Berbicara tentang AXEAN Festival, kami mengundang beberapa alumninya, Batavia Collective dan The Panturas, untuk mengulik atmosfer di dalam festival musik tersebut yang seperti konsisten melambungkan nama-nama up-and-coming ke berbagai festival musik besar lainnya di mancanegara.
Dengan karakter yang kuat pada karyanya yang selalu bermain di antara suasana kekanakan dan kengerian, Natasha Gabriella Tontey menjadi salah satu seniman muda yang telah menunjukkan potensinya. Di antara pameran Little Shop of Horrors yang ia buat di Footurama, Whiteboard Journal berbincang dengannya mengenai bagaimana latar belakangnya membentuk karakter, tantangan dalam karyanya serta ketakutan personal yang ia berusaha taklukkan.
Sup everyone, it's the first mix of the year of flaming rooster. We have a very special guest in this one, it's none other than Dimas "Acong" Saktya. His love for the music is almost impossible to deny as he's involved with few notable names such as Voyagers of Icarie, Freedom of Choice as well as become frequent spinner at the Safehouse establishment. His infectious motoric dance track can also be found on Dentum Dansa Bawah Tanah under Papaya Records. In this latest episode of Heartattack, he will be sharing to us songs that accompany his morning, nostalgic songs he heard during his childhood and also his time in university all the way through the moment he discovered the coming-of-age world of Empire Records in the 90s. Sit back & enjoy!
https://soundcloud.com/swarsaktya
Tracklist:
1. Delta 5 - Mind Your Own Business
2. Elastica - Connection
3. Iggy Pop - Lust For Life
4. The Flying Lizards - Money
5. Space System - Nocturnal Creatures
6. Prinzhorn Dance School - You Are The Space Invader
7. The Clash - Bankrobber
8. Cheech & Chong Feat. Alice Bowie - Earache My Eye
9. Beastie Boys - So What'cha Want
Rabu (11/1) lalu negara Norwegia resmi menutup gelombang radio FM dan memutuskan untuk beralih menggunakan radio jenis Digital Audio Broadcasting (DAB) atau biasa disebut radio digital. Mengutip wawancara Menteri Budaya Norwegia, Thorhild Widvey, alasan Norwegia menutup gelombang FM adalah karena menganggap siaran berbasis FM sudah tidak menguntungkan. Menurutnya, siaran radio FM membutuhkan biaya operasional yang tinggi, namun kualitas suaranya lebih rendah dibanding siaran digital, termasuk dengan fitur dan dukungan. Hal tersebut menjadikan Norwegia sebagai negara pertama yang mematikan radio FM. Berita ini menimbulkan pro dan kontra bagi para warga Norwegia karena terkesan terburu-buru.
Walaupun demikian, perpindahan media konvensional ke media digital sesungguhnya adalah sebuah isu yang sudah lama diperbincangkan dan menjadi kondisi yang cukup diperhatikan. Sekarang ini, siaran radio tidak cukup populer seperti dulu, jarang ada yang sengaja menyalakan radio selain di mobil untuk mendengarkan lagu atau menantikan acara dari para penyiar idola. Semenjak kehadiran internet, kebutuhan-kebutuhan seperti mendengarkan lagu contohnya, bisa terpenuhi tanpa harus mendengarkan radio.
Dikutip dari berbagai sumber, radio digital berbeda dengan radio online. Radio digital tidak menggunakan jaringan internet. Sama halnya seperti radio FM/AM, radio digital membutuhkan kotak radio khusus. Selain itu, gelombang penerimanya pun berbeda. Kotak radio khusus ini nantinya diperlukan untuk menerima suara berbasis digital, karena proses produksi hingga penyiarannya juga menggunakan teknologi digital. Cara kerja Digital Audio Broadcasting (DAB) sendiri adalah dengan menggabungkan sejumlah data atau audio ke dalam satu kanal yang sudah melewati sistem kompresi suara dengan algoritma tertentu sehingga suara yang dihasilkan lebih jernih dibandingan FM dan nyaris mendekati kualitas Compact Disk (CD).
