Latest stories

Stereo Strange
09.10.15

Strum Pluck String

I have always had a soft spot for the sound of strings strummed or plucked, and with this episode of Stereo Strange I hope you will find a relaxing enjoyment out of it too. 01. Jessica Pratt - Back, Baby 02. Silampukau - Lagu Control 03. Vashti Bunyan - Train Song 04. Magnetic Fields - I Think I Need a New Heart 05. Destroyer - Blue Flower/Blue Flame 06. Happy End - Morning 07. Joan Baez - Daddy You've Been on My Mind 08. Karen Dalton - Sweet Substitute 09. Feathers - To Each His Own 10. Broadcast - Tears in the Typing Pool 11. Marcus Carl Franklin - When the Ship Comes in 12. Sachiko Kanenobu - Far Away From You 13. Joanna Newsom - Cosmia

08.10.15

The Sastro Gelar Konser dan Rilis Format Piringan Hitam untuk Rayakan 10 Tahun Album Vol.1

Tidak terasa waktu berjalan sangat cepat, dibulan Oktober 15 tahun lalu di sebuah acara tahunan anak-anak seni rupa IKJ (Institut Kesenian Jakarta) yang bernama “Oktaria” band ini lahir karena keempat orang ini tertinggal rombongan kloter awal, Ary Buy harus mengurus perpindahan jurusan dari Desain Interior ke Desain Grafis, Ritchie & Rege “literally” ga kebagian tempat duduk dan ketinggalan truk tronton, Sastro sibuk dengan kegiatannya di studio grafis murni. Dalam hitungan 2 hari lagu “Lari 100”, “Kaktus” dan “Penyair” menjadi 3 lagu pertama yang dibawakan live diatas panggung, waktu itu studio Armada di bilangan Senen jadi saksi bisunya. Perlu waktu 5 tahun sampai akhirnya band ini merilis album pertamanya, selain EP dan Single kecil dengan kuantiti sangat sedikit dan dijual hand-to-hand. The Sastro akhirnya merilis album Vol. 1 setelah kerja keras 3 tahun di studio kamarnya Angga (Frontman Ramayana Soul, Gitaris Pestol Aer, Additional Player The Sastro) dan album ini adalah rilisan pertama dari Kenanga Records, sebuah label indie yang berhasil mengarsipkan scene musik Jakarta era Parc melalui album kompilasi “Thusrday Riot”. Album Vol. 1 ini dirilis dibulan April 2005 dengan menggelar konser di Parc. Desember 2014, Agus dari Majemuk Records mengontak kami karena ingin merilis ulang album ini dalam format piringan hitam, tujuannya adalah untuk merayakan 10 tahun album vol. 1 tepat di bulan April berbarengan dengan acara Record Store Day. Dilihat dari timeline sangat memungkinkan sekali, tetapi takdir berkata lain, paket yang dikirimkan bersama piringan hitam The Milo dari Perancis tempat kami mereplikasi piringan hitam ini nyasar ke India, entah kenapa hanya paket piringan hitam kami yang hinggap ke India, perlu waktu 1 bulanan untuk jasa logistik kami bisa menemukan keberadaan paket kami tersebut, lalu paket piringan hitam tersebut sampai di Jakarta 2 bulan setelah acara Record Store Day, dan acara konser ini pun kami buat. Piringan Hitam The Sastro album Vol. 1 rencananya akan dijual terbatas sebanyak 200pcs dengan harga Rp. 350.000,-. Jumlah piringan hitam ini direncanakan dirilis sebanyak 300pcs, kami mendapatkan sekitar 100-an pcs melengkung/rusak karena menurut laporan logistik paket ini tidak mendapatkan perawatan yang layak selama terdampar di India. Acara ini akan diramaikan oleh teman-teman dekat kami seperti, Ramayana Soul, Band ini adalah bandnya Angga, dia adalah salah satu orang yang berjasa The Sastro bisa merampungkan album Vol. 1. Seaside, Andi Hans membuat band ini dan merilis albumnya bersama Anoa Records label yang di co-founding oleh Ritchie salah satu personil The Sastro. Davkillz a.k.a David Tarigan, dia adalah founder dari Iramanusantara.org, penggerak scene musik Jakarta dan David yang mengajak kami bisa ikutan di album kompilasi bersejarah dari Aksara Records, JKT:SKRG. BolsQ, Skater pro lokal teman nongkrong di IKJ, selalu jadi MC untuk meramaikan suasana dipercaya number one fans The Sastro se-Jakarta, Peterlovefuzz a.k.a Peter Walandouw dan Aruca a.k.a Andri K Rahadi, duo co-founder Anoa Records yang membuat rilisan digital The Sastro Vol. 1 dalam format Kartu Download Digital (akan dijual saat acara juga). Berlokasi di Yesterday Lounge, sebuah tempat menyenangkan di Antasari, Jakarta Selatan, Acara ini diadakan pada tanggal 11 Oktober 2015, dan direncanakan tiket box dibuka pukul 6 sore berbarengan dengan dibukanya booth penjualan piringan hitam Vol. 1 dan Merchandise, signing session akan dilakukan sebelum konser dimulai. Untuk mensupport acara ini diharapkan teman-teman bisa membeli tiket FDC seharga Rp. 50.000,- atau cukup membeli salah satu produk dari The Sastro yang akan dijual seperti; piringan hitam, t-shirt dan DDV (kartu download digital). See you soon! Cheers, Ritchie Ned Hansel On behalf of The Sastro

