Latest stories

Column
01.10.15

50 Tahun Tanpa Jawaban

Tahun 2015 adalah tahun yang penting dalam kalender Hak Asasi Manusia di Indonesia. Tahun ini, telah 50 tahun sejak pembantaian besar-besaran pasca peristiwa G30S/PKI. Sayangnya, lima dasawarsa tersebut terlewat tanpa adanya keadilan yang jelas bagi para korban. Melalui tulisan ini, Muhammad Hilmi mengajak untuk melihat esensi Rekonsiliasi, bukan hanya bagi para korban, tapi juga untuk menentukan arah bagi masa depan bangsa.

30.09.15

Kurasi Seni bersama Jim Supangkat

Dengan seni yang semakin sentral perannya di kehidupan masyarakat modern, kurasi sebagai salah satu elemen penting dalam proses kesenian juga berkembang menjadi subjek yang esensial. Whiteboard Journal berbincang dengan salah satu kurator paling dihormati di Indonesia, Jim Supangkat untuk berdiskusi mengenai perkembangan konsep kuratorial di Indonesia dalam perjalanan sejarah bangsa.

29.09.15

Pameran Wani Ditata Project

Dalam beberapa tahun terakhir, istilah proyek seni sering muncul dalam berbagai diskusi dan tulisan seni rupa di Indonesia. Seni sebagai sebuah proyek—di mana di dalamnya terdapat berbagai kemungkinan pengembangan ide, baik secara kolaborasi dan individu—memang tidak terlalu dekat dengan sejarah seni rupa kita. Namun, jika merujuk pada sejarah, yang telah dilakukan oleh para founding fathers seni rupa modern kita sebenarnya ada yang sudah mengarah pada bentuk proyek seni seperti yang kita terjemahkan saat ini. Lihat saja proyek poster revolusi pascakemerdekaan Indonesia yang digagas oleh S. Sudjojono dan Affandi bersama Seniman Indonesia Muda (SIM). Ia tidak hanya meletakkan seni sebagai kegiatan mendedah estetika rupa, namun menjadi alat perjuangan yang berkolaborasi dengan para penulis pada masa itu, seperti Chairil Anwar. Seni rupa sebagai sebuah proyek seni memang tidak berkembang di Indonesia karena kecenderungan subjektivitas seniman dan orientasi untuk memproduksi kebendaan berupa 'karya' sebagai hasil akhir. Sebuah proyek seni menuntut keterbukaan dalam mengembangkan ide sebagai proses kerja. Keterbukaan itu bisa jadi berkolaborasi dengan aktivitas yang tidak ada hubungannya dengan kesenian. Mulai tahun 2015, Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Jakarta menginisiasi proyek seni seniman perempuan: Wani Ditata Project. Proyek seni ini adalah tanggapan Komite SR-DKJ terhadap perkembangan seni rupa kontemporer Indonesia, bahwa kegiatan seni yang mengarah pada riset dan fokus pada isu tertentu menjadi sangat relevan saat ini. Relevansi proyek seni ini adalah bagaimana pengembangan kegiatan kesenian dengan durasi tertentu dan mendalami satu subjek wacana akan sangat berdampak pada perkembangan seni rupa kontemporer—di mana dalam proses kerja sebuah proyek seni terdapat produksi ilmu pengetahuan yang akan didistribusikan di akhir proyek. Wani Ditata Project dengan sengaja mengundang delapan seniman perempuan dari Jakarta dan kurator muda Angga Wijaya sebagai fasilitator dalam mengembangkan proyek seni ini. Tujuan mengundang seniman perempuan adalah untuk membaca perkembangan seni rupa kontemporer di Jakarta, di mana seniman perempuan juga menjadi pemain utama saat ini. Sejak berdiri, Komite SR-DKJ belum pernah secara khusus meletakkan isu perempuan ini dalam program-programnya. Untuk itulah Komite SR-DKJ merasa perlu secara khusus mengembangkan proyek seniman perempuan, sekaligus untuk merangkum wacana sosial-politik kebudayaan yang dibaca melalui seniman-seniman perempuan. Semoga saja proyek seni ini dapat berkembang dan berkontribusi bagi perkembangan seni rupa kontemporer kita. Salam, Hafiz Rancajale Ketua Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Jakarta 2013 - 2015 -- Dewan Kesenian Jakarta mempersembahkan: Proyek Seni Perupa Perempuan Dewan Kesenian Jakarta: WANI DITATA PROJECT Aprilia Apsari, Julia Sarisetiati, Kartika Jahja, Keke Tumbuan, Marishka Soekarna, Otty Widasari, Tita Salina, Yaya Sung Kurator: Angga Wijaya Pembukaan: Sabtu, 3 Oktober 2015 | 19.00 – 22.00 WIB Dimeriahkan oleh: Disrobot Radio Irama Nusantara Pameran: 4 – 19 Oktober 2015 11.00 – 20.00 WIB Diskusi “Citra Dharma Wanita dalam Konstruksi Sosial”: Selasa, 6 Oktober 2015 | 15.00 – 17.00 WIB Pembicara: Julia Suryakusuma & Manneke Budiman Moderator: Maulida Raviola di Galeri Cipta II Jl. Cikini Raya No.73 Taman Ismail Marzuki Menteng, Jakarta Pusat 10330 Gratis!

