Latest stories

Column
04.08.16

Fashion dan Pusaran Dunianya

Sebagai pekerja yang dekat pada dunia fashion, Renel Harlan menjadi saksi mata akan musim dan tren yang cepat berganti di bidang ini. Melalui essai "Fashion dan Pusaran Dunianya", Renel menulis mengenai observasi sekaligus opininya mengenai peran fashion dalam kehidupan seseorang di tahun 2016.

03.08.16

Seni dan Kritik Sosial Bersama Anti-Tank

Anti-Tank adalah proyek visual provokatif dari Andrew Lumban Gaol, seniman street art yang kerap menerjunkan diri dalam dunia aktivisme dan menyerukan respons terhadap permasalahan sosial-politik terkini. Whiteboard Journal berkesempatan melakukan wawancara di sela-sela keterlibatannya mendukung mahasiswa Papua yang mengalami tindak represi sejumlah pihak di Yogyakarta.

02.08.16

Monster in Disguise #2

Kadang graffiti dan street art terasa aneh jika dilepaskan dari konteksnya sebagai seni yang dipamerkan di jalanan. Namun tak jarang, ketika graffiti masuk ke galeri sebagai karya seni, ada tantangan baru juga ruang eksplorasi baru bagi seniman juga publik. Darbotz sebagai salah satu seniman graffiti mencoba untuk membawa graffiti keluar dari comfort zone beberapa kali dalam pameran kolektif hingga solo. Kali ini Darbotz kembali mempersembahkan pameran solo bersamaan dengan ulang tahun ke-8 viviyipartspace. Berjudul “Monster in Disguise #2,” pameran ini merupakan kelanjutan dari pamerannya pada tahun 2009 di Singapura. Perjalanan Darbotz dan viviyipartspace pun sudah dimulai sejak 2012 ketika pameran “The Boy Who Became A Monster” mengelaborasikan kesan yang tercipta dari tata letak sebuah karya. Kekuatan Darbotz untuk menciptakan konteks menjadi nilai utama dari karakter graffitinya yang kuat. Kali ini dalam “Monster in Disguise #2,” Darbotz akan kembali memposisikan street art dalam bentuk resin, wood cut, kanvas dan eksperimen medium lainnya. - Pembukaan pameran: 11 Agustus 2016, 18:00 Periode pameran: 11-28 Agustus 2016 Ex GAP Kids Pacific Place, Lantai 3

Column
28.07.16

Film dan Fantasi yang Ditawarkan

Pada esainya kali ini, Febrina Anindita mencoba untuk meretas fantasi yang ditawarkan dalam film untuk mengerti hasrat manusia yang tak akan pernah terpuaskan. Karena pada hakekatnya, ternyata ekspektasi berlebih dapat mengakibatkan suatu marabahaya akan realita yang dijalani oleh manusia.

Load More Articles whiteboardjornal, search
whiteboardjournal, play
Music
NOW PLAYING

Screen Time with .Feast & The Panturas

Invent Your Future

Temukan siapa dirimu dan bagaimana karaktermu menentukan arah masa depan.


Tentukan Di Sini whiteboardjournal, search

Follow us on social media

Instagram whiteboardjournal, search Facebook whiteboardjournal, search Twitter whiteboardjournal, search

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.