Backstage Life Bareng Grrrl Gang di Episode Kelima Vindy Ngapain?
Tahun ini Grrrl Gang mendapatkan kesempatan untuk menjadi salah satu line up di We The Fest 2019, dan Vindy diperbolehkan untuk mengikuti aktivitas mereka.
Something to be excited about if you live in the Jakarta area, Smart Dialogue returns this 20th at Dia.Lo.Gue! Smart Dialogue is a creative market hosted by Dia.Lo.Gue where you can find all sorts of one of a kind items, many of them handcrafted by the artists themselves. Each Smart Dialogue is paired up with an exhibition, and this time it will be a Graphic Design-themed show. Enjoy the work of 68 Indonesian graphic design companies and studios in the exhibition, and enjoy the creative market at Smart Dialogue #10: “Seek-A-Seek,” A Graphic Design Festival! -- Smart Dialogue #10: “Seek-A-Seek,” A Graphic Design Festival PASAR SENI & DESAIN 30 creative products, such as: stationary, product design, arts, fashion, jewelry, food and beverages and more 20, 21 & 22 may 2016 EXHIBITION 68 Indonesia Graphic Design Company & Studio 20 may - 12 june 2016 DESIGN TALK 28 may, 4 & 11 june 2016 • UnKnown Asia Economic opportunities in the field of graphic design into to global market Sabtu, 28 Mei 2016 at 3 - 6 pm Presenter & Reviewer: Yoshihiro Taniguchi (FM802 http://funky802.com/ / digmeout https://www.digmeout.net/) Hiroaki Shono (ASIAN CREATIVE NETWORK http://acn.link/ / ubies http://ubies.net/). VENUE dia.lo.gue jl kemang selatan 99a jakarta 12730 Nowadays, graphic design effectively craft visual messages out of creative ideas that blends well into the everyday life. Graphic design not only produces visually pleasing products, but is also persuasive functionally, meanwhile its results are often underestimated. Why don’t we pause, review and celebrate graphic design’s processes and creative works? Through smArt dialogue “Seek-A-Seek,” A Graphic Design Festival, a collaboration of Bekraf (Badan Ekonomi Kreatif), Dia.Lo.Gue, ADGI (Asosiasi Desainer Grafis Indonesia) and DGI (Desain Grafis Indonesia), we invite public to celebrate and enjoy graphic design in any kind of forms. Presenting a curated exhibition of works by Indonesian’s graphic designers, an art market or ‘pasar seni’ showcasing products made by Indonesian graphic designers, live performances, talkshows, and more! supported by Artmax Magazine, Grafis Masa Kini, Info DKV, Jakartabeat, JJK, HangOut Indonesia, Home and Décor Indonesia Magazine, InDesign Indonesia Magazine, Kopi Keliling, Kreavi, Livingetc Indonesia Magazine, Manual, Masterpiece Magazine, NYLON Indonesia Magazine, Qubicle, Smooth FM, SUB Cult, Virgin Radio Jakarta, Whiteboard Journal
