Berbicara tentang AXEAN Festival, kami mengundang beberapa alumninya, Batavia Collective dan The Panturas, untuk mengulik atmosfer di dalam festival musik tersebut yang seperti konsisten melambungkan nama-nama up-and-coming ke berbagai festival musik besar lainnya di mancanegara.
Pulau Mentawai beberapa tahun lalu mungkin hanya diketahui sedikit orang, selama ini mungkin hanya Durga yang giat memperkenalkan tato tribal asal Mentawai. Ternyata pulau cantik ini hanya beberapa jam perjalanan dari kota asal ayah saya. Keinginan untuk berkunjung dan melihat keindahan tato serta perhiasan khas Mentawai tentu muncul cukup deras, tapi mengingat jalan yang harus ditempuh cukup berat, niat itu terpaksa ditunda hingga waktu yang tidak ditentukan.
Selain seni yang eksotis didukung dengan letak geografis menantang, Mentawai pun terkenal juga di antara para peselancar yang senang mengeksplorasi ombak ganas di sana. Banyaknya hal menarik yang bisa didapat dari Mentawai membuat segelintir orang tertarik untuk bermalam dan mendokumentasikan surga duniawi yang ditawarkan dengan foto, video ritual hingga tato. Tak sering hal tersebut membantu tapi juga mengganggu keberlangsungan suku di Mentawai.
Bersadarkan hal tersebut, sebuah film independen yang dirilis tahun lalu, berjudul “As Worlds Divide” dibuat dengan konsep dokumenter dimana seorang lelaki asal Melbourne, Rob Henry memilih untuk meninggalkan pekerjaannya pada tahun 2008 dan berpetualang di Mentawai, tepatnya di sebuah kebun kelapa. Dari film ini, keintiman yang tak bisa ditunjukkan di acara televisi lokal yang pernah berkunjung ke Mentawai tertangkap dengan magis.
Film yang direkam dengan rentang waktu hampir 8 tahun ini menghadirkan gambar-gambar vivid dari alam Mentawai yang masih asri dimana suku yang tinggal di dalamnya masih terbatas dari informasi modern layaknya sebuah oasis antah berantah. Rob pun berhasil membuat jembatan yang menunjukkan krisis dalam suku yang menggambarkan diskoneksi antara orang-orang lokal dengan identitas kultur dan tanah tinggal mereka yang terjadi seiring dengan waktu yang berjalan menuntut perubahan.
Dipertemukan di sebuah proyek residensi seni, hubungan antara seniman Natasha Gabriella Tontey dan Sonotanotanpenz berlanjut pada proyek videokilp lagu “Conga”. Dalam kunjungannya ke Jakarta seusai tampil di salah satu episode Superbad, Sonotanotanpenz bekerja sama dengan Tontey untuk membuat visual dari lagu dari mini album yang juga berjudul Conga ini.
Berperan sebagai sutradara, Tontey menggabungkan nuansa lagu Conga yang playful dengan gaya khasnya yang selalu bermain-main dengan nuansa kekanakan dan surealisme diantaranya. Hitomi Itamura dan Hitomi Moriwaki, dua personil Sonotano diajak berkeliling pada beberapa tempat di Jakarta dengan iringan dua boneka kuda putih.
Dalam mayoritas scene yang bertempat di taman hiburan, kita diajak untuk melihat sisi lain dari landscape yang biasanya cenderung identik dengan tawa. Sebuah visualisasi yang cukup akurat untuk menggambarkan musik Sonotano yang ceria namun quirky.
Kreativitas memerlukan wadah yang mampu menjadi tempat dimana karya-karya bisa dipajang, lalu dikembangkan lagi. Go Ahead Challenge adalah sebuah platform yang dikembangkan untuk mewadahi kreativitas anak bangsa. Dan tahun ini, ada berbagai fitur baru yang akan membawa hasil kreasi ke level yang lebih tinggi.
Faisal Habibi adalah seorang seniman yang dikenal melalui karya-karyanya yang selalu menarik sudut pandang baru dari berbagai produk keseharian. Whiteboard Journal berbincang dengan Faisal mengenai esensi seni, karya tiga dimensi dan pengalamannya sebagai pemenang utama Kompetisi Trimatra 2013 yang digelar oleh Komunitas Salihara.
Direktori: Di Makassar, Melihat Harapan dari Indonesia Timur
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode kedua mini seri Direktori, kami berkunjung ke Bali untuk mencari apa yang tersembunyi di balik deru pariwisata dan melihat bagaimana keberagaman hidup di sana.
Episode pertama untuk mini seri terbaru kami untuk campaign #Direktorikota, kami memulainya dengan pertanyaan besar, apakah semangat kebersamaan masih ada di keseharian kita?