Berbicara tentang AXEAN Festival, kami mengundang beberapa alumninya, Batavia Collective dan The Panturas, untuk mengulik atmosfer di dalam festival musik tersebut yang seperti konsisten melambungkan nama-nama up-and-coming ke berbagai festival musik besar lainnya di mancanegara.
Awal April 2016, Film Musik Makan kembali dengan rangkaian acaranya yang ketiga. Acara yang dimulai pada tahun 2014 selalu menampilkan karya film menarik dari berbagai sutradara seperti Anggun Priambodo, Lucky Kuswandi, dan Yosep Anggi Noen. Kali ini, acara Film Musik Makan akan berlangsung selama 2 hari di Goethe Institut dan akan menampilkan 4 film panjang dan 10 film pendek. Dengan nama Film Musik Makan, tentunya acara ini tidak hanya menampilkan film. Akan ada musik dari Irama Nusantara dan MMS yang selalu memainkan lagu-lagu yang menarik. Hidangan lezat tentu juga akan tersedia di acara ini. Silahkan melihat informasi mengenai Film Musik Makan pada post ini, dan jangan lupa menghadiri acaranya!
--
Film Musik Makan 2016
02/04/2016 - 03/04/2016
Goethe Haus
Jalan Dr. Sam Ratulangi No. 9-15
Menteng, Jakarta
10350
Pemutaran Perdana:
Potongan oleh Chairun Nissa
White Shoes & the Couples Company in Cikini oleh Henry Foundation
Film Panjang:
How to Win at Checkers (Every Time) oleh Josh Kim
Alvin's Harmonious World of Opposites oleh Platon Theodoris
Film Pendek:
Serpong oleh Lucky Kuswandi
Rumah oleh Yosep Anggi Noen
The Floating Chopin oleh Wregas Bhanuteja
Worked Club oleh Tunggul Banjaransari
Kunjungan Spesial oleh Zen Al-Ansory
Kitorang Basudara oleh Ninndi Raras
Semalam Anak Kita Pulang oleh Adi Marsono
Amarta (Gadis dan Air) oleh Bambang 'Ipoenk' KM
Natalan oleh Sidharta Tata
Simbiosis oleh Wiranata Tanjaya
Musik:
Irama Nusantara
MMS
TED, atau Technology, Entertainment, Design - adalah konferensi global yang mengundang ahli dari berbagai macam bidang untuk menyampaikan kuliah umum. Bergerak denagn motto "Ideas Worth Spreading", kuliah TED seringkali menjadi inspirasi kepada penontonnya. Dimulai dari tahun 1984, TED telah mendapat perhatian internasional, di Indonesia pun telah terlahirkan beberapa franchise dari TED, yaitu TEDx.
After watching a solar eclipse at home, Ken Jenie was inspired to write this piece paying homage to humanity and science. According to Ken, our understanding of reality is a wonder of humanity’s ingenuity, and that science is a vehicle that help progresses human intuition and civilisation.
Lucky Widiantara adalah seniman, pemilik label, desainer dan juga musisi dimana pada berbagai aktivitasnya, ia menghidupi dan mengikuti passionnya. Sebagai penggemar aktifitas surfing, Lucky mendirikan Lucas & Sons, sebuah brand dimana ia membuat surfboard serta aksesoris lifestyle yang berhubungan dengan budaya surfing. Kami berkesempatan berbincang dengan Lucky mengenai keterlibatannya di skena surfing, karyanya di Lucas & Sons, dan perspektifnya mengenai subkultur.
Direktori: Di Makassar, Melihat Harapan dari Indonesia Timur
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode kedua mini seri Direktori, kami berkunjung ke Bali untuk mencari apa yang tersembunyi di balik deru pariwisata dan melihat bagaimana keberagaman hidup di sana.
Episode pertama untuk mini seri terbaru kami untuk campaign #Direktorikota, kami memulainya dengan pertanyaan besar, apakah semangat kebersamaan masih ada di keseharian kita?