Latest stories

Column
22.06.17

Sanggraha

Pada submisi open column-nya, Nugroho menghidupkan kembali ingatan-ingatan tentang Stadion Lebak Bulus. Tentang teriakan yang dulu bersumber dari bangku penonton, juga aksi hingga sejarah yang pernah tercipta di atas rumputnya.

21.06.17

Lorde dan Pemahaman Pasca Bersembunyi

Di saat teman-temannya sibuk memilih gaun dan mencari pasangan untuk menghadiri pesta pelepasan, Ella Marija Lani Yelich-O'Connor justru berdiam diri di kamarnya. Ia seolah tak ambil pusing dengan acara bergengsi bagi remaja berusia 17 tahun dan meneruskan membaca Anderson, Carver, dan Salinger. Baginya, memenuhi isi kepala merupakan prioritas utama yang kelak jadi bekal terbaiknya dalam mengarungi dunia musik dan menciptakan salah satu karya besar berjudul Pure Heroin. Semesta mengenalnya sebagai Lorde; gadis belia asal Takapuna, Selandia Baru yang menghentak kekagetan massal kala melepas album perdana dengan hits “Royals.” Di usia yang kurang dari seperlima abad, Lorde sudah meraih segala bentuk kesuksesan; menguasai Billboard, tur dunia, serta merengkuh piala Grammy. Semua dilakukan begitu cepat atau jika tak ingin disebut mendadak, sebelum akhirnya ia memutuskan kembali ke kehidupannya yang normal. Namun empat tahun kiranya waktu yang cukup guna melepas bermacam atribut masa silam. Ia tak dapat berlama-lama sembunyi dari kejaran penantian dan lantas mewujudkan album keduanya yang baru dirilis beberapa hari yang lalu. Melodrama, begitu judul albumnya tertera, memuat sebelas nomor yang kaya warna art pop sampai indietronica. Menggandeng Jack Antonoff selaku produser, Lorde berhasil menaikan kapasitasnya ke level yang mengagumkan. Hal tersebut dapat dilihat tatkala ia menyanyikan “Perfect Places” dengan penjiwaan yang terlampau sukar ditebak. Suaranya membelah lautan kemustahilan; terkadang meletupkan secerah harapan, terkadang pula membunuhnya secara perlahan. Tak ada yang mengerti kegelisahan seperti apa di balik kontur electro pop berdurasi empat menit ini. Tapi mengapa musti ambil pusing? Setidaknya dengan kehadiran Melodrama kita paham ke mana Lorde membawa seluruh angannya yang setapak demi setapak menerangi isi batinnya.

21.06.17

Seni dan Realita Virtual

Seni memang tidak bisa dikatakan sebagai suatu kesatuan yang tetap, tapi justru layak diapresiasi dengan kedinamisannya. Dinamika kontemporer dari senilah yang ingin ditunjukkan melalui seni Acute Art di Stockholm tahun ini, di mana beberapa seniman ternama seperti Marina Abramović, Jeff Koons, dan Olafur Eliasson berupaya menciptakan suatu realita virtual yang ditampilkan bagi masyarakat umum untuk menggugah pemahaman dan perasaannya melalui ilusi akan realita yang bertemakan eksistensi, perubahan iklim, dan pencarian pelangi di tengah rintik-rintik air. Bentuk seni baru ini memang bertujuan untuk membuat penikmatnya merasa seolah berada di tengah suatu ilusi akan realita yang digambarkan melalui sebuah alat interaktif. https://casinoreg.net provides inexperienced players with the most detailed casino FAQ virtual, menerima keberadaan dari ilusi realita yang disuguhi jenis seni seperti inilah yang justru berkesan, lebih dipahami, dan bisa tetap sebagai lebih dari sekadar pameran seni ‘asal lewat’ saja. Kehadiran pada Acute Art ini menjadi wujud nyata ketahanan seni di masa digital bahwa seni mampu progresif dalam merespon zaman - dan menggugah pikiran dan perasaan melalui realita yang diciptakannya sendiri.

Art
21.06.17

Jelajah Alam bersama Nicholas Saputra

Profesi sebagai aktor tak menutupi keingintahuan Nicholas Saputra untuk mengeksplorasi beragam tempat lewat traveling. Kami mewawancarai Nicholas Saputra di sela kesibukannya untuk bertanya tentang responsible travel dan proyeknya bersama Angki Purbandono yang dipamerkan di Art Jog 2017.

20.06.17

When Sports and Sexuality Married

Two seemingly contradicting topics that aren’t supposed to be naturally related to one another. However, Japanese artist Yuki Kobayashi begs to differ by using sports as a platform for his art on sexuality. Believing that sports is an area where there are still constant racial and gender stereotypes, Kobayashi attempts to lead his audience into thinking of the body just as it is, not as a subject of classification by gender-divided clothes. He explains, “Let's just see it as a real body – this is what you’re hiding under the clothes you choose. It's a body and you can't choose how you're born. That's your original skin.” Kobayashi also believes that sexuality should be more irrelevant in sports. Explorative and experimental as he is, he tries to challenge ideas that the mind has on the body through wearing female clothes for his art inhibition. Perhaps many would wonder, wouldn’t that turn him into some sort of a cross dresser? Wouldn’t it decrease his masculinity to some extent? And more similar questions that like it or not, becomes proof that society is still unable to separate one’s sex with simply their preferences; the clothes they choose to wear, the way they choose to behave, how they choose to engage in romantic and sexual relationships. On the contrary to these biases, Kobayashi believes that the body’s sex would not go through any change regardless of the gender that has been assigned to the clothes that the body wears. Therefore, he tries to explore any possibilities of clothes being more neutral, especially in sports. His point may be proven relevant in a society where the human body is often not seen as an example of raw, natural product of biology. But rather, the body becomes a subject of a certain boy/girl label that further dictates how the body should behave. The question then remains; can society free its mind and begin to release the human body from the binding chains of gender classifications?

Soundclass
20.06.17

Reuben Elishama

You might be familiar with Reuben Elishama from either A. film and television, or B. Music. The actor and musician (primary songwriter, guitar player, and singer of his band - The Alastair) stopped by Whiteboard Journal's office and had a chat with our host Bergas about his favorite songs. For those who do not know, Reuben is very passionate about music - in fact, it was so difficult for him to select that he brought 7 songs with him! Click to listen and enjoy! 01. The Sundays - You're Not the Only One I Know 02. Interpol - Leif Erikson 03. Tame Impala - Feels Like We're Only Going Backwards 04. Rhye - The Fall 05. Warpaint - Lissie's Heart Murmur 06. Deerhunter - Agoraphobia 07. Little Dragon - Fortune

Load More Articles whiteboardjornal, search
whiteboardjournal, play
Music
NOW PLAYING

Screen Time with .Feast & The Panturas

Invent Your Future

Temukan siapa dirimu dan bagaimana karaktermu menentukan arah masa depan.


Tentukan Di Sini whiteboardjournal, search

Follow us on social media

Instagram whiteboardjournal, search Facebook whiteboardjournal, search Twitter whiteboardjournal, search

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.