Berbicara tentang AXEAN Festival, kami mengundang beberapa alumninya, Batavia Collective dan The Panturas, untuk mengulik atmosfer di dalam festival musik tersebut yang seperti konsisten melambungkan nama-nama up-and-coming ke berbagai festival musik besar lainnya di mancanegara.
Irwan Ahmett adalah salah satu seniman yang selalu mengangkat isu-isu keseharian melalui karya-karyanya. Pendekatannya yang kritis, mampu membawa kesadaran baru kepada masyarakat tanpa harus menyinggung, malah justru dengan mengajak masyarakat untuk mentertawakan diri sendiri. Whiteboard Journal berkesempatan untuk berbincang dengan Irwan Ahmett mengenai perspektif kritis dalam kesenian serta pendapatnya tentang sensibilitas dalam berkarya.
Ten wonderful songs that have recently inspired me to explore the guitar further.
01. Nir Felder - Love
02. Pat Metheny - (Go) Get It
03. Joe Pass - Django
04. Jeff Parker - Toy Boat
05. Charlie Hunter Trio - Elbo Room
06. John Scofield - A Go Go
07. Charlie Hunter, Chinna Smith and Ernest Ranglin - Mestre' Tata
08. George Benson - Shape of Things to Come
09. Grant Green - Bedouin
10. Shintaro Sakamoto - The World Should be More Wonderful
Berawal dari keresahan pendirinya mengenai keadaan penduduk daerah terpencil, Kopernik berdiri untuk menawarkan bantuan sekaligus inovasi sebagai salah satu solusi. Menghubungkan teknologi sederhana tepat guna dengan masyarakat di daerah terpencil untuk mengurangi kemiskinan, Kopernik yang berbasis di Bali terus berusaha untuk menawarkan opsi-opsi baru yang tak hanya mempermudah kegiatan sehari-hari, tetapi juga menciptakan peluang kesejahteraan bagi keluarga di sana.
Kolibri Records kembali menunjukkan kualitas sebagai label muda yang tak hanya produktif, tetapi juga mampu menunjukkan kualitas melalui video klip dari salah satu roster mereka Gizpel. "Zittau" menjadi kandidat salah satu video klip lokal terbaik di tahun 2015 dengan pengambilan gambar yang cermat, arahan artistik yang mengingatkan pada kualitas video musik Jepang, serta pewarnaan yang akurat untuk memvisualisasikan musik Gizpel yang dingin, namun juga hangat yang sama.
--
Zittau adalah sebuah kota di Jerman. Namun bagi Gizpel, trio dreampop muda asal Jakarta yang beranggotakan Fadilah Ananto (vokal, bass), Dika Raka Prayuga (synth, beats), dan Dimas A. Wibisono (gitar), Zittau adalah simbol dari kekakuan karena jarak yang terbentang dan agak sulit dilisankan. Bagi mereka Zittau adalah negeri jauh antah berantah yang dingin, kaku, pucat dan bukan tempat untuk memori terbaik. Memang ada beberapa hal yang sifatnya personal dan sentimentil di balik pemaknaan-pemaknaan tersebut. Sampai ketika mereka harus menterjemahkannya ke dalam visual dalam rupa video musik, Gizpel mencoba menarik diri untuk melihat lagu ini dari jauh hingga mereka menyimpulkan bahwa lagu ini sebenarnya adalah tentang menghargai kebersamaan.
Dalam debut mini album mereka, Short Distance EP yang dirilis pada Agustus lalu, Gizpel memang banyak berbicara tentang dinamika-dinamika yang terjadi ketika jarak terlanjur hadir. Dan sebagai nomor pembuka, "Zittau" cukup banyak menyimpan analogi-analogi yang mewakili keseluruhan tema tersebut. Diarahkan oleh Vinny Asrita Rahma yang juga merupakan pengisi vokal pada lagu ini, video musik "Zittau" menampilkan penubuhan dari kata kunci-kata kunci seperti ruang, waktu, gerak, keberadaan, kebersamaan, kecanggungan, kegamangan, keintiman, keterhubungan, dan keterasingan.
"Kata kunci-kata kunci tersebut jika dianalogikan ke dalam visual, bagi kami adalah seperti dua orang yang terlihat identik melakukan hal-hal yang mereka lakukan dalam video ini," terang Raka. Dimas melajutkan, "Kita mencoba untuk menunjukkan bahwa sedekat apapun keberadaan kita dengan sesuatu atau seseorang yang terasa penting, bahkan saat melakukan hal yang sama pun, kecanggungan dan kegamangan itu pasti tetap akan selalu ada. Jarak sesungguhnya itu ada dalam diri dan tidak dapat diukur. Sehingga jauh atau dekat seharusnya kita rayakan dan syukuri sama baiknya."
Video musik ini juga sekaligus menjadi persembahan dari Gizpel untuk memulai turnya di lima kota memperkenalkan Short Distance EP dalam rangkaian Kolibri Rekords Tour 2015. Dalam pembuatannya, video musik Zittau juga dibantu oleh Dito Mohamad yang sebelumnya juga pernah mengerjakan video musik Gizpel untuk "Loner Train". Sementara gambar diambil oleh Daffa Andika, Ghina Nurvita, dan Vinny sendiri. Dua gadis kembar diperankan oleh Amelia Vindy dan Nitya Putrini.
Directed by Vinny Asrita
Camera by Daffa Andika, Ghina Nurvita, Vinny Asrita
Edited by Vinny Asrita & Adyhtia Utama
Twins are Amelia Vindy & Nitya Putrini
Berselang beberapa pekan dari rilis album pertama yang ditunggu-tunggu sejak CD-R demo mereka bagikan di salah satu edisi SUPERBAD! pada tahun 2011, Sigmun menggelar pesta rilis dari "Crimson Eyes" yang telah menerima ulasan positif dari berbagai media. Diadakan di Auditorium IFI Bandung, pada tanggal 12 Desember 2015, Sigmun, untuk pertama kalinya, akan membawakan rangkaian materi-materi baru dari album debut mereka secara live dan terkurasikan secara visual berdasarkan apa yang terpaparkan di dalam Crimson Eyes. Sigmun akan bermain selama kurang lebih dua jam, dimana selain membawakan materi-materi baru dalam gelaran ini, merekapun akan membawa pendengar-pendengar lama mereka untuk bernostalgia dengan materi-materi mereka yang terdahulu. Bertepatan dengan showcase ini pun, disamping beberapa merchandise t-shirt dan lainnya yang terbatas, Sigmun dengan Orange Cliff Records akan merilis ulang Crimson Eyes dalam format double cassette tape yang hanya akan tersedia di venue. Tiket yang dibanderol dengan harga 75 ribu rupiah ini sudah termasuk poster yang akan dibagikan saat registrasi di venue. Informasi mengenai prosedur pembelian tiket bisa diperoleh melalui akun-akun jejaring sosial Sigmun.
Untuk informasi lebih lanjut:
Twitter : @sigmuns
Instagram : @sigmun_
Direktori: Di Makassar, Melihat Harapan dari Indonesia Timur
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode kedua mini seri Direktori, kami berkunjung ke Bali untuk mencari apa yang tersembunyi di balik deru pariwisata dan melihat bagaimana keberagaman hidup di sana.
Episode pertama untuk mini seri terbaru kami untuk campaign #Direktorikota, kami memulainya dengan pertanyaan besar, apakah semangat kebersamaan masih ada di keseharian kita?