Berbicara tentang AXEAN Festival, kami mengundang beberapa alumninya, Batavia Collective dan The Panturas, untuk mengulik atmosfer di dalam festival musik tersebut yang seperti konsisten melambungkan nama-nama up-and-coming ke berbagai festival musik besar lainnya di mancanegara.
Tromarama adalah sebuah kolektif animasi dengan karakter yang unik, dibangun dari gabungan gagasan tiga kepala, Bebi, Ebet, Ruddy, unit ini telah menciptakan karya-karya animasi yang tak hanya berkualitas, namun juga memiliki karakter tersendiri dengan pemilihan medium dan pendekatan yang berbeda dengan kebanyakan. Whiteboard Journal berbincang dengan Tromarama mengenai eksplorasi mereka dalam menjelajahi dunia animasi.
The good doctor is back! Our favorite anesthesiologist and music aficionado returns with a brand new collection of music for everyone to enjoy.
01. Sun Ra - Springtime Again
02. Eddie Kendricks - My People... Hold On
03. Archie Shepp - Attica Blues
04. Rudolph Johnson - Time and Space
05. Kendrick Lamar - For Free? (Interlude)
06. Rahsaan Roland Kirk - What's Going On - Mercy Mercy Me (the Ecology)
07. Doug Carn - Arise and Shine
08. Donald Byrd - Elijah
09. Michael White - The Blessing Song
10. Pharoah Sanders - Think About The One
11. D'Angelo - Africa’
Dalam rangka JermanFest 2015, Papermoon Puppet Theatre dari Yogyakarta dan Retrofuturisten dari Berlin berkolaborasi dalam sebuah pertunjukan berjudul "Senlima". Kami sempat menonton pertunjukan yang bertema perbatasan dalam konteks budaya ini di Salihara, dan berikut adalah review kolaborasi dua kolektif puppeteer ini.
I have always had a soft spot for the sound of strings strummed or plucked, and with this episode of Stereo Strange I hope you will find a relaxing enjoyment out of it too.
01. Jessica Pratt - Back, Baby
02. Silampukau - Lagu Control
03. Vashti Bunyan - Train Song
04. Magnetic Fields - I Think I Need a New Heart
05. Destroyer - Blue Flower/Blue Flame
06. Happy End - Morning
07. Joan Baez - Daddy You've Been on My Mind
08. Karen Dalton - Sweet Substitute
09. Feathers - To Each His Own
10. Broadcast - Tears in the Typing Pool
11. Marcus Carl Franklin - When the Ship Comes in
12. Sachiko Kanenobu - Far Away From You
13. Joanna Newsom - Cosmia
Tidak terasa waktu berjalan sangat cepat, dibulan Oktober 15 tahun lalu di sebuah acara tahunan anak-anak seni rupa IKJ (Institut Kesenian Jakarta) yang bernama “Oktaria” band ini lahir karena keempat orang ini tertinggal rombongan kloter awal, Ary Buy harus mengurus perpindahan jurusan dari Desain Interior ke Desain Grafis, Ritchie & Rege “literally” ga kebagian tempat duduk dan ketinggalan truk tronton, Sastro sibuk dengan kegiatannya di studio grafis murni. Dalam hitungan 2 hari lagu “Lari 100”, “Kaktus” dan “Penyair” menjadi 3 lagu pertama yang dibawakan live diatas panggung, waktu itu studio Armada di bilangan Senen jadi saksi bisunya.
Perlu waktu 5 tahun sampai akhirnya band ini merilis album pertamanya, selain EP dan Single kecil dengan kuantiti sangat sedikit dan dijual hand-to-hand. The Sastro akhirnya merilis album Vol. 1 setelah kerja keras 3 tahun di studio kamarnya Angga (Frontman Ramayana Soul, Gitaris Pestol Aer, Additional Player The Sastro) dan album ini adalah rilisan pertama dari Kenanga Records, sebuah label indie yang berhasil mengarsipkan scene musik Jakarta era Parc melalui album kompilasi “Thusrday Riot”. Album Vol. 1 ini dirilis dibulan April 2005 dengan menggelar konser di Parc.
Desember 2014, Agus dari Majemuk Records mengontak kami karena ingin merilis ulang album ini dalam format piringan hitam, tujuannya adalah untuk merayakan 10 tahun album vol. 1 tepat di bulan April berbarengan dengan acara Record Store Day. Dilihat dari timeline sangat memungkinkan sekali, tetapi takdir berkata lain, paket yang dikirimkan bersama piringan hitam The Milo dari Perancis tempat kami mereplikasi piringan hitam ini nyasar ke India, entah kenapa hanya paket piringan hitam kami yang hinggap ke India, perlu waktu 1 bulanan untuk jasa logistik kami bisa menemukan keberadaan paket kami tersebut, lalu paket piringan hitam tersebut sampai di Jakarta 2 bulan setelah acara Record Store Day, dan acara konser ini pun kami buat.
