Berbicara tentang AXEAN Festival, kami mengundang beberapa alumninya, Batavia Collective dan The Panturas, untuk mengulik atmosfer di dalam festival musik tersebut yang seperti konsisten melambungkan nama-nama up-and-coming ke berbagai festival musik besar lainnya di mancanegara.
Desembelectric to zing your mood!
Listen to this mixtape on Whiteboard Journal's Mixcloud Page!
01. Sofi Tukker - Hey Lion
02. The Swiss - Bubble Bath
03. Neon Indian - Annie
04. Farah - Dancing Girls
05. Larry Gus - The Night Patrols (A Man Asleep)
06. L'Impératrice - Vanille Fraise
07. M.A.K.U SoundSystem - De Barrio
08. Jain - Makeba
09. Cecilio.G (Ft. Pimp Flaco y Kinder Malo a.k.a B.A.D.Barto) - Ferrari Negro
10. Bonde Do Role - Marina Gasolina
11. Akon & Hamsika Iyer - Chammak Challo
Perkembangan teknologi telah merambah keseharian tiap orang dengan banyaknya akses yang tersedia dalam sekali klik. Bekerja sama dengan Samsung Galaxy On7, tulisan ini mengulas mengenai bagaimana kita bisa memanfaatkan teknologi yang tepat untuk resolusi akhir tahun.
OK. Video - Indonesia Media Arts Festival adalah penyelenggara festival seni media dua tahunan sejak tahun 2003, juga merupakan salah satu divisi dari ruangrupa yang kini tergabung di dalam wadah seni dan budaya Gudang Sarinah Ekosistem sejak tahun 2015. Selain berperan dalam menjalankan sebuah Festival Seni Media dan Festival Video Musik, OK. Video juga melakukan aktivitas seperti membuat lokakarya seni media di kota-kota Indonesia, produksi dan distribusi karya seni media Indonesia, serta mengelola dan penyimpanan bagi karya-karya tersebut
Tahun 2016 ini OK. Video merilis subfestival yang berfokus pada karya-karya video musik yang diberi nama Festival MuVi Party. Nama festival ini diambil dari sebuah video musik yang dilakukan oleh ruangrupa di tahun 2002 yang melibatkan seniman, mahasiswa, dan sutradara film di Indonesia untuk menemukan bahasa visual alternatif dalam produksi video musik Indonesia. Menampilkan sekitar 250 video musik di dalam sebuah pameran dan penayangan yang diperoleh dari sistem aplikasi terbuka pada Oktober-November 2016. Festival MuVi Party dihadirkan sebagai upaya untuk melacak, melihat, dan mengukur perkembangan terkini dari karya video musik yang tumbuh beriringan dengan perkembangan musik digital dan teknologi audio-visual di masyarakat.
Yang menarik lainnya pada gelaran perdana MuVi Party, setelah 5 tahun, akhirnya pada tahun 2016 ini independen asal Perancis yang dulu diundang untuk berpartisipasi dalam OK. Video Festival 2011, menyelesaikan sebuah proyek tentang kota Jakarta yang dikerjakannya bersama ruangrupa. Setelah proses selama 8 hari di Jakarta, Vincent Moon sempat menetap di Indonesia selama 2 bulan dan mengisinya dengan berkeliling Pulau Jawa, Sulawesi, Bali dan kembali lagi ke Jakarta untuk mencoba menyelesaikan kerja editing dari proyek tersebut. Tidak hanya melibatkan ruangrupa, Vincent Moon juga menggandeng para muda untuk mendiskusikan hasil editing proyeknya yang diberi nama JAKARTA JAKARTA!
Potret kota Jakarta yang coba divisualisasikan oleh Vincent lewat filmnya kali ini menampilkan deretan musisi seperti Sore, White Shoes & Couples Company, Morfem, The Trees and The Wild, Senyawa, Marjinal, Zeke Khaseli, Terbujur Kaku, Keroncong Tugu Cafrinho, dan lainnya. Nama-nama ini dirasa bisa mengilustrasikan bagaimana kota Jakarta dengan segala keberagamannya.
Pemutaran Perdana JAKARTA JAKARTA! akan ditayangkan di ruang terbuka ala layar tancap
Gratis dan Terbuka Untuk Umum.
Pemutaran Perdana
JAKARTA JAKARTA!
