Berbicara tentang AXEAN Festival, kami mengundang beberapa alumninya, Batavia Collective dan The Panturas, untuk mengulik atmosfer di dalam festival musik tersebut yang seperti konsisten melambungkan nama-nama up-and-coming ke berbagai festival musik besar lainnya di mancanegara.
Pada columnnya kali ini, Muhammad Hilmi menuliskan beberapa musik bagus yang lahir dari kota-kota yang sering terlewatkan dari radar. Mulai dari beberapa kota kecil di Pulau Jawa, juga beberapa nama dari Kalimantan dan Sumatra.
Sejak 2012, Komunitas Salihara memberi panggung kepada musisi-musisi jazz tanah air untuk menunjukkan musikalitas mereka sekaligus perkembangan musik jazz di Indonesia. Festival yang berjudul Salihara Jazz Buzz telah menampilkan pertunjukan dari musisi senior seperti Dewa Budjana, Ligro, Tohpati dan Balawan. Tahun ini, Jazz Buzz memberi platform untuk 4 nama yang tidak sebesar sebelumnya tetapi telah mengharumi skena musik Indonesia dengan karya mereka yang unik. Dari Tesla Manaf sampai I Know You Well Miss Clara, Jazz Buzz tahun ini adalah acara yang melihat ke masa depan musik jazz Indonesia.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai acara Jazz Buzz dan program Komunitas Salihara yang lain, kunjungi situs mereka.
--
Salihara:
TRODON
Sabtu, 20 Februari 2016,
20:00 WIB
Teater Salihara
Umum: Rp75.000
Pelajar/Mahasiswa: Rp50.000
Nama grup ini diambil dari nama salah satu jenis dinosaurus, yakni Troodon, yang konon adalah jenis dinosaurus terpintar yang hidup di zaman Cretaceous. Berdiri pada Januari 2013, Trodon terdiri atas Biondi Noya (gitar), Irene Pattinaya (keyboard), Nadya Romanenta (saksofon alto, flute), Aprila Sitompul (bas), Peter Lumingkewas (drum). Mereka banyak memainkan karya instrumental yang dipengaruhi oleh jazz rock progresif, dengan kombinasi instrumen tidak lazim serta struktur musik yang kompleks. Karya-karya mereka yang berwatak progresif instrumental membuat mereka unik di panggung jazz Indonesia saat ini.
Pembelian tiket paling lambat 18 februari 2016. Terdapat program tiket promo Rp125.000 untuk 2 pertunjukan Jazz Buzz yang berbeda.
TESLA MANAF
Minggu, 21 Februari 2016,
20:00 WIB
Teater Salihara
Umum: Rp75.000
Pelajar/Mahasiswa: Rp50.000
Tesla Manaf adalah musisi jazz berusia muda yang berbakat besar. Lahir dan tumbuh dalam keluarga bukan-musisi, ia mencurahkan sebagian besar waktunya untuk mendalami praktik musik, khususnya gitar dan pernah menerima Yamaha Music Award untuk gitar klasik. Debut internasionalnya meluncur bersama album terbaru Tesla Manaf (2015) yang diproduksi MoonJune Records yang berpusat di New York. Tesla Manaf sekaligus adalah nama grup yang ia gerakkan bersama sejumlah rekannya yang tak kalah berbakat: Hadis Hendarisman (klarinet), Rudy Zulkarnaen/Krishna Alda Radiansyah (bas), Desal Sembada (drum).
Pembelian tiket paling lambat 19 februari 2016. Terdapat program tiket promo Rp125.000 untuk 2 pertunjukan Jazz Buzz yang berbeda.
I KNOW YOU WELL MISS CLARA
Sabtu, 27 Februari 2016,
20:00 WIB
Teater Salihara
Umum: Rp75.000
Pelajar/Mahasiswa: Rp50.000
I Know You Well Miss Clara menekuni jazz eksperimental dan progresif sejak 2010. Kelompok ini menyerap pengaruh dari Soft Machine, Weather Report, Return to Forever, Miles Davis, Mahavisnhu Orchestra, Ornette Coleman, hingga Jimi Hendrix. Grup dari Yogyakarta yang berdiri pada 2010 ini beranggotakan Reza Ryan (gitar), Adi Wijaya (piano), Alfiah Akbar (drum/perkusi).
Mereka akan menampilkan nomor-nomor dari album Chapter One (2013) dan nomor-nomor baru yang menjadi bagian dari album kedua mereka Chapter Two (2016). Royke B. Koapaha dan Iwan Hasan akan menjadi bintang tamu pentas ini.
Pembelian tiket paling lambat 25 februari 2016. Terdapat program tiket promo Rp125.000 untuk 2 pertunjukan Jazz Buzz yang berbeda.
