Berbicara tentang AXEAN Festival, kami mengundang beberapa alumninya, Batavia Collective dan The Panturas, untuk mengulik atmosfer di dalam festival musik tersebut yang seperti konsisten melambungkan nama-nama up-and-coming ke berbagai festival musik besar lainnya di mancanegara.
Sejak tanggal 14 November 2015, Gudang Sarinah di daerah Pancoran menjadi rumah bagi Jakarta Biennale yang kali ini berjudul "Maju Kena, Mundur Kena: Bertindak Sekarang". Mengundang seniman dari berbagai daerah Indonesia dan Internasional, pameran ini membahas kondisi sosial masyarakat Indonesia.
Irockumentary
Entah berapa puji tersampaikan pada Efek Rumah Kaca, Irwan Ahmett dan tim produksi Konser Sinestesia, Rabu malam 13 Januari 2016. Hampir semua unggahan sosial media dari tempat duduk di Gedung Teater Besar Taman Ismail Marzuki menjadi bukti, sanjung dan pukau mendominasi timeline sosial media. Meski sebenarnya, 1.500 tiket yang terjual dalam masa satu minggu merupakan penanda bahwa konser Efek Rumah Kaca kali ini akan menjadi sebuah gelaran yang besar secara skala. Kabarnya pula, dari sekian pemegang tiket, masih ada sekitar 1000 nama di daftar tunggu yang bersiap untuk berburu kalau-kalau ada pembeli yang mendadak membatalkan pembeliannya.
Akan tetapi ternyata masih ada kejut dari apa yang Efek Rumah Kaca bersama tim sajikan malam itu. Sejak di muka saja, tampilan Gedung Teater Besar Taman Ismail Marzuki telah dengan gagah menyambut penonton. Dari segi pelaksanaan, tampaknya penyelenggara banyak belajar dari Konser Efek Rumah Kaca Bandung yang berlangsung beberapa bulan lalu. Dari segi teknis, mulai dari penukaran tiket, berjalan dengan cukup aman, meski ada satu dua double seating yang masih menyelip diantaranya, sebuah perbaikan dibanding konser Bandung yang menuai kritik karena kekacauan di antrian pintu panggung. Tata panggung dan tata artistik Konser Bandung yang agak terlalu berlebihan dan gimmicky, digantikan dengan tampilan yang lebih sederhana, namun berlipat daya magisnya.
Irwan Ahmett yang ditunjuk menjadi kolaborator artistik menjadi salah satu penentu kesuksesan Konser Sinestesia. Sejak tirai panggung dibuka, penonton konser disambut dengan sebuah instalasi di panggung, ruangan kosong berwarna putih geometris minimalis dengan personil yang berjajar rapi di depan barisan orkestra pimpinan Alvin Witarsa. Mengambil inspirasi dari karya James Turrel, Irwan Ahmett lalu memproyeksikan warna-warni cahaya seiring musik yang dimainkan oleh Efek Rumah Kaca. Memang, ini bukan konsep yang sepenuhnya baru, bahkan videoklip seorang musisi internasional juga menggunakan pendekatan yang sama, namun Irwan Ahmett mampu mengolahnya sedemikian rupa sehingga karya tersebut melekat dengan musik Efek Rumah Kaca. Lebih dari itu, rona warna dan rupa yang terpancar di panggung tersebut mampu memberi kedalaman suasana pada setiap lagu yang dimainkan. Ada cemas yang lebih mencekat di lagu “Di Udara”, sepi terasa semakin perih pada “Melankolia”, juga hangat yang mendekat diantara waltz sendu “Laki-Laki Pemalu”.
Efek Rumah Kaca sendiri tampil nyaris sempurna. Memainkan lagu-lagu dari album satu dan dua di paruh pertama Konser, Cholil, Akbar, Poppie, Ditto memainkan bagian masing-masing tanpa cela dan bersinergi dengan orkestra mini Alvin Witarsa yang tampak sangat menghayati setiap lagu di repertoarnya. Sesekali terdengar suara string section yang terlalu ke depan, menenggelamkan suara gitar Cholil dan Ditto, namun secara umum, konser paruh pertama tampil dengan apik. Improvisasi isian drum Akbar yang dilakukan pada beberapa part lagu juga memberi sensasi tersendiri. Pada bagian ini, terbukti posisi Efek Rumah Kaca sebagai salah satu band terbesar di Indonesia. Deras nyanyi penonton yang ikut melafalkan hampir setiap kata pada lirik lagu menjadi bukti bahwa lagu mereka telah menjadi milik publik, Cholil bahkan bisa beristirahat total dari tugasnya di depan microphone di lagu “Cinta Melulu”. Adrian yang bergabung di akhir sesi juga menambah nilai sekaligus kelengkapan pada setiap lagu. Adrian membuat unit Efek Rumah Kaca kembali utuh melalui nyanyinya yang selalu sepenuh hati.