Sebuah karya film oleh Vincent Moon
Diproduksi oleh Vincent Moon dan ruangrupa
MuVi Party 2016
Sabtu, 17 Desember 2016
19:00
Gudang Sarinah Ekosistem
Jl. Pancoran Timur 2 No. 4
Jakarta
Setelah lama vakum selama beberapa tahun, Movie Mystery Club hadir kembali di tempat berbeda dari biasanya. Kali ini menggunakan ruang di Ruci’s Joint, pemutaran ini mengajak orang-orang untuk merasakan pengalaman menonton film, tanpa tahu film apa yang akan diputar. Bekerja sama dengan khusus film dari Qubicle, Slate, kali ini seleksi film yang didapat dari kolektif menghadirkan 2 film pendek lokal dan 6 film pendek yang mendapat penghargaan Jury Prize dari Sundance Film Festival 2015.
Absurditas dan rasa kemanusiaan menjadi tema yang dapat ditarik dari seleksi film kemarin. Dibuka dengan film pendek dari Slate berjudul “The Hotel’s Water,” atmosfer pemutaran dibuat absurd melalui jalan cerita seorang pembersih kamar di sebuah hotel yang menemukan seorang perempuan terlelap, namun tidak bergerak saat diganggu. Setelah dipertunjukkan aksi tidak biasa dari sang pembersih kamar, penonton dihadapkan dengan penyebab sang perempuan terlelap, yakni air yang disediakan di samping tempat tidur.
Tak cukup dengan pembuka yang membuat penonton bingung, deretan film pemenang Jury Prize Sundance Film Festival 2015, “SMILF” hadir dengan daya kejut tidak kalah tinggi. Jika, isu mengenai umur dan perempuan menjadi Anda, film ini memberikan tamparan cukup pedas kepada mereka yang senang menghakimi dan tidak memahami fase hidup yang dialami perempuan. Dengan dialog padat, film karya Frankie Shaw ini memiliki banyak alasan mengapa bisa memenangkan Jury Prize Sundance Film Festival 2015.
Dilanjutkan dengan “Obiekt,” narasi atau dialog yang nihil di sini. Fokus pada visualisasi dan yang timbul setelah menontonnya, film dokumenter ini hadir dengan cerita penyelamatan seorang penyelam dengan 2 sudut pandang. Sebagai film debut Paulina Skibinska, penonton diajak untuk memperhatikan emosi dan pesan yang disampaikan dari raut wajah dan situasi yang ditangkap kamera.
Setelah dibuat dengan dan cerita film sebelumnya, animasi dari Paul Cabon “Storm Hits Jacket” menampilkan petualangan 2 orang peneliti dan konsep masa depan dibalut warna mencolok. Penonton kemudian diajak mengikuti ritme pemutaran film, ketika “Oh Lucy!” diputar. Menggambarkan isu kultur, Atsuko Hirayanagi memotret hidden desires pada seseorang yang hadir dengan konsekuensi besar.
Varian dari Jury Prize dari Sundance Film Festival 2015 pun hadir dari Ukraina dengan “The Face of Ukraine: Casting Oksana Baiul.” Mengangkat sosok idola Oksana Baiul - atlet -, sang sutradara; Kitty Green, menjahit deretan tanpa menambahkan komentar untuk memberikan emosi yang ada dalam ruang Mengangkat premis sederhana, film ini mengeksplorasi perempuan dan perubahan sosial di negara konflik.
Film selanjutnya datang dari Don Hertzfeldt yang dikenal berkat animasi “World of Tomorrow” menjadi film dengan durasi terlama pada Movie Mystery Club kali ini. Menghadirkan genre sci-fi, animasi ini menjelaskan keindahan semesta dan kegagalan manusia dalam mengantisipasi perang yang ada di dunia. Absurditas malam itupun ditutup dengan film dari Edwin, “Hulahoop Sounding,” penonton dihadapkan dengan kata-kata vulgar yang mengisi tiap Tidak hanya inti cerita yang unik, simbol dan gestur yang melengkapi film ini menjadi alasan mengapa beberapa orang tersipu malu ketika menontonnya.
Dalam rangka menawarkan konsep alternatif akan ritual menonton film, Movie Mystery Club hadir dengan seleksi film unik yang mampu melebihi ekspektasi. Hadir dengan varian genre, Movie Mystery Club akan digelar tiap bulan untuk membawa penonton ke dalam pengalaman yang menyenangkan. Sampai Jumpa di Movie Mystery Club yang akan datang!
Sebuah inisiatif akan muncul ketika seseorang merasa terganggu atau terpukau atas apa yang ia rasakan. Itulah yang menjadi latar belakang dibentuknya kompilasi “Dentum Dansa Bawah Tanah”, berisi unit musik di Jakarta yang merepresentasikan warna-warna Kecintaan Aldo Ersan terhadap musik dan keinginan untuk mendokumentasikan skena musik elektronik di Jakarta, telah mendorong dirinya untuk mengumpulkan nama-nama yang telah membuat lantai dansa ramai untuk mengeluarkan sebuah rilisan di bawah naungan labelnya, Pepaya Records.
