Berbicara tentang AXEAN Festival, kami mengundang beberapa alumninya, Batavia Collective dan The Panturas, untuk mengulik atmosfer di dalam festival musik tersebut yang seperti konsisten melambungkan nama-nama up-and-coming ke berbagai festival musik besar lainnya di mancanegara.
Setelah sekian lama menggodok novel yang telah membuatnya hilang dari peredaran, Yusi Avianto Pareanom merilis Raden Mandasia Si Pencuri Daging di bulan Maret lalu. Sontak banyak respons menarik mengenai dongeng yang ia angkat dengan humor ironis membuat pembacanya meringis kegirangan.
Pada essay-nya kali ini, Febrina Anindita mencoba untuk memahami hasrat pada perempuan yang seringkali terbentur akan nilai-nilai sosial yang menjadikan kepuasan atau kenikmatan menjadi momok. Ia merasa, relasi antarmanusia justru terbentuk atas relasi seksual yang mengharuskan manusia mencapai kenikmatan untuk keberlangsungan hidup.
Musik menjadi salah satu alat untuk membuat seseorang menemukan dirinya yang terdalam. Bernafaskan beberapa elemen yang membangun sebuah musik menjadi sebuah suguhan manusiawi lengkap dengan rasa dan karsa, mereka yang lihai dalam bermusik memiliki sensibilitas yang tinggi. Adalah Efek Rumah Kaca (ERK), sebuah unit lokal yang perlahan menjadi penggerak batin dan aksi publik dalam beberapa tahun ini melalui lirik kuat dan vokal lirih akan situasi Indonesia.
Setelah merilis album terbarunya “Sinestesia” beberapa bulan lalu, Cholil dan kawan-kawan sekali lagi membawa musik merakyat dengan mengajak kontribusi publik dalam memproduksi sebuah visual untuk melengkapi salah satu lagu dalam album tersebut, yaitu “Biru.” Di sini, ERK bekerja sama dengan kolektif berbasis di Jakarta, Cut and Rescue yang dikenal sporadis dan eksperimental dalam mengolah ide menjadi karya seni menggunakan perspektif modern akan konsep audiovisual.
Lintas medium menjadi poin yang ditekankan dalam proyek ini. Publik diminta untuk memberikan sebuah interpretasi personal akan musik yang telah diciptakan ERK ke dalam bentuk video dengan konsep bebas dan seliar mungkin. Video bisa merupakan interpretasi tentang warna biru atau tentang dua bagian lagu “Biru” (Pasar Bisa Diciptakan, Cipta Bisa Dipasarkan).
Dengan memberi batas waktu unggahan video sampai tanggal 30 Juni 2016, siapapun dapat berpartisipasi dalam projek klip video ini dengan cara mengunggah video berdurasi 5 hingga 15 detik di Instagram dengan menggunakan tagar #klipERKbiru #erkXcutandrescue atau mengirimkan file video tersebut ke .
Pameran biasa dibuat untuk dijadikan ajang untuk menunjukkan hasil karya seniman serta menikmati seni dan unjuk gigi dalam menganalisis karya dengan referensi masing-masing. Tak jarang, saat berkunjung ke galeri pun ada rasa riang bisa mendapat background atau konten foto yang pas untuk Instagram ataupun bertemu dengan kurator muda untuk tukar pikiran. Tapi semua hal di atas beda kesannya saat mengunjungi pembukaan pameran “Ruang Tunggu” di Edwin’s Gallery yang memiliki konsep unik.
Diundang dengan poster di media sosial yang mengatakan kalau pameran ini mengajak publik untuk mencari kegiatan yang asyik selain main handphone saat menunggu, sebuah pancingan yang menggelitik rasa penasaran. Apalagi seniman yang diajak dikenal memakai medium beragam dalam berkarya. Kejutan datang bertubi-tubi saat pembukaan, karena publik diajak masuk ke dalam ruang pameran yang kosong. Sesaat terpikir kalau pengunjung memang diajak menunggu untuk sebuah pertunjukan seni di tengah ruangan berdinding putih. Tapi tak lama, para seniman, Ardi Gunawan, Lala Bohang, Emte, Ari Dina Krestiawan, Azer dan Vera Lestafa bersama-sama pengunjung mendokumentasikan ekspresi dan momen pameran yang hanya digelar satu malam itu.
Ada nyinyir dan ironi dalam pameran ini. Handphone yang di media publikasi disarankan untuk tidak digunakan, justru mengisi kekosongan waktu dan ekspektasi publik yang datang ke pameran. Tak perlu waktu lama untuk menunggu satu per satu handphone terangkat untuk berfoto atau chatting mengabari teman bahwa pameran ini sungguh aneh. Konsep pameran yang memiliki periode semalam saja ini secara tidak langsung menyinggung budaya pembukaan pameran yang biasa dituju orang untuk sekadar bersosialisasi dan melupakan karya seni yang tersortir dan terpampang di dinding galeri. Nyatanya, memang selama ini apa yang ditawarkan di luar galeri saat malam pembukaan justru menarik massa lebih banyak, mulai dari beberapa band hingga kudapan dan minuman yang terus dihidangkan hingga tengah malam. Tapi khusus malam itu, galeri disulap jadi ruang peristiwa dan pengunjung menjadi objek sekaligus subjek seni, serta seniman berperan sebagai moderator akan pameran disposable. Pembukaan pameran telah menjadi inti acara, dalam arti seutuhnya.
Kejutan terakhir membuat pengunjung menunggu lebih lama lagi. Ternyata karya memang sudah disiapkan, namun pengunjung harus menunggu karena seniman akan mengirimkan karyanya melalui paket yang akan dikirim dalam estimasi waktu 7 hari yang tentu membuat kami tak sabar melihat seperti apa dimensi karya yang akan kami terima. Walau tidak bisa melihat instalasi Ardi Gunawan akan barang di sekitar area galeri atau gambar-gambar estetik di dalam galeri, pameran ini memberikan rona baru akan eksklusifitas karya seni yang biasanya hanya bisa disentuh oleh kolektor.
Pameran ini mungkin sebenarnya masih berlangsung sampai karya tersebut jatuh di tangan kami. Karena sampai sekarang kami, masih menunggu. Mungkin ini tantangannya untuk membuat fase menunggu ini jadi lebih menarik.
Foto oleh Panji Purnama Putra
Direktori: Di Makassar, Melihat Harapan dari Indonesia Timur
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode kedua mini seri Direktori, kami berkunjung ke Bali untuk mencari apa yang tersembunyi di balik deru pariwisata dan melihat bagaimana keberagaman hidup di sana.
Episode pertama untuk mini seri terbaru kami untuk campaign #Direktorikota, kami memulainya dengan pertanyaan besar, apakah semangat kebersamaan masih ada di keseharian kita?