Berbicara tentang AXEAN Festival, kami mengundang beberapa alumninya, Batavia Collective dan The Panturas, untuk mengulik atmosfer di dalam festival musik tersebut yang seperti konsisten melambungkan nama-nama up-and-coming ke berbagai festival musik besar lainnya di mancanegara.
Classic post punk revival from early 2000 at the height of band names with 'THE'
1. Last Night by The Strokes
2. Fell In Love With A Girl by The White Stripes
3. An Honest Mistake by The Bravery
4. Hate To Say I Told You So by The Hives
5. Take It Off by The Donnas
6. The Rat by The Walkmen
7. Bandages by Hot Hot Heat
8. Eyes Wide Open by Radio 4
9. House of Jealous Lover by The Rapture
10. Danger! High Voltage by Electric Six
11. Can't Stand Me Now by The Libertines
12. Get Free by The Vines
13. Motor City Baby by The Dirt Bombs
14. Bad Kids by The Black Lips
15. Tighten Up by The Black Keys
Fotografi telah menjadi bagian dari budaya populer hari ini yang membuat perannya cukup signifikan. Tidak hanya itu, dengan kehadiran berbagai macam teknologi, kegiatan mengabadikan momen ini menjadi lebih bermakna dari sekadar mengambil gambar. Untuk mengetahui seperti apa peran fotografi sekarang, kami berbincang dengan 4 fotografer terkini mengenai perspektif mereka tentang perkembangan fotografi saat ini.
Hidup tidaklah hitam dan putih, sentuhan warna di setiap kegiatan yang dijalani membuat hidup jauh lebih menyenangkan, tak terkecuali olahraga. Hal ini yang dilakukan William LaChance, seniman yang mewarnai lapangan basket di daerah suburban St Louis.
Mengapa membuat mural berskala besar di St Louis? Lapangan basket ini terletak di Kinloch Park, kota Missouri, dan berdekatan dengan daerah Ferguson yang pada 2014 terjadi kekacauan akibat penembakan seorang pemuda berkulit hitam oleh seorang polisi berkulit putih. Bekerja sama dengan organisasi non-profit Project Backboard, William LaChance bertujuan untuk memberi nafas baru dan mengajak publik untuk berkumpul bersama melalui olahraga. Proyek mural ini diharapkan dapat memicu revitalisasi lebih lanjut di kota yang cukup memiliki sejarah kelam.
Untuk proyek ini, LaChance terlebih dahulu mendesain pola mural di 5 buah lukisan cat minyak. Mural ini berpola geometris dan penuh warna yang tegas, tapi tetap dibedakan dengan penanda lapangan yang berwarna putih.
Belakangan ini, proyek mewarnai ulang lapangan basket dengan ragam pola memang marak. Hal yang sama pernah dilakukan di Paris di tahun 2015 oleh Ill-Studio & Pigalle. Seniman berbasis Brooklyn, Kaws, juga menerapkan motif ikoniknya di dua lapangan basket di New York di bulan November 2016.
Bekerja sama dengan Ubud Writers & Readers Festival, kami berkesempatan menemui penulis dan akademisi Intan Paramaditha saat berkunjung ke Jakarta untuk membahas hasrat, fiksi, politik seksualitas hingga novel "Gentayangan."
Dalam musim yang membawa suhu panas menyiksa, seseorang hanya bisa berharap hari mereka berjalan dengan nyaman. Bagi sepasang sahabat panasnya musim panas mereka rasakan dengan jalanan sebagai rumah mereka. Menghabiskan waktu bermain skateboard, membaca buku, dan juga berkeliling sekitar lingkungan urban Moskow, dua pemuda ini tidak butuh apa-apa kecuali sesama. Adalah rasa persaudaraan yang membuat mereka menikmati kehidupan, tetapi tidak mereka ketahui bahwa rasa itulah yang akan mengakhiri kehidupan tersebut.