Sebuah startup online bernama IniBudi menjadi contoh nyata dalam implementasi teknologi terhadap pendidikan. Bukan sekadar menyediakan informasi tak terbatas, kali ini internet menjadi media belajar online. Meskipun masih baru, IniBudi menawarkan solusi kreatif dalam menyampaikan mata pelajaran utama kepada siswa siswi, tanpa mengharuskan kedatangan, layaknya sekolah pada umumnya. Bersamaan dengan semangat inovasi yang digalakkan IniBudi, sebuah kompetisi yang berfokus pada video pendidikan dibuka. “Ini Inspirasiku” mengajak para individu dengan passion seni dan sosial untuk berkontribusi dalam menyiapkan video berisi inspirasi dari deretan lagu yang sudah disiapkan oleh IniBudi. Adapun beberapa musisi yang terpilih lagunya untuk dicantumkan dalam video adalah, Efek Rumah Kaca hingga YACKO x JRSCK yang dikenal dengan lirik lagu bermakna. Peserta kompetisi yang dibagi berdasarkan masyarakat umum dan pelajar wajib menggambarkan pesan yang ada di lagu dan menjelaskan inspirasi yang muncul dari lagu tersebut. Submisi dibuka hingga 22 Mei 2016 lalu pengumuman finalis akan dilakukan pada tanggal 23-28 Mei 2016 sebelum pemenang akan diumumkan pada 29 Mei 2016. http://inibudi.org/iniinspirasiku/
Ini bukan pertama kali Tame Impala, band asal Australia yang mengusung genre psychedelic bermain di Jakarta. Lima tahun yang lalu, Kevin Parker dan kawan-kawan telah menyapa penggemar di Indonesia. Jum’at kemarin, 29 April 2016, cuaca yang sedikit pengap tak mengurungkan niat para pecinta musik yang datang dengan gaya hippie untuk berbondong-bondong ke Parkir Selatan Senayan dan menyaksikan Tame Impala yang pertama atau mungkin kedua kalinya. Tame Impala yang membuka tur dunia “Currents” sejak awal tahun ini, memasukkan Jakarta sebagai kota terakhir di Asia dimana tak hanya menghidupkan suasana konser malam itu, tapi juga semangat yang terpancar dari panggung. Konser yang dibuka oleh Barasuara sekitar jam 19:00 dengan enerjik mengangkat atmosfer di tempat yang tadinya masih lowong menjadi penuh ke depan panggung, setelah Iga cs menghantarkan lagu-lagu mereka. Tak lama setelah itu, sekitar jam 20:15, orang-orang dengan jas putih layaknya peneliti sibuk mempersiapkan instrumen untuk Tame Impala hingga layar di panggung menampilkan visual magnetik berupa lingkaran hijau yang diiringi dengan musik mendebarkan, Kevin muncul dengan baju bergaris-garis menyapa sekitar 5000 penonton yang sedari tadi tak sabar menonton mereka. Kejutan bermunculan tanpa menunggu hingga klimaks acara, dimana pada lagu berikutnya, confetti berterbangan ke arah penonton yang terkejut dengan aksi yang disiapkan oleh kiosPLAY selaku promotor. Set list berisi 17 lagu yang disiapkan memang fluktuatif, namun tak jarang penonton sibuk menikmati suasana dengan memejamkan mata, bahkan memakai kacamata 3D untuk mendapatkan visualisasi maksimal, apalagi di lagu “Mind Mischief” yang dimainkan setelah “Let It Happen” dari album “Currents.” Sekitar 90 menit Kevin mempersembahkan penampilan memukau dan falsetto tanpa cela, hingga lagu “Apocalypse Dreams” yang didapuk menjadi penutup membuat penonton berteriak “Encore!” Kevin pun kembali muncul dengan lagu meriah bermandikan confetti, “Feels Like We Only Go Backwards.” Sebelum Kevin pamit, ia terus mengatakan bahwa dirinya berkeringat “in a good way!,” katanya. “NPSOM” kali ini benar-benar menjadi lagu terakhir dari Tame Impala dan penonton bubar dengan perasaan puas namun ketagihan karena kombinasi visual dan sound memikat menutup Jum’at malam mereka dengan sempurna.