Dirilis bersama Studiorama, kompilasi kaset dan video clip bersama unit independen lainnya ini mengantarkan 14 unit musik dalam album ke masyarakat. Pepaya Records mencetak kompilasi ini dalam bentuk CD bersama label DeMajors yang akan dirilis tanggal 18 Desember mendatang bersamaan dengan perhelatan bulanan Superbad. Kami mendapat kesempatan untuk berbincang sesaat dengan Aldo dan David Tarigan dari DeMajors untuk membahas mengenai kurasi Dentum Dansa Bawah Tanah dan perspektif yang muncul dari pendengar musik.
Dasarnya adalah pengamatan; lebih mudah dilakukan ketika tidak fokus berusaha menjadi yang diperhatikan. Yang jelas, proses mengamatinya tidak dilakukan melalui akses internet saja, saya datang ke pesta dan menyaksikannya secara langsung. Mengidentifikasi kolektif atau komunitas yang cocok, lalu ngobrol dengan teman untuk memperkaya pertimbangan menentukan musisi yang dianggap dapat mewakili. Setelah itu, saya sebisa mungkin memastikan setiap sub-genre yang related terwakili dengan porsi yang pas.
Salah satu yang paling seru adalah menyaksikan Ffonz (Moustapha Spliff) lengkap dengan dua turntable dan deretan piringan hitam memutar musik jazz berisik semalam suntuk di Tree House. Kini tempat itu sudah tutup.
Banyak musisi dalam album kompilasi DDBT yang bermukim dan cukup sering berkegiatan di luar Jakarta Selatan, misalnya Django dan John van der Mijl bermukim di Jakarta Pusat, Duck Dive tinggal di Rawamangun, Bernardus Fritz dari Sunmantra dari Sunter, serta Sattle yang sering bolak-balik Bandung-Jakarta. Saya bahkan tinggal dan berkegiatan di bilangan Jakarta Pusat. Sampul album dipotret oleh Moses Sihombing dari puncak Monas kemudian disunting sambil makan rawon di Cut Meutia. Terus kenapa jadi “selatan” ya?
Mungkin saja pendapat ini muncul dari perspektif tata ruang wilayah kota. Restoran/lounge/bar/klab malam terpopuler dan hip belakangan ini tumbuh subur di wilayah Jakarta Selatan. Venue-venue tadi adalah tempat dimana musik sidestream bahkan underground biasanya dibiarkan untuk diputar dan dimainkan, itupun tidak semuanya. Yang mungkin terlewat adalah kenyataan bahwa crowd-nya macam-macam, ada pekerja kantoran asal Bekasi atau Bintaro yang menunggu macet, slacker tajir yang tinggal di apartemen Pakubuwono, bahkan anak kolong dari Kelapa Gading.
Kalian pernah dengar istilah funky kota (funkot) kan? Mungkin juga pendapat ini muncul dengan proses yang sama dengan berkembangnya isitilah funkot; sebagai musik yang biasa diputar di klab malam bilangan Kota. Mengejutkan juga melihat musik di era internet masih dieratkan dengan lokasi geografis tertentu. Saya membayangkan banyak hal; dari nuggets, chicago house hingga madchester.
Saat itu, Edwin (Babibuta Film) dan saya menyetel materi musik DDBT dengan peranti audio Kinosaurus. Saya punya keinginan teaser video album DDBT dibuat oleh Edwin karena dia figur yang esoteric. Selesai mendengar DDBT, Ia justru memilih lagu untuk dibuatkan video musik dan menyarankan untuk mencari sutradara/video maker lain untuk membuat video musik bagi masing-masing lagu. Metode ini berlangsung seterusnya, mendengarkan musik bersama sutradara/video maker pilihan (ada yang bertemu langsung ada yang melalui surel), lalu mereka memilih lagu yang yang mereka mau buatkan video musiknya. Yang saya sayangkan adalah Tumpal Tampubolon menolak ikut membuat video musik untuk proyek DDBT.
Visinya adalah mendokumentasikan secuil masa. Situasi mungkin bisa dikaji lewat musik, tapi lanskap visual membuat semuanya semakin jelas. Dalam video musik DDBT kita bisa menyaksikan perempatan by pass, gambaran party muda-mudi sadar kultur/mode terkini, unjuk rasa kaum religi tertentu dengan jumlah yang tak pernah terbayangkan sebelumnya, kondisi ibu kota negara tetangga, hingga kondisi Sumba yang masih jauh tertinggal dari Jakarta. Semuanya dengan satu latar waktu: pertengahan 2010-an.
