Berbicara tentang AXEAN Festival, kami mengundang beberapa alumninya, Batavia Collective dan The Panturas, untuk mengulik atmosfer di dalam festival musik tersebut yang seperti konsisten melambungkan nama-nama up-and-coming ke berbagai festival musik besar lainnya di mancanegara.
Dunia hip hop lokal kiranya sedang menuju ke fase yang berkembang. Talenta-talenta baru bermunculan membawa karakter masing-masing. Ada yang mengusung konsep lama, membaurkan diri dengan musik terkini, hingga mengubah pakem secara drastis. Tak masalah. Semakin beragam, semakin menyenangkan. Salah satu yang patut diwaspadai adalah Baskara Rizqullah atau akrab disapa dengan Basboi. Selepas meluncurkan nomor-nomor bernas seperti “Night Drive”, “These Kids”, serta “Out of Words”, kini ia kembali datang memikul karya terbarunya; “Cozy.”
Track “Cozy” bercerita tentang bagaimana Basboi menyikapi kehidupan yang harus ia hadapi dan betapa bersyukurnya ia dengan segala kenyamanan dalam hidupnya; mulai dari bertutur kata perihal kampung halaman di Medan hingga perasaan terhadap realita sekarang.
“Cozy” tersusun atas dentuman contrabass yang menimbulkan nuansa pada beberapa bagian lagu (terutama di bagian intro) dan mengingatkan pendengar kepada musik-musik jazz-klasik pengiring film Whiplash sebelum berubah menjadi hip hop elektronik dengan aroma modern di bagian dan
Lagu berdurasi 3 menit sekian detik ini menunjukan kemampuan Basboi dalam meramu adonan hip hop yang fresh. Sebagai pengingat, “Cozy” akan masuk dalam mini album Basboi bertajuk Night Drive yang rencananya rilis pada tahun ini.
Duo peramu multimedia lintas negara yang terdiri dari Grey Filastine () dan Nova Ruth () seolah tak kehilangan ide untuk menyuarakan teriak perlawanan melalui medium karya. Pasca merilis tiga sajian audio-visual yang tersusun atas The Miner (Maret 2016), The Cleaner (Mei 2016), dan The Salarymen (Oktober 2016), kali ini Filastine kembali hadir bersama single terbarunya yang bertajuk “Los Chatarreros.”
Video tersebut merupakan seri nomor empat dari Abandon; sebuah serial video musik yang mengambil tema utama tarian pembebasan dari kelas pekerja atau penindasan buruh. “Los Chatarerros” mengisahkan perjalanan pemulung besi tua yang hampir tiap malam menyisir sudut-sudut jalan Kota Barcelona. Berbekal troli usang, sang pemulung berjalan memburu rongsokan logam bekas, besi tua, hingga sampah-sampah perangkat keras yang teronggok di tempat umum. Pekerjaan yang kebanyakan dilakoni para imigran gelap dari Afrika ini berakhir di kala fajar menyingsing; ketika itu ia akan bergabung dengan para pemulung lainnya di sebuah kios besi tua untuk antri menjual hasil ‘panen’-nya.
“Orang-orang (pemulung) seperti itu sebenarnya tersebar di mana-mana, namun seperti tak terlihat mata. Kehadiran mereka juga terbilang sangat aneh untuk citra Barcelona yang sering dicap sebagai kota yang trendi dan berbudaya,” ungkap Grey Filastine yang sudah bertahun-tahun tinggal di kota Barcelona.
Abandon menyajikan profil pemberontakan para buruh bernilai rendah dalam konsep visual yang unik—mulai dari sosok pekerja tambang di Indonesia, petugas kebersihan di Portugis, karyawan kantor di Amerika Serikat, sampai pemulung logam bekas di Spanyol. Terdapat suar perlawanan yang coba diterjemahkan Filastine ke dalam bentuk karya yang dapat disaksikan berbagai kalangan.
Berjalan kaki di distrik seni Perth untuk menikmati deretan galeri, museum, festival hingga publik space yang merepresentasikan perkembangan subkultur seni di Australia. Berkat akses yang mudah, paparan hiburan progresif pun mampu diolah menjadi sebuah alasan untuk berwisata ke Perth. Artikel ini disponsori oleh Garuda Indonesia yang menawarkan harga tiket pesawat terbaik untuk melengkapi rencana perjalanan Anda.
