Berbicara tentang AXEAN Festival, kami mengundang beberapa alumninya, Batavia Collective dan The Panturas, untuk mengulik atmosfer di dalam festival musik tersebut yang seperti konsisten melambungkan nama-nama up-and-coming ke berbagai festival musik besar lainnya di mancanegara.
Musik di balik film Badai Pasti Berlalu merupakan karya Eros Djarot yang monumental dan masih dipuja hingga hari ini. Berbekal kenekatan dan rasa, ia berhasil membuat musik yang mampu bercerita dengan sendirinya. Kami menemuinya di rumahnya untuk membahas originalitas di blantika musik lokal dan pesta disko berisi lagu Indonesia.
Tentunya rasisme sudah tidak menjadi topik yang asing lagi, khususnya jika kita kerap kali memantau berita mengenai diskriminasi ras kulit hitam di Amerika Serikat atau kampanye Black Lives Matter. Secara umum pemahaman tentang rasisme yang menaruh stereotype atau generalisasi dari suatu ras pun barangkali juga tidak asing lagi, namun mungkin yang belum menjadi pemahaman umum adalah bahwa contoh mengenai rasisme dan stereotype tidak perlu jauh-jauh dicari hingga ke Amerika Serikat; perempuan Asia pun turut mengalaminya.
“Tidak semua dari kami (wanita Asia) bertubuh mungil, ramping, bersifat penurut dan submisif,” ujar Elizabeth Gabrielle Lee selaku koordinator dari Xing, serangkaian karya fotografi dari sederet fotografer ternama seperti Vivian Fu, Clara Lee, Ronan Mckenzie, dan Lee sendiri, yang mengeksplorasi tema stereotype yang tanpa disadari melanda banyak perempuan Asia. Xing diintensikan menjadi sebuah cemoohan atas standarisasi tersebut, sekaligus menunjukkan bagaimana konvensionalitas bukan menjadi satu-satunya resep dari keindahan.
Hal ini menurut Lee juga seringkali diasosiasikan dengan seksualitas, dan ya, memang perempuan Asia kerap ditampilkan dalam media dan masyarakat sebagai makhluk yang cantik dan atraktif. Namun ada ilusi di sana; ada suatu ketabuan di dalam pemahaman tersebut yang justru tidak menjadikan perempuan yang dimaksud terjauh dari pengaruh yang mengekang batinnya secara seksual dan emosional.
Mungkinkah kita dikelilingi masyarakat yang masih termakan ilusi tersebut? Atau sudahkah ilusi tersebut memakan rasio kita dalam memandang perempuan sekitar kita? Barangkali jawabannya hanya dapat ditemukan dengan menyanyakan diri sendiri, apakah sebelum menyelesaikan tulisan ini, standar-standar tersebut tidak nampak sebagai stereotype dan hanya sebagai karakteristik yang wajar dan biasa saja?
Winky Wiryawan is probably one of the last trance DJ standing in Indonesia. With his JUNKO outfit and Sundanese charms, Winky still keeps the dance floor trance hot!!! Check out the music that formed this talented artist and stories of his first ever LP, PLAYLIST!
01. Chopin - Minute Waltz Op 64 No 1
02. Sepultura - Dead Embryonic Cells
03. Metallica - Sad But True
04. Knife Party - Begin Again
05. Madeon - Technicolor
06. Michael Jackson - One Day in Your Life
07. Rage Against the Machine - Fistful of Steel
Mendengarkan ode dan kegelisahan Oscar Lolang yang ia nyanyikan di album pertamanya. Sembari memahami pandangannya mengenai folk lokal, hingga keinginannya berkolaborasi dengan Vira Talisa.
Anyone who sees this compilation of fictionally rejected animated shorts by Don Hertzfeldt should be the judge for themselves. There is a thin line between too clever and just pure absurd, and somewhere along that line there lies Rejected. Some might find the very dark humor Hertzfeldt colors his colorless animations with either too funny, way beyond anybody’s appropriate understanding, or just leaving them quite speechless.
With each segment lasting only less than a minute long, apparently Hertzfeldt’s series of fictionally rejected works for a few networks found themselves too similar and artistic-like to wind up into this compilation, with the segments and the characters in them falling apart towards the end due to “(the lack of) meaningful input and lacking any remaining reason or coherent narrative structure”. And so, they literally fell apart.
Perhaps the one thing to obviously give Hertzfeldt credit for is the way these bits and pieces of random animations found their ways into a harmonized collection. Or perhaps, what truly harmonized Hertzfeldt’s animations is the fact that they’re all equally random. Overall, it shouldn’t be said that in spite of everything, Hertzfeldt’s works is anything but without vibrant character. After all, it nominated an Academy Award for Best Animated Short.
Directed by Don Hertzfeldt
Synopsis: A compilation of Hertzfeldt’s rejected animations.
Semua orang memiliki favorit tersendiri, apakah itu di dalam ruang kantor yang sempit, kamar rumah pribadi yang lega, kafe di seberang halte bus, atau mungkin di alam liar. Di mana pun tempatnya, lokasi yang terpilih adalah lokasi yang bagi masing-masing orang paling sakral karena selalu memberi inspirasi yang dibutuhkan untuk memperlancar karya yang sedang dikerjakan. Untuk desainer asal Spanyol, Fernando Abellanas, lokasi sakralnya adalah sebuah studio kecil yang bergantung di kolong sebuah jembatan di kota Valencia.
Abellanas, seorang desainer perabotan dan pencahayaan dengan nama studio Lebrel, membangun ruang kecilnya hanya dalam waktu 2 minggu. Ia memanfaatkan dua balok beton yang ada di bawah jembatan sebagai cara untuk memindahkan ruangan tersebut maju mundur. Di ujung tembok, Abellanas menempelkan rak kayu, kursi, dan sebuah alas dari kayu untuk bekerja.
Selain sebagai ruang kerja, Abellanas menggunakan ruangan ini sebagai persembunyian sakral dari semua kericuhan kota. Tak hanya bekerja, ia juga menyediakan sprei, bantal, guling, dan selimut untuk bekal bermalam. Bahan dan cara pembuatan ruang kecil ini sepertinya berkualitas sangat tinggi, karena bisa menopang berat Abellanas dari pagi hingga malam hingga pagi lagi.
Direktori: Di Makassar, Melihat Harapan dari Indonesia Timur
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode kedua mini seri Direktori, kami berkunjung ke Bali untuk mencari apa yang tersembunyi di balik deru pariwisata dan melihat bagaimana keberagaman hidup di sana.
Episode pertama untuk mini seri terbaru kami untuk campaign #Direktorikota, kami memulainya dengan pertanyaan besar, apakah semangat kebersamaan masih ada di keseharian kita?