Berbicara tentang AXEAN Festival, kami mengundang beberapa alumninya, Batavia Collective dan The Panturas, untuk mengulik atmosfer di dalam festival musik tersebut yang seperti konsisten melambungkan nama-nama up-and-coming ke berbagai festival musik besar lainnya di mancanegara.
Kehadiran museum sebagai wadah yang menawarkan retrospeksi, mampu memberikan pengalaman unik bagi wisatawan yang memilih destinasi liburan di Sydney. Tidak hanya menampilkan dunia alternatif kepada wisatawan, deretan museum yang ada mampu memberikan substansi dan interpretasi berbeda ketika berlibur ke Sydney. Rasakan secara langsung pengalaman seni ala Sydney dengan penerbangan bintang 5 bersama Garuda Indonesia.
Seni memang tak mengenal batasan. Ia dapat mendobrak sekat-sekat yang kiranya sulit diterobos demi mendapatkan esensi maupun filosofis kuat di dalamnya. Hal tersebut dapat dilihat dari salah satu subjek pameran Skulptur Projekte Munster; sebuah acara seni tahunan yang diinisiasi oleh Kasper Konig di Münster, Jerman berjudul After ALife Ahead karya seniman asal Prancis, Pierre Hyughe.
Dalam karyanya, Hyughe membuat sesuatu yang besar, kompleks, dan rumit secara teknis maupun penyampaian pesan. Ia menyulap gelanggang olahraga yang tidak terpakai menjadi wahana kreasinya. Tak main-main bereksplorasi, Hyughe menempatkan semacam pusat pengembangbiakkan sel kanker dengan kumpulan kehidupan yang saling berinteraksi secara langsung maupun tidak langsung.
Walaupun terdengar mengerikan, nyatanya Hyughe juga menyertakan instrumen pengetahuan yang dapat diakses melalui aplikasi buatannya. Mulai sekedar mengetahui pola alami dalam spektrum akuarium, memonitori pergerakan bakteri, mengawasi tingkat karbondioksida, sampai memastikan data algoritma yang ia pasang guna mengukur tingkat vitalitas rata-rata maupun capaian informasi pada inkubator sel berjalan sedemikian rupa.
Sebelumnya dalam documenta 13 dan Palais de Tokyo, Huyghe juga pernah bereksperimen dengan kegilaan seperti ini. Ia tak ragu mengelola interaksi algoritma dan sel kanker dalam pengendalian kecepatan replikasi. Selain itu, ia membangun lingkungan dengan patung berkepala lebah serta dua bulldog sebagai pusatnya lantas orang-orang mengelilinginya seolah sedang terjadi absurditas di depannya.
Dengan After ALife Ahead Huyghe hendak menyampaikan isi pikirannya menyoal kehidupan dalam lingkup luas. Bahwasanya di balik proses yang melibatkan pelbagai perkakas berat serta formulasi sulit macam perhitungan dan lain-lain, kita, manusia, hanya bisa mengendalikan sebagian kecil dari inti kehidupan. Yang bisa kita lakukan hanya mencampurinya dengan teknologi atau mengintervensi dengan bumbu politis. Dua hal yang membuktikan jika semua tak berakhir baik-baik saja.
Sudah banyak kasus mengenai keluarnya salah satu anggota band dengan alasan ingin fokus menggarap proyek pribadi. Hal tersebut pula yang terjadi pada Peter Sagar; gitaris Mac DeMarco. Di tahun 2014 Sagar membulatkan tekad untuk mundur dari naungan Mac DeMarco guna meneruskan -nya yang sudah dikerjakan sejak tahun 2012.
Membawa entitas HOMESHAKE, dalam rentang waktu 3 tahun Peter telah melepas total tiga buah studio album; In the Shower (2014), Midnight Snack (2015), serta yang terbaru Fresh Air (2017). Walaupun mengusung tema Peter tak sendirian. Ia turut dibantu oleh Mark Goetz, Greg Napier, dan Brad Loughead dalam meramu karya-karyanya yang berlandaskan synth pop hingga alternative R&B.
Berbicara tentang album barunya, kita akan menjumpai banyak kontemplasi yang unik. Fresh Air memuat 14 (empatbelas) nomor yang memiliki karakter kuat nan kaya eksprimen. Misal di track “Hello Welcome”, HOMESHAKE sedikit memberikan ketukan downtempo dengan sisipan nafas jazz di petikannya. Atau “Every Single Thing” yang membaurkan aroma soul dengan pedal yang samar-samar. Dan yang terbaik tetap jatuh pada “Wrapping Up”; komposisi pengkultusan lo-fi, pola sampai abstraknya mesin efek.