Kisah tersebut adalah alur utama dalam “Summer in the City,” sebuah film pendek yang dibuat oleh fotografer asal Rusia, Sergey Kostromin. Film yang muram namun cantik membawakan kehangatan di awal film hingga pada adegan terakhir yang akan memberikan rasa hampa. Sinematografis yang indah dialunkan dengan lagu dari band Leto V Gorode, yang jika diterjemahkan dalam bahasa Inggris adalah
Biasanya saat seorang sutradara beralih jalur menjadi sutradara film ada dua yang terbayang, sutradara tipe pertama akan meninggalkan sama sekali latar belakangnya sebagai sutradara film nyeni dan menukarnya dengan perspektif khalayak umum, filmnya mungkin akan sukses, tapi dengan itu ia akan pelan-pelan melupakan estetika lamanya. Opsi kedua adalah dengan pendekatan di film yang ditujukan untuk publik luas, yang satu ini nya cukup jelas, film akan tak sesuai harapan dan gagal di pasaran.
Edwin, dalam hal ini menemukan jalan tengah yang pas di film "Posesif." Ia dengan cukup baik bisa mengubah cara pandangnya dari sutradara yang membuat dahi berkernyit, menjadi sutradara yang mampu mengaduk emosi penonton di “film bioskop” pertamanya. Yang membuat film ini menarik adalah bagaimana Edwin tetap menyisakan pendekatan yang biasa ia gunakan dulu di film rilisan Babibuta di layar perak bioskop 21.
Salah satu kekuatan utama film "Posesif" ada pada bagaimana Edwin serta sang penulis naskah, Gina S. Noer (Perempuan Berkalung Sorban, Habibie & Ainun) dengan berani menempatkan tokoh perempuan dalam film ini sebagai tokoh utama yang menentukan alur cerita. Tokoh Lala (diperankan dengan baik oleh artis pendatang baru, Putri Marino) hidup sebagai sosok yang tak hanya berlaku sebagai objek, ia juga diberi ketangguhan untuk bisa menentukan jalan hidupnya sendiri. yang berharga. Sebuah hal yang masih jarang ditemui di film-film lokal.
Kekuatan kedua yang dimiliki film ini juga ada pada bagaimana Edwin beserta tim Palari Films dengan jeli mengangkat tema mengenai topik penting, mengenai hubungan antara manusia dan bagaimana tarik-menarik di antaranya bisa jadi destruktif. Sebuah masalah yang terdengar remeh, namun tak jarang menjadi muara masalah-masalah besar yang ada di sekitar kita.
Tapi yang jelas, keberhasilan utama film ini adalah pada bagaimana arahan dan tema penting di atas disampaikan dalam penuturan pop yang menyasar pada penonton usia muda. Dan dalam hal ini, film "Posesif" adalah film yang , ia menyentuh saat bertutur tentang kisah kasih, mencekam saat bercerita tentang horor, juga bisa memancing empati saat berkisah tentang haru. Diselipkan juga di ceritanya. Membuat "Posesif" tampil sebagai film yang layak ditonton siapa saja yang merindukan kualitas pada film Indonesia.
Hal menyenangkan lain dari film ini adalah pemakaian salah satu lagu terbaik lokal, Banda Neira - Sampai Jadi Debu yang terasa semakin megah dan menggugah dengan tata suara bioskop. Jangan lupakan pula sekilas penampilan Ismael Basbeth yang sangat mencuri perhatian.
Dalam perjalanan menuju teater, kami sempat membicarakan bagaimana Indonesia kekurangan film yang bisa memuaskan khalayak dan secara bersamaan. Di mana penonton film pada umumnya, dan penonton film yang menuntut lebih dari film yang ditontonnya, bisa keluar dari pintu teater dengan senyuman yang sama. "Posesif" jelas bukan film yang sempurna, tapi arahan yang ada di sini membuka kesempatan untuk menuju ke sana.
Direktori: Di Makassar, Melihat Harapan dari Indonesia Timur
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode kedua mini seri Direktori, kami berkunjung ke Bali untuk mencari apa yang tersembunyi di balik deru pariwisata dan melihat bagaimana keberagaman hidup di sana.
Episode pertama untuk mini seri terbaru kami untuk campaign #Direktorikota, kami memulainya dengan pertanyaan besar, apakah semangat kebersamaan masih ada di keseharian kita?