
Sudah Saatnya Mengurangi Jakarta-gaze, Termasuk Rasa Kaget Saat Menemukan Musik Keren di Luar Kota Besar
Dalam submisi Open Column ini, Randy Levin Virgiawan menyingkap bagaimana ‘Jakarta-gaze,’ dalam konteks mengapresiasi musik yang lahirnya dari luar Jakarta, jelas fatal dalam mereduksi talenta “daerah” yang mestinya bisa merekah tanpa merepotkan perhatian sang ibu kota.
Words by Whiteboard Journal
“Ada ya band kayak gini dari kota [isi kota di luar Jakarta]?”
Kamu pasti pernah membaca, mendengar, atau malah mengucapkan kalimat tadi. Sekilas tampak seperti pujian, namun jika diendus lebih dalam, ia menyimpan aroma localized-orientalism yang menyengat. Sebuah cara pandang yang menganggap hal-hal di luar pusat peradaban sebagai pengecualian yang mengagumkan, bukan sebagai kemungkinan yang lazim. Seolah-olah, talenta “daerah” ditakdirkan untuk tertinggal dan saat tampil hebat:
Kita terkaget-kaget.
Bias tadi membuat kesan seolah ada batasan “musik wajar” bagi lokalitas. Jawa Timur, misalnya, direduksi hanya sebagai eksportir dangdut koplo yang merentang dari Inul Daratista hingga Happy Asmara. Ini jelas merupakan pandangan jumud yang menihilkan keberagaman. Bukankah ironis jika ribuan musisi harus menyeragamkan napas kreatif mereka hanya karena satu genre sedang mendominasi kedaulatan simbolik hari ini?
Padahal, akses internet telah lama membuka pintu referensi seluas-luasnya. Hari ini, seorang musisi kamar dari Samarinda bisa memainkan math-rock, seorang kutu buku di Kediri bisa membikin lirik sesunyi Nick Drake, hingga pemudi asal Kendari bisa menggurat lagu seindah Beth Gibbons. Sayang sekali jika pendengar dan media kita masih tersandera bias sentralistik: menganggap inovasi hanya boleh muncul dari pusat.
Yang lucu, ini tidak berlaku sebaliknya. Ketika musisi Jakarta mengambil unsur-unsur esoteris, instrumen tradisi, atau memoles musik “pinggiran” dengan kemasan urban, mereka seketika dilabeli sebagai jenius dan revolusioner, hingga diganjar penghargaan—yang perspektifnya juga sentralistik itu.
Sudah paham ‘kan kini? (Uhuk, hipdut, uhuk!)
**
“Keberagaman” adalah kata kunci membahas wajah musik kita hari ini.
Sekali lagi, internet membolehkan pertukaran ide secara masif tanpa mengenal sekat administratif. Kini, referensi musik tak lagi berhenti pada tembok tongkrongan atau warisan abang-abangan puritan. Ini juga membuat penjenamaan sebuah daerah dengan genre tunggal (misal “Malang Kota Rock”) sudah kedaluwarsa. Jadi, mari kita tinggalkan sebutan-sebutan dekaden itu dan mulai mengamini:
“Musik bagus bisa datang dari mana saja.”
Mari kita lihat Jawa Timur, terutama dua kota besar: Malang dan Surabaya, sebagai studi kasusnya. Di sana, Enamore (post-hardcore), Girl and Her Bad Mood (indie pop), hingga Eastcape (midwest emo) sedang laris manis: baik merch, undangan manggung, sampai data statistik digitalnya. Nama terakhir bahkan mengantongi sekitar 120.000 pendengar bulanan di Spotify— sudah bisa bikin satu kecamatan.
Di ranah yang lebih pop, ada Halstage yang menyusul jejak Iksan Skuter hingga Coldiac. Lagunya “L” dan “terima kasih” meledak di gerai-gerai musik-alir, diputar di warkop-warkop sekitar, dan menjadikannya semacam raja pensi, terutama di lingkup Jawa Timur dan sekitarnya.
Serupa Halstage, ada Mighfar Suganda. Solois asal Surabaya ini juga jadi baginda digital dalam dua tahun terakhir. Single-nya, “Gemuruh Riuh”, ngetop di jaringan, dijadikan backsound akun-akun quote, dan akhirnya, terkonversi ke panggungan. Kamu pasti pernah, sekali seumur hidup setidaknya, mendengar lagu pekat-gaung dengan vokal nyeret: “Gemuruh riuh… dari tuturmu.”
Kita bahkan belum menyebut Thee Marloes. (Yang ini gak usah dijelasin lah ya. Cukup lihat label dan harga vinyl-nya aja. Ha!)
Contoh ini semakin banyak jika kita perluas jangkauan kotanya. Dari Tulungagung, ada Febinda Tito (yang bahkan sempat signed dengan major label). Di Mojokerto, holigrey berkreasi dengan memadukan reggae dengan unsur-unsur alternative. Saking Kediri, IGMO album kedua mereka yang bernuansa art-rock. Selokan Belakang, band asal Jember, bahkan membuat lagu self-reference berjudul “Jamet Jember Utara”—untuk menertawakan pandangan sentralistik tadi.
Kurang canggih apa, coba?

