Berbicara tentang AXEAN Festival, kami mengundang beberapa alumninya, Batavia Collective dan The Panturas, untuk mengulik atmosfer di dalam festival musik tersebut yang seperti konsisten melambungkan nama-nama up-and-coming ke berbagai festival musik besar lainnya di mancanegara.
Bisnis di industri fashion semakin menantang. Para desainer dan rumah mode besar dunia pun kini mesti bersaing ketat dengan toko-toko ritel penjaja pakaian dengan tren yang bergulir sangat cepat dan murah. Belum lagi di sisi lain mereka juga harus bersaing dengan baru yang menggabungkan citra dengan harga yang lebih terjangkau.
Alhasil berbagai strategi bisnis pun digencarkan. Terakhir, rumah-rumah mode kenamaan dunia berlomba-lomba menerapkan model bisnis yang memungkinkan pengunjung dapat langsung membeli koleksi tersebut di tempat. Namun, metode untuk ternyata membutuhkan investasi yang terlalu besar.
Jalan lainnya adalah melalui kolaborasi dengan , meski tidak signifikan. Selain menguntungkan karena biaya produksi yang tak setinggi produksi koleksi mereka sendiri, kolaborasi juga tentu akan membuat desainer dan rumah mode besar dapat menjangkau pasar yang lebih luas. Salah satunya Comme des Garcons yang akan mengeluarkan kolaborasi terbarunya bersama Supreme pada Mei mendatang.
Ini bukan yang pertama bagi Supreme untuk berkolaborasi dengan mewah. Sebelumnya Supreme juga sempat menjajal Paris Menswear Fall 2017 Fashion Week bersama dengan Louis Vuitton. Namun kolaborasinya dengan Comme des Garcons ini berbeda. Jika dulu Louis Vuitton membawa Supreme ke level melalui koleksi kolaborasi mereka, dalam kolaborasinya kini Supreme membumikan Comme des Garcons ke jalanan. Tentu saja, bukan suatu hal yang buruk.
Karma Records akan merilis ulang album pendek Oscar Lolang yang berjudul Epilogue ke dalam bentuk kaset. Rencananya rilisan baru tersebut khusus diproduksi untuk Record Store Day 2017 tanggal 21-22 April di Kuningan City, Jakarta.
Sebelumnya, Epilogue yang dirilis dalam bentuk CD hanya berisikan 2 lagu dan untuk rilisan ulang dalam bentuk kasetnya akan ada 1 lagu baru. Lagu 'Little Sunny Girl' dan 'The Way She Does Things' akan ditemani lagu yang pernah direkam saat pengerjaan single perdana Oscar berjudul 'Barbara Allen'. Mini album epilog ini dapat dibaca sebagai tanda bahwa Oscar mulai menulis lirik bermuatan romansa pada lagunya.
Pada perhelatan Record Store Day 2017 nanti Oscar akan tampil sebagai pengisi acara dan akan membawakan materi mini album tersebut. Oscar berencana akan merilis album penuhnya pertengahan tahun ini. Beberapa lagu bocoran yang belum pernah diperdengarkan dan materi album barunya itu akan dipresentasikan Oscar pada Record Store Day nanti.
Eklektik jadi 1 kata yang bisa menggambarkan EP Maverick terbaru yang bertajuk "Unpopular Opinion." Terdiri dari 6 dengan warna beragam, Wing Narada selaku sosok di balik ini menunjukkan bahwa dirinya berani mengemukakan opininya akan musik yang berputar di sekitarnya menggunakan segala - tak terkecuali meme yang sempat terkenal pada kurun waktu tertentu.
Dibuka dengan "Opinion #1" yang diwarnai suara kendang dan terompet khas lagu India, Maverick membawa pendengar ke tengah perayaan holi penuh dengan warna psychedelic. Adapun selanjutnya benar-benar berbeda dengan sebelumnya, namun berkat kepiawaian Wing yang juga dikenal sebagai , transisi antara terasa sangat halus.
Terlihat jelas bahwa Wing memiliki referensi musik yang kaya dan mampu memilah suara untuk membuat sebuah komposisi yang jahat, sehingga membuat EP ini terasa segar namun memiliki kompleksitas tertentu. Sisipan bebunyian kendang dan dawai di antara terompet menjadi bukti jelas yang membuat "Unpopular Opinion" menawarkan keriuhan berbeda dari yang ada di muka umum.
Secara keseluruhan "Unpopular Opinion" memiliki dualitas kental. Tentu untuk mereka yang menyukai alternatif, ini merupakan suatu harta karun.
Dengar atau download EP-nya secara gratis di Bandcamp Maverick.
Unpopular Opinions by Maverick
Whiteboard Journal menemui Ika Vantiani di rumahnya dan berbincang tentang banyak hal. Mulai dari proses kreatifnya, relasi antara dirinya dengan periklanan hingga bagaimana ia merespon lingkungan sosial ketika ditempatkan ke dalam sebuah kategori tertentu.
Jika sebelumnya Defile menampilkan roster yang memiliki ragam musik mulai dari funk, ambient hingga brazil, jilid kedua ini akan menawarkan selektor yang tidak kalah galak, lengkap dengan kehadiran Gerhan dari Akamady Records sebagai bintang tamu. Kami mendapat kesempatan untuk bertanya beberapa hal kepada salah satu selektor Defile #2, yakni Gonzo aka Duck Dive yang tidak hanya dikenal sebagai produser lagu, tapi juga aktif sebagai DJ. Mulai dari inspirasi musik hingga bagaimana ia meramu tiap lagu, terdapat jawaban bahwa misteri alam memiliki keharmonisan yang tidak dapat digambarkan, namun selalu memiliki daya tarik baginya.
