Berbicara tentang AXEAN Festival, kami mengundang beberapa alumninya, Batavia Collective dan The Panturas, untuk mengulik atmosfer di dalam festival musik tersebut yang seperti konsisten melambungkan nama-nama up-and-coming ke berbagai festival musik besar lainnya di mancanegara.
Tanggal 25-27 September 2015, Rrrecfest in The Valley kembali digelar di Tanakita Camping Ground, kompleks Gunung Gede Pangrango Sukabumi. Di tahun keduanya, festival ini kembali menampilkan berbagai program sekaligus penampilan musikal yang menarik.
My apologies for the super late turn-out as I'm heavily occupied by tons of work from the office, it's been mad hectic in the past couple few weeks back. But let's forget about that shall we, because it's the 18th instalment of Heart Attack and this time we have Achmad Bagoes, who's already a familiar figure in the heart of Jakarta's hardcore/punk scene. Bagoes (or also known as Ajus), performs in multiple different bands such as Final Attack, Raincoat, Sense of Pride, Braveheart and many more. His energy & enthusiasm towards hardcore are undoubtedly recognisable, through Heart Attack he shares to us some of his personal favorite tracks from some of his favorite hardcore bands. Check it out!
01. The Suicide File - The Edge of Town
02. No Choice in This Matter - The reason of existing
03. Carry On - The View
04. Ten Yard Fight - Action speak
05. Kid Dynamite - Pits and Poisoned Apple
06. The Promise - My True Love
07. Ceremony - Kersed
08. Bane - Ante up
09. D.S.13 - media blitz(the germs cover)
10. Section 8 - Here Comes the Parade
11. Justice - Light in the Dark
12. Trial - For The Kids
13. Terror - Keep Your Distance
14. This Routine is Hell - The Desperate Sway
15. Stop and Think - Get Lost (2nd Demo)
16. American Nightmare - Please Die!
17. Shark Attack - C.C.P
18. Another Breath - Token
19. Ruiner - That Stone Better Be On Fire
20. No Warning - My World
So if you have followed Whiteboard Journal these past two weeks, then you might have watched Theoretical Physicist Michio Kaku explain the universe via his video lecture on Big Think titled "The Universe in a Nutshell." Now that you are familiar with some of the concepts that go into constructing our reality, it's time to delve deeper into the subject through The Fabric of the Cosmos, a series of documentaries detailing 4 main concepts that are prevalent in explaining how the universe works today. The documentaries are hosted by Theoretical Physicist Brian Greene, an expert on string theory and a best-selling author whose books are known to explain the theories in a smart and accessible way (including these documentaries, which are based on his book with the same name).
The Fabric of the Cosmos is divided into 4 parts: Space, Time, Quantum Physics, and the universe/multiverse. Each documentary is about one-hour in length, and explains concepts that seem bizarre with computer animation that makes them a whole lot easier to digest. As I watched these documentaries, it dawned on me at how bizarre some of the things in our universe can be. Some of the concepts that are explained are stranger than science fiction. As we learn more about our universe, we find things are familiar and elementary to simply be a matter of perception, and that reality perhaps holds more possibilities than we are accustomed to - that is what makes the gigantic universe we live in such a wonderful place to live in!
Watch the trailer above, and enjoy the full documentaries below.
Sadar Akan Keadaan.
Entah kenapa, setiap mendengar nama Polka Wars, yang terbayang pada benak saya justru mengenai segala aktivitas sosial personilnya. Aspek musik mereka baru muncul belakangan. Mungkin, perspektif saya ini cukup cetek, tapi memang begitu adanya.
Tapi, saya akan berusaha untuk lebih optimis dalam menulis ulasan ini: segala aktivitas sosial dan luasnya jaringan Polka Wars sebenarnya di sisi lain juga menunjukkan etos mereka yang cukup professional. Bahwa mereka mampu membedakan persona di atas dan di luar panggung. Sewaktu saya mewawancarai keempat personilnya, Aeng, Deva, Billy dan Dega sama sekali tak terasa sebagai selebriti, padahal beberapa bulan setelah hari itu, mereka tampak dengan mudah menjual habis tiket konser tunggal yang mereka laksanakan di Institut Francais Indonesia.
Hal inilah yang semakin terasa pada saat saya keluar dari gedung IFI pada hari Sabtu itu. Secara pribadi, saya sangat puas dengan konser perdana Polka Wars dalam artian, saya tidak menyangka hasilnya akan seperti itu. Sekeluarnya saya dari gedung, saya lantas menyampaikan kepuasan saya ke masing-masing anggota, dan ucapan tersebut jelas bukan basa-basi semata.