Salah satu festival yang ditunggu-tunggu adalah Europe on Screen.Tahun ini Europe on Screen hadir kembali dengan 6 macam section film yang terdiri sekitar 60 judul film dari Jerman, Perancis, Denmark, Belanda hingga Polandia. Section film dalam festival dibuat untuk memperkenalkan film Eropa kepada masyarakat yang awam akan warna perfilman di sana serta menawarkan deretan film pilihan yang telah mendapatkan penghargaan di beberapa festival film dunia dikarenakan cerita filmnya yang tidak biasa. Sebuah festival yang dibuat untuk mempertemukan pecinta film, tak hanya Eropa tapi global di Indonesia. XTRA menjadi seksi yang terdiri dari 16 film box office, lalu untuk film-film unik bisa ditemui di DISCOVERY, seperti “A Pigeon Sat on a Branch Reflecting on Existence.” Selain itu DOCU masih jadi seksi sensasional dimana beberapa film seperti “Holy Cow” yang merupakan dokumenter teratas di Eropa. Untuk mereka yang cinta film retro bisa menemukan harta karun Georges Méliès di seksi RETRO. Pun jika ingin mencari film ringan yang bisa dinikmati bersama keluarga, seksi FAMILY bisa jadi pilihan dengan “The Little Prince” sebagai salah satu film yang terkenal. Terakhir adalah seksi OPEN AIR dimana beberapa film pilihan akan diadakan setiap malam di Erasmus Huis dan 5 malam di Mall Bintaro Exchange. Mengambil beberapa kota besar seperti Jakarta, Bandung, Bali, Medan, Surabaya dan Yogyakarta sebagai titik pemutaran film, Europe on Screen menjadikan budaya screening kembali bergairah guna meningkatkan dialog dan referensi perfilman untuk perkembangan skena lokal. Semua film dapat ditonton tanpa dipungut biaya sehingga semua orang bisa menikmati film-film Eropa yang telah melalui proses kurasi. Untuk detail jadwal, cek http://europeonscreen.org/ dan Events Page Whiteboardjournal.com
Pulau Mentawai beberapa tahun lalu mungkin hanya diketahui sedikit orang, selama ini mungkin hanya Durga yang giat memperkenalkan tato tribal asal Mentawai. Ternyata pulau cantik ini hanya beberapa jam perjalanan dari kota asal ayah saya. Keinginan untuk berkunjung dan melihat keindahan tato serta perhiasan khas Mentawai tentu muncul cukup deras, tapi mengingat jalan yang harus ditempuh cukup berat, niat itu terpaksa ditunda hingga waktu yang tidak ditentukan. Selain seni yang eksotis didukung dengan letak geografis menantang, Mentawai pun terkenal juga di antara para peselancar yang senang mengeksplorasi ombak ganas di sana. Banyaknya hal menarik yang bisa didapat dari Mentawai membuat segelintir orang tertarik untuk bermalam dan mendokumentasikan surga duniawi yang ditawarkan dengan foto, video ritual hingga tato. Tak sering hal tersebut membantu tapi juga mengganggu keberlangsungan suku di Mentawai. Bersadarkan hal tersebut, sebuah film independen yang dirilis tahun lalu, berjudul “As Worlds Divide” dibuat dengan konsep dokumenter dimana seorang lelaki asal Melbourne, Rob Henry memilih untuk meninggalkan pekerjaannya pada tahun 2008 dan berpetualang di Mentawai, tepatnya di sebuah kebun kelapa. Dari film ini, keintiman yang tak bisa ditunjukkan di acara televisi lokal yang pernah berkunjung ke Mentawai tertangkap dengan magis. Film yang direkam dengan rentang waktu hampir 8 tahun ini menghadirkan gambar-gambar vivid dari alam Mentawai yang masih asri dimana suku yang tinggal di dalamnya masih terbatas dari informasi modern layaknya sebuah oasis antah berantah. Rob pun berhasil membuat jembatan yang menunjukkan krisis dalam suku yang menggambarkan diskoneksi antara orang-orang lokal dengan identitas kultur dan tanah tinggal mereka yang terjadi seiring dengan waktu yang berjalan menuntut perubahan.
Dipertemukan di sebuah proyek residensi seni, hubungan antara seniman Natasha Gabriella Tontey dan Sonotanotanpenz berlanjut pada proyek videokilp lagu “Conga”. Dalam kunjungannya ke Jakarta seusai tampil di salah satu episode Superbad, Sonotanotanpenz bekerja sama dengan Tontey untuk membuat visual dari lagu dari mini album yang juga berjudul Conga ini. Berperan sebagai sutradara, Tontey menggabungkan nuansa lagu Conga yang playful dengan gaya khasnya yang selalu bermain-main dengan nuansa kekanakan dan surealisme diantaranya. Hitomi Itamura dan Hitomi Moriwaki, dua personil Sonotano diajak berkeliling pada beberapa tempat di Jakarta dengan iringan dua boneka kuda putih. Dalam mayoritas scene yang bertempat di taman hiburan, kita diajak untuk melihat sisi lain dari landscape yang biasanya cenderung identik dengan tawa. Sebuah visualisasi yang cukup akurat untuk menggambarkan musik Sonotano yang ceria namun quirky.
Temukan siapa dirimu dan bagaimana karaktermu menentukan arah masa depan.