Fat Cat Ffonz
29.09.15

Empatpuluhempat

A soundtrack to laying on the grass with a book in hand. 01. Panbers – Haai 02. Angkanang Kunchai – Lam Plearn Mee Mia 03. Compaore Issouf – Dambakale 04. Elis Regina - Sai Dessa 05. Consolacao – Consolacao 06. Uniao Black- Black Rio 07. Sam & Dave – Don’t Turn Your Heater On 08. King Curtis – Memphis Soul Stew. 09. Lyn Taitt – Soul Food 10. Bill Withers – Kissin’ My Love 11. Otis Redding – Down In The Valley 12. Hal Singer & Jef Gilson – The High Life 13. Para Lennon & McCartney - Para Lennon & McCartney’

28.09.15

Lost in Translation

Proses dan Intensi Alih Bahasa Bersama : Yusi Avianto Pareanom Rain Chudori 04/10/15 15:00 - 17:00 Serambi Salihara Jl. Salihara No. 16 Kebagusan Pasar Minggu Jakarta Pembahasan mengenai konteks global-lokal selalu menjadi topik telaah yang menarik. Meski terbentang luas dan terdiri dari ribuan pulau, posisi Indonesia sebagai negara berkembang membuat uraian mengenai tarik-menarik diantara konsep nasional-internasional menjadi sebuah subjek yang acapkali mengusik. Konsep global lantas sering dijadikan sebagai visi yang kemudian mendasari berbagai pola aktivitas publik. Ada beberapa yang lalu mampu mewujudkannya dalam bentuk nyata, namun banyak pula yang tersesat di tengah jalan. Dalam kerangka sastra, isu globalitas ini juga muncul ketika gagasan mengenai posisi karya lokal di konteks internasional dipertanyakan. Kegiatan translasi kemudian menjadi salah satu daya yang diupayakan untuk publisitas sastra nasional. Berbagai karya sastra lokal pilihan diterjemahkan demi siarnya buah pikir anak bangsa. Melalui Lost in Translation, kami mengajak Anda untuk melihat lebih jauh ke dalam proses dan intensi dibalik aktivitas alih bahasa. Ada berbagai aspek yang harus ditafsirkan dalam proses translasi disamping sekedar terjemah literal kalimat per kalimat dari sebuah karya sastra. Kemungkinan distorsi pada dimensi linguistik, konteks budaya, hingga gaya bahasa adalah poin yang cukup menarik untuk menjadi wacana bersama dengan irisannya pada bagaimana sebenarnya esensi penerjemahan karya sastra bagi perkembangan literatur nasional. Pembicara: Penulis, Publisher Dikenal melalui kumpulan cerpen berjudul “Rumah Kopi Singa Tertawa”, karakter penulisan Yusi yang kental dengan percampuran yang menarik antara komedi, budaya populer menunjukkan kejelian beliau untuk memberikan dimensi baru pada berbagai kejadian sederhana yang akan dengan mudah terabaikan oleh awam. Juga merupakan sosok dibalik Penerbit Banana yang menawarkan alternatif penerbitan bagi tulisan-tulisan menarik yang lolos dari radar publisher besar. Penulis Pada usianya yang masih sangat belia, Rain Chudori telah mencatat namanya sebagai salah satu penulis muda potensial. Karya dan ceritanya telah diterbitkan pada berbagai media seperti The Jakarta Post, Majalah Tempo, Jakarta Globe hingga Whiteboardjournal.com. Kecintaannya pada dunia sastra juga membawanya pada inisiasi kolektif sastra muda, The Murmur House. Belakangan juga mulai berkarya dalam seni peran dengan keterlibatannya dalam film Rocket Rain. Moderator Seorang penulis dan jurnalis di Whiteboardjournal.com, hasrat Muhammad Hilmi untuk menulis dan ketertarikannya dengan dunia seni adalah kualitas terbaik di dalam karirnya. Sebagai individu yang aktif dalam aktivitas pada dunia musik, seni rupa, dan desain sebagai partisipan dan penikmat, pengetahuannya tercermin melalui esai-esainya yang telah diterbitkan di berbagai media seperti JakartaBeat, Yahoo!, dan Whiteboardjournal.com.

Load More Articles whiteboardjornal, search
whiteboardjournal, play
Music
NOW PLAYING

Screen Time with .Feast & The Panturas

Invent Your Future

Temukan siapa dirimu dan bagaimana karaktermu menentukan arah masa depan.


Tentukan Di Sini whiteboardjournal, search

Follow us on social media

Instagram whiteboardjournal, search Facebook whiteboardjournal, search Twitter whiteboardjournal, search

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.