Latest stories

20.11.15

Silverglaze, Band Penting di Scene Shoegaze Bandung Rilis Single

Menjelang akhir tahun 2015, Anoa Records bersiap merilis album mini dari sebuah band Bandung yang ajaib. Begitu ajaibnya karena band ini dihuni oleh orang-orang yang bisa dibilang pernah tampil di beberapa band penting di Bandung seperti Cherry Bombshell, Themilo, Lass, hingga Puppen. Dan band bernama Silverglaze ini tak pernah sekalipun manggung meski sempat memamerkan dua lagu di laman Myspace. Itu pun tanpa woro-woro tentang siapa sebenarnya penghuni Silverglaze. Silverglaze terdiri dari Ajie Gergaji (Cherry Bombshell, Themilo), Widi (Cherry Bombshell, Lass) dan Ajo (Cherry Bombshell, Puppen). Masa lalu mereka memang saling terkait dengan Cherry Bombshell dimana ketiganya hadir di dua album penuh Waktu Hijau Dulu & Luka Yang Dalam. Kini mereka telah ‘reuni’ dalam wajah yang berbeda dan lebih segar. Bersama Anoa Records, Silverglaze akan meluncurkan EP bertitel Essay di awal Desember 2015, dengan single utama berjudul ‘We Can Do It Now Together’. Bersama Rollingstones.co.id, Silverglaze akan melepaskan single tersebut dalam format bebas unduh. Single utama ini mewakili corak musik Silverglaze yang indie pop/rock. Sebagai jebolan penikmat band-band alternatif 90an, tak akan susah mengendus karakter musik mereka, yang telah dirintis oleh band-band seperti Belly, Lush, Madder Rose, Velocity Girl, dan Juliana Hatfield. Dan sebenarnya, tak akan ada Cherry Bombshell tanpa kehadiran beberapa band-band diatas. We Can Do It Now Together adalah awal mula yang sempat tertunda di masa lalu. Kembalinya Widi & Ajo ke dunia yang sempat mereka tinggalkan setelah memutuskan untuk berkeluarga. Dan Aji melengkapi Silverglaze, bersama-sama, sebagai sahabat lama yang tak melupakan passion mereka dalam sebuah band. They can do it now together.

19.11.15

Jakarta Biennale 2015: Maju Kena, Mundur Kena. Bertindak Sekarang

Meskipun tema yang diangkat oleh Jakarta Biennale tahun 2015 ini mengingatkan pada salah satu judul film Warkop yang dirilis tahun 1983, ternyata komedi sedikit berjarak dengan misi yang ingin dicapai pada gelaran ini. Konsepsi yang skala dan dampaknya cukup besar menjadi dorongan utama eksibisi dua tahunan ini. Dengan perhatian pada lingkungan, terutamanya terhadap area kota yang ditempatkan pada sorotan utama, sejatinya Biennale ini adalah rupa rekaan seniman mengenai apa yang terjadi di sekitar mereka. Ini juga sekaligus merupakan sebuah seruan untuk mengambil langkah untuk maju sekarang, supaya tak terjebak di masa lalu, juga tak tersesat pada utopia masa depan. Besarnya konsepsi juga bisa dirasakan pada bagaimana Jakarta Biennale 2015 memetakan rangkaian acara. Secara kuratorial, Yayasan Jakarta Biennale sebagai pelaksana pameran mengembangkan Curators Lab, sebuah program pembelajaran dan kolaborasi antara kurator muda dengan kurator profesional untuk mengembangkan konsep yang lebih relevan kepada permasalahan yang ada di sekitar. Tim kurator yang besar, berisi kombinasi 7 kurator muda dan senior, termasuk di dalamnya pegiat seni yang didatangkan dari penjuru negeri, dari Aceh, Surabaya, hingga Makassar, menunjukkan lebarnya skala yang dijangkau oleh pameran ini. Selain juga keterlibatan seniman dari berbagai suku bangsa yang diajak untuk menterjemahkan pemahaman mereka masing-masing terhadap tema utama. Kunjungi Gudang Sarinah untuk melihat dan merasakan bagaimana para seniman memaknai isu-isu perkotaan, sekaligus untuk memahami tindakan apa yang bisa diambil untuk bisa melangkah maju ke depan. Jakarta Biennale Website Jakarta Biennale Facebook Jakarta Biennale Twitter Jakarta Biennale Twitter

Column
19.11.15

Nada dari sisi Timur Pulau Jawa

Setiap hari ada band baru yang muncul di bumi Indonesia. Jawa Timur sebagai salah satu bagiannya menyimpan potensi yang menarik untuk digali lebih dalam. Tulisan ini akan menuliskan 11 nama dari Malang dan Surabaya, yang menarik untuk didengarkan dan ditunggu perkembangannya di masa yang akan datang.

