Berbicara tentang AXEAN Festival, kami mengundang beberapa alumninya, Batavia Collective dan The Panturas, untuk mengulik atmosfer di dalam festival musik tersebut yang seperti konsisten melambungkan nama-nama up-and-coming ke berbagai festival musik besar lainnya di mancanegara.
Merantau tak selalu terjadi atas kemauan sendiri, kadang aksi itu terjadi karena keadaan yang menggiring posisi seseorang untuk berpindah ke tempat yang dipercaya lebih menguntungkan. Berawal dari dorongan untuk berpindah tersebut, tentunya menggasak rasa untuk beradaptasi dengan lingkungan baru dan meninggalkan kampung halaman akan memberikan fase haru biru bahkan krisis.
Cerita akan hal seperti itu tidaklah langka jika kita bayangkan keadaan yang dulu terjadi di Indonesia. Sebagai salah satu negara di dunia yang mengalami penjajahan tentu ada represi yang membuat orang-orang di zaman terjadinya okupasi harus mengambil sikap untuk bertahan hidup, tak hanya dari kondisi yang tak menguntungkan, tapi juga untuk mencari kedamaian. Belanda adalah Negara yang menjadi highlight dalam sejarah Indonesia hingga saat ini, bahasa maupun budaya keseharian cenderung terserap begitu dalam sampai batas yang dulu diciptakan sekian keras melebur sudah menjadi sekadar sejarah.
Fenomena bisa disematkan dalam hubungan antara Indonesia dan Belanda yang terjalin sekian lama dalam bisnis, budaya dan lain lain. Melihat warga Negara Indonesia yang tak terhitung jumlahnya di Belanda setelah meraih kemerdekaan di tahun 1945 telah menciptakan macam ‘kewarganegaraan’ baru. Hal itu telah didokumentasikan dalam sebuah film pendek berjudul “Untuk Selalu” oleh Andrea van den Bos, Ambar Surastri dan Robbert Maruanaija.
Mengangkat memori sebagai dasar cerita, film ini menyentuh kita sebagai warga negara Indonesia yang seringkali menyepelekan budaya nenek moyang dari orang tua. Terkesan klise memang, tapi melalui film ini terdapat empat orang berdarah Indonesia yang tinggal di Belanda merasakan kebanggaan tersendiri ketika memposisikan diri mereka di antara budaya Belanda. Adat, kebiasaan, kuliner, ritual hingga kepercayaan turunan menjadi celah dan warna dalam diri keempat orang yang mewakili para ‘indo’ (orang berdarah campuran – dalam hal ini adalah Belanda) dalam film yang dinominasikan sebagai Dokumenter Terbaik di Shortcutz Amsterdam tahun ini.
Negara memang mencatat diri seseorang ke dalam sistem untuk terus bergerak dan berkembang, tapi tradisi keluarga dan kepercayaan nenek moyang lah yang selalu menentukan sikap seseorang dalam mengatasi situasi yang menimpanya.
Teks: Febrina Anindita
Eksibisi seni sekaligus pencarian talenta baru dari Dia.Lo.Gue artspace kembali lagi dengan episode kelimanya. EXI(S)T kembali menggali potensi seni anak bangsa pada sebuah program dimana bakat-bakat yang ada akan diajak untuk berpartisipasi dalam project kreatif dan diskusi kritis untuk melahirkan karya dan gagasan baru. Simak detail submisinya berikut:
Dia.Lo.Gue Artspace kembali mengajak para perupa muda berbasis Jakarta untuk ikut dalam program tahunan EXI(S)T yang pertama kalinya diadakan di tahun 2012. Disini kami tertarik untuk menjadi semacam inkubator untuk berbagai potensi artistik, dimana dialog kritis antara partisipan dan mentor serta kurator menjadi proses utama.
Exi(s)t #5 mendatang akan diselenggarakan di bulan November 2016.
Kriteria calon peserta adalah :
Bagi yang tertarik, kami mengundang anda untuk mengantar / mengirim portfolio anda ke Dia.lo.gue artspace, Jl. Kemang Selatan 99a, Jakarta 12730 (dengan mencantumkan EXI(S)T #5 atau melalui e-mail ke exist@dialogue-artspace.com
Setelah melalui tahap seleksi oleh kurator, Dia.Lo.Gue akan mengundang peserta untuk mengikuti rangkaian program lokakarya yang akan berlangsung selama proses kuratorial.
Pada esainya kali ini, Muhammad Hilmi menuliskan tentang Leicester City, sebuah tim kecil yang sekarang sedang diperbincangkan banyak orang karena mampu menduduki peringkat tertinggi di Liga Inggris. Tulisan ini berusaha untuk mencari alasan dibalik bagaimana tim kecil minim dana bisa mengalahkan tim besar yang kaya raya.
Seringkali luput dari kesadaran kita, otoritas telah menjadi bagian dari tiap manusia, baik sebagai sang subjek bahkan kadang sebagai sang objek. Otoritas pun dapat hadir dengan kekuatan yang menyalahi tataran kemanusiaan layaknnya sebuah interupsi. Hal ini yang disampaikan oleh Kartika Jahja dengan bandnya Tika & The Dissidents dalam menggubah lagu di album terbarunya “Merah.”
