Berbicara tentang AXEAN Festival, kami mengundang beberapa alumninya, Batavia Collective dan The Panturas, untuk mengulik atmosfer di dalam festival musik tersebut yang seperti konsisten melambungkan nama-nama up-and-coming ke berbagai festival musik besar lainnya di mancanegara.
Sebagai salah satu seniman lokal yang karyanya dipamerkan di Guggenheim Museum, Arin Sunaryo adalah sosok yang cukup penting dalam peta seniman nasional. Whiteboard Journal berkesempatan untuk berkunjung pada pameran solo Arin yang bertajuk “Karat” untuk berbincang mengenai konteks global, eksplorasi materi hingga keinginannya untuk mencari makna baru bagi term lukisan.
“Sebab kita bersukacita bukan karena memotong padi; kita bersukacita karena memotong padi yang kita tanam sendiri.” - Multatuli, Max Havelaar: Or the Coffee Auctions of the Dutch Trading Company
Dalam beberapa tahun terakhir, berkembang tendensi dimana sebuah produk dimaknai tak hanya dari hasil akhirnya, melainkan dilihat secara menyeluruh. Mulai dari awal mula barang mentah, kandungan, proses mengolah hingga presentasi penyajiannya. Semua dinilai setara esensinya. Budaya ini mengajak konsumen untuk memiliki pengetahuan yang lebih dalam proses konsumsi, tak hanya sekedar sistem menghabsikan nilai guna sebuah barang. Produk yang dikonsumsi diapresiasi pada setiap tataran dan tahapannya.
Meja Makan #1: Saidjah & Adinda berada garis terdepan sebagai bagian dari budaya apresiasi ini. Diinisiasi oleh Kushandari Arfandewi dari Kelinci Tertidur, seri pertama Meja Makan adalah sebuah acara yang mengkombinasikan khasanah penganan nasional dengan elemen-elemen yang sebelumnya belum pernah dipertemukan sebelumnya dalam sebuah gelaran. Di dalamnya, digabungkan elemen desain dan seni yang kemudian dijalin rapi di atas tema sastrawi yang menjadi garis merah acara. Dengan bantuan dari Ruth Marbun dan Eugenio Hendro yang masing –masing mengerjakan aspek seni dan produk desain dari acara, kisah Saidjah & Adinda yang diambil dari potongan tulisan Max Havelaar dihidupkan kembali. Karya dari Ruth Marbun yang mengambil nukilan dari tulisan Max Havelaar menghiasi dinding dengan penataan tableware dan furniture oleh Eugenio Hendro.
Tiga sesi menu yang disajikan mengambil inspirasi dari potongan narasi dari kisah hidup pasangan Saidjah & Adinda. Yang menarik, setiap menu diolah sedemikian rupa dari menu tradisional dengan twist yang membuat setiap hidangan menjadi semakin menarik. Penggunaan bahan baku yang secara spesial dipilih khusus dan diperkenalkan pada setiap tamu menambah kualitas tiga sesi sajian a la Kelinci Tertidur. Suasana Coworkinc sebagai setting tempat yang akrab dan hangat menjadi elemen tersendiri yang membuat spirit acara ini hidup. Ditambah dengan seleksi musik Indonesiana dari Mar Galo dan Udasjam, Meja Makan jelas sebuah acara yang akan ditunggu kelanjutannya.
Teknologi smartphone telah menjadi sesuatu yang esensial di kehidupan kita sehari-hari. Huawei memperkenalkan Huawei P8 dengan fitur-fitur canggih yang sangat berguna dalam berkarya dan berkreasi. Bersama seniman grafitti NSANE5, kami mencoba salah satu fitur Huawei P8 yaitu Melukis Cahaya.
After the success of last year's RRREC Fest in the Valley, the nature weekend festival returns this year with a new lineup of musicians (curated by The Secret Agents and Pasangan Baru), workshops, and discussions. This time, the organizers are working closely with Ensemble Asia/Asian Music Network a music project that is dedicated of creating a network between musicians all across Asia. If this year's RRREC Fest in the Valley is anything like last year's, then expect a laid back 3-days in the company of musicians, artists, festival-goers, and the beautiful natural surroundings of Tanakita camping grounds. We will definitely be there, and we hope to see you at RRREC Fest in the Valley!
Learn more about RRREC Fest in the Valley through this link.
--
RRREC Fest in the Valley 2015
Performers:
Tenniscoats
Orkes Moral Pengantar Minum Racun
Efek Rumah Kaca
Stars and Rabbit
Polka Wars
Silampukau
Sigmun
DJ Sniff
Bin Idris
Jimbot
Kok Siew Wai
Yui-Saowakhon Muangkruan
Jogja Noise Bombing
Pemandangan
W_Music
Oomleo Berkaraoke
Discussion Workshops:
Organizing Music Festivals/Program
South East Asia Music Festival/Program Network
Creative Process of Writing Lyrics
Artist Residency Workshop:
Lifepatch
Moch. Hasrul Indrabakti
Muhammad Fatchurofi
RRREC Fest in The Valley Package Deals:
Package A
Rp 1,700,000,- / person
Facilities:
- Exclusive tent in Tanakita campsite (max. for 4 people – sleeping bags – pillows – electrical plugs – rubber flooring mats – mattresses)
- Communal bathrooms with shower cubicles (hot water)
- Buffet breakfast – lunch – dinner
- Bottomless cup of coffee and tea
- Festival kit
Package B
Rp 1,000,000,- / person
(Tent at the festival venue not included)
Facilities:
- Camping location in Arben campsite (next to Tanakita campsite)
- Standard communal bathroom
- Buffet breakfast – lunch – dinner
- Bottomless cup of coffee and tea
- Festival kit
Package C
Rp 5,200,000,- / tent (max. 4 people)
Facilities:
- Exclusive tent in Tanakita campsite (max. for 4 people – sleeping bags – pillows – electrical plugs – rubber flooring mats – mattresses)
- Communal bathrooms with shower cubicles (hot water)
- Buffet breakfast – lunch – dinner
- Bottomless cup of coffee and tea
- Festival kit
We will provide tents and transportation Jakarta – Tanakita (return) with additional cost.
All packages do not including transportation to Tanakita (return)
Only 500 tickets available!!
Infants under 3 years of age will be free of charge if they sleep with their parents.
Registration:
http://rrrec.ruangrupa.org/2015/registration/
info.rrrecfest@gmail.com
Supporting partners: RURU Radio, RURU Shop, Asian Music Network, Japan Foundation, Ford Foundation, Sampoerna Go Ahead, Omuniuum, The Wknd, Bobobobo, C2o, Houtenhand
More information and updates:
http://rrrec.ruangrupa.org/
Facebook: RRRec Fest
Twitter: @RRREC_Fest
Instagram: @RRREC_Fest
Hotline: 0897 9820 820
Direktori: Di Makassar, Melihat Harapan dari Indonesia Timur
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode kedua mini seri Direktori, kami berkunjung ke Bali untuk mencari apa yang tersembunyi di balik deru pariwisata dan melihat bagaimana keberagaman hidup di sana.
Episode pertama untuk mini seri terbaru kami untuk campaign #Direktorikota, kami memulainya dengan pertanyaan besar, apakah semangat kebersamaan masih ada di keseharian kita?