Latest stories

12.12.16

Medecins Sans Frontieres

Melihat lebih dekat pada kejadian yang terjadi di luar zona nyaman kita melalui aktivitas kemanusiaan dari sebuah organisasi yang memiliki visi untuk mengembangkan kemanusiaan bagi semua, tak peduli apa latar belakangnya.

09.12.16

Movie Mystery Club is Back!

Setelah vakum selama beberapa tahun, program film bulanan Movie Mystery Club kembali hadir! Berangkat dari keinginan untuk menikmati film secara ringan dan menyenangkan, program ini mengajak orang-orang untuk merasakan pengalaman menonton film yang tidak biasa. Di Movie Mystery Club, penonton tidak akan tahu film apa yang akan main sampai filmnya mulai diputar! Seleksi film akan selalu unik dan menghibur, baik itu komedi, drama, horor, ataupun Film-film yang pernah diputar di Movie Mystery Club antara lain, “What They Don't Talk About When They Talk About Love” karya Mouly Surya, “The Act of Killing” dari Joshua Oppenheimer, dan seleksi film pendek dari berbagai negara. Pemutaran yang bersifat gratis ini berhasil mendapat pengunjung yang terus bertambah tiap episodenya berkat kurasi film yang dibuat. Bekerja sama dengan film dari Qubicle, Slate dan ekosistem film alternatif, kolektif, episode kali ini akan memberikan dan pilihan film menarik yang dapat ditonton bersama pecinta film di ibu kota. Tuan rumah acara ini adalah Ruci Art Space, tempat ini menawarkan atmosfer film yang santai dengan pilihan ragam makanan dan minuman yang tersedia di Ruci’s Joint di lantai satu dan galeri seni yang terdapat di lantai dua. Movie Mystery Club Rabu, 14 Desember 2016 start: 19:00 No Outside Food & Beverages Ruci Art Space Jl. Suryo No. 49 Kebayoran Baru Jakarta

