Berbicara tentang AXEAN Festival, kami mengundang beberapa alumninya, Batavia Collective dan The Panturas, untuk mengulik atmosfer di dalam festival musik tersebut yang seperti konsisten melambungkan nama-nama up-and-coming ke berbagai festival musik besar lainnya di mancanegara.
If you are familiar with both Labbi Sifre and RJD2 work, then you will probably be understand why this episode of Stereo Strange is called Full Circle, though I'm probably using the term wrong. Enjoy a mix of beat and guitar oriented mish mash of music in this episode!
Listen to this episode of Stereo Strange on Whiteboard Journal's Mixcloud.
01. Labbi Sifre - Bless the Telephone
02. Thundercat - Uh Uh
03. James Blake - Love What Happened Here
04. Sweet Taboo - Sometimes
05. Kutiman - I Think I Am feat Karolina
06. Arto Lindsay - Illuminated
07. Kaytranada Bad Bad Not Good - Weight Off
08. Jonti - Hornets
09. Sibylle Baier - Tonight
10. Ivan Ave - Obedience
11. RJD2 - Making Days Longer
Brand streetwear asal New York, Supreme, telah merilis Spring/Summer Collection untuk tahun 2017. Salah satu yang menarik adalah seri kolaborasi dengan menggunakan beberapa karya pelukis kelahiran Belanda, Maurits Cornellis Escher.
Escher adalah seniman grafis yang banyak karyanya mengambil bentuk geometris rumit seperti polyhedra yang diproduksi dengan teknik linocut atau . Ia memberi tekanan pada persepsi dimensional dan bentuk dalam karyanya. Hiperbola geometris yang ditawarkan oleh Escher mempengaruhi bentuk kerupaan dan beberapa aspek teknologi yang dekat dengan keseharian sekarang
Koleksi Supreme yang mengambil beberapa karya grafis Escher dicetak pada , dan topi. Beberapa hadir dengan pilihan 4 warna yakni hitam, putih, pink dan biru. Seri M.C. Escher ini telah dijual di New York, Paris, London, dan Jepang.
Karya Escher dianggap kental dengan nuansa sains dan teknologi dan karenanya dianggap dekat dengan kultur pop. Kolaborasi ini bisa jadi bentuk yang baik untuk menawarkan karya seniman yang telah meninggal pada 1972 lalu itu sebagai bentuk aplikasi seni rupa pada fashion.
Muhammad Zaki atau yang lebih dikenal dengan nama panggung DangerDope atau DJ Rencong telah merilis album penuh pertamanya bersamaan dengan perhelatan Record Store Day bulan April lalu. DJ dari Aceh ini telah menekuni jalan bermusik lebih dari 10 tahun dengan berbagai gaya lewat proyek panggung dan kolaborasi yang beragam sebelum ia menelurkan rilisan pertamanya.
Bangunan dan kolase musik yang ia pilih disusun dari rekaman komposer tanah air seperti Bob Tutupoli dan Lilies Suryani atau juga rekaman siaran TV tanah air yang ia padukan dengan instrumen tradisional. Menarik bisa mendengar nuansa ritme hip hop di antara rekaman jadul dan bangunan musik tradisional yang dihasilkan oleh seruling atau rebab misalnya.
Ia mungkin bukan yang pertama memasukkan nuansa tradisional tanah air yang dipadukan dengan subkultur hip hop, namun karakter musiknya berangkat dari kecermatan memilih serta mengiris nya menjadi satu komposisi yang dinamis. Lewat label PasPas Records yang juga merilis EP Ramayana Soul April lalu, “Raw Chapter One” bisa jadi alternatif musik yang layak didengarkan dan mari berharap akan ada “Raw Chapter Two” yang akan dihasilkan oleh yang kerap memakai topeng gas saat manggung ini.
Melihat lebih dekat pada posisi perempuan di Indonesia bersama unit yang telah mengangkat dan menyuarakan kesetaraan bagi semua, Kolektif Betina. Tentang bagaimana mereka menyebarkan kesadaran ke seluruh penjuru negeri, sembari terus mengembangkan diri.
Tak ada yang meragukan reputasi Fatih Akin sebagai salah satu sineas jempolan di Benua Biru. Rekaannya terbentang sepanjang permadani pujian yang menyediakan kepastian kualitas. Menyimpan kritik universal terhadap fenomena sosial maupun merayu humanisme dalam cekung realitas. Cannes dan Locarno sudah merapatkan barisan pertanda sepakat mengakui kapasitasnya di atas penahbisan.
Film terbarunya yang berjudul () menjadi bukti terkini. Menuturkan cerita perjalanan sepasang remaja ingusan, Maik Klingenberg (Tristan Gibel) dan Andrej 'Tschick' Tschichatschow (Anand Batbileg), Fatih berupaya menjangkau daratan kesederhanaan ponten yang dibentuk lewat persepsi lingkungan sekitar. Menumpangi mobil Jeep berwarna putih hasil curian, mereka melakoni petualangan melintasi kawasan perbatasan seraya berharap menemukan pelarian yang menyenangkan.
menempatkan plot yang simplistis. Dua pecundang berkelana dan akhirnya meraih hikmah masing-masing laksana pengalaman terbaik sejauh hikayatnya. Fatih kiranya tak perlu menerapkan formula baku atau narasi surealisme saat mengisahkan babak demi babak. Selama durasi berjalan, kita akan disuguhi lelucon ringan yang kelak mengaduk tawa sampai ditakjubkan keelokan lanskap daratan hijau di bumi sana.
Menyaksikan sepintas mengingatkan pada dokumentasi dengan tambahan premis filsafat yang dikerjakan Fatih di medio 2007 hingga 2009. Mengendus keliaran, menelisik sarkasme, serta mengenyahkan beban kenyataan.
Fatih Akin | Tristan Gobel, Aniya Wendel, Justina Humpf, Anand Batbileg | Lago Film, Studiocanal Film | Germany | 93 minutes | 2016
In her open column submission, Fulca Veda highlights how the culture of boundaries have change for centuries. Through one of the most popular poem in modern literature, she tried to connect Robert Frost’ “Mending Wall” to understand the increasing chants of building walls by world leaders.
Direktori: Di Makassar, Melihat Harapan dari Indonesia Timur
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode kedua mini seri Direktori, kami berkunjung ke Bali untuk mencari apa yang tersembunyi di balik deru pariwisata dan melihat bagaimana keberagaman hidup di sana.
Episode pertama untuk mini seri terbaru kami untuk campaign #Direktorikota, kami memulainya dengan pertanyaan besar, apakah semangat kebersamaan masih ada di keseharian kita?