MANTICORE PROJECT
Minggu, 28 Februari 2016,
20:00 WIB
Teater Salihara
Umum: Rp75.000
Pelajar/Mahasiswa: Rp50.000
Manticore Project beranggotakan Dameria Hutabarat (grand piano, organ pipa), Krisna Prameswara (organ hammond, minimoog, keyboard), Dave Lumenta (bas, gitar, synthesizer, vokal). Kelompok ini berkolaborasi dengan Yandi Andraputra (drum, perkusi elektronik), Farman Purnama (tenor, vokal utama). Mereka adalah para musisi yang kerap mengisi panggung-panggung jazz di Tanah Air. Dameria Hutabarat, pemimpin kelompok ini, menyelesaikan pendidikan di Yayasan Pendidikan Musik dan secara simultan mengikuti pendidikan organ elektronik di Yamaha Musik Indonesia. Sempat mengikuti kuliah pada Jurusan Komposisi di LPKJ (kini Institut Kesenian Jakarta) selama satu tahun, ia melanjutkan kuliah di London untuk mendalami organ pipa (1976-1980).
Pada Jazz Buzz kali ini mereka akan membawakan program Tribute to Emerson, Lake and Palmer.
Pembelian tiket paling lambat 26 februari 2016. Terdapat program tiket promo Rp125.000 untuk 2 pertunjukan Jazz Buzz yang berbeda.
Tesla Manaf sering disebut sebagai musisi muda Indonesia yang sukses di skala global. Dengan talenta dan komposisi karyanya, telah lahir beberapa album yang diedarkan oleh label internasional, Moonjune Records. Di sela-sela persiapan penampilannya di Jazz Buzz Salihara, Whiteboardjournal berbincang bersama Tesla mengenai proses kreatif serta cita-cita yang ingin ia capai melalui musik.
Dari menulis sampai bermusik, catatan adalah aktifitas yang akan membantu segala profesi. Dengan pengalaman hampir dua abad, Collins adalah brand yang mengerti bagaimana membuat buku catatan yang berkualitas tinggi dan nyaman dipakai.
teks dan foto oleh Stefan Tirta
Hujan dan kemacetan ibukota di hari Jumat, 12 Februari 2016 cukup menguji kesetiaan para fans Stars yang sudah menanti-nanti penampilan grup indie pop asal Canada tersebut. Hanya sedikit yang sudah sigap memasuki Soehana Hall, Energy Building tepat waktu, yang malam itu terasa sangat dingin. Mungkin karena baru 1/4 ruangannya terisi, bahkan setelah gate dibuka cukup lama.
Kecanggungan malam itupun berhasil dipecahkan oleh Scaller. Band rock alternatif asal Bandung jebolan DeMajors ini mencuri perhatian penonton yang sedang asik duduk menunggu Stars. Beberapa bahkan mulai berdiri menikmati penampilan Scaller yang powerful, emotif, dan sedikit agresif. Ini mungkin cukup klise, tapi vokal kuat a la Alanis Morisette yang dilantunkan dengan sempurna oleh sang vokalis, Stella Garreth menghipnotis penonton terutama yang berjenis kelamin laki-laki. “Live and Do” dan “The Youth” menjadi highlight dari penampilan Scaller kali ini. Cukup dengan 6 lagu, Scaller mampu menghangatkan suasana malam itu.
Stars pun masuk ke area panggung. Tanpa berbasa basi, “Hold On” langsung dimainkan sebagai lagu pembuka. Terdengar teriakan histeris setelah intro, rupanya tertuju kepada Amy Millan yang baru bergabung ke panggung. Sesaat sound vocal yang keluar terasa kurang maksimal. Namun keheranan tersebut langsung dijawab oleh sang Torquil Campbell, “My voice is gone somewhere after 26 hours flight, hopefully it’ll come back at the end of the show,” tuturnya sedih. Meski suaranya hilang, pria paruh baya asal Sheffield ini tetap tampil all-out dan penuh energi positif.
Alih-alih tampil mengecewakan, justru crowd penonton yang semakin ramai tidak jarang ikut sing along. Belum lagi aksi panggung Amy Millan yang hangat dan begitu interaktif dengan penonton, semua itu seakan membayar musibah yang menimpa Campbell, yang tak henti-hentinya mengucapkan maaf dan rasa bersalahnya. Determinasinya untuk bisa tampil maksimal sangat terasa saat “Dead Hearts” dimainkan, dimana kekuatan vocal Torquil dan Amy menjadi kunci dari lagu tersebut.
Elevator Love Letter, Dead Hearts, From the Night, dan Your Ex-Lover Is Dead adalah highlight dari penampilan Stars yang begitu emosional malam itu. Jarak panggung dengan penonton yang sangat dekat membuat ikatan tersendiri bagi Stars dan para fans. Pidato kecil di akhir acara menyuarakan betapa senangnya mereka diundang tampil di Jakarta. Dan tidak seperti standar kata manis yang diucapkan band-band internasional lainnya, yang ini terasa begitu tulus. Kecuali mungkin Campbell hanya mengeluarkan air mata palsu saat menyanyikan From the Night.
“One more fucking song to a fucking inspirational and lovely audience! Next time I come back to Jakarta, I’ll be singing like Justin Bieber. Or even better,” katanya sebelum memulai lagu kedua dan terakhir pada encore.
Direktori: Di Makassar, Melihat Harapan dari Indonesia Timur
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode kedua mini seri Direktori, kami berkunjung ke Bali untuk mencari apa yang tersembunyi di balik deru pariwisata dan melihat bagaimana keberagaman hidup di sana.
Episode pertama untuk mini seri terbaru kami untuk campaign #Direktorikota, kami memulainya dengan pertanyaan besar, apakah semangat kebersamaan masih ada di keseharian kita?