09.12.16

Organize! Benefit for Community Empowerment

Jika dulu Bandung dikenal sebagai kota dimana youth culture tumbuh dan berkembang, belakangan imaji tersebut mulai sirna diantara kemacetan yang semakin sering menghampiri jalanannya, juga banjir yang kini mulai mengakrabi sudut kotanya. Tapi, kreativitas yang dulu seolah menjadi nama tengah kota ini mulai benar-benar tertutupi sejak kota ini lebih akrab dengan pemberangusan, mulai dari penutupan perpustakaan jalanan, hingga yang terjadi belakangan, penggusuran aktivitas ibadah natal di tempat umum oleh ormas yang mengatasnamakan gerakannya atas nama agama, padahal melakukan gerakan kebencian yang sama sekali tak koheren dengan ajaran agama. Dengan suasana kota yang demikian, ada tiga respon yang bisa terbayang. Yang pertama adalah dengan mengabaikannya - atau dalam hal ini, menyepelekannya - seperti yang dilakukan oleh sang gubernur. Yang kedua adalah dengan mengutukinya, adalah wajar untuk marah pada keadaan yang demikian, meski tak jarang kemudian melalui kemarahan yang dituangkan di media sosial, kita lantas jadi menambah tumpukan wacana yang membuat kita lupa dengan masalah yang harusnya dipikirkan jalan keluarnya. Yang ketiga - ini yang paling produktif - adalah untuk menjadikannya sebagai energi dan gairah untuk berkarya dan berbagi. GRIMLOC, sebuah record label yang berbasis di Bandung dalam hal ini memilih untuk menanggapi keadaan kotanya dengan respon yang ketiga. Diinisasi oleh Herry Sutresna, motor sekaligus penjaga garis depan dari grup Hip Hop Homicide, GRIMLOC telah merilis sejumlah rilisan dalam berbagai bentuk, mulai dari CD dari band muda Bandung, hingga reissue album penting yang telah hilang dari pasaran. Yang dirilis pun datang dari berbagai latar belakang, mulai dari punk, hardcore, metal hingga hip-hop. Satu hal yang menggarisbawahi sekian aktivitasnya adalah fokus GRIMLOC pada pergerakan akar rumput. Dan aroma inilah yang menyeruak pekat pada rilisan terakhirnya. Berjudul Organize! Benefit Compilation for Community Empowerment, proyek ini menyatukan 11 nama untuk berkontribusi pada album yang menyuarakan mengenai pemberdayaan masyarakat kota. Disisihkan pula hasil penjualannya untuk upaya-upaya pemberdayaan komunitas di Bandung. Dikutip dari websitenya, berikut adalah salah satu visi yang mendasari rilis kompilasi ini, “Ide dan semangat awalnya lahir dari komunikasi intens dengan beragam komunitas yang konsisten di Bandung membangun inisiatif dan otonomi aktivitas warga kota. Kami merasa pentingnya mewartakan eksistensi dan beragam isu yang melatarbelakangi aktivitas mereka hingga hari ini. Terinspirasi dengan tradisi kompilasi yang lahir di Bandung, yang pula mewakili semangat era-nya, kami berharap format ini dapat pula menyampaikan pesan serupa.” Dalam praktiknya, proyek ini tak hanya berbudi, tapi juga memiliki taji. Dua puluh satu band yang dimampatkan disini mengisi porsi masing-masing dengan kompeten, beberapa bahkan melebihi ekspektasi. Wreck, Sacred Witch, The Cruel, Muck dan ALICE adalah beberapa diantaranya. Jangan lupakan juga amuk sang penggagas kompilasi pada Bars of Death dengan lagu berjudul “Tak Ada Garuda di Dadaku”, sebuah serangan balik pada gema palsu “NKRI Harga Mati” yang makin pekak menghampiri. Album ini bisa didapatkan seharga Rp.50.000,- (belum dengan ongkir) melaui kontak berikut: Line : @grimloc Whatsapp : 082219340101 E-mail : grimloc.order@gmail.com

08.12.16

Berkenalan dengan Fotografi Analog bersama Jellyplayground

Untuk sebagian orang, penting rasanya untuk mengabadikan setiap momen-momen penting di kehidupan sehari-hari, dan karenanya kamera menjadi suatu hal yang tidak bisa dilepaskan dari aktivitas harian. Kini fungsi dari kamera dan foto yang dihasilkan tidak lagi hanya sebatas mengabadikan momen, melainkan hal-hal lain yang lebih luas, seperti untuk menghasilkan karya seni, karena itu berbagai jenis dan fungsi kamera cukup menjadi pertimbangan bagi setiap penggunanya. Uniknya saat ini tidak hanya kamera digital yang diidolakan, tetapi kembali tenarnya kamera analog. Sekarang ini kamera analog tidak lagi sulit ditemukan, begitu pula dengan film beserta lainnya seperti lensa, batu baterai, tempat kamera, hingga komunitasnya, hal ini menunjukkan semakin banyaknya minat dan ketertarikan pencinta fotografi untuk memakai atau mencoba kamera analog dan membuat hal-hal tenggelam ini kembali ke permukaan. Hasil foto menggunakan kamera ini tidak kalah dengan hasil foto digital, melalui proses analog seperti menentukan tingkat kecerahan, tone warna, dan efek-efek seperti pun bisa dilakukan juga pada hasil foto analog, poin-poin inilah yang membuat fotografi analog menjadi lebih humanis karena pengerjaannya yang manual. Jellyplayground merupakan salah satu inisiatif yang bergerak di bidang fotografi analog, berawal dari blog pribadi pada tahun 2009, saat ini Jellyplayground lebih akrab dikenal sebagai salah satu media penghubung para pecinta analog. Dimulai dari menjadi film dan kamera, hingga akhirnya mulai menjual untuk memperluas eksistensinya. Kehadirannya disambut antusias oleh para pengguna kamera jadul ini, karena keaktifannya berbagi informasi-informasi lewat fotografi analog dan membuat orang-orang tertarik untuk mencobanya. Tidak jarang Jellyplayground pun mengadakan jalan-jalan santai sembari foto, tujuannya mengajak para pengguna kamera analog untuk bertemu dan pengalaman satu sama lain. Jellyplayground rutin membuat sebuah bazaar yang menjual berbagai macam kebutuhan dan perlengkapan fotografi analog, alasan dibuatnya acara ini adalah untuk memperkenalkan hobi ini ke khalayak yang lebih luas dan menciptakan interaksi langsung antara para penggunanya dengan hal-hal terkait, bahwa fotografi analog tidak melulu soal kamera dan filmnya saja, namun juga tentang -nya, tekniknya, cara penyimpanan filmnya, dan lain-lain. Di era serba praktis ini tidak ada salahnya untuk mencoba hal atau hobi baru seperti fotografi analog, karena sudah tidak sulit untuk memulainya. Silahkan cek Jellyplayground di blog dan Instagram.

