Berbicara tentang AXEAN Festival, kami mengundang beberapa alumninya, Batavia Collective dan The Panturas, untuk mengulik atmosfer di dalam festival musik tersebut yang seperti konsisten melambungkan nama-nama up-and-coming ke berbagai festival musik besar lainnya di mancanegara.
Dengan motif yang terinspirasi dari Indonesia, klub pantai kegemaran warga Bali, Potato Head, merilis koleksi resminya. Terdiri dari kemeja, kaos, dan celana pendek, koleksi ini direncanakan akan terus bertambah dengan barang-barang baru seperti edisi terbatas yang akan berkolaborasi dengan brand luar negri.
Desainer koleksi ini, yaitu tim Potato Head sendiri, terinspirasi dengan keindahan tropikal Indonesia. Motif dedaunan serta desain yang menyerupai kemeja batik memang menarik dan mengingatkan rumah. Salah satu desainnya adalah kemeja dengan motif penari legong, yakni merupakan desain pertama yang dipublikasikan. Kemeja ini membawakan tradisi-tradisi tanah air dengan sedikit sentuhan kemeja floral Hawaii. Bahan pembuatan ini menggunakan kain sutra yang ramah lingkungan serta tahan lama.
Dengan kisaran harga IDR 300.000 hingga IDR 2.200.000, koleksi ini bisa dibeli di resmi Potato Head serta dibeli langsung di yang akan diadakan di Potato Head Beach Club. Selain itu, 10% penjualan akan diberikan kepada Merah Putih Hijau, sebuah komunitas lingkungan yang mempunyai misi menyelesaikan masalah sampah di Bali, serta mengajarkan masyarakat untuk mendaur ulang.
Tidak banyak yang tahu kalau DJ yang tergabung dalam Diskoria ini memiliki referensi musik lebih luas dari disko. Sempat tergabung dalam Whoopdemfunk dan band pop Sweaters dan sekarang menjadi bagian dari PTT Family membuat dirinya terpapar ragam genre musik. Berdasarkan hal tersebut, kami menanyakan lima lagu terbaik versinya, di Gimme 5 kali ini.
Pertama kali dengar ini di Prins Thomas di Blowfish sekitar tahun 2010. ini muncul setelah Thomas menghipnotis satu dengan instrumental tanpa selama 4-5 menit di jam-jam setelah . sudah penuh, ada yang sudah dan malah dikasih lagu tanpa , saat itu lumayan sih (tertawa). Begitu drum lagu ini masuk, semua orang langsung mulai joget lagi, termasuk saya tentunya. Saya sampai kirim Facebook berkali-kali ke Thomas untuk menanyakan ini, karena tahun itu belum ada Shazam (tertawa) sampai akhirnya berhasil dapat lagu dan piringan hitamnya. Baru setelah saya dapat ini, Thomas akhirnya membalas DM () saya dan bilang saat itu dia belum mau judulnya karena masih berstatus
Pertama kali dengar ini juga di set Prins Thomas Blowfish tahun 2010, ini salah satu yang berhasil 'nyangkut' dan setiap dengar -nya masuk langsung bikin ingin joget. Jadi lumayan sering saya mainkan kalau lagi mengisi disco/house.
Sebenarnya saya tidak terlalu suka Bag Raiders, tapi pas dengar lagu ini pertama kali dimainkan kalau tidak salah di Love Garage tahun 2012, saya ingat langsung joget dan pulang-pulang langsung cari ini saking sukanya. Apa yang saya suka dari ini mungkin karena sangat dan ada mistisnya sedikit - mungkin dari perkusi yang mirip gamelan dan suara suling -nya di tengah-tengah lagu. Tapi ya itu tadi, berhasil membuat saya joget-joget.
Satu yang agak beda dengan sebelumnya, karena lebih lebih mengarah ke ; sub-genre yang sebenarnya jarang saya kulik. Tapi ya gitu, buat saya musik bagus ya musik bagus saja, apapun genre dan batasan lainnya. Saya pertama dengar ini di salah satu di Potato Head Garage, kalau tidak salah Dipha Barus yang memutar. Kebetulan saya kerja di sana dari awal buka sampai akhirnya tutup, jadi lumayan bermacam musik di luar zona aman saya (tertawa). Saya tanya ke dia ini lagu remix siapa dan ya itu, begitu dapat, langsung saya cari -nya karena ini berhasil bikin saya joget tiap mendengarnya.
Satu Indonesia yang emang selalu ingin saya mainkan di DJ pas pertama kali dengar, karena dan juga Liriknya juga khas musik Indonesia zaman itu, puitis dan banyak menggunakan kosakata yang tidak biasa. Lumayan bisa bikin orang joget juga sih kalo dipasang sama Diskoria (tertawa), apalagi teman kami; Munir dari Midnight Runners bikin versi -nya yang jadi lebih
-
Dengarkan Merdi bersama Diskoria di sini.