18.11.15

bedchamber dan Cotswolds Lepas Single “Frowning” dan “Marra”

(pesan split tape bedchamber dan Cotswolds) Sejak merilis debut EP masing-masing pada 2014 dan 2013 lalu, baik bedchamber dan Cotswolds belum pernah merilis apapun setelahnya. Namun lewat kedua debut EP mereka tersebut, keduanya berhasil menawarkan warna musik berbeda yang dengan sangat kuat menandai mereka sebagai dua unit muda dengan karakter yang khas pada musiknya masing-masing: bedchamber yang indiepop dengan segala keriangannya serta Cotswolds yang kental akan gelap post-punk dengan segala kemuramannya. Pun ternyata, keduanya kemudian juga berhasil diterima dengan sangat baik atas apa yang mereka mainkan tersebut Namun dalam PORTSIDE: a split tape by bedchamber & Cotwolds, kali ini mereka menampilkan sisi-sisi lain dari mereka yang mungkin akan terdengar bertolak belakang dari bagaimana musik mereka dikenal. bedchamber bermain dengan pola drum post-punk dalam nuansa yang lebih gelap? Atau entah apa yang membuat Cotswolds menjadi terdengar lebih riang lewat permainan gitar yang kental akan pop? PORTSIDE mempertemukan dan mengabadikan transisi-transisi itu dengan baik. Sebagai single pertama bedchamber memilih "Frowning" sementara Cotswolds menawarkan "Marra". bedchamber menuturkan tentang "Frowning" yang menurut mereka adalah sebuah teka-teki akan sifat dan keadaan psikologis seseorang yang tidak bisa memberikan kepercayaan kepada orang lain dan memilih untuk melalukan segala hal seorang diri sehingga apakah ia merasa kesepian atau tidak menjadi hal yang sulit diketahui. Sedangkan "Marra" menurut Cotswolds adalah momen terungkapnya kepribadian gelap dan tersembunyi dari seorang wanita periang pengidap bipolar yang tidak pernah diketahui sebelumnya. PORTSIDE akan dirilis dalam format kaset oleh Nanaba Records serta digital stream lewat Kolibri Rekords pada 5 Desember 2015. Rilisan ini merupakan kolaborasi pertama di antara kedua label tersebut, juga sekaligus menjadi penghubung menuju album perdana dari masing-masing band. Showcase istimewa untuk rilisan ini juga akan dilaksanakan di Surabaya, Malang, Bandung, dan Jakarta dalam waktu dekat. -- ​ bedchamber - Frowing | Cotswolds - Marra from split album 'Portside' Out 5 Des 2015 on cassette via Nanaba Records & digital stream via Kolibri Rekords

18.11.15

Merayakan Sastra bersama Yeow Kai Chai

Yeow Kai Chai adalah seorang penulis, penyair, dan jurnalis dari Singapura yang tahun ini menjadi Festival Director Singapore Writers Fesival. Sebagai penggemar berbagai disiplin seni, Yeow Kai Chai membuat program festival sastra ini dengan fokus kepada pengalaman menikmati saatra pada berbagai media. Kami sempat berbincang dengan Yeow Kai Chai mengenai Singapore Writers Festival dan bagaimana beliau membuat visinya menjadi nyata di acara sastra ini.

Load More Articles whiteboardjornal, search
whiteboardjournal, play
Music
NOW PLAYING

Screen Time with .Feast & The Panturas

Invent Your Future

Temukan siapa dirimu dan bagaimana karaktermu menentukan arah masa depan.


Tentukan Di Sini whiteboardjournal, search

Follow us on social media

Instagram whiteboardjournal, search Facebook whiteboardjournal, search Twitter whiteboardjournal, search

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.