Berbicara tentang AXEAN Festival, kami mengundang beberapa alumninya, Batavia Collective dan The Panturas, untuk mengulik atmosfer di dalam festival musik tersebut yang seperti konsisten melambungkan nama-nama up-and-coming ke berbagai festival musik besar lainnya di mancanegara.
Latar belakangnya di psikologi tidak membatasi kurator muda asal Filipina, Renan La-ruan dalam mengkritisi karya seni dengan riset dan standar berbeda. Whiteboard Journal menemui Renan sebelum pameran OK. Video: OK. Pangan untuk menanyakan pandangannya tentang sifat video art dan politik pangan yang kini seksi dikembangkan menjadi sebuah karya seni.
Ruci Art Space membuka pameran berjudul “I too am untranslatable” pada tanggal 14 Juli lalu. Pameran tersebut dikuratori oleh Roy Voragen yang melibatkan empat seniman asal Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta. Setiap seniman menampilkan keahliannya masing-masing; Deden Durahman (fotografi), Jabbar Muhammad (seni lukis), Kevin Atmadibrata (seni pertunjukan), serta Theresia Agustina Sitompul (instalasi).
Pameran ini mengeksplorasi perjalanan tiap artis untuk meleburkan batasan dan kebebasan tubuh tanpa mempengaruhi satu sama lain. Deden Durahman menampilkan dua seri yang membahas representasi diri sekaligus memperlihatkan krisis dalam kondisi terkini masyarakat. Kemudian Jabbar Muhammad meneruskan fokus yang sudah digarap sejak 2015 bertajuk Eve, yakni tentang konsep dualisme antara model maskulin dan feminin.
Kemudian Kelvin Atmadibrata menyuguhkan karya yang menautkan seni pertunjukan, kolase kertas, dan narasi cerita pribadinya. Terakhir, Theresia Agustina Sitompul menunjukan sepasang jalinan keterkaitan di tengah terjangan delusional yang kerap menghampiri pikirannya sembari mempertanyakan sensibilitas pikir dalam medium berkesenian.
Keikutsertaan Ruci dalam mendukung pameran ini adalah untuk membantu meningkatkan kesadaran terhadap seni budaya Indonesia yang terus berkembang. Di lain sisi, Ruci ingin berandil dalam menciptakan sebuah wadah antara seniman dan publik dengan menyediakan ruang bereksperimen, mengembangkan, serta mengubah gagasan menjadi simbol maupun objek yang representatif.
-
14 Juli - 13 Agustus 2017
Senin-Minggu
11:00 - 19:00
Ruci Art Space
Jl. Suryo No. 49
Jakarta
Sebuah emosi yang menghasilkan inspirasi memang tidak terbatas, ia bisa berasal dari mana saja dan datang kapan saja. Menginterpretasikan emosi dan jiwa dari Istanbul mendorong Xavier Thomas alias Debruit untuk menumpahkan ilhamnya ke dalam sebuah materi baru, Gelecek. ‘Warna’ kontradiktif dari Istanbul, yang merefleksikan kejayaan masa lalu dan optimismenya akan masa depan, serta keindahan dari sedikit bumbu kegelapan darinya menjadikan Instanbul sebuah komposisi yang multimensional sendiri. Sebuah pengaruh yang pada akhirnya menyulut imajinasi nan liar yang menyertai interpretasi akhir dari Debruit.
Hasilnya ialah Gelecek yang turut mewariskan warna liar tersebut dalam tiap nada dan alurnya. Sebuah musikalisasi akan Istanbul yang tak berkata, namun tetap bisa dengan cukup jelas memberikan tidak sedikit goresan akan warna yang dimaksudkan Débruit di dalamnya di benak para pendengarnya. Gelecek sendiri bisa menjadi bukti bahwa memang tiap kota memiliki ‘kepribadian’-nya tersendiri, yang bisa menjadikan sebuah inspirasi bagi karya yang bisa ‘berbicara.’