07.12.16

Serba-serbi di Toko Misteri

Setelah melahirkan Phantasma Studio - sebuah fashion dengan konsep kontemporer yang mengeksplorasi di bidang - Eric Lim kembali mewarnai fashion melalui yang menjual barang-barang yang ia namai Toko Misteri. Semua produk yang ditawarkannya di sini menjadi spesial karena tidak hanya yang menjadi jualan utama, melainkan kurasi ajaib oleh Eric Lim membuat Toko Misteri berbeda dengan yang lainnya. Berbagai produk seperti pakaian dan barang-barang antik, piringan hitam, mainan, dan buku-buku unik bisa ditemukan di Toko Misteri. Toko Misteri yang berlokasi di Bara Futsal Jl. Falatehan No.68 ini sudah membuka tokonya sedari pertengahan Agustus lalu. Selain menjual pakaian dan barang-barang antik, dijual juga minuman ala Toko Misteri seperti “Cold Brew Coffee”, “Green Tea with Yakult”, “Es Kopi Bon-Bon”, dan “Es Kopi Tropicale”. Yang menarik adalah, selain memamerkan koleksinya lewat akun Instagram, Toko Misteri mencoba untuk memberikan dan alternatif padu-padan untuk setiap koleksi dengan foto yang Toko Misteri juga sudah menyelenggarakan dua acara kolaborasi yaitu “Pekan Misteri” dengan Manual Jakarta dan “Binatang Press! Pop Up Launch”. Dengan cakupannya yang tak hanya fashion, Toko Misteri disamping menawarkan -nya diharapkan bisa menjadi salah satu wadah yang bisa mendukung lainnya seperti desain, dan juga musik. Silahkan cek Instagram Toko Misteri di sini Toko Misteri Jl. Falatehan No.68, Melawai Jakarta Selatan.

Art
07.12.16

Menguak Misteri bersama Gosho Aoyama

Salah satu sosok yang terkenal di dunia manga, Gosho Aoyama adalah pengarang salah satu serial yang paling sukses di dunia, yaitu Detective Conan. Selama 22 tahun, kisah detektif dan misteri ini sudah mencapai 90 volume, diterjemahkan dalam 21 bahasa, dijadikan serial televisi, dan 20 film-panjang. Kami berkesempatan untuk berbicara dengan Gosho Aoyama di antara kesibukan beliau di Singapore Writers Festival.

Load More Articles whiteboardjornal, search
whiteboardjournal, play
Music
NOW PLAYING

Screen Time with .Feast & The Panturas

Invent Your Future

Temukan siapa dirimu dan bagaimana karaktermu menentukan arah masa depan.


Tentukan Di Sini whiteboardjournal, search

Follow us on social media

Instagram whiteboardjournal, search Facebook whiteboardjournal, search Twitter whiteboardjournal, search

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.