Konser dibuka oleh Bedchamber. ‘Milenial’ adalah kata yang pas untuk mendeskripsikan karakter mereka, namun di saat yang sama, term tersebut cukup mengalihkan perhatian dari musik mereka sendiri yang sebenarnya cukup apik terlepas dari segala influence yang mempengaruhi mereka. Penampilan mereka cukup menyenangkan. Walau kalau boleh jujur, saya tidak terlalu ingat secara detil musik mereka sehabis turun panggung. Mungkin, saat itu ada yang mengajak saya ngobrol.
Sudah berulang kali saya putar Axis Mundi, album perdana Polka Wars. Kurang lebih saya tahu arah dan alur dari lagu-lagunya. Namun saat konser dibuka dengan segue antara “Horse’s Hooves” dan “Coraline”, saya sangat terkesan dengan sequencing dan keseluruhan setlist mereka. Dari awal pula, aransemen Polka Wars terdengar lebih ketat; lebih sadar panggung, dan mereka mampu melakukannya pada panggung solo perdana.
Instrumen-instrumen ditambahkan, (saksofon, tehiyan) dan semuanya bukan malah menjadi novelti, namun penyegar bagi lagu-lagu Polka Wars. Nomor-nomor favorit saya adalah ketika Aeng, di paruh kedua konser (setelah penayangan dokumenter yang sayang sekali saya lewati bagian awalnya), menyanyikan lagu “Mad World” dan Deva menyanyikan nomor “Lovers”. Saya juga tidak menyangka “This Providence”, “Mokéle” dan “Tall Stories” akan terdengar serapi itu pada konser ini.
Polka Wars suka meloncat-loncat: Deva bisa tiba-tiba menyanyi, bisa tiba-tiba memegang bas, lalu kembali lagi ke drum. Aeng juga memainkan piano. Seperti di Axis Mundi, saya cukup senang dengan nirformat ini—saya juga menyebut konsep ini sebagai format band yang egaliter di Koran The Jakarta Post—karena hal tersebut menunjukan bahwa prioritas Polka Wars lebih ke aransemen lagu daripada siapa memegang instrumen apa. Siapapun yang cocok di lagu/instrumen, maka dia yang akan memainkannya.
Lagu terbaik di Axis Mundi, pasnya, dimainkan di akhir konser: “Piano Song.” Setelah melewati stand-up comedy dari Aeng, dokumenter pendek soal karir, dan tentu saja penampilan lagu-lagu dari album Axis Mundi (serta lagu “Obese Elves” yang di rekam di New York), “Piano Song” membungkus konser ini dengan mantap dan apik. Saya tidak menyangka bahwa mereka bisa mengeksekusinya seeksploratif di luar kenyamanan studio rekaman.
Layaknya limbah pabrik, musik pun memiliki faktor eksternalitas tersendiri: imej dan kawan-kawannya. Bedanya dengan limbah, dalam konteks musik, faktor tersebut tidak begitu menjadi masalah. Begitu pula dengan Polka Wars, apalagi kalau kualitas penampilan mereka se-prima hari itu. Dan di hari itu, mereka telah mencapai banyak prestasi: konser perdana, konser tunggal, tiket laku, dan lain-lain. Kedepannya? Saya belum berani menjamin.
Namun, saya berani menjamin satu hal: jika ada yang bertanya mengenai pendapat saya mengenai Polka Wars, maka ada hal baru yang saya akan katakan kepada dia.
teks oleh: Stanley Widianto
foto oleh: Omar Annas
Heineken Green Room adalah acara yang telah dikenal sebagai inovator dalam dunia party. Kali ini, melalui 'The Orb,' Heineken membawa inovasi terbarunya untuk partygoers di Indonesia.
Went through a bunch of mp3s from an old harddrive, and it resulted in this mixtape! Enjoy!
01. Surfer Blood - Harmonix
02. Animal Collective - Reverend Green
03. Evangelicals - Party Crashin'
04. Luminous Orange - Half a Boy
05. Atlas Sound - Activation
06. The National - Brainy
07. Blood on the Wall - The X
08. The Zutons - Pressure Point
09. Vivian Girls - Where do You Run To
10. The Long Blondes - Swallow Tattoo
11. Yo La Tengo - Pass the Hatchet, I Think I'm Goodkind
Direktori: Di Makassar, Melihat Harapan dari Indonesia Timur
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode kedua mini seri Direktori, kami berkunjung ke Bali untuk mencari apa yang tersembunyi di balik deru pariwisata dan melihat bagaimana keberagaman hidup di sana.
Episode pertama untuk mini seri terbaru kami untuk campaign #Direktorikota, kami memulainya dengan pertanyaan besar, apakah semangat kebersamaan masih ada di keseharian kita?