Dalam beberapa kesempatan, teman menceritakan soal-soal terkait kenalan mereka yang mengetahui, melihat, atau mendengar Dentum Dansa Bawah Tanah. Kadang ditemukan juga di social media. Isi responnya tidak saya hapalkan. Secara kuantitatif, kaset pita sebanyak 200 itu terjual habis dalam waktu 1 bulan.
Bisa jadi kalian merasa demikian. Individual Distortion, Radioage, Kracoon, dan kawan-kawan sudah punya wadah yang rekat, scene-nya bahkan sudah dibuatkan film dokumenter. Musik sejenis yang dimainkan Animalism, Bottlesmoker, dan kawan-kawan lebih cocok dipresentasikan di panggung-panggung musik hidup. Menurut kalian apakah Space System dan Voyagers of Icarie mau menyahut jika saya sapa?
Sedangkan, mayoritas roster kompilasi DDBT belum pernah menelurkan rilisan apalagi dalam format fisik. Jika tidak dibiasakan, rekaman fisik yang berisi musik sejenis DDBT ini selamanya akan menjadi langka—bukannya tidak ada—di Indonesia karena DDBT bukan yang pertama.
Terlepas dari itu semua, sebuah album musik—bahkan kompilasi sekalipun—sebaiknya tidak didominasi oleh turbulensi. Lagipula judul albumnya kan Dentum Dansa Bawah Tanah. Kalo muda-mudi dewasa ini memang suka berdansa mengikuti irama house, beginilah house ala DDBT. Saya pikir jelas bedanya. Seperti gerombolan sirkus, kaum ini berpindah-pindah tempat mengikuti ke mana party sejenis diadakan untuk menikmati alternatif. Alternatif dari apa?
Tuhan memberkati ala Djakarta Warehouse Party.
Proyek ini belum sepenuhnya rampung. Format cakram padat punya menambah luas akses dan distribusi proyek DDBT maka berlakulah asas kausalitas. Materi yang sudah ada sekarang—kurasi unit musik, lagu, dan video musik—perlu dipresentasikan lebih lanjut dalam kegiatan, format, jenis, dan/atau wilayah lainnya.
Musik yang memiliki selalu menarik dan membuat penasaran untuk dinikmati.
Kami selalu berusaha membagi apa yang kami suka dan yakini untuk dapat dialami oleh banyak orang, dan sudah pasti, membagi musik yang kami anggap bagus. Dentum Dansa Bawah Tahan tidak hanya menawarkan musik, tapi juga cerita serta ekspresi dari apa yang terjadi saat ini di dunia elektronik kota Jakarta dan kompilasi ini sungguh layak dijadikan pengantar bagi sesuatu yang harus diketahui oleh lebih banyak orang.
Kami akan selalu berhubungan dengan Pepaya Records untuk membicarakan segala macam kemungkinan yang bisa dihasilkan.
di Jakarta/Indonesia dan bagaimana Dentum Dansa Bawah Tanah menampilkan karakter tersebut?
Dentum Dansa Bawah Tanah tentu berhasil menggambarkan apa yang terjadi di skena elektronik; Jakarta khususnya, saat ini. Jadi, dari yang abstrak, tekstural, Selatan (hahaha) hingga pemompa berjejak Jakarta-Kota (hahaha). Semuanya terwakili di sini, jadi, ini mungkin bisa dibilang khas kota besar ya.
-
Superbad! x Dentum Dansa Bawah Tanah
Minggu, 18 Desember 2016
20:00
Jaya Pub
Jl. MH Thamrin No. 12
Jakarta
All the way from Germany, jan k submits a brand new mixtape for you and you and you!
01. High Risk – The Common Woman
02. Maki Asakawa – Boro to Furutetsu
03. John Coltrane – Body and Soul
04. Kellee Patterson – Maiden Voyage
05. Maki Asakawa - Gogo
06. Dorothy Ashby – I Will Follow You
07. Rotary Connection – I am the Black Gold of the Sun
08. Air – Man Is Free
09. Gloria Ann Taylor – Love is a Hurtin Thing
10. Maki Asakawa – Kamome
11. Brigadier General R. Pringadie & Rita Zahara – Lela Ledung
12. Maki Asakawa - Cabaret
Direktori: Di Makassar, Melihat Harapan dari Indonesia Timur
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode kedua mini seri Direktori, kami berkunjung ke Bali untuk mencari apa yang tersembunyi di balik deru pariwisata dan melihat bagaimana keberagaman hidup di sana.
Episode pertama untuk mini seri terbaru kami untuk campaign #Direktorikota, kami memulainya dengan pertanyaan besar, apakah semangat kebersamaan masih ada di keseharian kita?