Berbicara tentang AXEAN Festival, kami mengundang beberapa alumninya, Batavia Collective dan The Panturas, untuk mengulik atmosfer di dalam festival musik tersebut yang seperti konsisten melambungkan nama-nama up-and-coming ke berbagai festival musik besar lainnya di mancanegara.
Namanya mungkin hanya diketahui segelintir orang. Tapi yang ia keluarkan mampu membuat siapapun yang baru mendengarnya merasa "terangkat." Mungkin ada kata lain yang lebih tepat untuk menggambarkan rasa yang dimaksud, tapi jika ingin dipaksakan, sesungguhnya efek yang ditimbulkan para generasi hip hop sekarang - salah satunya Joe Million - tidak bisa dideksripsikan secara ajeg.
yang tergabung dalam trio Medium Rare ini baru saja mengeluarkan materi baru yang diberi judul "Ia Nanti." Menggunakan buatan produser asal Medan, Drop D Soundz dan lirik deksriptif tentang kebiasaan orang-orang yang cuma omong doang - respon klise seperti "iya iya, nanti ya" - lingkungan sekitar Joe sampai kebosanan hidup di kota.
Terasa kurang 'jalanan'? Video yang dibuat untuk melengkapi lagu ini diambil di tengah BKT (Banjir Kanal Timur) lengkap dengan dari David Yoku aka AYAW dan kemunculan , seperti JuTa dan Asto Panjaitan. Oh, buat para , tentu tahu betapa padatnya BKT pada malam hari dengan adanya pasar kaget. Ya, berantakan, tapi Joe bisa mengubahnya jadi Parc 19 - setidaknya di liriknya.
Pada column kali ini, Muhammad Hilmi menuliskan kegelisahannya mengenai pola di era modern yang mengesampingkan interaksi sosial antara individu yang tinggal di ruang hidup yang sama. Tentang bagaiamana individualitas bisa menjadi teror yang mengerikan, dan jarak yang mendekatkan, namun justru dimaknai sebagai jurang yang memisahkan.
Karya terkini dari rock Individual Distortion ini telah dirilis secara digital pada 5 Juli melalui situs Bandcamp-nya. Sebuah hasil imajinasi yang diharapkan dapat menunjukkan sisi lain dari Individual Distortion sebagai sebuah hembusan nafas segar dari nuansa yang tidak dapat ditemukan di album-album sebelumnya. Selain mencakup beberapa karya orisinil dari Individual Distortion, “Irrelevant” juga berisi sebuah lagu dari band asal Amerika Serikat Snapcase yang bertajuk “Twentieth Nervous Breakdown”.
Dalam “Irrelevant” dapat ditemukan berbagai cerita dari Individual Distortion, seperti "The Witching Hour of Jakarta" yang menjadi tajuk bagi sebuah potret akan Jakarta sendiri. Diwarnai dengan kekelaman akan sisi gelap dari Jakarta, karyanya satu ini tentunya menjadi salah satu bukti bahwa “Irrelevant” tetap akan menjadi relevan bagi audiens. "The Witching Hour of Jakarta" dan beberapa tajuk lainnya menjadi sebuah pendatang baru bagi skena musik Indonesia yang mungkin dibutuhkan bagi para pencari orisinalitas dan eksplorasi akan sisi yang gelap dari realita sehari-hari.
Irrelevant by Individual Distortion
After 25 years of being in the rap-game limelight, Snoop Dogg certainly made a statement that he’s still not going anywhere anytime soon. With Neva Left, he shows the world just how he still has it going on, and that age certainly is never going to be a stopper for his edge and mark in the industry.
While containing some reminiscence of his old glory days through his street-style rhymes and the nostalgic record cover of him back in ’93, Snoop Dogg manages to keep it fresh by not giving in to the perhaps common temptation among aged rappers to try really hard to sound young or dodging his age. Perhaps this is how he still wins a place within the audience’s hearts; let’s face it, nobody wants to hear a cringe-worthy or try-too-hard attempt of sounding like a cool old guy. It can be heard just how he still has his boogie on in "Bacc in da Dayz," and how he’s able to incorporate his concerns on current social issues on "Lavender (Nightfall Remix)." Through the bounce of the playful beats and fresh lyrical intakes, Snoop Dogg certainly reminded his audience why he’s still so relevant.
Overall, Neva Left is definitely Snoop Dogg’s proof that despite the common misconceptions, age is but a number in the rap game, as long as you’ve got the right moves to stay on track. 25 years into the scene and still sounding fresh as always, Snoop Dogg really ‘neva left’ and won’t be leaving anytime soon.
Wahyu Aditya, akrab disapa Wadit adalah salah satu penggerak dunia animasi lokal. Bersama Hellomotion yang digagasnya, ia telah mendedikasikan diri untuk melahirkan talenta desain baru yang berkualitas. Whiteboard Journal berbincang dengannya mengenai pendidikan desain dan potensi animasi lokal untuk membuat karya ala Pixar atau Ghibli.
A picture is worth a thousand words. In the case of Kendrick Lamar’s new video for "Element," perhaps the moving imagery that are based on the works of photojournalist Gordon Parks is worth more than just words; they’re worth emotions. The video definitely went the extra mile to create an accurate visualization of Element’s lyrics, which are the further exploration of the dynamics of black communities in the US.
The use of Parks’ iconic photographs (such as the row of black nuns dressed in white) could only be done justice by the lyrics. Through this song, the messages and emotions behind Park’s photographs are witnessed to come to live—of course, one of the reasons being that the photographs are shown to be not motionless and lively. But moreover, the emotions behind the photographs are emphasized along with Elements, with the words morphing together with the imageries, creating a whole new perspective on the issue while also keeping the feel of the rawness and originality of the images.
With the ever-evolving concepts for his recent videos, Kendrick Lamar presents his audience with this aesthetic piece of ‘moving’ tribute to the black culture. And this song definitely does justice not only in addressing sensitive social issues, but also bringing Parks’ imageries into notice to celebrate its emotions and presence of identity.
Direktori: Di Makassar, Melihat Harapan dari Indonesia Timur
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode kedua mini seri Direktori, kami berkunjung ke Bali untuk mencari apa yang tersembunyi di balik deru pariwisata dan melihat bagaimana keberagaman hidup di sana.
Episode pertama untuk mini seri terbaru kami untuk campaign #Direktorikota, kami memulainya dengan pertanyaan besar, apakah semangat kebersamaan masih ada di keseharian kita?