08.10.15

Lost in Translation Discussion Recap

Pada hari Minggu, 04 Oktober 2015, whiteboardjournal.com bekerja sama dengan Komunitas Salihara menggelar diskusi Lost in Translation di Serambi Salihara. Sebagai bagian dari gelaran Bienal Sastra 2015, diskusi ini merupakan upaya untuk melihat lebih jauh proses dan intensi pada aktivitas alih bahasa. Pilihan topik tersebut merupakan respon terhadap Indonesia yang menjadi Guest of Honor di Frankfurt Book Fair 2015, sekaligus untuk membahas posisi sastra Indonesia di pasar internasional. Yusi Avianto Pareanom dan Rain Chudori adalah dua pembicara pada diskusi ini. Keduanya dipilih dengan pertimbangan bahwa background masing-masing bisa menjadi representasi yang ideal mengenai dunia penerbitan, aktivitas translasi, hingga tren di anak muda mengenai dunia penulisan. Diskusi berjalan cukup menarik dengan jawaban dari Yusi dan Rain yang cukup sering menggelitik dan membuka wawasan baru. Pembahasan mengalir dari pembicaraan mengenai esensi pasar internasional, berbagai kendala yang dihadapi dalam proses alih bahasa serta hubungannya dengan bagaimana proses bagi penulis untuk memasuki pasar global, hingga kemungkinan-kemungkinan baru yang terbuka dengan jalur-jalur penerbitan dan promosi alternatif yang kini dimungkinkan oleh teknologi dan internet. Berbagai pertanyaan dan tanggapan dari penonton juga semakin melengkapi cakupan bahasan diskusi ini.

Column
08.10.15

Lirik, Lagu dan Sebagainya

Karena sedang belajar menulis lirik dalam bahasa Indonesia, Ken Jenie membahas beberapa ide mengenai sifat bahasa, dan observasinya di loka karya diskusi "Lirik-Lirikan" yg berlangsung di RRRec Fest bersama beberapa musisi dan penulis lirik terbaik di Indonesia.

07.10.15

Tulisan dan Sastra bersama Eka Kurniawan

Disebut-sebut sebagai penerus Pramoedya Ananta Toer, dan mendapat pujian dari media internasional, Eka Kurniawan berada dalam garda terdepan representasi sastra nasional. Whiteboard Journal mengunjungi Eka Kurniawan di tengah kesibukannya di Dewan Kesenian Jakarta untuk berbincang mengenai dunia literatur, pasar internasional, dan kualitas sastra lokal.

