Melihat bagaimana generasi baru musik dari penjuru negeri mengaplikasikan etos DIY, menghadapi scene musik yang telah ada, memaknai tren musik digital, serta mengumpulkan referensi baru mengenai talenta yang masih ada di luar sana.
Malang adalah salah satu kota yang menetapkan barometer musik lokal. Di kota ini, sejarah musik rock lokal tumbuh dan berkembang, Malang adalah salah satu tempat dimana musik underground hidup dan dihidupi, dan belakangan mencuat kembali dengan keberagaman musik yang segar dan menarik. Whiteboard Journal berbincang bersama salah satu pegiat scene sekaligus pelaku sejarah musik di kota Malang, Samack mengenai sejarah, dikotomi daerah-pusat hingga potensi yang ada disana.
Entah darimana, selalu ada kedalaman tersendiri dari karya ciptaan Haikal Azizi. Di Sigmun, permainan gitar dan lengking suaranya mengangkat level unit ini dari Bandung, menjadi salah satu band penting di scene lokal, jika bukan internasional. Begitu pula ketika ia meninggalkan pedal distorsi dan menukarnya dengan psikedelia pada proyek musik solonya. Dengan moniker Bin Idris, manuver Haikal sering tak terkira, ia bisa tiba-tiba bertempur di tengah medan perang pada "Mahabarata", namun ia juga bisa merayakan melankolia seperti yang ia nyanyikan di "Weird People".
Ketika label Orange Cliff mengumumkan bahwa Bin Idris akan segera mengeluarkan album penuh, ini jelas merupakan kabar gembira. Dan, single pertama yang dipamerkan memiliki segalanya untuk membuktikan bahwa ini akan menjadi salah satu album yang layak untuk diantisipasi. Berjudul "Dalam Wangi", Haikal Azizi kali ini memainkan gitar dengan jauh lebih sederhana dari apa yang ia biasa lakukan, dan memutuskan untuk bermain-main dengan harmonisasi vokal yang meruang untuk menciptakan sebuah lagu sederhana yang mengingatkan pada lagu-lagu rohani era lama - sebuah tema yang juga, entah darimana, selalu ada dari karya ciptaan Haikal Azizi.
Ikuti sosial media Orange Cliff untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai rilisan ini.
di YouTube tanpa tujuan sering kali berakhir dengan satu video yang menyenangkan, dan ini yang terjadi pada saya saat menemukan Rude Ruth, kolaborasi antar penyanyi Margaret Glaspy dan gitaris Julian Lage. Diawali dengan mendengarkan lagu "Katonah", kombinasi antara suara Glaspy yang menawan, kelihaian permainan gitar Lage, dan melodi sekaligus lirik "Katonah" yang menyentuh membuat penemuan ini menjadi sebuah pada akhir pekan kemarin.
Margaret Glaspy adalah asal California yang telah pindah ke New York City setelah sekolah di Berklee College of Music. Sebagai musisi solo, dia telah merilis beberapa EP, dan album pertamanya, Emotions and Math, mendapatkan berbagai ulasan yang baik dari media musik (Pitchfork memberi album ini 7.7 - lumayan).
Julian Lage adalah seorang gitaris dan komposer yang beberapa tahun ini menjadi sosok favorit untuk banyak penggemar jazz. Seorang Lage di umur 13 telah tampil untuk Grammy Awards, dan sepanjang karirnya (sekarang dia berumur 29) telah bermain dengan musisi terkenal seperti Gary Burton dan Jim Hall.
Suara Margaret Glaspy sangatlah menawan. Karakter suaranya yang dan kadang terdengar serak membuat nyanyiannya seakan-akan datang dari seseorang yang telah melewati pengalaman hidup panjang dan penuh dengan warna. Berkat suaranya yang khas dan lirik deskriptif yang ia buat, "Katonah" menjadi salah satu nomor yang mengharukan. Digabung dengan keahlian Julian Lage dalam memetik gitar telecaster-nya dan sedikit pengaruh dari Chet Atkins, Rude Ruth pun menjadi duo yang menyajikan musik kental dengan nuansa Amerika melalui lagu-lagu pop-folk mereka.
Sayangnya, video kolaborasi mereka di-post dua tahun lalu, dan karena kedua musisi ini baru merilis album solo pada tahun ini, sepertinya tidak akan ada rilisan dari mereka dalam format Rude Ruth dalam waktu dekat. Setidaknya kita bisa menonton permainan mereka dalam video yang ada.
Tak salah menempatkan Collapse sebagai salah satu rilisan yang layak tunggu di tahun 2016. Resmi rilis pada awal Oktober 2016 ini, Ep Grief dari Collapse yang berisi 5 lagu keluar dan memuaskan espektasi. Percampuran indie-rock dan alternatifnya pas, dan tepat guna. Packaging edisi kasetnya yang juga menarik melengkapi rilisan ini menjadi salah satu rilisan penting di tahun 2016.
--
Dapatkan Collapse - Grief melalui Royal Yawns atau WR Store.
Pengarsipan seringkali dianggap sepele oleh segelintir orang, padahal kegiatan ini dapat mempermudah kategorisasi suatu hal yang terkait dengan momen. Foto merupakan salah satu bentuk pengarsipan yang sebenarnya sudah pernah menjadi bagian dari rutinitas kita. Dengan kembali menggerakkan pengarsipan dan menikahkannya dengan perkembangan teknologi, Lokananta, dan studio musik milik pemerintah, meluncurkan perpustakaan digital untuk koleksi arsip musiknya melalui situs http://www.lokanantamusik.com/ pada Februari 2016 yang lalu.
Mengingat Lokananta sebagai pertama di Indonesia yang didirikan pada tahun 1956, adalah hal wajar jika akhirnya mereka ingin mengukuhkan segala musik yang mereka rilis dalam bentuk digital. Awalnya berlokasi di Solo, Jawa Tengah, kini Lokananta dapat diakses dengan mudah melalui internet. Adapun koleksi piringan hitam dan kaset yang berjumlah lebih dari 40.000 nantinya akan diubah menjadi musik digital lengkap dengan album album hingga penjelasan album.
Selain merilis perpustakaan digital, sebuah buku hasil riset tiga penulis yakni Dzulfikri Putra Malawi, Fakhri Zakaria, dan Syaura Qotrunadha; yang hanya dicetak sebanyak 500 eksemplar, juga akan melengkapi proyek sebagai bentuk nyata kerjasama Perum Percetakan Negara Republik Indonesia Cabang Surakarta “Lokananta” dengan Lokananta Project.
Proyek yang didukung Djarum Foundation ini, diharapkan dapat mempermudah alur informasi mengenai kiprah Lokananta dalam industri musik Indonesia serta perannya sebagai produsen ribuan lagu-lagu daerah dari seluruh Indonesia, lagu-lagu pop lama termasuk di antaranya lagu-lagu keroncong, bahkan rekaman pidato-pidato kenegaraan Presiden Soekarno kepada generasi hari ini hingga akan datang.