Berbicara tentang AXEAN Festival, kami mengundang beberapa alumninya, Batavia Collective dan The Panturas, untuk mengulik atmosfer di dalam festival musik tersebut yang seperti konsisten melambungkan nama-nama up-and-coming ke berbagai festival musik besar lainnya di mancanegara.
Gagasan kolektif yang didukung oleh ruang-ruang yang layak dapat menyumbang kegiatan yang positif. LadyFast #2 adalah contoh kegiatan yang mampu memberi fitur ruang diskusi, pameran karya, lapakan, dan musik.
Diinisiasi oleh sebuah kolektif yang menamakan dirinya sebagai Kolektif Betina, para perempuan yang terkumpul dari berbagai latar belakang berbeda dari 9 kota di Indonesia membuat sebuah ruang berkumpul dan berekspresi. Perayaan tahunan mereka yang kedua di Bandung yang digelar tanggal 29-30 April lalu mengundang banyak partisipan, umumnya para penggerak kreatif yang datang untuk menunjukkan produknya ataupun para penggiat acara sebagai konsumennya. Tak hanya menampilkan lapakan dan menyediakan ruang kreatif, mereka menyajikan diskusi yang menarik seperti membicarakan maskulinitas atau membuat jamu tradisional sebagai pereda nyeri menstruasi.
LadyFast #2 memberi ruang seperti yang para penggagasnya harapkan. Selama ini ruang untuk bisa berkumpul dan menyuarakan pendapat kadang direpresi oleh suatu golongan lain. Dengan cermat mereka memberi diskursus yang menarik dan mendidik serta memberi nuansa pasar lapakan yang hangat lalu kemudian ditutup oleh pertunjukan musik yang prinsip partisipatorisnya kuat. Dalam gelaran musik keras, para penonton dilibatkan untuk saling membaur, bertabrakan, dan berada dalam tatanan yang sama. Sebagai partisipan, perempuan di dalam ruang moshpit memiliki perannya sendiri untuk menikmati dan adalah haknya untuk merasa aman dan tidak menjadi objek, namun menjadi subjek dalam gerakan, bersama-sama memiliki ruang untuk berekspresi.
Semenjak meraup pundi-pundi kesuksesan secara finansial maupun ulasan, ia perlahan menapaki strata hegemoni yang tak perlu banyak publisitas. Feist semakin konsisten dalam melantunkan entitas tembang yang meletuskan energi melankolia. Ada harmoni , , hingga distraksi kegetiran laiknya catatan pribadi Lindsey Buckingham. Semua disusun atas sepasang pengharapan; merapalkan cita, menebalkan pesona.
Akhir April 2017, album terbarunya yang bertajuk rilis ke pasaran. Polanya selaras dengan kreasinya yang sudah-sudah; menghentak kesepian, melukis gores keputusasaan, dan mencari momentum kebangkitan tak bertuan. Memuat 11 (sebelas) komposisi yang diciptakannya sendiri, ia membaurkan aroma Crosby, Still & Nash era hingga minimalis milik Burt Bacharach.
Lagu-lagunya berpesan tentang sekelumit petuah; mencela konsepsi mimpi pada “Lost Dreams”, menjaga batas logika lewat “The Wind”, maupun menolak keberpihakan di trek “I’m Not Running Away.” Apabila manuskripnya tempo hari adalah monolog yang disadur dengan serpih subtil, maka merupakan dialog yang melepaskan kebebasan tafsir untuk khalayak ramai.
Terberkatilah mereka yang sempat merasakan kejayaan MTV dan menikmati beragam video klip dengan konsep liar. Mulai dari yang bertema super hip hop sampai lengkap dengan dan penari latar. Tentu banyak elemen menarik yang membuat musik di sekitar tahun 90-an dan awal 2000 menjadi dan . Terlepas dari aransemen yang diramu untuk membuat lagu-lagu tersebut , kreasi video klip yang muncul kala itu mampu menstimulus imajinasi atau nuansa musik para secara tepat jitu. Bahkan tidak jarang pula koreografi yang dibuat khusus untuk suatu lagu menjadi sebuah agenda spesial di antara anak muda dahulu kala - karena siapa yang tidak tergerak untuk menghapal tarian di video klip Britney Spears - Oops!… I Did It Again.
Terkait dengan fenomena tersebut, 4 orang sekawan yang dulu bersekolah di San Francisco, Inka, Ames, Andri, dan Try melihat sebuah gerakan yang berkembang di sana - di mana sebuah acara tidak melulu bersifat eksklusif. Lalu mereka pun memutuskan untuk mengadaptasi tersebut ke Jakarta. Kami berkesempatan untuk mengobrol dengan mereka terkait alternatif yang mereka buat, yakni Videostarr.
Dalam beberapa tahun terakhir, kami telah melihat banyak alternatif muncul sebagai respons terhadap kejenuhan EDM di Jakarta. Sementara sebagian besar gerakan dalam eksklusivitas memainkan koleksi vinyl yang , kami mencoba untuk mengembalikan sifat inklusif dari sebuah .
