenian akbar ini akan menjadi edisi ke-4 dari Equator, sebuah gagasan perjalanan mengitari bumi dalam waktu 10 tahun yang berawal dari Yogyakarta, Indonesia. Tema besar yang digarap tahun ini adalah “Age of Hope” yang dengan pintar menutupi kalimat utuh “Stage of Hopelessness.” “Age of Hope” sendiri terinspirasi dari “Live Uncertainty,” tema besar pemberhentian terakhir yang dipijakkan oleh tim Bienalle Jogja pada tahun 2016 lalu, yaitu San Paulo Bienalle yang ke-32 di Brazil. Sedangkan “Live Uncertainty” membahas persoalan politik ekonomi yang tidak stabil dari pergantian kekuasaan di Brazil yang terjadi pada tahun sebelumnya dan juga mengetengahkan persoalan ekologi sebagai pangkal persoalannya. Biennale Jogja XIV Equator #4 mempunyai harapan bisa menjawab persoalan ketidakpastian hidup yang telah membuat kita tidak berani untuk berharap karena kenyataan yang semakin sulit untuk dipahami. Akan ada 9 repertoar yang terdiri dari tiga bagian, “Organizing Chaos” sebagai tema untuk Festival Equator, “Age of Hope” sebagai tema besar untuk untuk Main Exhibition dan Parallel Events, dan “Managing Hope” sebagai tema untuk Biennale Forum. Acara utama nya akan diadakan pada tanggal 2 November hingga 10 Desember dan akan menjelaskan tujuh gagasan narasi yaitu Penyangkalan atas Kenyataan, Kemarahan pada Keadaan, Keputusasaan atas Kehilangan, Kepasrahan dalam Ketiadaan, Penghiburan atas Kehilangan, Kesadaran pada Keadaan, dan Penerimaan atas Kenyataan. Selain akan dihadiri oleh karya 27 artis Indonesia, 12 artis Brazil juga akan membagi karya-karyanya seperti Tiago Mata Machado, Clara Ianni, Daniel Lie, dan Deyson Gilbert.
Sebagai pelopor di Bali, Hubud tidak sekadar menyediakan ruang, tetapi turut memberi kesempatan bagi para sosok-sosok kreatif agar bisa saling bertemu dan bertukar pikiran lewat program yang mereka namai dengan Startup Weekend Bali. Program yang diselenggarakan 2 kali dalam setahun ini berupaya untuk menggali berbagai kesempatan serta kemungkinan baru yang bisa mendukung perkembangan industri kreatif, khususnya di Bali. Setelah 4 tahun diselenggarakan, Startup Weekend Bali telah membuktikan kesuksesannya dengan melahirkan beragam inovasi dan ide-ide baru nan segar yang hingga hari ini terus berkembang, salah satunya seperti CashforTrash. Pada tanggal 17-19 November 2017, Hubud kembali mengajak para penggiat desainer, dan pemasar untuk menghadiri Startup Weekend Bali kedua di tahun ini. Yang menarik, program ini di desain dengan waktu “mendesak” agar menantang para peserta supaya bisa memaksimalkan seluruh kemampuan kreatif yang mereka miliki. Kemudian pada rangkaian acaranya, para peserta akan saling bertemu dan membentuk tim setelah itu barulah mengolah seluruh ide dan gagasan bersama dalam waktu kurang lebih 54 jam. Bagi tim terbaik, akan berkesempatan untuk merealisasikan idenya lengkap dengan mendapatkan secara global, sehingga bisa disimpulkan bahwa Startup Weekend Bali menjadi ajang yang sangat sayang jika dilewatkan. Untuk pendaftaran dan info lebih lanjut silahkan klik tautan ini. - 17-19 November 2017 Hubud Jl. Monkey Forest 88X Ubud, Bali
Temukan siapa dirimu dan bagaimana karaktermu menentukan arah masa depan.