07.10.15

Frau Konser Tentang Rasa

TNGR mempersembahkan Frau Konser Tentang Rasa dibuka oleh: Tik! Tok! Sisir Tanah Kamis, 29 Okt 2015 - 19:30 WIB Jumat 30 Okt 2015 - 19:30 WIB Gedung Societet Taman Budaya Yogyakarta Tiket Mahasiswa:35,000 Umum: 50,000 Tiket mulai dijual 19 Oktober di Gedung Societet. info & kontak p: +62 823-2348-5121 e: konsertentangrasa@gmail.com f: leilaniFrau t: @kongsi_Jahat -- Dari penyelenggara: Musik memiliki beragam dimensi yang dapat dicecap oleh berbagai indera, tidak hanya dimonopoli oleh telinga dan mata. Eksplorasi dalam menikmati musik inilah yang ditawarkan oleh Frau dalam konser terbarunya di Gedung Societet, Taman Budaya Yogyakarta, pada 29-30 Oktober 2015 mendatang. Bertajuk “Konser Tentang Rasa”, sajian musik dari Frau ini mencoba menghadirkan pengalaman baru yang lebih menyeluruh dalam menikmati musik. Kesan lintas indera itu membuat penonton dapat terlibat secara aktif untuk merangkai impresi rasanya sendiri, bisa berupa senang, sedih, bosan, hingga kantuk. Dalam konser ini penonton juga diajak untuk berbagi narasi, ilustrasi, ataupun keluh kesah atas rasa yang muncul ketika mendengarkan lagu-lagu yang dibawakan Leilani Hermiasih (Lani) dan pianonya, Oskar. Soal pengalaman “mengalami musik”, Lani mempunyai cerita sendiri. Pada suatu kesempatan, Ia menceritakan bagaimana dirinya bisa menangis tersedu-sedu tanpa alasan ketika mendengarkan lagu “La Même Histoire” dari singer-songwriter Kanada, Feist, berulang-ulang kali. Meski sama sekali tidak mengerti apa dinyanyikan, tapi air matanya tetap mengalir deras. Tubuh yang berbaring pada pegas-pegas springbed lawas di kamarnya itu pun sesenggukan. Pasrah begitu saja ketika satu dua tetes air mata asin mengalir ke mulutnya. “Saya tidak sedih, tapi mungkin terharu karena bisa menikmati mewahnya pengalaman musikal seperti itu,” Ucap Lani mengenang. Dalam konser ini, Frau akan membawakan 16 lagu dari album Starlit Carousel dan Happy Coda serta beberapa materi lagu baru. Materi baru tersebut akan menjadi rujukan untuk album berikutnya. Sebelum di Yogyakarta, konser dengan tema yang sama telah berlangsung di Bandung 22 Mei Silam sebagai rangkaian program Printemp Francais atau Musim Semi Perancis 2015. Mengenai gagasan pertunjukan, Lani menjelaskan Konser Tentang Rasa disajikan bukan sebagai sebuah pernyataan, melainkan pertanyaan yang akan dijawab bersama di akhir pertunjukan nanti. Konser Tentang Rasa ini terbuka untuk umum. Tiket untuk mahasiswa/pelajar dijual seharga Rp 35.000,00, dan untuk umum seharga Rp 50.000,00. terbatas hanya 300 tiket. Tiket mulai diual pada 19 Oktober 2015 di Gedung Societet Taman Budaya Yogyakarta jam 15.00 Wib. kami tidak menjual pembelian tiket melalui online. informasi perihal konser tentang rasa bisa menghubungi saudara Yudis +62 823 2348 5121 atau melalui email : konsertentangrasa@gmail.com

Load More Articles whiteboardjornal, search
whiteboardjournal, play
Music
NOW PLAYING

Screen Time with .Feast & The Panturas

Invent Your Future

Temukan siapa dirimu dan bagaimana karaktermu menentukan arah masa depan.


Tentukan Di Sini whiteboardjournal, search

Follow us on social media

Instagram whiteboardjournal, search Facebook whiteboardjournal, search Twitter whiteboardjournal, search

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.