Tika yang giat menyuarakan hak perempuan, menulis lagu berjudul “Tubuhku Otoritasku” beberapa tahun lalu yang mengangkat cerita di balik tubuh perempuan dan pengalaman kekerasan yang ia alami. Inspirasi dibalik lagu ini didapat dari tubuh yang lambat laun berubah secara alami atau modifikasi dengan atribut dan dipandang berdasarkan tata karma yang seringkali mengikat layaknya, otoritas tak kasat mata.
Bersama kawan-kawannya, Tika membuat sebuah kolektif, Mari Jeung Rebut Kembali (Ika Vantiani, Teraya Paramehta, Savina Hutadjulu dan Shera Rindra) yang menggalakkan hak perempuan melalui medium persuasif, seperti musik. Beragam latar belakang, mulai dari musisi, dosen, anggota NGO hingga seniman yang tergabung dalam kolektif ini memberikan warna dan sudut pandang dalam mengatasi isu yang diangkat Tika. Melalui lagu “Tubuhku Otoritasku” kolektif ini menyerukan ajakan kepada semua orang, tak hanya perempuan, untuk menghargai tubuh tiap perempuan yang memilih untuk terlihat atau terlahir berbeda. Lirik tajam dan penuh emosi terjalin dengan aransemen yang menggambarkan semangat para perempuan yang pernah dipandang sebelah mata karena cara berpakaian, keriput yang menumpuk dimakan zaman, lemak berlebih serta profesi eksentrik.
Dalam selebrasi ini, sebuah video musik dibuat berisi cerita dari 30 perempuan berpenampilan beragam. Tiap orang hadir dengan cerita menyentuh melalui ekspresi wajah, gestur dan tulisan seruan akan hak mereka yang telah direbut di anggota tubuhnya. Video sederhana ini tampil dengan keluwesan para dalam merayakan tubuh mereka. Tika menyampaikan isu ini tanpa basa basi atau metafora berbelit dalam lirik dan video untuk menonjolkan bahwa otoritas kini telah menjamah bagian paling personal dalam diri perempuan, dengan harapan orang mulai mengetahui makna dan batasan otoritas. Dengan pemahaman cukup, sekat akan tercipta untuk membela diri dari celaan berasaskan penilaian masyarakat. Tika mengajak semua orang untuk mengenal wilayah antara subjek dan objek untuk menemukan kesetaraan yang ada di masyarakat, karena tubuhku adalah otoritasku. Sekali lagi, musik berperan penting dalam menginjeksikan sebuah spirit dan Tika & The Dissidents hadir sebagai perantaranya.
Komunitas Salihara sebagai salah satu di Jakarta yang menghadirkan elemen penting di dunia seni kini kembali mengadakan Kompetisi Karya Trimatra yang mengajak para seniman muda untuk berpartisipasi.
Mengikuti kesuksesan kompetisi sebelumnya pada tahun 2013 yang membebaskan semua submisi dengan tema personal, Salihara kini menyematkan tema yang terkait dengan perubahan lingkungan yang kian kompleks namun luput dari perhatian masyarakat. Dengan menyediakan dewan juri yang terdiri dari beberpa pihak yang memiliki andil dalam dunia seni Indonesia, mulai dari pematung Anusapati, kurator Asikin Hasan, arsitek Eko Prawoto, pemerhati seni rupa Natasha Sidharta serta penata panggung Jay Subyakto, Salihara berniat untuk menyeleksi pemenang berdasarkan tingkat fleksibilitas tiap karya.
Peserta diharapkan berhasil mengimplementasikan kriteria dari dewan juri yang merepresentasikan nilai estetika, gagasan cerita yang jernih, teknik pembuatan serta presentasi final yang melampaui kaidah umum, namun padu dengan nilai ekologi dan kebudayaan dalam masyarakat.
Kalian bisa mengajukan rancangan karya beserta ide atau penjelasan gagasan karya sesuai persyaratan Komunitas Salihara sebelum tenggat waktu pada 31 Mei 2016. Proses penjurian akan terjadi dalam dua gelombang, pertama pada bulan Juni yang akan menyeleksi 50 rancangan. Lalu, mereka yang terpilih akan diminta mengirim karya final sebelum 30 September 2016 untuk kembali melewati tahap seleksi top 25 finalis di bulan Oktober untuk kemudian dipilih menjadi pemenang I, II dan III. Kompetisi berjangka panjang ini nantinya akan memamerkan 25 karya finalis—termasuk pemenang I, II dan III—akan dipamerkan di Galeri Salihara pada akhir November 2016.
Kunjungi http://www.salihara.org/programs/visual-arts/exhibition/detail/kompetisi-karya-trimatra-salihara-2016 untuk informasi selengkapnya dan selamat berkompetisi!
Teks: Febrina Anindita
Foto doc. Komunitas Salihara
Direktori: Di Makassar, Melihat Harapan dari Indonesia Timur
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode kedua mini seri Direktori, kami berkunjung ke Bali untuk mencari apa yang tersembunyi di balik deru pariwisata dan melihat bagaimana keberagaman hidup di sana.
Episode pertama untuk mini seri terbaru kami untuk campaign #Direktorikota, kami memulainya dengan pertanyaan besar, apakah semangat kebersamaan masih ada di keseharian kita?