Pada paruh kedua, Efek Rumah Kaca langsung menggelegar dengan satir di lagu “Merah”. Permainan cahaya di panggung semakin meriah, Efek Rumah Kaca kali ini ditemani dengan Ricky Surya Virgana yang mengisi cello. Berseragam hitam-hitam, set kali ini sedikit mengingatkan pada visual Arcade Fire di album Neon Bible. Berturutan kemudian, dimainkan lagu-lagu dari album Sinestesia sesuai tracklist. Berjarak hanya sekian minggu dari rilis album, konser ini adalah upaya yang sempurna dalam menghidupkan dimensi-dimensi dari album tiga. Penonton seperti diajak untuk mengalami setiap cerita pada enam lagunya, tak hanya melalui telinga, juga mata dan seluruh sensori tubuh. Dua lagu terakhir menjadi puncak haru biru. Visual awan di bagian atas instalasi panggung pada lagu “Putih” memicu nyeri ketika memasuki bagian lirik tentang suasana hidup-mati. Juga bait terakhir lagu “Kuning”, yang menggambarkan suasana padang Mahsyar dengan begitu indahnya, menyentuh penonton pada titik terendahnya. Seolah memimpin koor manusia di akhir zaman untuk berbaris bernyanyi beriringan di hadapan Yang Esa.
Agak sempit untuk menyimpulkan Konser Sinestesia sebagai sebuah hiburan yang berhasil. Karena nyatanya, acara ini berfungsi dan bakal melekat lebih dari itu. Kredit lebih tertuju pada penyelenggara dan tim produksi yang mampu menyajikan sebuah karya dengan level ini tanpa eksistensi sponsor. Dengan ini, Efek Rumah Kaca sekali lagi menghidupi dan memberi bukti bahwa pasar bisa diciptakan, dan cipta bisa dipasarkan dengan penuh kualitas. Konser Sinestesia menetapkan sebuah standar yang cukup tinggi di sejarah musik lokal, semoga ini menjadi penanda bagi tahun yang lebih baik lagi untuk dunia kreatif Indonesia.
In this article, Yanti Sastrawan takes a look at one of the most popular smartphone app in Jakarta, Instagram. Through observation of the metropolis' infrastructure and the youth's lifestyle, Yanti talks about how Instagram is used by the young Jakartans to portray their personal lives, the city they live in, and the latest trends.
Sebagai sutradara, Sim F dikenal dengan karya komersialnya yang telah menjadi tampilan visual bagi berbagai macam brand di Indonesia. Diantara kesibukannya mengerjakan iklan, Sim F juga cukup sering berkarya dalam bentuk video musik. Pendekatannya yang cukup tak biasa menjadi pembeda dari setiap karya videonya. Sebuah penyegaran, terutama bagi karya video untuk musisi mainstream.
Kinosaurus, Kolektif dan Whiteboard Journal mempersembahkan Klip Klub, seri acara pemutaran video klip sekaligus diskusi bersama sutradara video klip musik pilihan. Dalam acara yang akan digelar setiap hari Rabu pukul 19:30 dari tanggal 20 Januari sampai 24 Februari 2015 yang bertempat di Kinosaurus ini, secara berkala akan mengajak sutradara videoklip pilihan untuk memutar karya-karyanya untuk kemudian didiskusikan bersama. Episode pertama yang akan berlangsung pada 20 Januari 2016 akan menampilkan video musik pilihan karya Sim F.
Sebagai pembuka, akan diputar juga sebuah video karya Dimas Brodjonegoro, seorang sineas muda yang juga telah banyak berkarya dalam bentuk video musik, komersil maupun film pendek. Seusai pemutaran video akan diadakan obrolan bersama Sim F dan Dimas Brodjonegoro tentang karya mereka serta proses kreatif dalam pembuatan video.
--
Mengenai Klip Klub
Untuk merayakan kembali karya video musik, Kinosaurus, Kolektif, dan Whiteboardjournal.com mempersembahkan, “Klip Klub” acara pemutaran video klip sekaligus diskusi bersama sutradara video klip musik pilihan. Dalam acara yang akan digelar setiap hari Rabu pukul 19:30 dari tanggal 20 Januari sampai 24 Februari 2015 yang bertempat di Kinosaurus ini, secara berkala akan mengajak sutradara videoklip pilihan untuk memutar karya-karyanya untuk kemudian didiskusikan bersama. Tak hanya itu kepada sutaradara yang telah dikenal, acara ini juga memberikan kesempatan bagi sutradara muda untuk berdiskusi sekaligus belajar secara langsung dengan sutradara senior. Setiap sutradara pilihan akan memilih sutradara lain untuk ikut menayangkan karyanya di acara ini sebagai perkenalan sekaligus pemicu jalannya regenerasi dalam budaya video klip musik lokal.
Jadwal Pemutaran Klip Klub
Sim F
20 Jan, 2016
19:30 WIB
The Jadugar
27 Jan, 2016
19:30 WIB
Cerahati
03 Feb, 2016
19:30 WIB
Tromarama
10 Feb, 2016
19:30 WIB
Gundala Pictures
17 Feb, 2016
19:30 WIB
Sinema Pinggiran
24 Feb, 2016
19:30 WIB
Alamat:
Kinosaurus
(Dalam Aksara Kemang)
Jl. Kemang Raya No. 8
Jakarta
12730
Direktori: Di Makassar, Melihat Harapan dari Indonesia Timur
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode kedua mini seri Direktori, kami berkunjung ke Bali untuk mencari apa yang tersembunyi di balik deru pariwisata dan melihat bagaimana keberagaman hidup di sana.
Episode pertama untuk mini seri terbaru kami untuk campaign #Direktorikota, kami memulainya dengan pertanyaan besar, apakah semangat kebersamaan masih ada di keseharian kita?