Berbicara tentang AXEAN Festival, kami mengundang beberapa alumninya, Batavia Collective dan The Panturas, untuk mengulik atmosfer di dalam festival musik tersebut yang seperti konsisten melambungkan nama-nama up-and-coming ke berbagai festival musik besar lainnya di mancanegara.
Pada tahun 2014, band Vague, yang terdiri dari Yudhis Tira, Januar Kristianto, dan Gary Hostage, dengan cepat menjadi unit band yang dikenal oleh penggemar musik independen melalui rilisan album pertamanya, Footsteps. Kombinasi musik mereka yang energetic dan lirik-lirik personal yang meratap dikemas di dalam rilisan yang berkualitas baik secara lagu individual ataupun album.
Berkolaborasi dengan Kulturo, sebuah kolektif filmmaker yang terdiri dari Riar Rizaldi dan Adythia Utama, "A Giant Blur" dari album Footsteps sekarang memiliki tampilan visual. Narasi "A Giant Blur" dimulai dengan seorang pria paruh baya yang membaca sebuah surat dari rumah sakit. Kita tidak bisa melihat apakah isi surat itu, dan apakah atau tidak surat itu berisi berita baik atau buruk, pria ini berikutnya menyetir mobilnya di kota Jakarta tampaknya tanpa tujuan. Kadang berhenti di McDonald, dan merokok di sebuah lapangan parkir, ekspresi muka pria ini seperti sedang berkontemplasi mengenai konsekuensi isi surat dari rumah sakit. Visual yang menemani naratif pria ini pun bernuansa kontemplatif, dengan gambar yang semakin lama semakin samar.
Video musik "A Giant Blur" di sutradarai dan edit oleh Riar Rizaldi.
Berikut adalah esai oleh Dwiputri Pertiwi mengenai "A Giant Blur", dan untuk mengenal band Vague lebih baik silahkan ke Facebook page-nya.
A Giant Blur - by Dwiputri Pertiwi
I, Prabu Pramayougha, apologize in advance to ruin the mood of exhibiting "hard music" in this installment of Heart Attack. Really sorry that my musical taste isn't "hard" enough. But, Jan asked me to do this. So as a friend, I did my best for it. Please don't get mad at him too.
About the playlist, um nothing special. I just put my favorite Japanese pop punk songs into one playlist. Why Japanese bands? Because they sound really catchy and different. Without any irony, I really love how they manage to keep the vocal harmony along with their struggle to pronounce their style of intelligible English. That thing caught my heart completely. That's simply why. No further exaggerated pretentious my-playlist-is-so-cool explanation.
Hope you all can sing along to these songs. Yep!
P.S : No Hi-Standard & Shonen Knife. Sorry, last.fm enthusiasts.
01. the-dudoos - das sportfest
02. Husking Bee - Anchor
03. supersnazz - words of love
04. Captain Hedge Hog - You Don't Know How My Feel
05. Short Circuit - My Favorite Time
06. Beat Crusaders - Be My Wife
07. Felix the Band - Everywhere You Go
08. Cigaretteman - untitled
09. The Nerdy Jugheads - My Head is Killing Me
10. The Dazes - Candy
11. Seventeen Again - Nobody Knows My Song
Dalam artikel Column kali ini, Ken Jenie bercerita mengenai teknologi digital dan bagaimana keakraban orang dengan desain interface dalam komputer memberi akses lebih luas kepada masyarakat yang ingin menuangkan ide dalam bentuk karya musik.
Eko Nugroho adalah nama yang sangat dikenal dalam kancah seni rupa kontemporer Indonesia. Dimulai dengan proyek Dagingtumbuh dan ilustrasi karakter khasnya, sekarang karya seniman berasal dari Jogjakarta ini bisa dilihat di berbagai galeri dan publikasi internasional. Dalam wawancara ini, kami berbincang dengan Eko Nugroho mengenai perspektif dan pengalamannya di seni lokal dan global.
Photo by: Samuel Evander
This episode of Loka Suara is titled “Betina” a selection of songs from female songwriter/singer. Take a listen to the episode and do look for the band featured if you like what you hear.
A little bit of jazz to jazz up your day...
01. Lee Morgan - Totem Pole
02. Wayne Shorter - Adam's Apple
03. Stanley Turrentine - Jubilee Shout
04. Charles Mingus - Open Letter to Duke
05. Sonny Rollins - You do Something to Me
06. Jackie Maclean - Sundu
07. John Coltrane - Resolution
08. Kenny Burrell - Kenny's Sound
09. Joe Henderson - Recorda Me
10. Joe Pass - Insensiblement
Direktori: Di Makassar, Melihat Harapan dari Indonesia Timur
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode kedua mini seri Direktori, kami berkunjung ke Bali untuk mencari apa yang tersembunyi di balik deru pariwisata dan melihat bagaimana keberagaman hidup di sana.
Episode pertama untuk mini seri terbaru kami untuk campaign #Direktorikota, kami memulainya dengan pertanyaan besar, apakah semangat kebersamaan masih ada di keseharian kita?