Berbicara tentang AXEAN Festival, kami mengundang beberapa alumninya, Batavia Collective dan The Panturas, untuk mengulik atmosfer di dalam festival musik tersebut yang seperti konsisten melambungkan nama-nama up-and-coming ke berbagai festival musik besar lainnya di mancanegara.
Portofolio adalah salah satu fitur pada section focus kami. Pada seri ini, kami berusaha untuk mendokumentasikan berbagai karakter dari studio desain yang ada di Indonesia dengan mengulas sekaligus mendisplay visi dan karya mereka. Kali ini kami mengangkat studio desain Thinking*Room dari Jakarta yang hadir untuk merespon tantangan yang ada di industri desain grafis dengan mengangkat semangat dan otentisitas desain grafis.
Pada tulisannya kali ini, Muhammad Hilmi menjelajahi area baru yang belum pernah ia jelajahi, tulisan fiksi. Menceritakan fenomena kelas menengah, dilema personal keseharian, serta permasalahan dalam mewujudkan impian, cerita ini merupakan seri pertama dari seri tiga tulisan fiksi yang berjudul "What If There's No What If".
Walau telah meninggalkan dunia pada tahun 2014 lalu, Priyanto Sunarto atau biasa dipanggil Pri S.; seorang perupa yang dikenal di kalangan desain grafis Indonesia, tetap mempengaruhi perkembangan desain sampai sekarang. Pengajar yang telah mendedikasikan hidupnya selama beberapa dekade di FSRD ITB ini menjadi pemersatu skena seni rupa antara Yogyakarta dan Bandung dengan keliatannya dalam membaca suasana dan kreativitas yang cair.
Sayangnya, kesenjangan yang dulu dapat dihilangkan oleh Pri S. kini muncul kembali justru di dalam skena lokal. Untuk mengingat peran Pri S., Desain Grafis Indonesia (DGI) berupaya menghadirkan kembali sosok Pri S. melalui catatan dan uraian gagasan beliau dalam sebuah buku berjudul “Pri S.: Serumpun Tulisan” untuk para desainer muda sekaligus nostalgia para desainer kawakan yang pernah bekerja sama maupun menjadikannya panutan.
Sebagai sebuah tribut, DGI bekerja sama dengan Selasar Sunaryo Art Space untuk menghadirkan karya-karya beliau yang beragam mediumnya yang dihadirkan dalam pameran karya dan arsip Priyanto Sunarto. Dalam rangkaian acara ini, DGI juga mengadakan bedah buku serta diskusi mengenai seni rupa Indonesia 1970-an dengan deretan panel pembicara yang ahli pada bidangnya.
"Pri S.: Sepilihan Karya dan Arsip"
Diselenggarakan pada:
22 Juli - 14 Agustus 2016
Kurator: Chabib Duta Hapsoro
Selasar Sunaryo Art Space
Jalan Bukit Pakar Timur
No. 100 Bandung
22 Juli 2016
19.00 WIB - selesai
Pembukaan oleh A.D. Pirous
-
"Pri S.: Serumpun Tulisan"
29 Juli 2016
15.00 - 17.00 WIB
Ismiaji Cahyono (Desain Grafis Indonesia)
Vera Rosana (Detego Studio)
Triyadi Guntur (FSRD ITB)
Riama Maslan (FSRD ITB)
Arief Adityawan
-
"Priyanto Sunarto dan Seni Rupa Indonesia 1970-an"
5 Agustus 2016
15.00 - 17.00 WIB
Jim Supangkat (kurator seni rupa senior, salah satu eksponen GSRB)
Bambang Bujono (kritikus seni rupa)
Aminudin TH Siregar (Direktur Galeri Soemardja & sejarawan seni rupa)
Chabib Duta Hapsoro
Dikenal sebagai filsuf sekaligus pengajar muda di Indonesia, Saras Dewi memilih Filsafat Timur dan kemegahan alam beserta elemen mistikusnya sebagai area yang ia dalami. Whiteboard Journal berkesempatan untuk mengunjunginya di sela kegiatannya di kampus untuk membahas ekofenomenologi serta relasi antara manusia dan alam.
Direktori: Di Makassar, Melihat Harapan dari Indonesia Timur
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode kedua mini seri Direktori, kami berkunjung ke Bali untuk mencari apa yang tersembunyi di balik deru pariwisata dan melihat bagaimana keberagaman hidup di sana.
Episode pertama untuk mini seri terbaru kami untuk campaign #Direktorikota, kami memulainya dengan pertanyaan besar, apakah semangat kebersamaan masih ada di keseharian kita?