Latest stories

17.07.17

Quick Review: Minimalism

Apa jadinya jika seseorang harus melepaskan segala hal yang ia punya untuk menjalani hidup lebih sederhana - lebih minimalis? Itulah premis yang dibahas dalam sebuah film dokumenter berjudul Minimalism. Mengingat paham tersebut sebenarnya telah diaplikasikan oleh para biksu terdahulu, nyatanya kini minimalisme dalam konteks modern membutuhkan usaha lebih besar. Dokumenter yang menyajikan paham atau gaya hidup minimalis ini hadir dengan ragam “teks,” mulai dari mereka yang hidup sendiri, berkeluarga, hingga yang hanya hidup dari 2 buah Adanya dari kondisi Black Friday dan bahkan ketika Apple membuka toko untuk meluncurkan iPhone terbaru menunjukkan bahwa publik terbiasa untuk hidup konsumtif dan membeli hal yang mereka anggap penting walau nyatanya mereka tidak atau belum membutuhkannya. Ironis menjadi kata tepat yang bisa menggambarkan kondisi publik hari ini, berdasarkan refleksi hidup para “minimalist” di film ini. Selain menggambarkan akar dari konsumerisme, lewat Minimalism, penonton juga akan dihadapi dengan penjelasan logis dari para pakar dan peneliti yang membuktikan bahwa hidup minimalis dapat meningkatkan hubungan sosial antara sesama hingga kesehatan seseorang. Walau terdengar klise dan mungkin pengambilan sikap untuk hidup sederhana ini baru muncul jika seseorang dihadapi oleh sebuah masalah, tidak ada salahnya untuk mencoba mengesampingkan komentar orang - karena sesungguhnya tidak ada memperhatikan ketika Anda hidup selama 3 bulan dengan 33 buah saja dan pergi ke kantor untuk bertemu banyak kolega. Minimalism: A Documentary About the Important Things (2016) Sutradara: Matt D'Avella Sinopsis: Bagaimana caranya hidup Anda jadi lebih baik dengan sedikit barang? Minimalism: A Documentary About the Important Things membahas segala hal tentang minimalisme dengan membawa penonton ke dalam hidup para mulai dari keluarga, arsitek, seniman, jurnalis, peneliti dan bahkan mantan Wall Street yang mencari makna hidup lewat minimalisme. (rottentomatoes.com)

17.07.17

Ragam Ekspresi dalam Hip Hop

Setelah mengalami masa kejayaan di tahun 90-an, hip hop kembali menyemarakkan skena musik Indonesia. Hadir dengan warna baru dan didukung dengan tren subkultur yang ada, hip hop hari ini mampu merepresentasikan para emerging artist yang ingin menyuarakan kegundahan dan menunjukkan passion dalam bentuk karya padat referensi.

16.07.17

Sex Shop Turned Art Gallery

With a little dose of magic here and there, apparently what once used to be an illegal sex shop is able to turn into an aesthetic art gallery. Albeit measuring as a rather ‘efficient’ space at just 20 square meters, “Cut” definitely deserves recognition with its impressive room division and soothing choice of tones. Intended to provide space and create an exhibition place out of the town itself, this gallery invites artists in residence as a part of the annual Koganecho Bazaar in Japan. The gallery attempts to alter the perception of a hidden, negative activity into an open and positive one, and it’s certainly working. Persimmon Hills as the architect bureau responsible for the transition proves that a certain space’s soul heavily relies on the ambience and vibes associated with it. The wall dividing the two rooms of the gallery could almost be seen as an interpretation of how there are two sides to everything, including space, and it all depends on how one chooses to perceive it; positively or negatively. Art is supposed to be about the rebirth of many emotions, and the alteration of what once was a negative perception of “Cut” into a welcomed one certainly proves it. The redefinition of what once was, and what it has the opportunity to become just goes to show how art is all about a play on perception.

