Berbicara tentang AXEAN Festival, kami mengundang beberapa alumninya, Batavia Collective dan The Panturas, untuk mengulik atmosfer di dalam festival musik tersebut yang seperti konsisten melambungkan nama-nama up-and-coming ke berbagai festival musik besar lainnya di mancanegara.
Bermula dari ketertarikannya terhadap karya tulis dan sejarah, hasil kurasi Putra Hidayatullah sering berfokus pada relevansi masa lampau dengan masa kini. Contohnya bisa dilihat pada beberapa pameran hasil kurasinya, Puing Perang, yang mengangkat pelanggaran HAM dalam konfilk politik di Aceh, dan Peringatan 10 Tahun Tsunami Aceh. Kini Putra menjadi salah satu kurator Jakarta Bienalle, dan kami berbincang dengannya mengenai latar belakang, perspektif, dan konsep kuratorialnya.
Semenjak menyeruak diantara tren musik chillwave pada tahun 2009 melalui debut album Psychic Chasms yang meraih banyak pujian, Neon Indian muncul sebagai nama penting dalam scene ini. Pendekatannya yang cukup ekletik dalam musiknya membuka dimensi baru pada genre ini. Menggabungkan aroma psikedelia ringan dengan nostalgia, dan pancingan untuk dansa, Neon Indian kemudian tumbuh menjadi salah satu ikon sekaligus representasi movement musik ini.
Kemauannya untuk terus berkembang pada setiap karyanya juga menjadi penanda bahwa Alan Palomo, otak dibalik nama Neon Indian memiliki dedikasi lebih dalam bermusik. Hal tersebut juga bisa dirasakan pada kualitas yang juga terus terjaga pada tiap rilisannya, termasuk dalam split albumnya bersama Flaming Lips yang dirilis pada tahun 2011.
Kejutan muncul ketika Neon Indian mengumumkan VEGA INTL. Night School, full album-nya yang di rilis di penghujung tahun 2015 ini. Aspek dancey semakin menonjol pada musiknya yang semakin ekletik dan funk-y. Ada pula cuplikan rasa reggae yang menambah nuansa tropis pada musik Neon Indian. Dengan dirilisnya album VEGA INL ini, Neon Indian kini tak lagi menjadi perwakilan bagi scene chillwave, namun juga mampu tampil sebagai penghibur dengan kepekaan musik synth-pop, disco, funk, hingga R&B.
Pengalaman musik yang demikian akan menjadi suguhan utama pada event Play Loud Session: Neon Indian Live in Jakarta. Digelar pada 24 November 2015, ini adalah kali pertama Alan Palomo bermain di Indonesia. Dibuka oleh Future Collective, acara ini akan bertempat di Rolling Stone Cafe, Ampera Jakarta Selatan. Kunjungi prasvana untuk info lebih lanjut mengenai acara ini.
Having migrated from Amsterdam to Bali after a respectable 25 years as a DJ and producer in Europe, Aardvarck is your DJ’s favourite DJ. His long career has seen him collaborate with a plethora of well-respected labels such as Rush Hour Recordings, Delsin, Skudge, Eat Concrete and faux-Brazilian LA-Based collective Mochilla. His position as Amsterdam’s premier avant-garde dance music figure has made him the Dutch go-to-guy for many like-minded producers like The Gaslamp Killer, Theo Parrish, and Mark Pritchard. He is now ready to bring his vast wealth of musical knowledge to Jakarta in specific and Indonesia in general. This performance took place at Cafe Mondo/Hi Fidelity Kemang.
Portofolio adalah salah satu fitur terbaru pada section focus kami. Pada seri ini, kami berusaha untuk mendokumentasikan berbagai karakter dari studio desain yang ada di Indonesia dengan mengulas sekaligus mendisplay visi dan karya mereka. Kali ini Sciencewerk menjadi fokus bahasan.
Asia-Afrika brings their latest collaboration mixtape with Whiteboard Journal. Titled W Dub, the mix consists of classic and heavy dub tracks from legendary artists such as King Tubby, Lee Perry, Aggrovator, Dennis Brown, etc.
All these tracks are compiled and mixed by Lion Rock and added with deejaying (toasting/mc) from Ras Muhamad, bringing the dub reggae style version into the next level. Asia-Afrika sound choose to collaborate with Whiteboard Journal to expand the musicality and the culture to wider audiences, Asia-Afrika Soundsystem believe that Reggae is for everyone, each person should enjoy and learn the culture.
Mixtape Selection:
01. The Vulcan – Star Trek
02. Lee “Scratch” Perry & The Upsetter – Zion Blood
03. Easy Star All-Star – Money
04. Don Corleone – Wrong Side in Dub
05. Alborosie – Dub inna Baltimore
06. Gregory Isaccs – Night Nurse Dub
07. Lee “Scratch” Perry & The Upsetter – Jungle Lion
08. Tapper Zukie – Dub MPLA
09. King Tubby – Inna fine style
10. King Tubby – Conversation Dub
11. Lee “Scratch” Perry & The Upsetter – Enter The Dragon
12. Lee “Scratch” Perry – Sensimilia Dub
13. The Aggrovator – Move out of Babylon
14. Dennis Brown – Black Magic Woman
15. Lee Perry & The Silverstones – Finger Mash
16. Tony Tribe – Red Red Wine
Berbagai kegiatan gaya hidup kekinian semakin bertumpu pada aspek visual, gaya hidup ini membutuhkan segalanya untuk selalu menarik secara estetis dalam tiap aktivitasnya. Bekerja sama dengan Samsung GALAXY A8, tulisan ini mengulas mengenai bagaimana kita bisa memanfaatkan momentum untuk membuat visual yang menyenangkan.
Direktori: Di Makassar, Melihat Harapan dari Indonesia Timur
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode kedua mini seri Direktori, kami berkunjung ke Bali untuk mencari apa yang tersembunyi di balik deru pariwisata dan melihat bagaimana keberagaman hidup di sana.
Episode pertama untuk mini seri terbaru kami untuk campaign #Direktorikota, kami memulainya dengan pertanyaan besar, apakah semangat kebersamaan masih ada di keseharian kita?