Sementara itu, ternyata ada yang sudah lebih dulu, secara perlahan memberikan pengalaman berbeda dalam mendengarkan radio, sebut saja RURUradio, DeMajors Radio dan radio-radio yang menggunakan jaringan internet lainnya. Walaupun tidak menggunakan sistem DAB, radio-radio tersebut cukup mencuri perhatian banyak khalayak. Dengan berbagai konsep dan segmen yang menarik, radio-radio ini mampu bersaing dengan radio konvensional dan memiliki banyak pendengar setia. Secara jumlah, memang pendengarnya tidak semasif itu, namun secara eksistensi sudah diakui.
Memang jika ditelusuri kembali, setiap sistem memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Dengan teknologi yang terus berkembang, cepat atau lambat, pasti akan dihadapkan dengan beragam bentuk perubahan, contohnya seperti kasus d iatas. Sehingga mau tidak mau, harus mengantisipasi segala bentuk kemungkinan, dalam konteks ini, bisa dimulai dari mencari alternatif lain untuk mendengarkan radio seperti melalui radio atau media seperti
Sulit untuk tak sepakat dengan situs review spesialis games, IGN yang menempatkan Nintendo Entertainment System (NES) sebagai pemuncak daftar konsol video game terbaik. Sejak dirilis pada awal tahun 80’an, NES telah membentuk fantasi berbagai generasi. Kami mengundang beberapa figur dari berbagai latar belakang untuk memilih game yang membekas di hati mereka, serta untuk membuktikan bagaimana masif dampak NES terhadap individu-individu kreatif lokal.
Bam Bam Jam is back with its first episode of 2017. Sit back, relax, click play and enjoy the show!
01. Soft Machine - Soft Space (edits)
02. Naum Gabo - c'mon
03. Session Victim - tmrw night
04. Emperor M- 2 edit PT
05. Jac Ren - Random Mdns
06. PPPPPP
07. Armando- Dont pet puppies
08. SUNKLOFY
09. Bell Tower- Im coming up
10. Bonnie Olv - come inside (instrm)
11. Gary's Gang - making music (dub)
Mella Jaarsma adalah seorang seniman berdomisili Yogyakarta. Merupakan salah satu pendiri Cemeti Art House ini, Mella Jaarsma memulai perjalanannya sebagai seniman kontemporer Tanah Air semenjak meninggalkan Belanda pada tahun 1984 untuk menjalani pendidikannya di Institut Kesenian Jakarta dan Indonesia Institute of the Arts, dan akhirnya memutuskan untuk menetap di Yogyakarta hingga sekarang.
Di tahun 2017, Mella tengah mempersiapkan sebuah projek seni bertemakan “Pusar - Selfie”. Pada projeknya, Mella membutuhkan 500 foto pusar dan mengajak teman-teman dari Sabang hingga Marauke untuk mengirimkan selfie - pusar tersebut.
Pada projek ini, ada beberapa instruksi yang harus diperhatikan, yaitu:
1. Ambil foto pusar anda menggunakan kamera handphone dengan jarak 10-15 cm (satu jengkal) dengan kondisi pencahayaan siang hari
2. Tidak perlu identitas, hanya cukup dengan mencantumkan kota/kabupaten, provinsi tempat anda berasal.
3. Kemudian kirimkan foto pusar anda melalui Whatsapp: 081327626117 atau Email: pusarproject@gmail.com
“Mungkin pusar sesuatu yang privat, tetapi kita semua sama dan memiliki itu.” - Mella Jaarsma
Direktori: Di Makassar, Melihat Harapan dari Indonesia Timur
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode kedua mini seri Direktori, kami berkunjung ke Bali untuk mencari apa yang tersembunyi di balik deru pariwisata dan melihat bagaimana keberagaman hidup di sana.
Episode pertama untuk mini seri terbaru kami untuk campaign #Direktorikota, kami memulainya dengan pertanyaan besar, apakah semangat kebersamaan masih ada di keseharian kita?