Piringan Hitam The Sastro album Vol. 1 rencananya akan dijual terbatas sebanyak 200pcs dengan harga Rp. 350.000,-. Jumlah piringan hitam ini direncanakan dirilis sebanyak 300pcs, kami mendapatkan sekitar 100-an pcs melengkung/rusak karena menurut laporan logistik paket ini tidak mendapatkan perawatan yang layak selama terdampar di India.
Acara ini akan diramaikan oleh teman-teman dekat kami seperti, Ramayana Soul, Band ini adalah bandnya Angga, dia adalah salah satu orang yang berjasa The Sastro bisa merampungkan album Vol. 1. Seaside, Andi Hans membuat band ini dan merilis albumnya bersama Anoa Records label yang di co-founding oleh Ritchie salah satu personil The Sastro. Davkillz a.k.a David Tarigan, dia adalah founder dari Iramanusantara.org, penggerak scene musik Jakarta dan David yang mengajak kami bisa ikutan di album kompilasi bersejarah dari Aksara Records, JKT:SKRG. BolsQ, Skater pro lokal teman nongkrong di IKJ, selalu jadi MC untuk meramaikan suasana dipercaya number one fans The Sastro se-Jakarta, Peterlovefuzz a.k.a Peter Walandouw dan Aruca a.k.a Andri K Rahadi, duo co-founder Anoa Records yang membuat rilisan digital The Sastro Vol. 1 dalam format Kartu Download Digital (akan dijual saat acara juga).
Berlokasi di Yesterday Lounge, sebuah tempat menyenangkan di Antasari, Jakarta Selatan, Acara ini diadakan pada tanggal 11 Oktober 2015, dan direncanakan tiket box dibuka pukul 6 sore berbarengan dengan dibukanya booth penjualan piringan hitam Vol. 1 dan Merchandise, signing session akan dilakukan sebelum konser dimulai. Untuk mensupport acara ini diharapkan teman-teman bisa membeli tiket FDC seharga Rp. 50.000,- atau cukup membeli salah satu produk dari The Sastro yang akan dijual seperti; piringan hitam, t-shirt dan DDV (kartu download digital).
See you soon!
Cheers,
Ritchie Ned Hansel
On behalf of The Sastro
Pada hari Minggu, 04 Oktober 2015, whiteboardjournal.com bekerja sama dengan Komunitas Salihara menggelar diskusi Lost in Translation di Serambi Salihara. Sebagai bagian dari gelaran Bienal Sastra 2015, diskusi ini merupakan upaya untuk melihat lebih jauh proses dan intensi pada aktivitas alih bahasa. Pilihan topik tersebut merupakan respon terhadap Indonesia yang menjadi Guest of Honor di Frankfurt Book Fair 2015, sekaligus untuk membahas posisi sastra Indonesia di pasar internasional.
Yusi Avianto Pareanom dan Rain Chudori adalah dua pembicara pada diskusi ini. Keduanya dipilih dengan pertimbangan bahwa background masing-masing bisa menjadi representasi yang ideal mengenai dunia penerbitan, aktivitas translasi, hingga tren di anak muda mengenai dunia penulisan.
Diskusi berjalan cukup menarik dengan jawaban dari Yusi dan Rain yang cukup sering menggelitik dan membuka wawasan baru. Pembahasan mengalir dari pembicaraan mengenai esensi pasar internasional, berbagai kendala yang dihadapi dalam proses alih bahasa serta hubungannya dengan bagaimana proses bagi penulis untuk memasuki pasar global, hingga kemungkinan-kemungkinan baru yang terbuka dengan jalur-jalur penerbitan dan promosi alternatif yang kini dimungkinkan oleh teknologi dan internet. Berbagai pertanyaan dan tanggapan dari penonton juga semakin melengkapi cakupan bahasan diskusi ini.
Direktori: Di Makassar, Melihat Harapan dari Indonesia Timur
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode kedua mini seri Direktori, kami berkunjung ke Bali untuk mencari apa yang tersembunyi di balik deru pariwisata dan melihat bagaimana keberagaman hidup di sana.
Episode pertama untuk mini seri terbaru kami untuk campaign #Direktorikota, kami memulainya dengan pertanyaan besar, apakah semangat kebersamaan masih ada di keseharian kita?