Hampir semua anak pasti pernah mengalami perploncoan ketika memasuki perguruan tinggi - setidaknya bagi mereka yang memilih untuk mengikutinya. Prosesi ini seringkali mempraktekkan beragam hal kekanak-anakan atau tidak masuk akal, seperti memakai harus menunduk ketika bertemu senior, menggunakan seragam khusus, hingga memakan ginjal kelinci - seperti di film Raw karya Julia Ducournau.
Menggunakan genre horor kanibal untuk menyampaikan cerita, Julia memvisualisasikan film ini ala film Eropa, yakni dengan eksplorasi identitas diri seseorang yang dibayangi oleh keluarganya hingga elemen seksualitas dan kematian yang mengibaratkan kebebasan.
Mengutip perkataan Julia, kanibalisme yang ditunjukkan di film ini ditujukan untuk menyinggung hal personal dan pada diri manusia - tepatnya pada zaman ini. Hadir dengan visual Julia mencoba mengangkat isu bagaimana hasrat tersembunyi dalam tubuh seseorang dapat menyeruak ketika ia ditempatkan pada suatu situasi. Detail-detail seperti raut wajah dan gestur sang pemeran utama pun mampu memotret gejolak hasrat dan dalam waktu bersamaan hadir dengan penuh interpretasi: apakah ia mencoba untuk menahan hasratnya atau mencari cara terbaik untuk melampiaskannya secara manusiawi.
Terlepas dari jalan cerita yang penuh dengan intensitas dan nuansa erotis, sayang, pengemasan film terasa singkat bahkan meninggalkan kejanggalan dikarenakan masih banyak hal yang belum tergambarkan. Namun, mengingat ada beberapa orang yang pingsan ketika film ini diputar pada ajang Toronto International Film Festival (TIFF) 2016, nampaknya masih banyak yang belum paham maupun dapat memposisikan konsep kanibalisme dalam sebuah konteks, dan hal ini menjustifikasi jalan yang dipilih oleh Julia untuk membuat kemasan film ini lebih terasa “pop.”
Raw (2016)
Sutradara: Julia Ducournau
Sinopsis: Raw (2017) menceritakan tentang seorang mahasiswi vegetarian muda mengikuti sebuah ritual inisiasi, yang kemudian merubahnya menjadi seorang kanibal. (sumber: Film Bioskop)
Setiap musisi memiliki caranya masing-masing untuk merayakan rilisnya sebuah album. Menggelar konser penyambutan, mencari cara yang unik, atau bahkan mungkin tidak melakukan apa-apa. Semua bebas dilakukan asal niat utama dalam melepas album sudah terpenuhi.
Tapi bagi Adrian Yunan, hadirnya album musti dirayakan dengan seksama. Dalam rangka pelepasan debut album solonya yang bertajuk "Sintas", personil Efek Rumah Kaca ini menggelar helatan syukuran bersama teman-teman difabel netra pada 4 Juni mendatang. Kegiatan akan dibagi menjadi dua bagian, yakni menonton film serta dilanjutkan penampilan musik selepas buka puasa.
Untuk kegiatan menonton film sendiri akan dipandu bersama program Blind Date Sinema yang diinisasi oleh Pavilliun 28. Blind Date Sinema adalah media di mana pihak Pavilliun 28 berupaya menciptakan ruang dan kesempatan bagi semua teman-teman difabel netra untuk bisa menikmati film karya sineas lokal. Dalam prosesnya, kegiatan Blind Date Sinema menggunakan peran relawan untuk membantu menjelaskan atau menterjemahkan bahasa visual menjadi bahasa verbal dengan menceritakan langsung saat film berlangsung melalui indera pendengar.
Simak penuturan Adrian mengenai album solonya melalui video berikut:
Grounded for the day.
Listen to this mixtape on Whiteboard Journal's Mixcloud.
01. Sharon Van Etten - The End of The World
02. Real Estate - Serve the Song
03. Twin Sister - Poor Relations
04. Bloc Party - The Love Within
05. James Blake - Life Round Here
06. Julien Dyne - Fallin' Down
07. Andrew Ashong - Never Dreamed
08. Wings - Arrow Through Me
09. Sondre Lerche - Modern Nature
10. Kadhja Bonnet - Nobody Other
Direktori: Di Makassar, Melihat Harapan dari Indonesia Timur
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode kedua mini seri Direktori, kami berkunjung ke Bali untuk mencari apa yang tersembunyi di balik deru pariwisata dan melihat bagaimana keberagaman hidup di sana.
Episode pertama untuk mini seri terbaru kami untuk campaign #Direktorikota, kami memulainya dengan pertanyaan besar, apakah semangat kebersamaan masih ada di keseharian kita?