Duck Dive bermula dari kecintaan saya terhadap musik ambient/new age, sehingga membuat saya untuk memulai yang berbasis improvisasi. Dalam hal , unsur “improvisasi” juga sangat digunakan, sehingga membuat saya ingin mempelajari lebih dalam. Selain itu, saya sangat menyukai konsep bahwa pada dasarnya DJ hanya memperdengarkan musik-musik koleksinya, yang mana dari situ akan terlihat ciri khasnya, genre seperti apa spesialisasinya. Beberapa tahun belakangan ini saya banyak mengikuti mixtape dari beberapa DJ luar maupun lokal yang sangat saya gemari, dan hal itu memperkenalkan saya kepada banyak track luar biasa yang membuat saya ingin terus , karena tidak akan ada habisnya. Seru!
setelah mulai sering menjadi DJ?
Dalam proses pembuatan lagu Duck Dive di album-album sebelumnya, saya merekam masing-masing dari tiap lagu menggunakan 4-Track Cassette Recorder yang lalu saya dan EQ sederhana dengan Cubase. Belakangan ini penggunaan (synthesizer, drum machine, efek, dll.) masih mendominasi dalam produksi , tetapi tidak lagi menggunakan 4-Track Recorder karena saya lebih banyak beralih kepada Ableton Live untuk merekam sembari meramu -nya. Saya rasa bisa dibilang sedikit lebih , namun tidak mendominasi. Saya berharap beat akan menambah kompleksitas dari lagunya. Sebagai penghias, bukan pondasinya. Intinya, tidak akan terlalu jauh dari materi saya yang sebelumnya. Hanya akan diwarnai saja.
Saya rasa alam masih menjadi inspirasi utama, karena sebagai penyelam kecintaan saya terhadap laut, jelas tidak akan pernah selesai. Selain itu, tema laut, sungai atau hutan juga sangat selaras dengan genre fusion/jazz/new age yang sangat saya sukai. Instrumental, simple namun kompleks, damai, membangkitkan imajinasi.
Unsur alam memang bisa dibilang sudah mendarah daging dalam pembuatan lagu Duck Dive. Sejak kecil saya memang sudah mencintai lagu-lagu instrumental yang bernuansa alam seperti album-album jazz Pat Metheny, Chick Corea, hingga film-film dokumenter, program TV pendidikan, dan lain-lain. Saya paling menyukai tema laut, sungai dan hutan karena penuh dengan ketenangan namun mempunyai sisi misteri yang dalam. Belakangan ini saya banyak mengumpulkan album-album new age/jazz/electronica tahun 80-an dari Jepang seperti Yoshio Suzuki, Mu Project, Toshifumi Hinata, Joe Hisaishi. Saya ingin mengarahkan materi saya ke sana.
Dentum Dansa Bawah Tanah dibuat berdasarkan sebuah keinginan untuk mendokumentasikan sebuah sisi lain dari dunia gemerlap malam, yaitu masa di mana para penghasil musik elektronik arus pinggir dalam negeri, produktif menghasilkan karya-karya yang orisinil dan berkualitas. Saya berharap ini dapat selalu mengabadikan semangat para penggiatnya dalam berkarya tanpa dipengaruhi apapun yang terjadi di industri musik besar dan menjadi sebuah monumen bersejarah bagi generasi-generasi berikutnya.
Di lain sisi, kami menanyai kali ini, Gerhan, tentang pendapatnya akan musik bawah tanah dengan pengalamannya sebagai DJ dan kesempatan untuk melihat perkembangan di San Francisco serta tentang kurasi Dentum Dansa Bawah Tanah.
di San Francisco pada tahun 90-an serta bermain di beberapa tempat sejak itu. Bagaimana hal tersebut membentuk karakter musik Gerhan?
Untuk dapat tinggal dan merasakan di era tersebut tentunya itu adalah salah satu unsur yang kuat dalam membentuk dasar karakter musik saya hingga seperti sekarang ini.
. Sebagai DJ dan produser, bagaimana Gerhan menyikapi musik alternatif? Apakah hal tersebut memiliki stimulan lebih daripada musik non alternatif?
Menurut saya semua musik adalah stimulan bagi siapa yang menyukainya. Jadi menurut saya selama musik itu bagus alternatif atau non alternatif mempunyai tingkat stimulan yang sama bagi saya.
sekarang masih bersifat ?
Ya, pasti masih ada yang bersifat . Tetapi tergantung dari pengertian itu sendiri.
di Jakarta? Apakah sudah cukup representatif?
Menurut saya sudah cukup baik. Tetapi ini hanya sebagian kecil saja yang baru tercakup, dan mungkin untuk yang berikutnya bisa lebih spesifik lagi dengan kurasinya. Menurut saya masih terlalu
Semoga semakin banyak artis/musisi muda yang dapat melahirkan musik-musik baru yang berkualitas dari Jakarta (tertawa).
-
Kamis, 13 April 2017
Gueens Head
21:00
Harvy, Android 18, Django, Duck Dive
Special guest: Gerhan (Akamady Records)
Gratis
Direktori: Di Makassar, Melihat Harapan dari Indonesia Timur
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode kedua mini seri Direktori, kami berkunjung ke Bali untuk mencari apa yang tersembunyi di balik deru pariwisata dan melihat bagaimana keberagaman hidup di sana.
Episode pertama untuk mini seri terbaru kami untuk campaign #Direktorikota, kami memulainya dengan pertanyaan besar, apakah semangat kebersamaan masih ada di keseharian kita?