Dari sepetak kamar di kawasan suburban Quebec dengan peralatan seadanya yang mungkin dipinjam dari studio sebelah apartemen, Peter dan teman-temannya membuat karya orisinil tiada dua. Membicarakan masalah identitas, bosannya kancah lokal setempat, maupun mencela habis-habisan konsepsi mengenai politik terdengar lebih menyenangkan dengan balut musikalitas yang berkelindan genre. Jadi, masih menyimpan berapa ratus yang belum diedarkan ke khalayak, Peter?
Fresh Air by HOMESHAKE
Muhammad Fahri adalah gitaris dari unit horror punk, “Kelalawar Malam”. Di panggung, ia dikenal dengan nama “Fahri Al-Maut” dimana ia bersama Kelalawar Malam menawarkan bangunan musik dengan ritme dan nuansa horror yang mencekam. Dalam episode Gimme 5 kali ini, kami mengundang Fahri untuk memilih lima album musik pilihannya.
Berat, agresif, sekaligus melodis. Lagu - lagu di album ini cocok dinyanyikan bersama sembari mengasah kapak perimbas dan menunggu serangan dari dusun tetangga.
Remission mungkin terdengar lebih laki - laki, tapi Crack the Skye membuat saya ingin mempelajari ilmu kebalnya Grigori Rasputin walaupun katanya itu hanya sebatas mitos.
Jangkauan vokal bagai orang kerasukan, instrumen yang tampak lebih pantas digunakan untuk berburu macan di pedalaman, dan pertunjukan yang lebih mirip ritual tolak bala ketimbang sekedar konser musik. Senyawa adalah sekte.
Lebih dari sekedar grup world music, Suarasama memainkan komposisi yang variatif, poliritmik, namun tetap terdengar natural. Album ini seketika membuat saya menjadi fanboy Irwansyah Harahap.
Adik saya yang pertama kali memperkenalkan saya pada Rabu. Debut album ini disertai dengan kemasan yang menarik. Besek berisi cakram padat dan perlengkapan sesajen sederhana. Putar album ini untuk menghadirkan Asu Baung dalam tidur mu.
Happy holiday!
01. Donald Byrd - Love Has Come Around
02. George Duke - Brazilian Love Affair
03. Rick James - Give It to Me Baby
04. Donna Summer - Spring Affair
05. Roy Ayers - Running Away
06. Marvin Gaye - Got to Give It Up
07. Letta Mbulu - Nomalizo
08. Parliament - Give Up the Funk
09. Sister Sledge - He's the Greatest Dancer
10. War - Low Rider
Surely we’ve all seen at least a couple of Getty’s stock photos at some point. However, perhaps it has failed to come to most of society’s attention that those photos may be too ‘generic’, too ‘bland’, and don’t inclusively reflect the actual picture of society race-wise. In reality, society has more colors, more vibrant characters, and certainly more to include in photos that supposedly represent society’s daily, regular endeavors.
British-Ghanaian photographer Campbell Addy attempts “to highlight and celebrate diversity in society and ultimately drive positive change in visual language," as he puts it, in order to ‘recolor’ Getty’s stock photos to become more inclusive of society. By further examining the complexities of racial identity, Addy also attempts to explore more of not only race but also sexualities. It may be concluded that the upcoming Getty images would no longer simply be mere illustrations of society’s daily activities, but holds the grander purpose to capture society’s colors and energies beyond the illustrative functions of a photo.
The 24 year-old London based photographer’s fresh new intakes of what to capture from society may be something to look forward to. After all, they may hold more than just posing models; they may hold ‘stories’ of today’s reality, which can be seen simply by paying attention to the colorful angles captured in them.
Check out the complete collection here.
Direktori: Di Makassar, Melihat Harapan dari Indonesia Timur
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode kedua mini seri Direktori, kami berkunjung ke Bali untuk mencari apa yang tersembunyi di balik deru pariwisata dan melihat bagaimana keberagaman hidup di sana.
Episode pertama untuk mini seri terbaru kami untuk campaign #Direktorikota, kami memulainya dengan pertanyaan besar, apakah semangat kebersamaan masih ada di keseharian kita?