Berbicara tentang AXEAN Festival, kami mengundang beberapa alumninya, Batavia Collective dan The Panturas, untuk mengulik atmosfer di dalam festival musik tersebut yang seperti konsisten melambungkan nama-nama up-and-coming ke berbagai festival musik besar lainnya di mancanegara.
Kadang graffiti dan street art terasa aneh jika dilepaskan dari konteksnya sebagai seni yang dipamerkan di jalanan. Namun tak jarang, ketika graffiti masuk ke galeri sebagai karya seni, ada tantangan baru juga ruang eksplorasi baru bagi seniman juga publik.
Darbotz sebagai salah satu seniman graffiti mencoba untuk membawa graffiti keluar dari comfort zone beberapa kali dalam pameran kolektif hingga solo. Kali ini Darbotz kembali mempersembahkan pameran solo bersamaan dengan ulang tahun ke-8 viviyipartspace. Berjudul “Monster in Disguise #2,” pameran ini merupakan kelanjutan dari pamerannya pada tahun 2009 di Singapura.
Perjalanan Darbotz dan viviyipartspace pun sudah dimulai sejak 2012 ketika pameran “The Boy Who Became A Monster” mengelaborasikan kesan yang tercipta dari tata letak sebuah karya. Kekuatan Darbotz untuk menciptakan konteks menjadi nilai utama dari karakter graffitinya yang kuat. Kali ini dalam “Monster in Disguise #2,” Darbotz akan kembali memposisikan street art dalam bentuk resin, wood cut, kanvas dan eksperimen medium lainnya.
-
Pembukaan pameran:
11 Agustus 2016, 18:00
Periode pameran:
11-28 Agustus 2016
Ex GAP Kids
Pacific Place, Lantai 3
Pada esainya kali ini, Febrina Anindita mencoba untuk meretas fantasi yang ditawarkan dalam film untuk mengerti hasrat manusia yang tak akan pernah terpuaskan. Karena pada hakekatnya, ternyata ekspektasi berlebih dapat mengakibatkan suatu marabahaya akan realita yang dijalani oleh manusia.
Dikenal sebagai sumber terpercaya untuk stok vinyl di Jakarta dengan varian langka, Lian secara tak langsung telah menyediakan wadah tukar referensi antara pencinta musik di Jakarta bahkan internasional. Whiteboard Journal berkesempatan untuk berkunjung ke kiosnya di Jalan Surabaya untuk berbincang mengenai fenomena koleksi musik.
Direktori: Di Makassar, Melihat Harapan dari Indonesia Timur
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode kedua mini seri Direktori, kami berkunjung ke Bali untuk mencari apa yang tersembunyi di balik deru pariwisata dan melihat bagaimana keberagaman hidup di sana.
Episode pertama untuk mini seri terbaru kami untuk campaign #Direktorikota, kami memulainya dengan pertanyaan besar, apakah semangat kebersamaan masih ada di keseharian kita?