16.07.17

Menebak Montase The National

Adegan dibuka dengan perputaran sosok anak kecil berambut pendek di bawah pantulan warna biru yang berlumur putih abu-abu. Sejurus kemudian, vokal Matt Berninger masuk secara perlahan ditemani ketukan Bryan Devendorf yang repetitif. Seperti biasanya, tekstur suaranya begitu berat dan cenderung datar namun di lain sisi menyimpan kharisma yang dalam. Lantas aliran rock yang sedikit mengalir setelahnya. Kira-kira seperti itu gambaran video klip terbaru dari The National yang bertajuk “Guilty Party.” Track tersebut merupakan salah satu komposisi yang terdapat di album baru mereka, Sleep Well Beast. Didominasi yang cukup abstrak dan bergerak cepat di tengah sirkulasi seorang bocah hingga sepetak lapangan membuat “Guilty Party” seakan menyembunyikan banyak tafsir. Entah, hanya Berninger yang paham. Rencananya, album Sleep Well Beast akan dirilis pada 8 September 2017. Memuat 12 nomor, The National menggandeng label 4AD sebagai partner pendistribusian. Namun pertanyaannya; apakah Sleep Well Beast bakal berujung layaknya Alligator (2005) yang penuh intimasi atau justru berpendar bak High Violet (2010) yang tak tertebak? Kiranya kita semua musti sabar hingga beberapa bulan ke depan.

16.07.17

What Used to be Pablo Escobar’s Mansion

The alteration of the notorious drug-lord’s mansion into a luxurious boutique hotel will certainly be inviting limitless attention to the result, which serves as an aesthetically-pleasing holiday destination displaying only art dealer Lio Malca’s impeccable taste within its walls and rooms. Located in Tulum, Mexico, the ‘Casa Malca’ estate was bought by Malca in 2012 and has since been on a journey to ‘come back to life.’ With its floors, walls, and spaces filled up with only chic decors, perhaps the temptation to marvel at its glamorous elements would make it difficult to imagine that it once belonged to crime-related big shot. Malca certainly has succeeded in redefining the space, reinterpreting it into a wonder-worthy home for art and returning its soul.

15.07.17

Jazz dari Negara Matahari Terbit

Apabila di wilayah barat kita mengenal pianis jazz semacam Bill Evans, Herbie Hancock, atau Thelonius Monk yang tersohor dengan nama besarnya, maka di kawasan Asia khususnya Jepang, sosok Ryo Fukui tak dapat dipisahkan dari telinga penikmat jazz kebanyakan. Kualitasnya jangan disangsikan. Jemarinya bebas berkehendak menguasai tiap bongkah tuts berwarna hitam putih dan menari lincah di atasnya. Selama perjalanan bermusiknya, Ryo telah mengeluarkan lima buah album; Scenery (1976), Mellow Dream (1977), My Favourite Tune (1995), In New York (dibuat bersama Leroy Williams dan Lisle Atkinson pada 1999), serta A Letter from Slowboat (2015). Catatan di atas tergolong sedikit untuk ukuran pianis legenda sepertinya. Namun percayalah, keseluruhan karyanya adalah tonggak penting bagi perkembangan musik jazz di Jepang. Dari kelima albumnya, Scenery dirasa menjadi titik monumental. Baik aransemen maupun instrumentasi yang ia gubah terdengar orisinil. Dibuat kala Ryo berumur 22 tahun, Scenery menggambarkan kejeniusannya dalam meramu komposisi jazz standar yang tak sebatas berpatokan pada notasi umumnya. Sesekali ia mengikuti arus ketika memainkan “It Could Happen To You” dan tak jarang pula ia meluapkan keliarannya tatkala mementaskan “Scenery.” Meskipun keenam nomor di Scenery menarik disimak, bertajuk “Early Summer” tetap menyuguhkan atensi tersendiri di samping performa menakjubkan. sepanjang 11 menit ini membuktikan kapasitas seorang Ryo Fukui di mana ia menumpahkan segala rupa variasi dalam wujud kentalnya progresifitas di balik aroma blues hingga samba. Mendobrak batasan demi menciptakan sekelumit keindahan memang perlu; dan Ryo Fukui sukses melakoninya.

Load More Articles whiteboardjornal, search
whiteboardjournal, play
Music
NOW PLAYING

Screen Time with .Feast & The Panturas

Invent Your Future

Temukan siapa dirimu dan bagaimana karaktermu menentukan arah masa depan.


Tentukan Di Sini whiteboardjournal, search

Follow us on social media

Instagram whiteboardjournal, search Facebook whiteboardjournal, search Twitter whiteboardjournal, search

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.