Di balik gerakan yang bersifat , kami juga merasa bahwa genre yang dibawakan masih kurang beragam. Sedangkan, pada saat kami berempat kuliah di San Francisco, kami melihat bahwa di sana berani untuk memainkan berbagai macam genre musik tanpa pandang bulu. Berawal dari pengalaman itu, kami ingin menantang ide musik yang dianggap layak untuk di Jakarta saat ini.
Pada dasarnya, Videostarr itu sendiri menyuguhkan yang mengutamakan presentasi video/visual dan lagu-lagu yang terkurasi. Untuk acara Time After Time After Time, kami ingin mengangkat musik pop dengan unsur sebagai kunci utama. Berangkat dari konsep ini, kami ingin menantang publik akan atau tidaknya suatu lagu dan layak atau tidaknya lagu tersebut untuk diputar di . Selain itu, kita ingin menghadirkan nuansa nostalgia yang tentunya dan bisa dinikmati oleh banyak kalangan, mulai dari sampai Snapchat yang relatif baru di ini.
Untuk Time After Time After Time, fokus kami memang pada era tersebut, karena kami sendiri dan sebagian besar kami tumbuh dengan beragam video klip MTV pada era emas itu. Kami pernah membaca sebuah artikel mengenai musik berjudul Neural Nostalgia oleh Mark Joseph Stern, yang menyatakan bahwa para peneliti telah menemukan bukti yang menunjukkan bahwa otak kita membuat ikatan terhadap musik yang kita dengar saat masa remaja lebih erat dari apapun yang akan kita dengar saat kita beranjak dewasa – hubungan tersebut tidak akan melemah seiring bertambahnya usia kita.
Musik nostalgia, dengan kata lain, bukan hanya fenomena kultural, melainkan perintah neuron. Dan tidak peduli seberapa selera kita saat beranjak dewasa, otak kita mungkin tetap mempunyai ikatan pada lagu-lagu yang kita dengarkan selama kita masih menjalani kehidupan remaja. Maka, secara subjektif tentu saja, menurut kami lebih video musik pop masa tersebut.
Di era digital sekarang, video klip masih relevan, tapi mungkin lebih -nya. Hanya mereka yang memang tertarik dengan visual yang akan untuk mengulik seperti apa sih video klip lagu yang mereka suka.
yang sebenarnya ingin diraih oleh Videostarr? Apakah seperti di video klip Salt n Pepa - Whatta Man?
Untuk Time After Time After Time, kami ingin atmosfer party yang dan yang terpenting , karena kami juga menyelipkan lagu-lagu yang biasanya hanya terdengar di ruang karaoke atau bahkan di kamar mandi. Faktanya, lagu-lagu seperti RATU - Teman Tapi Mesra dan Miley Cyrus - Party In The USA sukses menjadi di acara kami. Untuk ke depannya, kami ingin menjaga (baik dari seleksi lagu maupun visual) di setiap acara kami.
-
Bal-0
Rawdeal
Diskocok
Jum’at, 5 Mei 2017
The Safehouse
21:00
Martin Suryajaya adalah sosok yang banyak mendedah mengenai filsafat dalam tulisan-tulisannya. Whiteboard Journal berbincang bersama Martin mengenai filsafat, pemikiran kiri, hingga kritiknya pada sastra Indonesia.
Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) sukses menggelar acara tahunan mereka Parahyangan Fair dengan tema "Eclipsed" pada tanggal 24 April lalu di Bumi Sangkuriang Bandung. Berisi ragam hiburan tak terkecuali musik dari beberapa musisi besar Indonesia, seperti Maliq & the Essentials hingga Elephant Kind, gelaran ini membuktikan bahwa UNPAR masih menjadi salah satu parameter wadah kreasi antara subkultur yang ada di Bandung.
Morfem mungkin adalah band indie-rock paling militan dan paling produktif saat ini. Usianya belum terlalu panjang, namun telah banyak melebihi banyak band lama maupun band muda dalam hal rilisan. Di luar aktivitas rekamannya, Morfem juga giat dalam menciptakan inisiatif gigs bagi Morfem dan band indie rock lokal melalui acara rutin berjudul "Thursday Noise", dimana kegelisahan anak muda urban menyatu dengan bising musik dalam kafe-kafe kecil di sekitar Jakarta Selatan.
Nuansa inilah yang kemudian diterjemahkan dalam videoklip "Roman Underground" yang juga muncul sekaligus sebagai single dari album "Dramaturgi Underground rilisan tahun 2016 lalu. Yang menarik pada video ini, Jimi Multhazam bersama Surya Adi dari Barde Films memilih penceritaan yang setia dengan lirik lagu tentang kisah kasih yang terjadi di gigs underground. Sebuah kisah yang sangat sederhana, namun juga sangat nyata di saat yang sama. 1xbet is the best in the world. Good odds, big bonuses, and most importantly - a very fast withdrawal of money to payment details!
Direktori: Di Makassar, Melihat Harapan dari Indonesia Timur
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode kedua mini seri Direktori, kami berkunjung ke Bali untuk mencari apa yang tersembunyi di balik deru pariwisata dan melihat bagaimana keberagaman hidup di sana.
Episode pertama untuk mini seri terbaru kami untuk campaign #Direktorikota, kami memulainya dengan pertanyaan besar, apakah semangat kebersamaan masih ada di keseharian kita?