Arsip pribadi KMPL.

Arsip pribadi KMPL.

Arsip pribadi KMPL.
Hari ini, jati diri musik “daerah” justru terletak pada cara para pelakunya merespons realitas lokal—debu proyek, keresahan urban, hingga wacana tongkrongan—dengan piranti estetika global yang mereka akses dari tanah pijaknya. Alias, bagaimana mereka menghadirkan universalitas dari kekhususan-kekhususan itu. Barangkali, itulah yang otentik hari ini.
Lagi-lagi, ini karena internet yang memungkinkan distribusi seluas-luasnya. Saya tak ingin berhenti pada gerai-gerai digital—yang ternyata semakin dikooptasi pemain-pemain lama. Lebih dari itu, kita jadi tahu ada cara-cara non-konvensional untuk “mengenalkan” musik.
Bandcamp baru-baru ini tegas menolak musik-musik Akal Imitasi (AI), masih menyediakan secercah harapan. Siasatnya adalah bagaimana mempermudah akses pembayaran mereka (dengan dompet digital lokal atau QRIS, misalnya) serta menumbuhkan kembali budaya bayar-unduh di lingkup pendengar. Vinyl saja—yang mahalnya naudzubillah itu—bisa ngetren lagi. Bandcamp jelas lebih murah dan mudah. Harusnya.
Contoh lain yang paling kentara, tentu saja album Alkisah milik Senyawa yang dirilis 44 label di seluruh dunia. Sebelum rilis, Senyawa membuka selebar-lebarnya kemungkinan kerjasama itu; mendemokratisasi akses kepada aset-aset mereka sendiri– alih-alih mengeksklusifkannya kepada satu-dua pihak. Kemungkinan-kemungkinan ini tentu sulit dibayangkan dua dekade lalu, kala hegemoni label besar masih begitu kuat.
**
Selanjutnya: Apa yang bisa kita lakukan?
Pertama, para pelaku musik idealnya bisa berpikir melampaui estetika. Kita harus mulai memahami potensi bisnis serta, utamanya, kemungkinan kolaborasi lintas bidang. Jika Jakarta masih menjadi episentrum opini myuziek, kita tidak perlu membuang energi membangun media serupa dari titik nol yang sulit menghidupi redaksinya. (Percayalah, konsisten menjalankan media musik itu susahnya minta ampun).
Untuk itu, saya menawarkan sebuah strategi: Amplifikasi via kultur pop lokal.
Langkah ini didasari pada satu fakta: “skena musik” cenderung dipandang eksklusif—dan barangkali memang benar begitu. Kamu pasti pernah mendengar kata-kata, “Wah, anak skena nih”—yang mengisyaratkan ketercerabutan dari realitas sekitar. Dari perspektif musisi/kolektif, saya juga paham bahwa budaya massa seringkali tak sejalan dengan nilai-nilai yang dianut. (Well, bukankah itu kenapa ada budaya alternatif?)
Namun, apakah tidak ada ruang yang bisa dikompromikan? Dikolaborasikan? Saya rasa, selama hal-hal fundamental kita tidak tersentuh, segala bentuk kerja sama adalah hal yang sangat mungkin. Menurut saya, inisiasi memasukkan musik sebagai bagian perbincangan kultur pop kota adalah siasat yang patut dipertimbangkan.
Di Kediri, tempat tinggal saya, ada Pola Lapan yang digagas oleh Fian Wijaya (komika), Reza Lemu (kreator konten), dan Fadel (visual). Media tersebut banyak membahas soal kultur pop anak muda Kediri, sembari menyisipkan sesi-sesi lintas kreatif seperti musik, fashion, dan banyak lainnya. Dari sini, kita bisa memperluas keterlibatan berbagai media-warga, seperti akun wisata, kuliner, hingga kanal tren yang bejibun itu.
Tak terbatas di situ, kita juga bisa memasukkan musik sebagai bahan kajian akademis. Ya, saya sedang bicara soal kancah literasi dan sastra. Kios Domisili Sekitar di Kediri, misalnya, sering mengadakan diskusi-diskusi sejenis. (FYI: Sam Oemar, salah satu korban kriminalisasi demo Agustus 2025, adalah salah satu pemilik kios ini). Tak jarang, mereka membahas album musik dengan berbagai sudut pandang; hiburan, sosial, hingga politik.
Pokoknya satu: jangan gampang baper saja kalau karyamu dikuliti.
Sinergi lintas bidang inilah yang akan menjadi titik mula membangun kancah kreatif kota masing-masing. Bayangkan jika sampul album digarap oleh seniman rupa lokal, atau peluncuran karya dirayakan dengan pemutaran serentak di kafe-kafe kota sendiri ketimbang sekadar mengharap senarai “Skena Gres”? Ketika satu band rilis, suaranya diperluas oleh media-warga sendiri.
Apalagi jika nantinya ada kolaborasi dengan jenama lokal yang menghasilkan nilai ekonomi. Di Kediri, unit remix Mr. Jono & Joni melakukannya dengan jenama Deathless Empire. Gerai cuci sepatu, Isoiresik juga getol bikin kolaborasi lintas bidang, dari musik sampai kesebelasan Persik.
Mantap, tho?
Contoh-contoh yang saya sebutkan di atas cuma sekelumit. Yang pasti, setiap musisi, kolektif, dan stakeholder bakal terus mencari, menemukan, dan meredefinisi berbagai siasat menghidupi musik. Saya ingat, misalnya, gigs-gigs kolektif RAWR di Kediri pada medio 2010’an yang selalu padat itu. Ada sinergi musisi-clothing yang menghidupi dan membuat budayanya sendiri. Di masa sekarang, kesempatan macam ini harusnya bisa dilakukan kembali di berbagai daerah, dengan ciri khasnya masing-masing, dan diamplifikasi posibilitas bernama internet.
“Sekalian bikin distrik aja! Mojokerto–Jombang–Kediri.” – Candra Megah, produser dan personel holigrey, satu waktu kepada saya.
Lebih jauh lagi, kita bisa membangun jaringan “antar-kota”. Dalam skala mikro, kolektif-kolektif musik bisa saling terhubung satu sama lain. Dalam skala makro, masuknya musik sebagai bagian dari kultur pop sebuah kota tentu bisa mengamplifikasinya sebagai alternatif dari hegemoni pusat. Barangkali, jaringan antar-kota inilah yang akan menjadi “pusat baru” yang cair dan organik. Ia mengakar ke dalam, menjalar ke sekitar, dengan tetap tumbuh tinggi menjulang.
Bukan hal mudah. Saya tahu.
Dari sisi pendengar, mungkin inilah saatnya kita meredefinisi selera. Mari pertanyakan kembali makna “keren”, “besar”, dan “bagus” itu. Apakah penilaian kita benar-benar murni, ataukah sebenarnya hanya hasil suapan algoritma, figur, media mapan yang itu-itu saja? Jangan sampai infrastruktur fisik di berbagai daerah sudah bergerak maju menuju skala internasional, tapi cara kita mengapresiasi karya lokal masih kerdil nan bebal.
Kita harus berhenti menjadi pendengar pasif yang hanya menunggu disuapi tren. Mulailah menoleh ke kiri dan kanan. Cari band-band di sekitarmu, minimal teman-teman sendiri. Jika berkenan, jadilah corong bagi mereka: tulis, dokumentasikan, atau sesederhana berikan shoutout di akun media sosialmu.
Trust me, pengakuan tulus dari lingkaran terdekat adalah bahan bakar yang luar biasa berharga.

