Berbicara tentang AXEAN Festival, kami mengundang beberapa alumninya, Batavia Collective dan The Panturas, untuk mengulik atmosfer di dalam festival musik tersebut yang seperti konsisten melambungkan nama-nama up-and-coming ke berbagai festival musik besar lainnya di mancanegara.
Proyek musik asal Yogyakarta, Sisir Tanah akan melakukan tur untuk 17 venue di berbagai kota berbarengan dengan peluncuran album perdana mereka Harus Berani. Berasal dari proyek solo Bagus Dwi Danto sejak 2010 lalu, nama Sisir Tanah kerap mengunjungi panggung-panggung dan kegiatan di beberapa kota. Sempat tampil dengan personil dan aransemen berbeda di setiap penampilan dan lagunya, kini mereka mengukuhkan bentuk.
Sisir Tanah terkenal memiliki kekuatan lirik berbahasa Indonesia dan bangunan musik folk yang kaya dengan banyak instrumen. Lagu-lagu mereka rencananya akan dirilis dalam format CD dan akan dipromosikan pada tur mereka tersebut.
Tur yang dipersembahkan oleh Kongsi Jahat Syndicate itu menggaet beberapa personil band Jogja lain semisal Faizal Rachman dari Answer Sheet dan Erson Padapiran dari Belkastrelka. Mereka akan melakukan tur dari tanggal 13 April hingga 4 Mei. Dimulai dari Jakarta dan berakhir di Jogjakarta.
Twilight Bayside Mix
I have a deep fond for, and always fascinated by how some musicians are drawn into creating music that affiliates, or relates to the atmosphere of summer. Crystal clear beaches, sunlight through the palm trees, sound of waves crashing into each other. I believe that we tend to search for tranquility in nature. It is how we are built. Here are assorted sea shells to evoke your inner holiday in paradise island. A platter of sea food for the soul.
1. Leon Lowman - Morning Song (Sound Horizon - self-released, 1982)
2. MFSB - Poinciana (MFSB - Epic Records, 1973)
3. Makoto Iwabuchi - Moonlight Flight (Super Moon - Columbia Japan, 1977)
4. Akira Inoue, Hiroshi Sato, Masataka Matsutoya - Melting Blue (Seaside Lovers - Memories in Beach House - CBS/Sony, 1983)
5. Iasos - Bamboo Grove Samba (Bora Bora 2000 - Magrita, 1991)
6. Minako Yoshida - Rainbow Sea Line (Minako - RCA, 1975)
7. Guru Guru Sun Band - Taoma (Hey Du - Brain, 1979)
8. Haruomi Hosono, Shigeru Suzuki, Tatsuro Yamashita - Kiska (Pacific - CBS/Sony, 1978)
9. Taeko Onuki - Nanimo Iranai (Sunshower - PanAm, 1977)
10. Nohelani Cypriano - Lihue (Nohelani - HanaOla Records, 1979)
11. Lio - Sage Comme Une Image (Suite Sixtine - Attic, 1983)
12. Electric Mind - Summing Up (Summing Up - Good Vibes, 1982)
13. Chris Watson - 10m (Oceanus Pacificus - Touch, 2007)
14. VDB Joel - Kinderspiel (Prospective Metropolis/Digital Project - Coloursound Library, 1989)
Melalui submisi Open Column, Irina Chatarina menuliskan mengenai pengalamannya dengan lagu "Moon River" yang merupakan soundtrack dari film "Breakfast at Tiffany's". Ia bercerita mengenai bagaimana berbagai versi dari lagu tersebut memiliki satu nuansa yang sama: indah.
Ada gaya hidup baru dalam bagaimana kita terus berkarya di era di mana kita dituntut untuk terus mobile. Bekerja sama dengan Samsung Gear S3, ada beberapa hal yang bisa dipersiapkan dalam menyambut dan menjalani aktivitas sebagai urban activist.
Sejak 2010 lalu, Frontman Weezer, Rivers Cuomo bersama frontman Allister, Scott Murphy tergabung dalam sebuah proyek musik yang menulis semua lagunya dengan bahasa Jepang. Mereka merilis album pertamanya di tahun 2012 dengan nama ‘Scott & Rivers’ yang berisi 11 lagu original dan 1 lagu cover Kaela Kimura. Sempat dianggap sebagai proyek iseng untuk sekadar tampil mewarnai musik Pop Jepang, kini mereka akan kembali merilis album.
Album yang diberi judulニマイメ (Nimaime) akan dirilis terbatas di Jepang. Album ini berisi 12 lagu dan menggaet beberapa musisi Jepang seperti Uezu Kiyasaku dari grup musik pop-punk Mongol800. Sempat dipertemukan lewat Universal Music Group dan merilis albumnya lewat label itu, kini mereka merilisnya dengan Sony Music Japan.
Album kedua ini membuktikan mereka tidak sekadar tampil iseng menulis musik berbahasa Jepang. Dilatarbelakangi oleh ikatan masing-masing pada negeri sakura itu, proyek ini menjadi cerminan persembahan mereka untuk kultur musik populer Jepang yang apresiatif. Dua lagu teaser albumnya dapat didengarkan di laman Pitchfork berikut.
Elia Nurvista adalah seniman asal Yogyakarta yang banyak mengekplorasi tema makanan dalam karyanya. Whiteboard berbicara dengannya mengenai perempuan, komodifikasi dan apa yang hilang jika kita hanya melihat makanan sebagai praktek konsumsi.
Direktori: Di Makassar, Melihat Harapan dari Indonesia Timur
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode kedua mini seri Direktori, kami berkunjung ke Bali untuk mencari apa yang tersembunyi di balik deru pariwisata dan melihat bagaimana keberagaman hidup di sana.
Episode pertama untuk mini seri terbaru kami untuk campaign #Direktorikota, kami memulainya dengan pertanyaan besar, apakah semangat kebersamaan masih ada di keseharian kita?