Sebuah serial padat dengan isu dan tren masa kini bisa menjadi rangkuman tepat untuk Easy. Menonton pertamanya serasa menyaksikan kehidupan dan para "orang dewasa" yang mencoba untuk bertahan bersama di zaman yang terus bergerak. Tentunya batasan dalam lingkungan sosial yang biasa kita hadapi menjadi lebur di sini. Bukan berarti karena Easy sekadar fiksi yang menggemborkan peleburan dunia maya dan nyata atau percintaan sesama jenis, namun dikarenakan tiap individu yang menjadi sentra cerita saling terkait membuat penonton berspekulasi - mungkin memang orang asing di antara kita selama ini terkait satu sama lain.
Melihat banyaknya elemen yang sepatutnya mendapatkan porsi lebih - ada salah satu episode yang diisi oleh Emily Ratajkowski sebagai penggila - serial ini memiliki daya tarik lebih. Tiap episode mampu memberikan kesan dan lebih tepatnya merasa kalau transisi dan revolusi teknologi yang terjadi saat ini sesungguhnya mampu membuat siapapun terlena atau bahkan merugi. Butuh konteks yang pop? Coba pikir kembali fungsi Tinder lalu tonton episode 6.
Easy (2016)
Sinopsis: Cerita tentang sekelompak orang segala umur di Chicago yang terlibat dalam hubungan penuh dengan modernitas dalam hal seks, teknologi bahkan kultur. (IMDb)
Portofolio adalah salah satu fitur pada kolom Focus kami. Pada seri ini, kami berusaha untuk mendokumentasikan berbagai karakter dari studio desain yang ada di Indonesia dengan mengulas sekaligus mendisplay visi dan karya mereka. Kali ini kami mengangkat studio desain Akronim dari Surabaya yang melihat desain grafis sebagai alat interaksi yang disampaikan dengan sederhana, lugas, dan tidak misleading.
Pernahkah membayangkan, bagaimana jadinya jika keindahan ilustrasi dari kartu-kartu tarot direalisasikan ke dalam dunia nyata? Barangkali seperti Taman Tarot karya seniman Niki de Saint Phalle inilah wujudnya. Terletak di Tuscany, Italia, realisasi dari imajinasi liar Saint Phalle ini menghiasi kehijauan pedesaan Capalbio di sekitarnya dengan warna-warna berani dan bentuk-bentuk yang seperti keluar dari mimpi.
Sebanyak 22 patung yang terinspirasi karakter-karakter dari kartu tarot yang mayoritas berwujud sebagai dewi-dewi dari fantasi Saint Phalle ia buat dalam skalal besar. Terbuka untuk umum sejak 1998, patung-patung di taman ini memang dibuat untuk merayakan feminitas atau kewanitaan. Pengunjung yang datang dan seolah meninggalkan realita dan memasuki dunia mimpi yang dilahirkan oleh Saint Phalle ini dapat menemukan beberapa karakter tarot raksasa seperti Magician, The High Priestess of Intuitive Feminine Power, Strength, dan masih banyak lagi.
Sebuah suguhan yang mungkin menjadi sangat menggiurkan tidak hanya bagi yang ingin merasakan semangat feminitas Saint Phalle yang dikombinasikan dengan kemampuannya melukiskan sebuah dunia fantasi, namun juga bagi pecinta tarot yang ingin merasakan realisasi dari dunia magis tersebut. Mungkin, kemagisan dari kewanitaan yang tidak bisa hanya dilukiskan dengan satu warna sajalah yang ingin ia sajikan bagi umum lewat dunia kecilnya ini.
Direktori: Di Makassar, Melihat Harapan dari Indonesia Timur
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode kedua mini seri Direktori, kami berkunjung ke Bali untuk mencari apa yang tersembunyi di balik deru pariwisata dan melihat bagaimana keberagaman hidup di sana.
Episode pertama untuk mini seri terbaru kami untuk campaign #Direktorikota, kami memulainya dengan pertanyaan besar, apakah semangat kebersamaan masih ada di keseharian kita?