Arsip pribadi KMPL.

Arsip pribadi KMPL.

Arsip pribadi KMPL.
**
Tulisan ini jauh dari selesai.
Malahan, ia adalah sebuah ajakan untuk berpikir ulang. Setelah berbagai percakapan tadi, apalagi yang bisa dibangun oleh masing-masing daerah? Kita masih menghadapi birokrasi yang berbelit, minimnya ruang pertunjukan yang layak, hingga regulasi yang simpang siur. (Jujur, saya tak punya harapan banyak dengan birokrasi). Internet mungkin sudah memangkas jarak informasi, namun ia belum sepenuhnya mampu memangkas ketimpangan infrastruktur dan modal.
Lama sudah kita percaya bahwa masa depan musik bukanlah tentang Jakarta. Namun ironisnya, selama itu pula kita masih terjebak meminta validasi dari sana—seolah belum sah kalau belum dibaptis air suci ibu kota. Nah, sinergi lintas bidang tadi barangkali adalah kuncinya. Musik di kota-kota lain tidak boleh lagi hanya sibuk memikirkan dirinya sendiri; ia harus mulai merangkul kanan-kirinya: media, kultur pop, pendengar, hingga birokrasinya.
Sudah saatnya kita berhenti merepotkan perhatian Jakarta. Toh, mereka sudah terlalu sibuk dengan urusannya sendiri. Jika pun kelak ada relasi yang terjalin, biarkan itu berlangsung secara setara dan kolaboratif. Alias, sebuah kemitraan antar-kota, bukan lagi tentang ketimpangan siapa mengemis ke siapa.
After all, Jakarta is just another “daerah”, right?
Hal-hal di atas sekilas terdengar ngawang-ngawang dan grandeur. Namun mengutip sebuah graffiti di Prancis tahun ‘68, “Realistis aje! Tuntut tuh yang mustahil.” Membangun ekosistem mandiri tentu butuh waktu, kerja cerdas, serta kemauan sekeras baja.
Dan semua itu, bisa dimulai dari diri sendiri: dengan tidak nggumunan melihat karya bagus lahir dari luar Jakarta.