Maggie Payne, artis video, teknisi suara, serta salah satu direktur Centre of Contemporary Music di Mills College, sudah terkenal akan eksperimen-eksperimen nya terhadap audio visual. Payne biasa membagikan karya-karya istimewanya di akun Vimeo-nya, di mana dia mengekspos segala eksperimennya dengan mikrosokop dan kristal untuk menemani komposisi audio.
Salah satu karya yang menarik berjudul “System Test (fire and ice)”, sebuah video electroacoustic yang ia tunjukkan di Jerman. Payne mempresentasikan 4 penari dalam kostum yang diberi lampu neon bergerak mengikuti audio yang dramatis di dalam latar yang gelap. Audio yang dramatis ini ia buat dari gabungan suara mainan Jacob’s ladders, es meleleh, serta kertas yang digesek-gesekan untuk menunjukkan karakteristik mainan Jacob’s Ladder yang dinamis.
Audio serta visualnya memberikan kesan yang selalu intens. yang sudah diproses dan edit dipadukan dengan koreografi gemulai lampu warna-warni seperti membawakan sebuah cerita yang dramatis, di mana bahaya mengitari setiap sudut dari visual yang ditonton. Selain adanya yang dikomposisikan Payne, keajaiban video ini juga terletak di saat ketiadaan audio tersebut. Setiap kali audio mati video ini terasa lebih mencekam, karena penonton tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
What's not to love from the classics? Just like enjoying a piece of timeless painting or an art piece or even losing yourself in the grand scale of breath-taking architecture, hardcore/punk too is an art in its own respective. What was once started as nucleus of collective force, the musical genre stays in lots of different incarnation throughout the years. Expect to see barrage of usual suspects coming straight outta time capsule. Hardcore rules because it's written in stone.
01. Wide Awake - Insight
02. Bad Brains - Pay to Cum
03. Youth of Today - One Family
04. Raw Deal - Wall of Hate
05. Cro-Mags - We Gotta Know
06. Insted - Tell Me
07. Side by Side - Dead Serious
08. Breakdown - Labeled
09. Agnostic Front - Power
10. Final Conflict - Abolish Police
11. Leeway - Mark of the Squealer
12. Bold - Wise Up
13. Madball - Get Out
14. Straight Ahead - Spirit of Youth
15. Judge - In My Way
16. Last Rights - Chunks
17. Outburst - Thin Ice
18. Blitz - We Are the Boys
19. Life’s Blood - Not for the Weak
20. Rest in Pieces - Old Grey Mare Stomp/Stark Raving Nude
21. Sacrilege - Life Line
22. The Varukers - No Masters No Slaves
23. Crown of Thornz - Juggernaut
24. Beyond - Vitality
25. Gorilla Biscuits - Biscuit Power
26. Sick of It All - Friends Like You
27. Merauder - Life is Pain
28. Uniform Choice - Straight and Alert
29. The Icemen - The Harsh Truth
30. Warzone - We’re the Srew
31. YDI - Out for Blood
32. Crucifix - How When Where
Jika tidak ada waktu untuk ‘kabur’ sejenak dari kepenatan realita, mungkin ilusi saja sudah bisa cukup. Ilusi demi ilusi akan pelarian dari kenyataanlah yang disuguhkan oleh Monster Rally melalui 20 dentingan-dentingan singkat dalam Mystery Cove. Potongan-potongan ilusi akan sebuah liburan di pantai ini memang hanya berdurasi 1 hingga 3 menit lamanya, namun sudah cukup untuk membawa pendengarnya ‘terbang’ ke dalam mimpi yang indah.
Tiap lagu begitu kental dengan nuansa pantai yang tropikal, disertai dengan beberapa dentingan gitar yang begitu menggugah imajinasi, drum ringan, dan juga beberapa potongan vokal retro dari era 1940an hingga 1960an. Keindahan dari alunan-alunan singkat ini dilengkapi dengan karya seni yang layak mendapat perhatian lebih. Eksplorasi yang ditawarkan Feighan dalam Mystery Cove tidak hanya cukup untuk menggambarkan sebuah pelarian indah dalam benak para pendengarnya, namun juga menyulut sebuah sensasi seolah berada di tempat lain, di waktu yang lain. Kecanduan berlebih mungkin bisa mengantar kita termakan imajinasi dan mimpi yang terlalu indah.
Mystery Cove LP by Monster Rally
Melalui submisi open column, Dimas Adiprasetyo mempertanyakan mengenai posisi film dalam kemampuannya untuk menciptakan realita baru melalui ulasan mengenai salah satu film terbaik tahun 2015, The Lobster.
Direktori: Di Makassar, Melihat Harapan dari Indonesia Timur
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode kedua mini seri Direktori, kami berkunjung ke Bali untuk mencari apa yang tersembunyi di balik deru pariwisata dan melihat bagaimana keberagaman hidup di sana.
Episode pertama untuk mini seri terbaru kami untuk campaign #Direktorikota, kami memulainya dengan pertanyaan besar, apakah semangat kebersamaan masih ada di keseharian kita?